Pelatihku

Pelatihku
Episode 138


__ADS_3

Risda duduk ditepi cendela kamar yang ada diruangan sempit itu, dirinya memandang kearah langit yang menjulang tinggi diangkasa. Bayangan bayangan masa lalunya terus bermunculan di dalam ingatannya, di mana keluarganya baik baik saja dan sekarang dunianya seakan akan hancur.


Tidak ada lagi yang bisa membuatnya terus bertahan, ingin sekali gadis itu mengakhiri hidupnya saat ini. Semenjak keluarganya berpisah, gadis itu terlihat hanya tinggal tulang dan kulitnya saja, tubuhnya sangat kurus bahkan terlihat seperti sedang sakit sakitan.


Risda sepertinya tidak memiliki harapan untuk hidup, bahkan tubuhnya sering gemetaran karena kurangnya makan. Tak lama kemudian terdengar sebuah qiro'ah dimasjid terdekat, dan hal itu semakin membuatnya terisak tangis.


"Aku ingin pergi kelangit," Ucap Risda lirih.


Rasanya sakit sekali ketika dirinya yang kelaparan akan tetapi tidak ada apapun yang bisa dirinya makan, bahkan uang yang diberikan oleh Ayahnya ia gunakan untuk membayar sebuah les privat komputer. Ia takut uangnya habis jika dia jajankan, apalagi Ibunya sama sekali tidak mengiriminya uang untuk sekolah dan keperluannya.


Dirinya pun memandang kelangit dan melihat adanya bulan yang terang diantara langit yang gelap, melihat itu membuatnya merasa damai dan bahkan keindahan bulan tersebut membuatnya kembali tersenyum.


Sejak saat itu dirinya suka sekali melihat indahnya bulan dimalam hari, bulan yang mampu untuk menenangkan hatinya, bulan yang mampu mendamaikan perasaannya, dan indahnya bulan mampu membuatnya tersenyum ditengah tengah penderita yang dirinya alami.


"Ya Allah, aku sangat lapar. Aku pengen makan,"


Setetes air matanya pun jatuh membasahi pipinya, dirinya belum makan sejak pagi dan sampai malam dirinya belum makan lagi. Cukup lama dirinya memandangi kearah bulan dan bulan itu perlahan lahan berpindah posisi, hingga dirinya tidak menyadari bahwa jam sesudah menunjukkan pukul 9 malam.


"Bunda... Risda lapar hiks.. hiks.. hiks.. perut Risda sakit,"


Risda pun merem*as perutnya yang terus meminta untuk diisi itu, semakin lama rasa laparnya semakin sangat terasa bahkan rasanya seperti tengah ditusuk tusuk oleh pisau yang tajam karena tidak diisi oleh makanan. Kepalanya terasa pusing dan bahkan tubuhnya pun gemetaran karena belum makan.


Disetiap tetesan air matanya membawa rasa ngantuk baginya, hingga perlahan lahan dirinya pun tertidur dengan nyenyaknya meskipun perutnya terasa sakit. Ketika Risda tertidur, dirinya tidak lagi merasakan lapar yang sangat mendalam itu.


*****


Dirumah tersebut kini tengah ada tamu dari jauh, seorang wanita dan anaknya yang sedang main dirumah Lasmi. Anak dari wanita itu usianya tidak beda jauh dari Risda, akan tetapi anak itu tidak diperbolehkan main dengan Risda alasannya Risda adalah teman yang buruk.


Risda tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, karena memang dirinya juga tidak suka bergaul dengan orang lain bahkan orang yang baru dikenalnya itu. Meskipun Lasmi melarangnya untuk menjauh dari Risda sekalipun, Risda sama sekali tidak keberatan karena itu.


Risda main sendirian didalam kamarnya itu, dirinya juga mengunci pintu kamarnya agar tidak seorang pun tau bahwa dia ada didalam kamarnya. Mungkin dihadapan semuanya dirinya bisa tertawa dan berbuat kocak hanya untuk melihat yang lainnya ikut tertawa, akan tetapi ketika dirinya sendirian hanya ada air mata yang tersisa.


Saudara dari Lasmi sedang membuat sebuah makanan, hingga aroma dari makanannya itu pun tercium oleh Risda. Risda sendiri lalu bergegas untuk keluar dari kamarnya dan melihat apa yang tengah dirinya buat itu, sebuah ikan yang dimasak dengan bumbu kuning itulah yang dirinya lihat.


Risda berharap bahwa wanita itu akan memberinya sepotong untuk makannya, dirinya pun merasa lapar saat melihat masakan tersebut. Seperti orang yang tidak pernah makan sebelumnya, itulah yang terpancar diwajah Risda saat ini.


