Pelatihku

Pelatihku
Episode 55


__ADS_3

"Hari ini pelatih tidak masuk, saya yang akan ngelatih disini," Ucap seorang pemuda dengan pakaian sakral khas pesilat muda.


"Kemana dia?" Tanya seorang gadis yang cantik tapi penampilannya seperti agak kasar, dia adalah Risda Vanatasya Almaira.


"Ada urusan."


"Uruannya lama? Perasaan tadi dia izin pulang lebih awal, kok sampai sekarang belum selesai?"


"Lo tau apa soal dia? Bagaimana lo bisa tau kalo urusannya emang sejak siang?"


"Dia kan sahabat gue, jadi gue berhak tau lah. Orang dirinya sendiri yang bilang ke gue tadi," Ucap Risda yang memang dengan nada sombongnya.


"Dia bilang ke lo? Gue ngak percaya soal itu," Pemuda itu justru menggeleng gelengkan kepalanya tidak percaya dengan ucapan Risda. Karena selama ini yang dirinya kenal, Afrenzo tidak mungkin bilang ke siapa siapa soal dirinya ataupun urusannya itu.


"Terserah lo yang ngak percaya, gue ngak pernah bohong soal itu,"


"Coba gue tes, emang dirinya bilang urusannya apa'an?"


"Lo nanya? Lo sendiri aja kagak tau,"


"Bilang aja kalo lo emang ngawur soal itu, Pelatih tidak mungkin bilang ke siapa siapa soal urusannya itu."


"Gue ngak bohong! Buktinya dia bilang ke gue tadi siang,"


"Bilang apa'an?"


"Lo kepo banget sih jadi orang,"


"Nah kan lo ngeles mulu dah, kan lo emang bohong."


"Gue ngak bohong, dia ada urusan soal turnamen beladiri, masak lo gitu aja kagak tau. Lo itu senior disini malah tanya ke junior, huuu..."


"Biasanya junior akan nurut sama senior. Lah lo, malah ngebantah senior mulu, emang mau gue tendang dari perguruan ini?"


"Santai bos, main nendang nendang aja lo, emang lo sendiri mau ditendang dari sini oleh Afrenzo? Gue aduin lo ke dia,"


"Panggil pelatih disini! Berani sekali lo panggil nama, dasar tukang ngaduh!"


"Bodoamat, gue itu kesayangannya Renzo, lo ngak bisa ngatur ngatur gue."


"Mungkin otak lo agak geser kali ya, mana mungkin pelatih bisa memiliki kesayangan kayak lo. Modelan kek anak liar, kagak punya aturan, ngak punya sopan santun, jelek, kagak ada alim alimnya, songong, kagak bisa dibilangi, cerewet, bandel, blak blakan, byuhh bukan tipe nya sama sekali."


"Jangan jangan lo yang suka kali sama gue, buktinya lo hapal banget sama sikap gue. Ngaku lo! Lo suka gue kan? Hayo ngaku!"


"Dih amit amit jabang bayi, yang ada lo gue smekdown dari awal, kalo perlu dibuang disungai amazon biar dimakan buaya."


"Dih, kalo lo jadi suami gue, bisa bisa gue tinggal tulang dan kulit doang. Kebanyakan makan ati, bisa bisa hidup gue kagak lama lagi karena lo,"


"Siapa juga yang mau nikah sama lo, mending gue lajang sampai mati daripada harus nikah sama orang kayak lo,"


"Mati aja sono mati, mati saat ini lebih baik buat lo,"


"Sialan nih bocah! Lo aja yang mati, ngenes gue ngelatih lo disini,"


"Fandi!" Panggil seseorang dan langsung membuat pemuda itu menghentikan ucapannya itu.


Pemuda itu adalah Afrenzo yang baru tiba ditempat itu, tangan kanannya itu bukannya ngelatih siswanya justru malah ngajak Risda berdebat, dan yang jelas tidak akan ada ujungnya. Mendengar panggilan tersebut langsung membuat Fandi diam membeku tanpa bisa bergerak, sementara Risda berekspresi bangga atas kedatangan dari Afrenzo.


"Maaf pelatih, dia yang mulai duluan," Bela Fandi pad dirinya sendiri.


"Ngak ngak, dia yang doain gue biar cepet mati, Renzo. Bukannya ngelatih, malah doain cepet mati," Risda pun ikut serta membela dirinya sendiri.


