
Bus tersebut pun kembali berjalan meninggalkan tempat tersebut dengan seluruhnya yang sudah tertidur dengan pulasnya. Risda yang memang ngantuk berat itu pun sudah tidak mampu untuk membuka kedua matanya, dirinya pun hanyut dalam mimpinya yang indah.
Mumgkin hanya Afrenzo saja yang masih terjaga sampai saat ini, Afrenzo menyalakan ponselnya. Memang kebiasaannya yang setelah sholat subuh tidak tidur lagi, dan hal itu masih kebawa sampai saat ini.
Ia pun seperti sedang berkutat dengan benda pilih yang ada ditangannya itu. Seakan akan ada hal yang penting sehingga wajahnya nampak begitu serius saat ini, entah hal penting seperti apakah itu.
Tiba tiba seseorang pun menelponnya, hal itu langsung membuat dirinya mengangkat telpon tersebut dengan segera, wajahnya mendadak berubah menjadi serius ketika mendengar suara seseorang diseberang ponsel sana.
"Kamu atur semuanya, siapapun pelakunya bereskan dia dan jangan beri ampun," Ucap Afrenzo saat itu dan langsung memutuskan sambungan telpon itu.
Ia pun memasukkan ponselnya kedalam tas kecil yang melilit didadanya itu, entah apa yang terjadi saat ini sehingga membuatnya memijit keningnya karena pusing. Afrenzo lalu fokus kepada jalanan yang saat ini sedang mereka lewati, perlahan lahan langit pun mulai terang akan tetapi mereka belum sampai dipantai sesuai yang diharapkan.
Karena cendela tempat dimana Risda tidur tidak tertutup dengan gorden sehingga sebuah cahaya masuk kedalam bus itu dan membuat Risda merasa silau hingga akhirnya dirinya pun membuka kedua matanya dengan malasnya.
"Sudah pagi ya? Masih ngantuk banget gue," Ucap Risda sambil meregangkan ototnya.
Pundaknya merasa sangat berat karena Mira yang tidur dengan bersandarkan ke pundaknya. Risda pun menggoyang goyangkan tubuh Mira untuk membangunkan gadis yang ada disebelahnya itu, dengan malasnya Mira pun membuka kedua matanya.
"Lo ngapain sih, Da?" Tanya Mira sambil menguap dengan malasnya.
"Pundak gue sakit gara gara lo, tau ngak sih?" Keluh Risda.
"Halah cuma sebentar aja lagian, Da. Lo yang semalaman tidur dipundak gue pun guenya biasa aja,"
"Gue lagi males berdebat sama lo, Ra. Masih pagi juga lo udah mau ribut sama gue,"
"Siapa juga yang mau ribut sama lo? Lo sendiri yang memulai semuanya kali,"
"Sttttt... Jangan berisik, suara lo kagak enak," Ucap Risda sambil menempelkan jari telunjuknya ke depan bibirnya itu.
"Sialan emang lo, Da. Lo punya minum kagak? Minuman gue udah habis, gue minta dong."
"Ada sih, tinggal dikit juga. Minta sama ketua OSIS, katanya dia sudah sediaan minuman gelas untuk semuanya,"
"Lo mintain ke dia deh, Da. Gue ngeri kalo ngomong sama tuh orang,"
"Sama. Lalu gimana gue mau lewat kalo ada lo disini? Ngehalangin jalan aja, gue udah kecil lo taruh dipojokan lagi."
"Santai dong, Da. Lama lama lo gue makan juga baru tau rasa lo,"
"Emang kuat makan gue? Dosa gue banyak tau, terus emang lo mau nanggung dosa gue juga?"
"Anjiir! Ya ngak gitu juga kali konsepnya. Ayam aja punya dosa tapi lo makan juga kan? Jadi lo nanggung dosanya ayam juga?"
"Kata siapa lo, ayam punya dosa?"
"Ya elah, semua orang juga tau kali. Ayam tuh bikin orang marah tau, nyebrang jalan tanpa permisi, buang e'ek sembarangan, masuk rumah nyuri ikan yang dimasak sama Mak gue, main matuk sembarangan lagi. Gimana ngak besar tuh dosa si ayam?"
"Anjiir mumet gue gara gara lo. Ayam itu kagak bisa berpikir anjiir, mana bisa punya dosa?"
