
Dimas langsung menangkap uang uang dilempar oleh Risda dengan susah payah. Ia pun menggerutu atas apa yang telah dilakukan oleh Risda itu, ia ingin sekali memukul kepala Risda dengan kerasnya.
"Uang segitu aja minta dikembalikan, miskin lo." Ucap Risda sebelum pergi dari bangku Dimas.
"Lo yang miskin anjiiiirrrr!! Uang segitu aja minta minta!" Teriak Dimas yang tidak terima.
"Gue minta karena tugas gue! Lo nya aja yang sotoy"
"Lama lama gue tendang lo dari kelas ini,"
"Lo yang bakalan gue buang dari kelas ini!"
"Auah, males debat sama lo, kagak nyambung"
Risda pun membuang mukanya dari wajah Dimas, kini Risda beralih kepada teman yang lainnya. Risda mendatangi meja Farhan, teman sekelasnya itu kini tengah tertidur dibangkunya dengan nyamannya.
Brakkk....
"Bangun lo!" Teriak Risda.
Risda memukul meja tempat Farhan tertidur dengan sangat kerasnya, pukulannya itu berhasil membuat Farhan terganggu dan langsung mencengkeram erat tangan Risda hingga membuat Risda menjerit karena sakit.
"Sialan lo, Han!" Sentak Risda.
"Lo yang sialan, Da. Sakit nih telinga gue anjiiing!" Umpat Farhan.
"Tangan gue sakit pe'ak!"
Risda berusaha melepaskan pegangan tangannya dari tangan Farhan dan akhinya terlepas juga. Risda langsung memegangi tangannya dengan eratnya, cengkeraman keras dari Farhan membuatnya mendengus dan kesal kepada Farzan.
"Gue ngak peduli!" Sentak Farhan.
"Bayas kas sekarang juga!"
"Gue ngak mau, dan ngak sudi"
"Farhan! Lo mau gue usir dari kelas ini ha? Lo dikelas ini harus ikuti aturan kelas, kas wajib bagi semua orang yang ada dikelas ini!"
"Oh. Pergilah, gue ngak butuh lo disini,"
Tanpa basa basi lagi, Risda langsung menarik tas milik Farhan, dirinya langsung berjalan menuju keluar ruang kelas tersebut. Farhan langsung mengejar Risda untuk mengambil kembali tas miliknya itu, sementara Risda langsung membuangnya di tong sampah.
__ADS_1
"Pergi lo dari kelas ini!" Ucap Risda mengusir Farhan.
Plakkk...
Dengan ringannya Farhan langsung menampar keras pipi Risda, tamparan itu langsung menimbulkan bekas merah dipipinya. Risda memegangi pipinya dengan erat, terlihat setitik air mata dipelupuk matanya itu.
"Lo main tangan sama gue," Ucap Risda lirih.
"Gue ingetin ke, lo. Jangan sok jadi cewek lo, mentang mentang kita diem aja selama ini karena takut sama lo? Gue, ngak peduli lo cewek atau cowok!" Sentak Farhan.
Risda tak segan segan langsung melontarkan sebuah pukulan kearah pipi Farhan yang tidak kalah kerasnya. Ketika Farhan ingin melontarkan sebuah pukulan lagi tiba tiba dirinya pun terlempar kebelakang akibat dari tendangan seseorang.
"Pulang sekolah, hadapi gue!" Ucap orang tersebut dengan tegasnya.
"Oke, gue tunggu lo dilapangan!" Ucap Farhan dengan tegasnya dan langsung bergegas pergi dari tempat tersebut sambil menyahut tasnya.
Pemuda itu langsung mendekat kearah Risda yang masih mematung ditempatnya, kedua mata Risda nampak berkaca kaca akibat tamparan keras tersebut, pemuda itu langsung memegangi dagu Risda untuk melihat wajahnya itu.
"Da, bibir lo berdarah. Gue obatin di UKS ya, pipi lo juga memar," Ucap pemuda itu yang tidak lain adalah Satria.
"Gue ngak papa, thanks ya sudah nolongin."
Satria langsung menarik tangan Risda untuk menuju kearah UKS yang memang agak jauh dari kelas keduanya itu. Risda dan Satria langsung masuk kedalam UKS, Satria itu pun langsung mengobati luka yang ada diujung bibir Risda.
"Akh..." Pekik Risda yang merasakan perih akibat obat yang diberikan oleh Satria.