"Risda mau?" Tanya wanita tersebut kepada Risda.


"Iy..."


"Halah dia nggak suka makanan kayak gitu, jangan beri dia makanan begituan dia kagak nafsu. Makanannya sudah aku hangatkan juga kok,"


Belum sempat Risda menjawab, akan tetapi Lasmi langsung menyela ucapannya itu. Risda hanya menghela nafasnya saja, lagian apa yang diucapkan oleh Lasmi memang benar, akan tetapi itu tidak berlaku baginya yang saat ini sedang kelaparan.


"Itu kan lauk tadi pagi banget, Mbak. Sayur bayam tidak baik dikonsumsi kalo sudah sore hari seperti ini," Ucap wanita itu.


Aku lupa nama wanita itu, panggil saja namanya Eka. Jadi Eka ini adalah Adik dari Lasmi, dan saat ini dirinya sedang main dirumah baru Lasmi yang berada didekat rumah Iffah. Dia juga baru berkenalan dengan Risda pagi ini sebelum dirinya berangkat sekolah, dan sekarang sudah ada dipertengahan antara waktu magrib dan isya'.


Bayam juga mengandung nitrat yang tinggi. Nitrat sebenarnya tidak berbahaya bagi tubuh. Tetapi jika dimasaknya tidak hati-hati bayam ini bisa menjadi racun bagi tubuh kita. Nitrat dapat bereaksi dengan senyawa lain dalam tubuh dan membentuk karsinogen (senyawa penyebab kanker).

__ADS_1


Jadi, jangan mengonsumsi bayam yang sudah didiamkan lebih dari lima jam. Bukan hanya mengandung ferri, bayam tersebut juga sudah mengandung nitrat. Apabila teroksidasi dengan udara, nitrat akan berubah menjadi nitrit yang bersifat tidak berbau, tidak berwarna, dan beracun.


"Siapa bilang begitu? Buktinya diriku sehat sehat aja tuh sampai sekarang," Bantah Lasmi.


"Tapi Mbak, itukan masakan pagi tadi."


"Sudahlah, lagian dia juga nggak suka makan ikan. Biar dia makan ini saja,"


"Nggak papa kok, Bude. Ini aja udah cukup kok," Ucap Risda kepada Eka.


Lasmi juga memberinya nasi sisa, sebenarnya bukan terlalu sisa sih tapi nasinya keras karena tanakan tadi pagi. Lalu nasi yang dirinya tanak disore hari dia berikan kepada Eka dan keluarganya, dan tidak untuk dimakan oleh Risda.


Lasmi memberikan piring yang berisikan nasi untuk Risda, dia lalu menuangkan sayur tersebut dipiring Risda. Risda lalu menerimanya dan membawanya menuju kemeja makan yang ada disana, dirinya memandangi kearah piring tersebut yang dimana nasinya berubah menjadi warna hijau kebiruan akibat dari sayur itu.


"Ya Allah, jika makanan ini sudah tidak layak untuk dimakan, maka ubahlah racun yang ada didalamnya menjadi pasokan energi untukku. Ya Allah, jika memang aku akan sakit nantinya, aku sangat ikhlas untuk menerima takdir yang Engkau berikan," Batin Risda sambil menatap kearah sayur tersebut.


Risda berharap bahwa setelah memakan sayur itu, dirinya tidak akan kenapa kenapa setelahnya. Waktu dirinya belajar dikelas, dia juga diberitahukan oleh gurunya bahwa sayur bayam tidak bisa dipanaskan kembali dan akan bisa berubah menjadi racun untuk tubuh.


Perlahan lahan dirinya mulai menyendokkan makanan itu kedalam mulutnya, dan dirinya pun mengunyahnya. Terdapat perbedaan rasa ketika dirinya memakan sayur bayam itu, rasanya sedikit ada rasa pahitnya ketika sayur tersebut masuk kedalam mulutnya itu.


Risda tidak mempedulikan itu, dirinya pun terus memakannya hingga habis tak tersisa. Setelah dirinya selesai makan, dia langsung mencuci piring dan peralatan memasak setelahnya. Disana dirinya mau tidak mau harus melakukan pekerjaan itu, jika tidak maka Lasmi akan memarahinya lagi.


Kepalanya terasa sangat pusing setelah mencuci piring itu, dirinya pun berjalan menuju kekamarnya dengan sempoyongan setelahnya. Beberapa kali dirinya hendak terjatuh dan menabrak tembok, akan tetapi beruntunglah tangannya yang masih bisa berpegangan dengan tembok tersebut.