"Tap dia punya otak kan? Apalagi otaknya rasanya enak banget,"
"Kayak lo tau aja dosa bentuknya kayak apa'an, gimana bisa dapat dosa, orang pikiran aja ngak diberi kayak manusia."
"Ya tau lah, para perayaman kan banyak salahnya sama manusia. Kagak pernah minta maaf lagi,"
"Kagak minta maaf tapi lo potong gitu aja? Nyawa itu woi, emang nyawa bisa dibeli apa?"
"Lo akan suka makan ayam, Da. Kasihan ayam yang telah lo makan itu, keji sekali dirimu. Seandainya ayam itu punya tanggungan dirumahnya, anak anaknya masih kecil, eh dipotong gitu aja. Lo kagak kasihan?"
"Yang motong bukan gue, Anjiiir! Gue beli dipasar, ya salahin aja tuh penjual ayam potong,"
"Sama aja, lo kagak berprikeayaman."
__ADS_1
"Orang gila punya dosa kagak?"
"Kamu nenye? Yaudah gue kasih tau ya, jangan lupa join live gue ya. Emang gue tau?"
"Pusing ngomong sama lo, mending ngomong sama batu daripada lo, Ra. Bikin orang esmoni aja lo,"
Risda pun duduk sambil membuang muka dari wajah Mira, dirinya lebih memilih untuk melihat pemandangan diluar kaca cendela bus tersebut daripada harus berdebat dengan Mira yang tidak ada habisnya itu.
"Da, lo kan katanya mau ambilin gue minum?" Tanya Mira dengan sebalnya.
"Ambil sendiri," Jawab Risda yang tanpa menoleh.
"Ngak asik lo, Da. Gitu aja marah sama gue, dasar kayak bayi yang sukanya merajuk."
"Lo pun sama, kalo ngambek suka mukul. Bahkan lebih parah daripada gue,"
"Ih Da. Jangan ngambek kayak gitu lah, pliss.. tolong ambilkan," Ucap Mira dengan berpose seimut mungkil kearah Risda.
Risda yang melihat itu pun hanya menggela nafasnya dan bangkit dari duduknya, "Iya ya gue ambilin, minggir gue mau lewat,"
Mira pun memberi jalan kepada Risda untuk lewat, dengan perlahan lahan Risda mendekat kearah Afrenzo yang tengah memainkan ponselnya itu. Tak beberapa lama kemudian akhinya Risda sampailah didepan Afrenzo hingga membuat Afrenzo menoleh kearahnya.
"Lo punya minum kagak, Renzo? Katanya sudah disediakan dari sekolahan," Tanya Risda.
"Ada, ambil sendiri." Afrenzo pun menoleh kearah sebelahnya, dirinya memang duduk dikursi paling belakang sehingga kursi itu cukup panjang.
Melihat itu langsung membuat Risda bergegas untuk meraihnya, tapi siapa sangka bahwa sopir bus tersebut berhenti mendadak sehingga tubuh Risda pun terjatuh dihadapan Afrenzo, untung saja kedua tangannya langsung menyangga tubuhnya agar tidak jatuh mengenai Afrenzo.
Pandangan keduanya pun bertemu, memang saat itu masih pagi dan belum ada siswa yang bangun dari tidur mereka sehingga tidak menyaksikan hal itu. Ini pertama kalinya Risda memandang wajah Afrenzo dengan jarak dekat, begitupun sebalinya.
"Lo ngapain natap gue seperti itu?" Tanya Risda yang menjadi salah tingkah dihadapan Afrenzo dan menyebar kedua pipinya langsung terasa panas.
"Lo hampir nabrak gue," Ucap Afrenzo sambil membuang muka dari hadapan Risda.
"Ya sudah cepat ambil dan balik ke kursimu,"
"Iya ya,"
Risda pun mengambil air mineral dua gelas, ia mengambilkan untuk Mira dan juga dirinya sendiri yang tiba tiba haus. Menatap wajah Afrenzo dengan jarak dekat itu pun langsung membuatnya gemetaran, dan memerlukan banyak minum setelahnya.