"Tahan sebentar, Da. Rasanya memang sakit, tapi kalo ngak segera diobatin nanti malah infeksi,"
"Sorry banget ya, Sat. Gue ngerepotin lo,"
"Lo udah gue anggep kayak saudara sendiri, Da. Kalo lo butuh apa apa bilang ke gue saja, nanti gue usahain selalu ada buat lo kok,"
"Thanks ya,"
"Iya"
Dengan perlahan lahan Satria mulai mengobati pipi dan ujung bibir Risda itu. Risda melihat ketulusan yang ada diwajah Satria, Satria terlihat seperti sangat khawatir dengan apa yang dialami oleh Risda saat ini.
*****
Brakkkk....
__ADS_1
Seorang pemuda terpental kebelakang beberapa meter hingga tubuhnya menabrak sebuah meja dikelas, ketika jam terakhir sudah berakhir, Satria langsung menendang perut Farhan dengan kerasnya setelah melihat Guru jam pelajaran terakhir sudah keluar dari dalam kelasnya.
"Sat, sudah!" Teriak Risda menghentikan perkelahian keduanya itu.
"Ngak Da! Lelaki ini emang pantas dihajar! Hanya pengecut yang berani melukai wanita!" Teriak Satria dengan memukuli tubuh Farhan.
Bhukk... Bhukkk... Brakkk...
Tak henti hentinya, Satria terus melontarkan sebuah pukulan kepada Farhan. Risda terlihat ketakutan ketika melihat Farhan yang sudah babak belur saat ini, Risda ingin menghentikan keduanya akan tetapi dirinya tidak tau harus berbuat apa.
Kebanyakan siswa yang ada dikelas itu pun memilih untuk meninggalkan kelas karena mereka tidak ingin terlihat dalam masalah itu, Risda pun nampak panik dan ingin sekali menghentikan pertarungan tersebut dengan segera.
"Renzo! Renzo pasti bisa menghentikan mereka berdua, gue harus segera cari Renzo," Sekilas ide langsung terlintas dipikiran Risda.
Risda langsung bergegas keluar dari kelasnya untuk mencari sosok Afrenzo, ia hanya mengetahui bahwa hanya Afrenzo yang bisa menghentikan keduanya itu karena Afrenzo adalah seorang pelatih beladiri yang dimana dirinya pasti mengetahui solusinya.
Ketika Risda sudah sampai dikelas Afrenzo, ia tidak menemukan sosok pemuda yang saat ini sedang ia cari tersebut. Kelas Afrenzo nampak terlihat sepi karena seluruh siswanya sudah meninggal kelas untuk menuju kerumah mereka masing masing tanpa terkecuali.
"Gue harus gimana dong! Bagaimana bisa gue misahin keduanya itu, otot mereka jauh lebih keras daripada otot gue," Guman Risda pelan sambil terus berpikir untuk bisa memisahkan kedua lelaki yang sedang bertarung itu.
Risda pun kembali kekelasnya untuk melihat gimana kelanjutan dari aksi keduanya itu, ia terkejut ketika telah sampai dikelasnya dan mengetahui bahwa bangku bangku sekolah itu sudah berantakan dan bahkan ada yang patah.
"Ini semua gara gara gue," Ucap Risda pelan sambil menutup kedua mulutnya itu.
Keduanya masih saja saling memukul saat ini, Risda hanya bisa menggigit kukunya seraya menyaksikan kejadian itu. Tak beberapa lama kemudian seseorang masuk kedalam kelas keduanya, pemuda itu langsung menendang perut mereka masing masing dengan kerasnya.
"Udah selesai?" Tanya pemuda yang baru saja tiba.
Temdangan Afrenzo tersebut sangat keras hingga membuat kedua pemuda yang tadinya bertarung itu langsung memegangi perut mereka masing masing. Rasa sakit itu seakan akan tengah menjalar keseluruh bagian perut mereka.
"Renzo, akhirnya lo datang juga," Ucap Risda dengan senangnya ketika melihat Afrenzo.
"Kalian berdua, harus tanggung jawab memperbaiki bangku bangku yang ada disini!" Ucap Afrenzo dengan dinginnya.
Afrenzo tidak suka dibantah, dia memiliki hak untuk menghukum siapapun yang merusak peralatan sekolah karena dirinya adalah ketua OSIS disekolahan itu. Satria dan Farhan langsung menata bangku bangkunya kembali dan memisahkan yang sudah rusak ditempat itu.
"Gue mau beli pakunya dulu," Ucap Satria.
"Gue mau cari palunya," Ucap Farhan.
Afrenzo hanya mengangguk kepada kedua pemuda itu, keduanya langsung bergegas pergi dari kelas itu untuk melakukan apa yang telah mereka katakan tersebut. Risda benar benar kagum dengan sosok mirip kulkas berjalan itu karena dengan mudah dirinya menyelesaikan masalah Risda.
__ADS_1