Pelatihku

Pelatihku
Episode 70


__ADS_3

Keesokan paginya, Risda masuk kedalam kelasnya dan mendapati hanya ada Rania yang sudah berangkat sekolah. Rania terlihat sangat bingung saat ini, melihat itu langsung membuat Risda segera bergegas untuk mendatanginya.


"Kenapa lo, Ran? Nyari apa'an kok kayak bingung gitu?" Tanya Risda keheranan.


"Uang kasnya ilang, Da. Gue kemarin belom simpan dirumah, niatnya saat ini mau gue cek tapi udah kagak ada. Dimana ya..." Rania terus membuka resleting ditasnya dan juga ditepaknya.


"Kok bisa sih, Ran. Emang kemarin lo taruh dimana? Kok sampai bisa hilang gitu sih,"


"Gue taruh disini, Da. Anehnya kok ngak ada sih, udah 4 kali ini uang kas kelas ilang, Da. Tadinya gue pikir kalo gue salah naruh jadi gue ganti uangnya, tapi kok semakin kesini semakin hilang semua sih,"


"Keknya dikelas kita ada maling deh, Ran. Jika lama lama seperti ini nanti yang ada lo yang rugi, untuk sementara waktu kita tukeran bawa. Gue kan bendahara disini tapi soal uang kan lo yang bawa, biar kali ini gue yang bawa," Saran Risda.


"Lo yakin, Da? Nanti kalo ilang lagi gimana?"


"Gue yakin, kan dulu sebelum gue kepilih gue udah ngumumin kalo gue kagak mau bawa uang kas, jadi ini bisa jadi buat ngecoh juga,"


"Baiklah, hanya kita berdua yang tau, jangan sampai ada yang tau juga sekali kita.


"Iya,"


Rania pun langsung duduk kembali dibangkunya, sementara Risda langsung bergegas untuk mengambil sapu karena jadwalnya piket sekarang. Risda jika jadwal piket maka dirinya berangkat lebih awal, karena jika membersihkan kelas akan tetapi ada siswa lainnya maka kelasnya tidak akan bisa bersih.


"Tia kok belom berangkat sih?" Tanya Risda, karena Septia juga jadwalnya piket saat ini.


"Belom, Da. Tadi gue udah jemput dirumahnya, eh dianya masih belom makan pagi, yaudah gue duluan."


"Sialan lo, Ran. Kagak setia kewan sama sekali, eh kawan maksudnya,"


"Bukannya gitu, Da. Gue tadi mau beli bengsin dulu kali, kalo nunggu Tia mah gue bisa telat masuk,"


"Sama aja anjiiirr!"


"He'em," Dehem seseorang dengan kerasnya dari luar kelas tersebut.


Melihat seseorang yang melintas didepan kelas keduanya melalui kaca cendela tersebut, langsung membuat Risda menutup rapat rapat mulutnya dengan kedua tangannya. Seseorang itu adalah Afrenzo Alfiansyah, Risda menepuk pipinya keras karena dirinya keceplosan mengumpat ketika ada Afrenzo disana.


"Lo kenapa, Da?" Tanya Rania.


"Kagak papa, ada nyamuk doang tadi," Jawab Risda beralasan.


"Alesan lo kelihatan banget, Da. Jujur aja kali, lagian juga kagak ada orang disini selain kita berdua,"


"Kagak ada,"


Risda pun langsung melanjutkan untuk menyapu kelasnya itu, ia sedikit melirik kearah luar kelas dan ternyata Afrenzo telah pergi dari tempat itu. Melihat itu langsung membuat Risda menghela nafas lega setelahnya, ia pun mengusap dadanya pelan karena leganya.


"Huftt.. Untung saja sudah pergi, kek hantu emang tuh orang. Kadang ada kadang ngak ada, bener bener bisa ngilang," Guman Risda pelan.


Risda pun mengusap peluh yang membasahi keningnya itu, baru menyapu setengah kelas saja dirinya sudah dibanjiri oleh keringat. Setelah itu, Risda pun duduk dibangkunya kembali dan mengeluarkan buku kas yang selalu dirinya bawa itu.


"Sialan nih bocah, udah nunggak 3 kali lagi," Guman Risda ketika melihat buku tersebut.


"Siapa Da?" Tanya Rania penasaran.


"Siapa lagi kalo bukan Risda sendiri anjiirrr! Kelupa'an kagak pernah bayar, uang saku gue juga pas lagi. Hufttt... Bener bener sial gue kali ini, Ran. Lain kali aja ya gue bayarnya," Ucap Risda yang menyalahkan dirinya sendiri.


