
Jam pelajaran pun telah usai, kini saatnya istirahat pun tiba. Biasanya Mira akan mengajaknya kekantin karena tau bahwa Risda tidak pernah membawa bekal sehingga dirinya mengajak Risda kekantin terlebih dahulu sebelum dirinya memakan bekalnya.
"Ayo, Da. Gue mau beli minum," Ajaknya.
"Okey," Jawab Risda lalu bangkit dari duduknya.
Risda dan Mira pun bergegas menuju kekantin sekoalah itu untuk membeli minum. Biasanya Risda akan membeli nasi bungkus untuk dimakan didalam kelas, akan tetapi kali ini dirinya hanya membeli minuman saja yang langsung membuat Mira bertanya tanya.
"Lo ngak beli nasi, Da? Ini kan hari kamis, nanti pulang sekolah lo bakalan latihan kan?"
"Gue bawa bekal kok, dibuatkan oleh Nyokap gue tadi pagi. Gue seneng banget deh, Ra. Akhinya bisa merasakan dibuatkan bekal oleh Nyokap sendiri," Ucapnya dengan senang.
"Serius lo? Emang Nyokap lo udah pulang ya? Sejak kapan, Da?"
"Gue serius, Nyokap gue pulang kemaren malam, eh pagi ini dia balik lagi," Jawaban itu langsung membuat senyuman diwajah Risda luntur perlahan.
"Sudah sabar aja, yang penting kan lo sudah dibuatkan bekal tadi. Yaudah ayo kekelas, lalu kita makan deh,"
"Iya, Ra."
Risda dan Mira pun bergegas kembali kekelas setelah membeli minuman, mereka pun langsung masuk kedalam kelasnya setelah itu untuk bergabung dengan yang lainnya yang kini tengah menikmati bekal mereka masing masing.
"Tumben lo ngak beli makan, Da?" Tanya Rania yang kini tengah memasukkan mie instant bekalnya kedalam mulutnya.
"Gue bawa bekal kok, Nyokap gue udah siapin tadi pagi," Jawab Risda dan langsung membuat teman temannya melongo kearahnya.
"Lo seriusan, Da?" Tanya Septia dengan antusias.
"Ini ngak mimpi kan? Jangan jangan lo hanya mimpi kali, Da," Ucap Rania.
Mereka tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Risda saat ini, bukannya mereka tidak senang ketika Risda dibuatkan bekal, akan tetapi mereka tidak mempercayai apa yang diucapkan Risda. Mereka semua memandang kearah Risda dengan tatapan yang penuh bertanya.
"Ngapain gue ngipi disiang bolong kayak gini, nih gue tunjukkan kalo gue ngak bohong,"
Risda pun lalu mengeluarkan sebuah kotak makan dari dalam tasnya, hal itu membuat mereka semua percaya kalau Risda benar benar dibuatkan bekal oleh Ibunya. Mereka pun ikut senang ketika melihat Risda senang seperti itu, ia lalu duduk disebelah Rania untuk memakan bekal buatan Ibunya itu.
"Lo dibuatin bekal apaan, Da?" Tanya Septia sambil celingukan untuk melinat isi bekal dari Risda.
"Semur ayam kecap dong, ini makanan kesukaan gue banget dari dulu. Nyokap gue selalu tau apa kesukaan gue," Ucap Risda sambil mencium aroma dari masakan ayam kecap itu.
"Lo suka banget sama ayam, Da?"
"Kalo mateng sih suka, kalo mentah ya boro boro yang ada gue malah neg lihatnya,"
"Kirain lo suka makanan ayam,"
"Njiiir lo, Ra! Gue manusia ya kali makan nasi sisa,"
Mereka pun tertawa mendengar candaan dari Mira itu, memang temannya yang satu itu suka sekali untuk menggoda Risda dan membuat Risda kesal. Entah mungkin ini telah menjadi hobi barunya ataukah kegemaran barunya.
Ketika Risda hendak menyuapkan nasi tersebut kedalam mulutnya, tiba tiba kotak bekal tersebut tersenggol oleh teman lelakinya. Kotak tersebut langsung terpental bergitu saja dan apa yang ada didalamnya langsung berceceran dilantai kelasnya.
Melihat itu langsung membuat hati Risda merasa panas dan murka, impian dibuatkan bekal itu menjadi kenyataan akan tetapi memakannya pun hanya sebuah angannya saja. Nasi itu sudah tidak layak untuk dikonsumsi karena bercampur dengan pasir yang menempel pada sepatu.
Brakkkkk
"BANGSAAAATTT!" Umpat Risda dengan marahnya sambil memukul dengan keras meja yang ada didepannya.
"Sorry, Da. Ini semua gara gara Satria tuh yang dorong gue," Ucap lelaki tersebut.
Ia lalu menatap tajam kearah Farhan yang berdiri disampingnya, bagaimana munkin tidak marah jika bekal yang sangat dirinya inginkan itu dengan mudahnya disenggol oleh temannya itu sampai berceceran dilantai.
Risda tanpa berkata kata lagi langsung meninju wajah Farhan dengan kerasnya, ia tidak terima jika nasinya jatuh begitu saja. Risda yang memang telah berlatih beladiri tersebut pun langsung memberikan pukulan yang penuh tenaga kearah Farhan hingga membuat Farhan menoleh hingga membentur tembok yang ada dibelakangnya, karena belum siap untuk menerima pukulan dari Risda.
