Pelatihku

Pelatihku
Episode 8


__ADS_3

Risda mulai terbangun dari tidurnya, kepalanya terasa pusing dan berat, entah mungkin ini adalah efek dari semalam dirinya yang tidak makan ataupun dirinya yang terlalu kelelahan karena latihan beladiri.


Karena sangking pusingnya membuat Risda kembali memejamkan kedua matanya, badannya terasa panas sehingga dia melanjutkan tidurnya kembali untuk menghilangkan rasa pusing yang ia rasakan saat ini.


Waktu pun menunjukkan pukul 6.30 akan tetapi Risda masih terlelap dalam tidurnya, biasanya jam segitu Risda sudah berangkat kesekolah, tiba tiba Indah masuk kedalam kamarnya yang memukulnya dengan keras.


Pukulan itu langsung membuat Risda terbangun dari tidurnya dengan jantung yang berdebar kencang karena dibangunkan dengan kasar, nyawanya belum sepenuhnya kembali kepada raganya sehingga dibangunkan dengan keras tiba tiba akan membuat jantungnya berdegup kencang.


"Ya Allah" Ucap Risda lirih sambil memegangi dadanys yang berdenyut kencang.


"JAM BERAPA INI HA! BANGUN! MALAH ENAK ENAKAN TIDUR!" Bentak Indah.


"Kak, kepalaku pusing, aku ngak sekolah dulu ya" Ucap Risda pelan sambil memejamkan kedua matanya untuk menenangkan denyut jantungnya yang berdegup kencang itu.


"NGAK ADA ALASAN! BERANGKAT SEKOLAH SEKARANG! Ngak tau berterima kasih banget sih, untung aja ada yang mau nyekolahin, bangun atau mau disiram pake air ha?"


"Kak beneran, Risda sakit, Risda juga udah izin kepada guru tadi pagi"


"Aku ngak mau tau, harus berangkat sekolah sekarang!" Sentak Indah sambil menarik tangan Risda untuk bangkit dari tidurnya.


Dengan kasar dirinya menarik tangan Risda hingga membuat Ridsa mengernyitkan dahinya karena rasa sakit dari tangannya itu, karena dipaksakan untuk bangun sehingga membuat Risda langsung memuntahkan isi perutnya tiba tiba.


Hal itu membuat Indah berhenti untuk menarik tangan Risda, ia lalu bergegas pergi dari tempat itu karena tidak tahan dengan bau muntahan, Risda kembali membaringkan tubuhnya dan memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit itu.


Kepalanya begitu pusing dan sangat berat hingga membuatnya tidak sanggup untuk berdiri terlalu lama maupun duduk terlalu lama, ia lalu memejamkan kedua matanya dengan rapatnya.


"Kapan gue akan mati?" Tanya Risda entah kepada siapa dengan lirih.


Badannya sangat panas, kepalanya sangat berat dan pusing, hembusan nafasnya juga merasa sangat panas, seakan akan benda disekitarnya terasa melayang layang diudara hingga membuatnya seperti melayang.


*****


"Yah, Risda kagak masuk sekolah" Ucap Kecewa dari Mira ketika mengetahui bahwa Risda tidak berangkat sekolah hari ini.


"Ngak seru kalo ngak ada Risda" Septia meluruh kearah meja yang ada didepannya.


"Lo bener, emang dia kenapa?" Tanya Mira kepada Wulan yang memberitahukan bahwa Risda tidak masuk sekolah hari ini.


"Dia sakit, tadi pagi dia ngirim pesan ke gue"


"Bagaimana kalo pulang sekolah nanti kita samperin kerumahnya?" Terlintas ide dijidat Rania.


"Ngah ah, gue takut sama Kakaknya, jahat banget, kata Risda juga kagak usah, besok sudah masuk sekolah kok" Wulan begitu ngeri untuk membayangkannya.


"Emang dia kagak tinggal bersama orang tuanya?" Tanya Septia antusias.


"Mending kalian tanya langsung ke dia, gue kagak bisa ngasih tau, itu urusan pribadinya, nanti dikira gue ikut campur dalam masalah pribadinya"


"Iya juga sih, bosen juga tanpa tuh orang disini"


*****


Risda perlahan lahan mulai membuka kedua matanya saat dirasa ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya, ia pun melihat Neneknya yang tengah membawakan sepiring nasi hangat untuknya, memang rumah Risda dan Nenek dari Ayahnya berada disebelah rumahnya, sehingga rumah itu nampak berdekatan.