"Kagak bisa, lo itu bendara malah lupa kagak bayar lagi. Pokoknya lo harus bayar sekarang, kagak boleh nunda lagi, nanti malah jadi bolong 10 lagi."


"Ya elah Ran, kasihanilah gue ini, gue lagi miskin anjiiiirrr! Kagak ada uang segitu, bagi gue 3 ribu itu berharga banget,"


"Mau gue panggilin Afrenzo? Biar lo ditagih sama dia buat bayar kas?"


"Apa hubungannya dengan Renzo coba? Lagian dia kan beda kelas, untuk apa ngurusin urusan kelas ini?"


"Lo kan hanya patuh dengan dia, Da. Bayar atau gue Panggilin Afrenzo sekarang?"


"Renzo dipanggil Risda! Katanya penting!" Teriak Mira heboh ketika masuk kedalam kelas.


Mendengar teriakan itu langsung membuat Risda bangkit dari duduknya dengan menjewer telinganya sendiri, melihat Mira yang cengengesan langsung membuat Risda menghela nafas sebal dengan apa yang dilakukan oleh Mira itu.


"Nahkan udah dipanggilin tuh," Ucap Rania.


"Kalian emang gila, siapa coba yang manggil dia? Orang gue kagak ada keperluan dengan dia," Risda pun mendengus dengan kesalnya.


"Dia datang!" Seru Mira dan langsung bergegas untuk duduk dibangkunya.


Risda lalu menatap kearah pintu kelas tersebut dengan jantung yang berdebar debar, ia mendengar langkah seseorang yang tengah berjalan menuju kearah pintu. Ketika ada seseorang yang hendak masuk, tiba tiba Risda begitu sangat terkejut.


"Sialan lo! Bikin gue kaget aja," Umpat Risda ketika melihat kedatangan Septia.


"Emang ada apa'an? Yang mau ngagetin lo emang siapa? Baru juga gue datang kemari," Tanya Septia yang kebingungan karena dirinya yang baru datang itu.


"Risda rindu sama Afrenzo," Jawab Rania cengengesan ketika ditanya Septia.


"What! Serius lo udah jadian sama cowok dingin itu? Kapan itu, Da? Terus nembaknya dulu kayak gimana? Bagi cerita dong, Da. Lo kan sahabat gue," Tanya Septia beruntun dengan antusiasnya.


"Berisik amat, kayak sarang lebah tauk," Ucap Risda sambil menutup kedua telinganya.


"Da, dia datang," Ucap Mira.


"Apa'an lagi sih, Ra?" Tanya Risda dengan malasnya, ia pun menoleh kearah pintu kelas tersebut dan langsung terkejut ketika melihat Afrenzo sudah berdiri didepan pintu kelasnya.


"Nah kan dia datang," Ucap Mira.

__ADS_1


"Re... Renzo, bukan gue yang manggil lo," Ucap Risda gelagapan ketika melihat Afrenzo.


"Manggil gue?" Tanya Afrenzo yang seakan akan tidak mengerti maksud dari perkataan Risda.


"Tadi Mira teriak manggil nama lo, masak lo ngak tau sih? Terus ngapain lo kemari kalo ngak tau?" Tanya Risda sedikit teriak.


"Gue cuma ngasih tau, bel masuk nanti langsung menuju ke aula. Pembagian seragam sekolah," Ucap Afrenzo.


Karena siswa yang baru disekolahan itu cukup banyak, alhasil penjahitan seragam beru cukup lama. Selama ini mereka semua masih menggunakan seragam sekolah SMP, sehingga terlihat sangat warna warni.


"Oh seperti itu. Baiklah, thanks infonya,"


Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya dan lalu bergegas pergi dari situ untuk menuju kekelas lainnya. Melihat kepergian dari Afrenzo, Risda langsung menghela nafas lega dan langsung memukul lengan Mira sedikit keras.


"Lo sih pake teriak teriak segala lagi," Gerutu Risda kesal.


"Ya elah, Da. Lagian dia juga kagak dengar kok, buktinya saja dia kagak tau teriakan gue tadi," Ucap Mira tanpa rasa bersalah.


"Sama aja, sebel gue sama lo."


Risda pun mencerucutkan bibirnya, dirinya pun langsung bangkit dari duduknya untuk memalak tema temannya yang baru tiba itu. Dirinya dikenal dengan sebutan preman kelas, karena hanya dirinya yang berani terang terangan meminta uang kepada siswa lainnya dengan kasarnya.


"Mana uang lo? Bayar kas sekarang!" Ucap Risda kepada seorang pemuda.