Risda lalu langsung masuk kedalam kamarnya dan langsung menutup pintu kamarnya itu, mendadak dirinya terjatuh dilantai sambil bersandarkan pintu kamar itu. Kepalanya benar benar merasa pusing, bahkan kedua matanya ingin sekali terpejan saat ini.


"Apakah aku akan mati saat ini? Lalu Bunda gimana kalau aku mati? Bunda, aku takut mati sebelum bisa membuat Bunda bahagia. Jika aku mati, bagaimana dengan Bunda?" Guman Risda pelan sambil menitihkan air matanya.


Kepalanya terasa sangat berat sekaligus pusing, dirinya sama sekali tidak takut mati akan tetapi hanya takut jika Ibunya kesepian tanpa hadirnya. Apalagi dirinya mengetahui sendiri bahwa Ibunya lebih menyayanginya daripada Kakaknya, karena Kakaknya sudah berkeluarga.


Risda adalah alasan satu satunya bagi Ibunya untuk terus bertahan. Ibunya ingin sekali menyerah ketika perpisahan itu terjadi, akan tetapi Risda lah yang membuatnya kuat hingga detik ini, akan tetapi jika Risda mati maka kekuatannya itu akan ikut hilang.


Pandangannya tiba tiba menggelap begitu saja, dan saat itu Risda sendiri langsung jatuh tidak sadarkan diri setelahnya. Rasa pusingnya seketika membuatnya kehilangan kesadarannya, dan dirinya tidak menyadari bahwa dia sedang pingsan.


*****


Risda sadar ketika adzan subuh berkumandang, Risda masih saja merasakan pusing yang teramat mendalam, apalagi tubuhnya kini mengigil dan juga terasa sangat panas. Risda jatuh sakit saat itu juga, dirinya bahkan harus menahan rasa sakitnya seorang diri didalam kamarnya itu.


Udara dingin seakan akan menusuk jantungnya saat ini, apalagi kamarnya tidak memiliki penutup dan hanya ditutupi oleh sebuah tirai saja, sehingga udara dingin masih bisa masuk kedalam kamar itu.


"Aku masih hidup rupanya," Ucap Risda sambil memegangi dadanya dan juga menutup matanya.


Seakan akan tubuhnya mengeluarkan uap yang sangat panas, bahkan hembusan nafasnya saja terasa panas apalagi lubang telinganya saat ini. Risda tidak terlalu memedulikan itu, dirinya mencoba untuk memejamkan kembali matanya karena suhu tubuh yang panas membuatnya merasa nyaman ketika memejamkan matanya.


Risda pun berencana untuk berangkat sekolah dipagi itu, akan tetapi panas tubuhnya yang tinggi membuatnya harus mengurungkan niatnya itu. Tubuhnya panas sekali, bahkan dirinya merasa bahwa udara sangatlah dingin saat ini.


"Da, sudah jam 7. Kamu nggak sekolah?"


Tiba tiba Risda mendengar suara seseorang yang berkata diluar kamarnya sambil mengentuk pintu kamarnya pelan. Suara itu adalah milik seorang wanita yang bernama Erin, anak dari Lasmi yang sikapnya agak lembut daripada Ibunya.

__ADS_1


Erin pandai menasehati seseorang, akan tetapi tidak pandai mengoreksi dirinya sendiri. Biasanya Risda akan keluar kamarnya ketika jam 6 pagi untuk bersiap siap berangkat kesekolah, akan tetapi kali ini sudah lebih dari itu sehingga membuat Erin mengetuk pintunya untuk membangunnya.


Erin menebak bahwa Risda bangun kesiangan, karena Dewi pernah memberitahukan kepadanya bahwa Risda harus dibangunkan jika pagi hari agar tidak telat untuk berangkat kesekolah.


"Buka saja, Mbak. Pintunya nggak dikunci," Ucap Risda dari dalam sambil berusaha agar suaranya terdengar dari luar.


Mendengar suara Risda lirih, membuatnya langsung bergegas untuk membuka pintu itu dan masuk kedalam kamar yang ditempati oleh Risda. Erin pun melihat Risda yang masih terbaring diatas kasurnya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya itu.


"Kamu nggak sekolah, Da? Ini sudah siang," Ucap Erin setelahnya.


"Nggak Mbak, kepalaku pusing banget sekarang. Boleh ya bolos sehari?" Tanya Risda.