"Risda bangun, ayo makan dulu" Ucap lembut si Nenek.


"Risda ngak lapar Nek, nyium bau nasi rasanya pengen muntah saja"


"Harus diberi makan Da, biar cepet sembuh dan bisa beraktivitas lagi"


"Risda pengen mati, bukannya sembuh, jadi kalo ngak makan bisa mati dong? Ya udah ngak usah makan aja" Batin Risda.


Tiba tiba ponsel milik Risda berdering, ia langsung mengambil ponselnya yang ada didekatnya itu, ia melihat tertera nama 'Bunda Sayang' dilayar ponsel tersebut, melihat itu membuat Risda langsung mengangkat telponnya.


"Halo Bunda, assalamualaikum" Ucap Risda dengan semangatnya kepada Bundanya yang ada diseberang sana.


"Waalaikumussalam, gimana kabarnya? Bunda dengar kamu sakit ya?" Ucap Bundanya melalui telpon.


"Ngak papa kok Bun, udah waktunya aja, sakit ngak ada yang tau kapan datangnya"


"Udah minum obat? Minum obat dulu"


"Risda ngak suka obat, obat itu pahit Bun"


"Minumnya pake pisang atau air gitu lo Ris, biar cepet sembuh"


"Bunda tau sendiri kan, kalo Risda ngak bisa minum kalo ngak dihalusin dulu"


"Ya udah, Bunda akan telpon Kakakmu dulu"


"Iya Bun"

__ADS_1


Bundanya itu pun langsung memutuskan sambungan telponnya, melihat telponnya sudah terputus membuat Risda langsung meletakkan ponselnya sembarangan, tangannya begitu lemah saat ini hingga tidak bisa digunakan untuk mengangkat ponsel itu terlalu lama.


"Sambil Nenek suapin ya" Tawar Neneknya.


"Ngak mau Nek, Risda ngak lapar"


"Tapi Risda harus makan biar sembuh, biar bisa sekolah lagi"


"Risda sudah kenyang Nek"


"Kapan makannya kok sudah kenyang aja? Risda ngak boleh bohong sama Nenek"


"Risda serius, Risda ngak lapar Nek"


"Sudah buka mulutmu, biar Nenek suapin"


*****


Afrenzo tengah berada digazebo yang ada ditanam sekolahan tersebut seorang diri, seperti biasa dan tidak ada yang menemaninya, ia menyandarkan kepalanya disandaran yang ada digazebo tersebut, tiba tiba dirinya menghela nafas panjang.


Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain duduk diam, membaca buku, dan juga merasakan pikirannya yang terus bergemuruh, entah begitu banyak hal yang harus ia pikirkan seorang diri tanpa orang lain mengetahuinya.


"Hai, sendirian aja" Sapa seseorang kepadanya.


Mendengar itu membuat Afrenzo melirik orang tersebut sekilas, seorang perempuan cantik dengan rambut yang dikepang dua tengah duduk disampingnya saat ini, Afrenzo sama sekali tidak menanggapi ucapan gadis tersebut.


"Cuek amat, terlalu cuek ngak laku loh"


Lagi lagi tidak ada sahutan dari Afrenzo, Afrenzo justru tidak peduli dengan gadis tersebut dan memilih untuk fokus kepada buku yang ada dihadapannya itu, merasa dicuekin oleh Afrenzo membuat gadis itu cemberut karena sebalnya.


"Baru pertama kali gue kenal orang sedingin lo, lo mikirin apaan sih"


Masih tidak ada jawaban dari Afrenzo, lelaki itu benar benar menyebalkan, udah dingin, cuek, bahkan sama sekali tidak peduli dengan orang lain yang ada disekitarnya, tapi wajahnya yang tampan membuat para gadis ingin sekali mendekatinya termasuk gadis yang berada disebelahnya itu.


"Lo kagak bisu kan?"


"Renzo, gue mau ngomong sama lo" Ucap seseorang tiba tiba kepada Afrenzo hingga membuat lelaki itu menoleh kepadanya.


"Apa?" Tanya Afrenzo.


"Gila, lo bisa ngomong tapi ngak mau jawab ucapan gue" Ucap gadis itu heboh.