"Lain kali aja deh, Da. Gue lupa kagak bawa uang saku," Ucap pemuda itu.


"Gue ngak mau tau, pokoknya lo harus bayar sekarang juga!"


"Ngak ada, Da."


Risda tanpa aba aba pun langsung merogoh saku baju pemuda itu, ia pun menemukan dua kembar uang lima ribuan didalamnya. Melihat itu langsung membuat senyuman diwajah Risda menggembang, sementara pemuda itu langsung berdiri untuk mensejajarkan tingginya dengan tinggi Risda.


"Balikin uang gue!" Ucapnya dengan tegas.


"Lo tukang bohong tau. Nih 5 ribu, cukup buat beli es marimas sama roti sebungkus," Ucap Risda.


"Bangsaat lo! Bayar kas saja kagak semahal itu,"


"Sebagai ganti lo telah bohong, salah sendiri siapa suruh berbohong."


"Balikin woi!"


"Ogah!"


Pemuda terus memaksa untuk meminta uangnya kembali kepada Risda, dengan kesalnya Risda pun langsung memberinya pecahan uang dua ribuan dua kepada pemuda itu. Pemuda tersebut langsung menerima uangnya dengan kesal, dan duduk kembali dibangkunya.


"Bayar kas!" Ucap Risda kepada Satria.


"Nih 10 ribu, sekalian gue bayarin lo," Ucap Satria sambil menyodorkan selembar uang sepuluh ribu.


Setelah mencatat nama Satria, Risda pun langsung bergegas untuk menuju kebangku lainnya. Anak anak cowok dikelasnya tersebut terlihat sangat nakal, dan sangat sulit untuk diatur.


Banyak anak lelaki dan perempuan dikelasnya itu bagaikan 70 banding 30. Banyak siswa lelaki sekitar 70% dan perempuan sekitar 30% sehingga disana kebanyakan siswa lelaki daripada perempuannya, tidak heran kenapa Risda terlihat seperti preman kelas.


"Tika kagak masuk lagi?" Tanya Risda kepada Novi yang biasanya duduk disebelah Kartika.


"Kagak tau, kalo ngak berangkat berarti kagak masuk lagi," Jawab Novi.


"Kalo itu gue tau pe'ak, bagaimana bisa kagak berangkat bisa masuk? Pikir dong," Hari ini Risda benar benar merasa kesal, sehingga hal sedikit saja sudah membuatnya berbicara dengan nada sebalnya.


"Ya sudah, ngapain lo tanya lagi?"


"Lo kan bestinya kali, mangkanya gue tanya ke lo, Vi. Kalo gue tanya tembok juga kagak bakalan dijawab," Gerutu Risda kesal.


"Udah tau pake nanya lagi, nih gue bayar dobel yak. Sama buat besok lusa nanti, biar lo ngak nagih terlalu banyak,"


"Wokeh,"


"Gue juga dobel, Da. Nih uang gue,"


"Yo i"


Risda pun lalu memcatat nama keduanya, dirinya pun memasukkan uang yang mereka bayar kedalam dompet khusus untuk tempat uang kas. Setelahnya, Risda lalu menghampiri yang lainnya, dan dirinya pun melakukan hal yang sama.


Setelahnya dirinya pun mencatat pemasukan saat ini, dengan diam diam Risda pun memasukkan uang tersebut kedalam tasnya, lebih tepatnya memasukkan uang itu dibagian dirinya menaruh mantel tasnya. Setelahnya dirinya lalu memberikan dompet tersebut kepada Rania.


"Sudah, Da?" Tanya Rania.


"Sudah kok tenang saja," Jawab Risda.


"Okelah,"


"Nanti waktu pulang, lo jangan pulang duluan,"


"Bereslah,"


Risda lalu mengacungkan dua jempol kepada Rania, dan hanya dibalas oleh Rania dengan mengedipkan satu matanya itu. Melihat apa yang dilakukan oleh keduanya itu, membuat Mira yang duduk disebelah Risda pun memincingkan sebelah matanya.


"Kalian ngerencanain apa'an?" Tanya Mira.


"Eh iya ada apa'an?" Tanya Septia yang ikut serta menjadi penasaran.


"Kepo banget sih jadi orang, gue chat pribadi sekarang yak," Ucap Risda.

__ADS_1


"Kenapa kagak langsung aja? Kan tinggal ngomong gitu apa susahnya sih?"


"Udahlah, lihat ponsel kalian saja,"


...----------------...


...Pesan grub...