"Gila, kenapa ganteng banget sih tuh anak, baru kali ini gue muji cowok. Apa jangan jangan gue mulai jatuh cinta? Idih ogah, lelaki itu sama aja, sama sama nyakitin perasaan." Batin Risda menjerit.
Risda lalu melangkah kembali menuju ke bangkunya, ia pun lalu memberikan segelas air mineral kepada Mira, dan langsung duduk dibangkunya dengan tangan yang sedikit gemetaran itu.
"Tangan lo kenapa, Da? Kok kayak gemetaran gitu? Habis ketemu hantu?"
"Ini lebih parah daripada hantu, mungkin rajanya hantu." Jawab Risda dengan nafas memburu.
"Hah? Lo ngak papa kan?" Tanya Mira sambil meletakkan telapak tangannya dijidat Risda untuk mengetahui temannya itu demam atau tidaknya. "Suhunya masih normal dan ngak panas, tapi kok pikirannya agak konslet ya,"
"Konslet matamu! Gue..."
"Lo kenapa sih? Gua gue gua gue mulu,"
"Ini kagak mimpi kan? Gue ngerasa ini kayak mimpi aja,"
"Ngomong yang jelas, Da. Lo mau gue tonjok biar lo sadar kalo ini bukan mimpi? Atau mau gue banting sekalian?"
"Kayak kuat aja lo, sudah ah jangan berisik. Bentar lagi kita akan sampai dipantai, jangan bahas hal ini,"
*****
Pantai yang indah itu pun terlihat oleh kedua mata Risda, Risda kini tengah menginjakkan kakinya diatas pasti putih yang ada ditepi pantai itu. Risda membentangkan kedua tangannya seraya menghirup nafas dalam dalam.
__ADS_1
Dirinya merasa sangat rileks ketika merasakan sejuknya angin yang berhembus dipantai tersebut hingga menerbangkan jilbabnya itu. Risda yang tidak pernah merasakan indahnya pantai itu pun nampak begitu bahagia.
Suara ombak pantai pun terdengar jelas dikedua telinganya, Risda pun memejamkan kedua matanya sambil menghadap kearah pantai, senyuman tipis pun terpancar diwajahnya. Risda merasa sangat bahagia saat ini, ia kembali membuka kedua matanya.
Ketika pertama kali membuka kedua matanya, dirinya melihat Afrenzo yang tengah berdiri tidak jauh darinya dengan kaki yang menyentuh ombak. Afrenzo pun melipat kedua tangannya kebelakang sambil menghadap kearah luasnya pantai yang indah itu.
"Renzo!" Panggil Risda hingga membuat pemilik nama itu pun menoleh kebelakang dan mendapati sosok Risda yang tengah berlari kearahnya.
Risda pun nampak begitu gembira berlarian dipantai yang indah itu, sebuah senyuman tipis pun timbul diwajah Afrenzo. Belum sampai Risda ditempat Afrenzo, Risda lalu menghentikan langkahnya dan berputar putar sambil membentangkan kedua tangannya.
"Renzo! Gue bahagia sekali!" Teriak Risda dengan senangnya.
Untuk pertama kalinya, Afrenzo ikut merasa senang ketika Risda senang. Seklias ingatan sebuah mimpi pun muncul didalam pikiran Afrenzo ketika melihat Risda berputar putar.
"Ini seperti mimpi yang pernah gue lihat," Ucap Afrenzo lirih.
Mungkin kalian pernah merasakan apa yang dialami oleh Afrenzo, yakni melihat kejadian yang sama persis dengan mimpi yang pernah ia alami. Sebenarnya itu bukanlah mimpi biasa, tapi itu adalah sekilas ingatan yang kita miliki. Sebelum lahir kita telah diperlihatkan gambaran gambaran hal apa saja yang akan kita lalui didunia ini, dan yang sanggup untuk melihatnya akan memberanikan diri untuk lahir sementara yang tidak sanggup akan meninggal.
Sebanyak 77 kali malaikat bertanya kepada kita untuk siap tidaknya dilahirkan didunia ini, jadi melihat mimpi menjadi nyata itu bukanlah hanya mimpi belaka akan tetapi kejadian yang pernah diperlihatkan sebelum kita lahir kedunia yang luas ini.