Erin pun langsung mendekat kearah Risda dan menempelkan punggung tangannnya dikening Risda. Erin benar benar terkejut ketika merasakan suhu tubuh Risda yang sangat panas itu, dirinya langsung bergegas untuk mengambil sebuah kompresan untuk mengompres Risda agar suhu tubuhnya itu turun.


"Kamu demam sejak kapan?" Tanya Erin.


"Sejak bangun tidur tadi, Mbak. Kepalaku sangat pusing sekarang,"


"Biar aku ambilkan nasi ya, setelah itu minum obat biar sembuh. Sebentar aku ambilkan dulu,"


Meskipun Erin dan Lasmi adalah anak dan ibu, akan tetapi sikap keduanya sangatlah berbeda jauh. Erin masih sabar untuk berbicara kepada Risda, sementara Lasmi justru akan membentak dan berkata kasar kepadanya itu.


Tak beberapa lama kemudian, Erin datang kembali sambil membawakan nasi untuk Risda. Risda tidak mampu untuk bangkit dari tidurnya, sehingga dirinya makan nasi itu dengan tidur diatas kasurnya yang agak keras itu.


Risda hanya memakan beberapa sendok saja, akan tetapi dirinya memuntahkan seluruh isi perutnya setelahnya. Bukannya malah kemasukkan makanan, justru makanan yang ada diperutnya itu pun ikut keluar bersamaan dengan muntahnya itu.


"Kok belum berangkat kuliah, Rin?" Tanya seseorang tiba tiba yang tidak lain adalah Lasmi.


Lasmi bukannya menanyakan tentang kondisi Risda yang tiba tiba muntah itu, justru dirinya menanyakan kepada Erin tentang keberangkatannya untuk kuliah. Erin memang sedang menempuh pendidikan kuliahnya, sementara dirinya sudah menikah akan tetapi belum dikaruniai oleh seorang anak.


"Habis ini berangkat kok, Bu. Risda sedang demam, jadi Erin periksa dirinya dulu," Ucap Erin.


"Biarkan saja dia, biar Ibu yang urus dia dirumah. Kamu berangkat saja kuliah,"


Lasmi seakan akan menganggap enteng soal kesehatan Risda, bahkan ketika mengetahui bahwa Risda sakit sekalipun itu dirinya masih terlihat sangat santai dan seakan akan tidak peduli.


Erin pun mendengarkan ucapannya Ibunya itu, dirinya pun langsung berpamitan untuk berangkat kuliah setelahnya. Erin juga menyerahkan tanggung jawabnya untuk meminumkan obat untuk Risda kepada Lasmi, dan dirinya lalu meninggalkan Risda disana bersama dengan Lasmi.


"Baru sakit gitu aja sudah lebay banget jadi anak, mau minum obat ya minum aja sendiri jangan nyusahin orang mulu. Bisanya hanya jadi beban, kamu itu tinggal disini bukan untuk jadi beban, kalau tau begini mending kamu tinggal dijalanan aja. Jangan nyusahin orang mulu jadi anak," Ucap Lasmi sambil membuang obat tersebut disebelah Risda.


Risda pun tidak mempedulikan itu, dirinya pun membuang muka dari hadapan Lasmi karena dirinya tidak suka melihat wajah wanita itu saat ini yang hanya bisa merusak moodnya saja. Erin belum sempat untuk membersihkan bekas muntahan Risda itu, sehingga Risda harus turun tangan sendiri untuk membersihkannya meskipun dengan sepenuh kekuatan yang dirinya miliki.


Lasmi tidak mau membersihkan muntahannya itu, karena dirinya merasa sangat jijik. Risda pun memberikannya sendiri ketika dirinya merasa bahwa kondisinya sudah mendingan daripada sebelumnya, setelah dirinya meminum obat itu.


Karena dirinya tidak bisa meminum obat dengan cara diteguk dengan air, sehingga dirinya mengunyah obat yang pahit itu dan langsung meminum air putih setelahnya. Dirinya pun tertidur sebentar dan terbangun hanya untuk membersihkan bekas muntahannya saja.


Benar benar tidak ingin dianggap sebagai beban, dirinya berusaha untuk melakukan semuanya dengan sendiri tanpa meminta bantuan dari orang lain. Bahkan dia tidak ingin merepotkan orang lain hanya karena dirinya tidak sanggup untuk melakukan itu.


Risda akan berusaha sebisa mungkin untuk tidak merepotkan orang lain, karena belum tentu orang lain yang menolongnya itu akan iklas dengan apa yang mereka kerjakan. Bisa saja mereka hanya berkata iklas, akan tetapi tidak dengan hatinya yang merasa sangat keberatan.

__ADS_1


__ADS_2