"Soal penting, ayo ikut gue"


"Lo mau ngomong apa?" Tanya Afrenzo ketika sudah berada dikejauhan.


"Kemaren yang terakhir kali keluar dari sekolahan siapa? Bukannya lo?"


"Emang kenapa?" Masih dengan suara datar.


"Gawat Renzo, pintu kamar mandi cowok yang ada disekolahan kita ringsek dan jebol, anggota OSIS lama sedang berdiskusi sekarang, lo tau siapa pelakunya?"


"Ngak, gue ngak akan tinggal diam"


"Gue takutnya lo yang jadi sasaran, soalnya kan kemaren itu ekstrakurikuler beladiri, dan ya, lo pulang paling terakhir kemaren, pasti semua akan nuduh kearah lo"


"Thanks infonya" Afrenzo langsung berlalu pergi meninggalkan lelaki tersebut.


Afrenzo pun kembali menuju kelasnya, yang memegang kunci gerbang sekolahan adalah dirinya, tukang kebun sekolahan tersebut dan beberapa guru saja, sehingga dirinya bisa menjadi salah satu tersangka dalam kasus tersebut.


Sebelum sampai dikelasnya tiba tiba beberapa orang segera menghentikan langkahnya, hal itu membuat Afrenzo segera bergegas menghentikan langkah kakinya tersebut.


"Ikut kita keruang OSIS sekarang" Ucap salah satu dari mereka.


"Iya" Jawab Afrenzo singkat.


Afrenzo dan yang lainnya segera bergegas menuju keruang OSIS, dan hal itu membuat perhatian seluruhnya terarah kepada Afrenzo yang wajahnya memang mampu untuk menarik perhatian orang orang.


Afrenzo segera masuk kedalam ruang OSIS bersamaan dengan beberapa orang tersebut dan langsung disambut oleh seluruhnya, ia lalu duduk ditempat yang telah disediakan untuknya.


"Kamu tau kan maksud kita memanggilmu kemari?" Tanya ketua OSIS kepada Afrenzo.


"Lo nuduh gue?" Tanya Afrenzo dengan dingin kepada ketua OSIS itu.


"Jangan berpikiran seperti itu Renzo, gue tau lo adalah pelatih beladiri, gue nyuruh lo datang kemari untuk ikut serta memecahkan masalah ini, kita ngak ada niatan untuk menuduhmu"


"Lo pelakunya" Masih dengan nada dingin Afrenzo berbicara.


"Lo kok malah nuduh gue? Gue ngak ada niatan untuk nuduh lo, gue hanya ingin lo ikut berpartisipasi untuk mengetahui siapa pelakunya, kenapa lo bisa bisanya nuduh gue?"


"Gue ngak nuduh"

__ADS_1


"Serah lo dah, intinya gini, gue mau cari tau siapa pelakunya"


"Gue dan murid murid gue ngak bakal ngelakuin itu! Ini ngak ada hubungannya sama anggota beladiri" Jawab Afrenzo dengan tegasnya.


"Tapi kan kalian yang pulang terlambat, lagian lo sendiri juga kan punya kunci sekolahan ini, bisa jadi kan lo pelakunya tapi tidak mau ngaku"


"Udah berapa tahun gue pegang kunci itu? Bahkan lo semua belom sekolah sini gue sudah pegang"


"Iya gue tau, tapi gue minta tolong sama lo, tolong selidiki hal ini lebih lanjut, lo kan juga calon anggota OSIS baru, tolong kumpulkan anggota beladirimu, dan selidiki masalah ini"


"Gue pasti selidiki masalah ini, cepat mungkin" Ucapnya dan langsung berdiri dari duduknya untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Afrenzo langsung bergegas pergi dari tempat itu, setelah dirinya sampai diruang kelasnya tiba tiba ada panggilan melalui spicker sekolahan, hal itu membuat Afrenzo hanya bisa menghela nafasnya.


Afrenzo dan para siswa lainnya pun berkumpul di lapangan yang telah ditentukan saat ini, mereka pun saling memandangi lantaran tidak mengetahui kenapa tiba tiba mereka dikumpulkan dihalaman lapangan SMA Bakti Negara itu.


"Lan tungguin gue!" Teriak Septia ketika melihat Wulan yang berjalan menuju ke lapangan.