Risda berlarian seakan akan tidak memiliki beban dalam hidupnya, untuk pertama kalinya dirinya merasa sangat hidup saat ini. Jika ada alat ukur untuk mengukur sebuah kebahagiaan maka, hari ini adalah pemenangnya bagi Risda.
Mungkin bagi yang lainnya hal ini adalah hal yang sepele, akan tetapi tidak dengan Risda yang berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan yang selalu ia nanti nantikan. Tak beberapa lama kemudian, Risda lalu menarik tangan Afrenzo untuk lebih mendekatkan kearah bibir pantai.
Kaki keduanya pun langsung basah karena terkena ombak pantai itu, Risda lalu melompat lompat layaknya anak kecil yang baru pertama kali melihat pantai. Afrenzo pun menutup wajahnya dengan satu tangannya karena tidak ingin terkena cipratan air diwajahnya.
"Renzo, ini indah sekali kan?" Tanya Risda yang berhenti untuk melompat.
"Lo bawa baju ganti kan?" Tanya Afrenzo kembali tanpa menjawab pertanyaan dari Risda.
"Gue bawa kok, emang ada apa?"
"Ayo berenang," Ajak Afrenzo akan tetapi Risda hanya berdiam diri saja tanpa mengangguki ataupun menjawab ucapannya itu.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo yang melihat Risda diam saja.
"Gue takut," Jawab Risda, dan jawaban itu langsung membuat Afrenzo memincingkan sebelah matanya kearah Risda. "Dulu gue pernah tenggelam, Renzo. Dan melihat air sebanyak ini membuat gue trauma,"
"Kenapa?"
Risda pun memulai bercerita tentang masalalunya itu, Afrenzo hanya diam untuk mendengarkannya saja. Ia tidak tau hal seperti apa yang dialami oleh Risda selama ini, akan tetapi setelah mendengarkannya langsung membuat dirinya paham ketakutan Risda terhadap air.
*Flash back on*
Disebuah kolam renang terdapat 6 anak kecil, dan 2 orang dewasa. Kedua orang itu adalah anak majikan dari Ibunya Risda, dan mereka mengajak Risda untuk pergi berenang waktu itu.
Disaat itu, usia Risda baru menginjak usia yang ke 9 tahun. Dan kejadian itu terjadi beberapa tahun yang lalu, dirinya masih mengingat dengan jelas kejadian waktu itu.
Dan 6 orang itu adalah Risda, Farah, Arya, Chafid, Nina, dan Ahnaf. Kelimanya adalah anak dari majikan Dewi waktu itu, sebenarnya dirinya hanya memiliki 2 anak saja, akan tetapi setelah menikah lagi dirinya memiliki 5 anak. 3 anak tersebut ikut bersama Ayahnya dan menikah lagi dengan Ibu sambungnya.
Risda yang hanya anak pembantu itu pun bermain dikolam seorang diri sambil melihat anak anak seusianya itu bermain dengan saudaranya. Risda sengaja diajak oleh majikan Ibunya untuk berenang, akan tetapi ke 5 anaknya itu seakan akan tidak menyukai Risda.
Kolam yang hanya didatangi oleh anak anak orang kaya itu pun terlihat sepi pengunjung karena mahalnya biaya masuk kedalam sana. Risda dijauhi oleh kelimanya itu, dan dirinya memilih untuk bermain sendirian dikolam yang tidak terlalu dalam untuknya.
"Eh Da, yok ikut kami berenang di kolam renang yang paling dalam. Tenang aku punya ban kok, jadi ngak bakalan tenggelam," Ucap Arya mengajak Risda untuk bergabung dengan keempat saudaranya itu.
"Ngak ah, aku takut tenggelam. Kalian main saja sendiri, aku disini saja," Jawab Risda.
"Ngak asik kamu, Da. Ikut saja ngak bakal kenapa kenapa kok, lagian kamu bisa pegangan ban milikku,"
Arya terus membujuk Risda untuk ikut bermain dengannya dikolam yang paling dalam itu, karena paksaan akhinya dirinya pun mau menuruti ucapan Arya. Sebenarnya dirinya ingin menolak akan tetapi dirinya diancam jika dia menolak maka Ibunya akan dipecat nantinya.
Akhinya Risda pun kini tengah duduk ditepi kolam itu sesuai dengan perintah dari Arya dan ke 4 saudaranya itu.
__ADS_1