"Dia dulu, masak nuduh aku jatuh cinta sama nih bocah. Ngak mungkin lah aku punya perasaan sama dia,"


"Lo duluan, kenapa lo nyalahin gue sih! Lo yang mulai, malah lo yang nuduh gue," Jawab Risda dengan ketusnya.


"Lo kan emang duluan,"


"Lo yang duluan!"


"Lo"


"Lo"


"Lo"


"Lo"


"Lo"


"Bukan gue anjiirrr! Lo yang mulai duluan, dasar panpan, kagak bisa ngalah sama cewek,"


"Lo seharusnya yang ngalah sama cowok!"

__ADS_1


"Cewek selalu benar, lo kaum apa ha? Kaum hewan? Bisa bisanya kagak tau soal itu,"


"Sialan lo emang!"


"Apa lo? Mau berantem!"


"Gue banting lo ya,"


"Kagak bisa, lo yang akan gue tendang dari sini,"


"Dih, sok bisa lo? Emang lo kuat nendang ha? Palingan cuma dasaran doang, latihan aja baru beberapa minggu."


"Lo ngeremehin gue ha? Awas aja lo, gue pastiin kalo lo akan jadi sasaran pertama gue kalo gue jago beladiri nanti,"


"Gue kagak takut. Palingan lo yang akan nangis nanti,"


Mendengar keduanya yang sedang adu mulut itu, langsung membuat siswa yang lainnya duduk, seakan akan tengah menonton sebuah pertunjukan yang seru. Sementara, Afrenzo hanya menghela nafas mendengarkan perdebatan itu, sangat sulit untuk memenangkan perdebatan jika berhadapan dengan Risda.


Risda memang tidak pernah mengalah didalam sebuah perdebatan, meladeni Risda bagaikan rel kereta api ( tidak ada ujungnya ). Risda tidak akan mau mengalah dalam perdebatan, karena dirinya tidak suka dikalahkan ketika berdebat.


"Hentikan!" Sentak Afrenzo kepada keduanya dengan nafas yang memburu, "Kapan latihannya akan dimulai, kalo kalian adu mulut terus terusan!"


Keduanya langsung berhenti berdebat ketika Afrenzo mulai angkat bicara lagi, keduanya pun menundukkan kepalanya dalam. Tidak ada yang berbicara setelah itu, para siswa yang tadinya duduk itu pun langsung bangkit berdiri dan baris ditempatnya sebelumnya itu.


Latihan pun segera dimulai, Fandi yang memimpin mereka untuk pemanasan. Meskipun begitu, tatapan keduanya masih sama sama menyimpan kebencian yang mendalam, kalo bukan karena adanya Afrenzo, keduanya tidak akan berhenti untuk berdebat.


Setelah pemasangan, mereka melakukan gerakan yang diperintahkan oleh Fandi. Sementara Afrenzo, sepertinya lelaki itu kurang memerhatikan mereka karena tengah sibuk dengan ponsel yang ada ditangannya. Dirinya duduk disebuah sepedah motornya sambil memainkan ponselnya, dan dirinya sama sekali tidak fokus dengan lingkungan sekitarnya.


Setelah 1 jam berlatih, mereka pun diminta untuk berkumpul dan duduk berlingkar. Ditengah tengah mereka terdapat Afrenzo yang tengah berdiri sambil memainkan ponsel yang ada ditangannya itu, entah kenapa mereka diminta untuk duduk melingkar.


"Sebentar lagi akan ada pertandingan beladiri antar perguruan se kabupaten di gedung olahraga rakyat, ada beberapa Kakak senior kalian yang akan mewakili cabang ini untuk bertanding. Kalian bisa hadir digedung itu untuk menyaksikan acara pertandingan beladiri antar perguruan, agar kalian bisa tau bagaimana lingkungan gelanggang itu." Ucap Afrenzo sambil melihat satu persatu siswanya.


"Pertandingan beladiri antar perguruan? Kapan itu diadakan?" Tanya Risda.


"Lusa, ditanggal 13 - 14 Oktober 2018, bertepatan dengan hari sabtu malam minggu," Ucap Afrenzo.


"Acara pertandingannya 2 hari? Gue pikir hanya sehari," Ucap Risda dengan menghela nafasnya.