Mira : Apa'an Da? Pake pesan pesan segala lagi


Septia : iya nih, kagak jelas emang


^^^Risda : Kalian bisa diam ngak sih?^^^


^^^Risda: Berisik amat deh^^^


Septia: Lo mau ngasih tau apa'an?


^^^Risda : Gue mau jodohin Rania sama Abdul^^^


Rania : Sialan lo, Da


...----------------...


Mereka pun tertawa masing masing sambil memainkan ponselnya itu, meskipun jarak mereka dekat akan tetapi mereka terus melakukan itu. Tanpa terasa bel masuk telah berbunyi, mereka pun bergegas untuk menuju ke aula seperti apa yang dikatakan oleh Afrenzo sebelumnya.


"Asik lah, sebentar lagi kita punya seragam baru!" Seru Mira dengan senangnya ketika mereka sudah berada didalam aula.


"Seneng banget kek habis menang l*tre aja lo," Ucap Rania.


"Biasa, Ran. Emang dirinya belom pernah pake seragam baru," Ucap Septia.


"Modarrrr!!" Teriak Risda dan menghentikan perdebatan mereka.


Mereka pun mengantri untuk mengambil seragam baru tersebut sesuai urutan absen, setelahnya mereka langsung kembali kekelas masing masing untuk melanjutkan pelajaran mereka.


*****


"Undangan? Buat apa?" Tanya Risda ketika menerima sebuah undangan dari Afrenzo.


"Itu surat izin, buat latihan malam, buat sabtu malam minggu nanti. Berikan ke Kakak lo," Ucao Afrenzo.


"Latihan malam? Apa itu artinya tidur disekolahan juga?"


"Iya, tiga bulan sekali kita akan mengadakan latihan malam,"


"Asikkk!!" Risda pun sangat semangat ketika mendengarnya itu, ia pun langsung meninju angin keangkasa.


"Bayar iuran juga, buat makan."


"Bayar? Berapa'an? Gue kagak punya uang,"


"Dua puluh lima ribu saja, mulai sekarang lo nabung. Kegiatannya masih 4 hari lagi,"


"Baiklah, kalo kagak bisa bayar gimana? Ngak boleh ikut?"


"Bisa, bayaran nyusul nanti."


"Baiklah, kalo itu gue setuju."


Risda pun langsung bergegas untuk kembali kedalam kelasnya. Ketika jam istirahat tiba, dirinya langsung bergegas untuk menuju kekantin sekolahan, disana dirinya melihat Afrenzo tengah sibuk dengan berkas berkas yang ada didepannya.


Ketika Risda menghampirinya, dirinya justru mendapat sebuah undangan dari Afrenzo itu. Afrenzo mengadakan latihan malam yang biasanya diadakan didalam organisasi beladiri itu, sehingga sabtu depan bertepatan dengan hari dimana mereka mengadakan latihan malam bersama.


Diperjalanan dirinya membuka surat tersebut dan membacanya, sambil berjalan pelan dirinya terus membaca persyaratan dan pelengkap yang harus dibawa olehnya ketika agar tiba.


Bhukk...


"Akh.." Pekik Risda.


"Kalo jalan pake mata anjiiing!" Sentak seseorang kepadanya.


Karena fokus untuk membacanya, Risda tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Kepala pemuda itu dan kepala Risda saling berbenturan sehingga hal itu membuat Risda memekik pelan karena sakitnya.


"Lo sendiri juga kagak pake mata!" Sentak Risda balik sambil mengusap keningnya yang nyeri.


"Lo yang kagak tau jalan!"


"Lo sendiri juga salah, orang gue jalannya pelan masih aja lo tabrak,"


"Gue buru buru mau kekantin! Bisa lihat ngak sih?"


"Gue ngak buta, lo sendiri yang jalan pake mulut ya begitu,"


"Lo!


"Apa? Gue kagak takut sama lo, lo yang salah lo sendiri yang nyolot,"


"Lo itu benar benar ya!" Pemuda itu langsung menunjuk tidak suka kearah Risda.


"Mau apa lo? Berantem!"


Risda pun langsung melipat lengan bajunya itu, hingga menampakkan tanyan putih yang sedikit belang dibagian punggung tangannya. Melihat keributan itu langsung membuat Afrenzo bergegas untuk mendatangi keduanya itu, dan langsung berdiri ditengah tengah mereka.

__ADS_1


"Kalo kalian masih ribut lagi, ikut gue keruang BK sekarang!" Ucap Afrenzo dengan tegasnya.


"Ogah!" Seru pemuda itu langsung mendengus kesal dan bergegas pergi dari tempat tersebut.


__ADS_2