"Cepetan kenapa sih! Lo lama lama kayak Risda ya" Gerutu Wulan.


"Emang Risda seperti apa?" Tanya Septia penasaran.


"Ya kayak lo, sukanya teriak teriak mulu, orang gue juga kagak ninggal lo"


"Lah kan kita emang 11 12 sama dia, Ngak asik kalo Risda ngak masuk, btw besok masuk beneran kan?"


"Mungkin, kalo besok ngak masuk, gue bakalan dobrak rumahnya itu"


"Emang lo berani?"


"Ya kagak sih, ngeri juga jika berhadapan langsung dengan Kakaknya yang mirip kek hantu itu"


Tiba tiba Afrenzo menghentikan langkah keduanya setelah keduanya membicarakan tentang Risda, memang sejak pagi dirinya sama sekali tidak melihat keberadaan gadis itu, dan hal itu membuatnya langsung menghentikan langkah kaki kedua orang itu.


"Whatt!! Oh my God! Mimpi apa gue semalam sampai sampai lo ada didepan gue! Tia, gue kagak ngipi kan?" Wulan nampak sangat heboh ketika Afrenzo berdiri dihadapan keduanya.


"Lo kagak ngipi Lan, emang beneran dia ada dihadapan kita sekarang" Septia pun tercengang melihat ketampanan dari Afrenzo.


"Oh my God!! Gue seneng banget, cubit gue sekarang Tia, biar gue tau kalo ini kagak ngipi"


Septia pun mencubit keras lengan temannya itu dan langsung meneriba tabokan keras dari Wulan karena Wulan langsung memukulnya setelah merasakan sakitnya cubitan tersebut.


"Sakit tau Lan!" teriak Septia.


"Lo sih, keras banget nyubitnya, kan jadi merah" Keluhnya sambil mengusap usap lengannya.


Melihat kedua wanita yang heboh karena dirinya itu pun membuat Afrenzo menghela nafasnya, berurusan dengan wanita adalah hal yang sangat menjengkelkan bagi dirinya.


"Risda dimana?" Tanya Afrenzo dingin.


"Kenapa lo tiba tiba nanya tentang Risda? Lo kenal dengan Risda?" Tanya Wulan yang merasa aneh.


"Dia murid gue" Jawab Afrenzo singkat.


"MURID!!!" Teriak keduanya bersamaan karena terkejut dan juga tidak mempercayai apa yang keduanya dengar tersebut.


"Sejak kapan Risda jadi murid lo? Kok bisa dia jadi murid lo? Emang lo guru apaan?" Tanya Septia dengan heboh.


"Jawab!" Tanya Afrenzo dengan nada semakin dingin.


"Dia lagi sakit" Jawab Septia sedikit ketakutan ketika mendapatkan tatapan tajam dari seorang Afrenzo.


Tanpa menjawab ucapan tersebut, Afrenzo langsung bergegas pergi meninggalkan keduanya, sikap yang dilakukan oleh Afrenzo tersebut langsung membuat kedua orang itu tercengang seakan akan keduanya seperti dihipnotis oleh Afrenzo.


Kedua orang itu menatap lurus kedepan dan sama sekali tidak bergerak, keduanya baru tersadarkan ketika sosok Rania muncul ditengah kedua duanya dan langsung membuat keduanya langsung tersadarkan.


"Kalian berdua ngapain disini? Ayo kelapangan sekarang juga" Ucap Rania.


"Dia ganteng banget Lan" Ucap Septia.


"Dia seperti mimpi" Ucap Wulan.


"Woi sadar! Kalian ini kenapa sih!"


"Lihat noh, dari belakang saja tampannya sudah kelihatan" Wulan pun menunjuk kearah Afrenzo yang tengah berjalan menuju kelapangan.


"Dia sombong" Ucap Rania ketika melihat Afrenzo.


Siapa disekolahan itu yang tidak kenal dengan Afrenzo, dirinya sejak SMP sudah mengajar ditempat itu, sehingga Kakak kelas maupun para guru sudah mengenalnya sehingga lelaki tersebut dikenal oleh seluruh anggota sekolahan.


"Sudah lah, ayo kumpul sekarang, sebelum diobrak sama anggota OSIS nantinya, bisa bisa kelas kita yang kena" Ajak Rania.

__ADS_1


"Baiklah Ayo" Jawab keduanya serempak.


__ADS_2