"Nonton sama gue yok, Ris. Gue ngak ada temen nih," Ucap seorang gadis yang bernama Pika.


"Boleh, rumah lo emang dimana, Ka?"


"Deket sekolahan sini kok, nanti kalo harinya tiba lo bakal gue sherlok, tenang saja."


"Ide yang bagus, oke nanti lo chat gue yak."


"Ada yang ditanyakan lagi?" Tanya Afrenzo kepada semua siswanya.


"Untuk pakaiannya gimana?" Tanya Risda lagi.


"Pakaian bebas, tapi jangan pakai pakaian pendek dan jaga sikap juga."


Sindir Afrenzo kepada Risda, yang memang gadis itu sering memakai pakaian pendek dan tinggi celananya bahkan diatas lututnya itu. Risda yang merasa ucapan itu bertujuan untuknya pun langsung menyengir seakan akan tidak memiliki rasa bersalah.


"Kenapa ngak pakai sakral beladiri saja?" Tanya Risda untuk mengalihkan pembicaraan.


"Lo mau tanding emang? Pakai pakaian beladiri di khususkan untuk pelatih, juri, wasit, peserta, official, dan pembina. Emang lo mau tanding?" Tanya Fandi dengan sensinya.


"Lo punya masalah apa'an sih sebenarnya sama gue? Orang gue tanya sama pelatih, bukan lo. Nyahut aja kayak kabel nganggur,"


"Gue itu perwakilan dari pelatih, jadi lo harus hormatin gue disini."


"Najiss!! Minta dihormati tapi tidak sadar diri, gue akan ngehormatin siapapun yang bisa ngehormatin gue, bukan siapa yang minta dihormatin."


"Auah males debat dengan lo,"


Fandi pun membuang muka dari wajah Risda, melihat itu langsung membuat Risda ikut serta membuang muka. Keduanya seakan akan tidak bisa akur walaupun hanya sebentar saja, bagaikan tikus dan kucing yang tidak pernah akur.


"Baiklah, baris kembali langsung penutupan," Ucap Afrenzo.


Dirinya langsung menyuruh untuk yang lainnya berdiri dan berbaris seperti sebelumnya itu, mereka pun langsung menurut begitu saja karena sebentar lagi mereka akan dipulangkan. Mereka pun melakukan penutupan setelah berlatih, seperti biasa mereka akan melakukan hal itu.


Setelah berlatih mereka akan melakukan salam salaman sebagai keeratan dalam persaudaraan itu. Jika sejenis mereka akan saling menggenggam tangan satu sama yang lainnya untuk bersalaman, sementara jika berbeda maka akan menempelkan telapak tangan sendiri tanpa bersentuhan dengan yang lainnya.


Setelah selesai, Afrenzo langsung melepaskan sabuknya itu. Ia pun berjalan mendekat kearah sepedah motornya, dimana sepedahnya berada dekat dengan sepedah motor milik Risda.


"Renzo," Panggil Risda.


"Hem?" Ucapnya yang hanya dengan berdehem saja.


"Gue boleh tanya sesuatu?"


"Iya,"

__ADS_1


"Ini soal Benni, lo ngomong apa aja ke dia? Kata dia, lo yang ngajarin untuk ngungkapin perasaan. Emang lo bilang apa aja ke dia?"


"Dia suka sama lo?"


"Hah? Kenapa lo balik tanya sih, orang gue tanya ke lo siapa tau gue dapat jawaban, lo malah balik nanya ke gue. Ngak asik lo,"


"Lo suka sama dia?"


"Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu sih ha? Gue ngak suka sama dia, ngapain lo bilang bilang kalo gue ini jomblo ke dia?"


"Dia tanya,"


"Gue tau, seharusnya lo ngak jawab pertanyaannya. Gue paling ngak suka kalo digituin,"


"Kalo lo tanya, terus ngak dijawab bagaimana?"


"Iya gue marah lah, ngak enak kalo ngak dijawab."


"Iya, ngak enak kalo ngak dijawab,"


"Tapi bukan berarti lo bilang kayak gitu ke orangnya"


"Kenapa?"


"Renzo, dia sangat berbeda dengan gue. Gue ngerasa risih kalo didekatin cowok, jadi gue ngerasa kagak nyaman disekolahan ini kalo seperti itu,"


"Gue akan bilang ke dia,"


Afrenzo pun langsung naik keatas motornya dan memakai helm miliknya itu, dirinya lalu bergegas meninggalkan Risda ditempat itu. Risda yang melihat kepergian dari Afrenzo itu pun hanya berdiam diri, dan ikut serta bergegas pergi dari tempat itu.


*****


"Bu Ayu pindah?" Tanya seorang gadis dengan nada yang agak terkejut.


"Padahal dia kan guru baru disini, kenapa pindah secepat itu?"


"Ya ngak tau lah, kenapa lo tanya gue? Tanya aja tuh sama orangnya."


Bu Ayu adalah guru sejarah disekolahan itu, guru tersebut terkenal masih baru. Karena baru masuk ketika Risda sudah bersekolah di sekolah itu selama 2 mingguan.


Guru itu masih terlihat cukup muda, dan anak laki laki yang ada disekolah itu pun sering membuatnya menjadi salah tingkah. Bukan karena prilaku mereka, akan tetapi dengan kata kata mereka, yang memang guru tersebut masihlah gadis dan belum menikah.


Siswa yang ada dikelas bersama dengan Risda adalah anak anak yang memang sangat sulit untuk dibilangi ataupun disuruh untuk mematuhi aturan sekolah. Guru itu cuma mengajar beberapa kali saja, akan tetapi saat ini sudah pindah ke sekolahan lainnya.


"Gara gara kalian semua sih, sukanya menyeruinya," Ucap Risda yang menyalahkan anak laki laki yang ada dikelas itu.


"Habisnya dia cantik banget sih, gue kan juga pengen jadi calon suaminya," Ucap Bima, teman sekelas Risda.


"Ngaca lo, lo aja masih pengangguran pake pengen nikah sama pegawai PNS lagi. Emang mau lo kasih makan apa istri lo nanti ha?"


"Kan ada gragal, siapa tau dia suka itu,"


"Yang ada lo nya yang kagak dikasih jatah, justru akan dibunuh, digorok leher lo, dipotong potong tubuh lo, dan lebih parah lagi anu lo yang dipotong."


"Sialan emang lo, Da. Bukannya membiarkan temannya berhalusinasi, eh lo nya malah kayak gitu, kagak asik banget lo. Mending guru itu yang ada disini daripada lo,"


"Emang dia mau sekolah lagi, apalagi sama lo? Ngaca woi, dia memang cantik tapi belum tentu suka sama lo,"


"Terserah lo, Da. Sak tingkah tingkah lo aja dah, pokoknya jangan guling guling ditengah jalanan, nanti dikira orang gila."


"Anjiiing lo, Bim! Siapa mau lo suruh guling guling ditengah jalan, ada motor besar lewat langsung modar gue nanti. Emang lo mau gantiin tubuh gue nantinya? Biar roh gue bisa masuk kedalam tubuh lo,"


"Kagak akan bisa pe'ak. Mati mati aja kali, kalo sudah mati, kagak akan bisa balik lagi apalagi masuk kedalam tubuh orang lain. Kebanyakan nonton drama lo?"


"Bisa lah, lo mau buktikan ha?"


"Sok mangga, gue antarin ditepi jalan. Nanti lo langsung guling guling ya kalo ketemu sama mobil tronton, dijamin langsung pindah alam lo,"


"Ogah, gue lagi males bunuh diri. Mood gue lagi bagus saat ini, jadi gue kagak akan bunuh diri,"


"Kurang asik lo, Da."


"Bodoamat!"


Risda pun langsung bangkit dari duduknya karena jam istirahat telah tiba, dirinya dan juga Mira langsung bergegas menuju ke kantin untuk membeli makanan. Dirinya pun langsung mengantri dibagian paling depan untuk mengantri beli makanan.


"Kok lo yang jualan?" Tanya Risda ketika melihat Afrenzo yang tengah memakai celemek.


"Kenapa? Ada yang salah?" Tanya Afrenzo.


"Ngak sih, tapi ngapain lo yang jualan? Lo butuh uang? Sorry ya, gue belum ada uang untuk ngembali'in."


"Gue disini bukan karena gue butuh uang, tapi karena pemilik warung nitipin ini ke gue,"

__ADS_1


"Kenapa harus lo? Kan masih banyak yang lainnya,"


"Bukan urusan lo!"


__ADS_2