__ADS_1
Farhan yang tidak terima dipukul oleh Risda begitu saja pun langsung membalas pukulannya itu, tak beberapa lama terjadilah keributan ditempat itu hingga membuat teman teman Risda langsung berusaha untuk memisahkan keduanya.
*****
"Jadi untuk acara tour nanti, apakah sudah siap semua?" Tanya Afrenzo yang kini tengah berada diruang OSIS beserta pengurus inti OSIS.
Afrenzo mengadakan rapat kecil kecilan untuk mengetahui tentang persiapan untuk acara nantinya, Afrenzo kembali memakai maskernya agar luka memar yang ada diwajahnya tidak terlalu mencolok dan membuat perhatian semusnya terarah kepadanya.
"Sudah, Renzo. Kita hanya menunggu waktunya tiba saja, semuanya sudah beres dan bahkan Busnya sudah dapat. Peralatan seperti obat mabuk, keresek, dan air mineral sudah siap." Jawab Nadya seraya wakil ketua OSIS.
"Bagus,"
Tak beberapa lama kemudian, dua orang datang ketempat itu dengan tergesa gesa. Melihat itu langsung membuat Afrenzo bangkit dari duduknya untuk menghampiri keduanya, mereka masih mengatur nafasnya yang memburu setelah berlari cukup jauh.
"Ada apa? Katakan!" Sentak Afrenzo yang tidak tahan mendengar kediaman dari keduanya.
"Itu.. Ada yang berkelahi diruang kelas 10 Sastra Indonesia 1," Jawabnya setelah nafasnya mulai kembali stabil.
Mendengar itu langsung membuat Afrenzo bergegas menuju kekelas yang dimaksud itu, Afrenzo yang selaku ketua OSIS itu pun langsung dicari untuk menghentikan perkelahian tersebut. Ia tidak menyangka ketika sudah sampai dikelas tersebut yang begitu ramai dengan orang.
"Berhenti! Astaghfirullah, kalian dengar ngak sih!"
"Ehhhhh... Jangan saling memukul!"
"Risda hentikan,"
"Farhan lo apa apaan sih, jangan berkelahi!"
"Anjiiing tangan gue sakit!".
"Busyet, nih cewek tenaganya kagak ada habisnya apa sih? Kuat banget,"
Mereka pun bahkan kesulitan untuk mengendalikan Risda yang terus melontarkan sebuah pukulan kepada Farhan, sementara teman teman yang laki lakinya justu mendukung perkelahian itu.
"Ngak lah, cewek pasti kalah, Bro. Gue yakin kalo Risda kagak bakalan menang,"
Memang teman ngak ada akhlak, temannya berkelahi malah didukung, siapa lagi kali bukan David dan Dimas yang ada dikelas itu. Mereka nampak begitu serius untuk menyaksikan serangan Risda yang asal asalan dan bahkan pakaian Risda pun sobek sobek dan jilbabnya entah seperti apa, tapi untung saja dirinya memakai kaos didalamnya
Bahkan para Guru sudah ada dikelas itu dengan susah payahnya untuk memisahkan murid yang tengah berkelahi itu, melihat kedatangan Afrenzo membuat para siswa yang ada disana langsung memberinya jalan untuk masuk.
"HENTIKAN!" Bentak Afrenzo.
Afrenzo langsung berdiri untuk menengahi keduanya, ia pun memukul dengan keras perut Farhan agar menjauh dari Risda, dan dirinya langsung menarik tubuh Risda untuk berdiri dibelakangnya.
Bentakan tersebut langsung membuat seluruh terkejut, cowok yang biasanya pendiam dan tidak banyak berbicara itu pun kini bersuara dengan sangat kerasnya dan bahkan langsung membuat mereka berhenti bersuara karena suaranya yang sangat berat itu.
Kedatangan Afrenzo langsung menghentikan perkelahian antara keduanya, melihat itu langsung membuat mereka semua lega karena akhirnya perkelahian itu pun berhenti. Afrenzo menatap tajam kearah Farhan sambil memegangi erat tangan Risda yang ada dibelakangnya itu menggunakan tangan kirinya.
Tangan kanan Afrenzo pun langsung mencengkeram erat kerah baju milik Farhan itu, tatapan tajam serta pelototan Afrenzo pun terarah kepada Farhan. Tenaga Afrenzo yang kuat tersebut pun tidak mampu untuk membuat Farhan melepaskan pegangan tangan Afrenzo dari bajunya.
"KALO BERANI LAWAN GUE! JANGAN LAWAN PEREMPUAN!" Bentak Afrenzo kembali kepada Farhan dengan urat urat syaraf yang ada dikepalanya langsung menonjol begitu juga dengan otot yang ada ditangannya.
Risda pun memegangi pipinya yang terasa panas dan terciptalah sebuah noda merah disana, kedua matanya kini tengah berair karena merasakan perasaan yang campur aduk. Ia menatap kearah nasi yang berceceran dilantai dengan tatapan nanar dan perasaan sedih langsung menyerangnya begitu saja.
"Renzo, nasi bekal gue." Ucap Risda dengan bibir yang bergetar hebat menahan tangisnya sambil mengadu kepada Afrenzo.
Air mata Risda bagaikan sebuah bendungan yang sudah tidak mampu untuk dibendung lagi, Afrenzo pun menoleh kelantai dan melihat nasi yang telah berceceran disana. Ia tau maksud dari perkataan Risda dan dirinya akhinya mengetahui penyebab dari perkelahian itu.
Tangisan Risda pun pecah begitu saja, ia pun menggenggam erat tangan kiri Afrenzo dengan kedua tangannya. Perasaannya benar benar hancur saat ini, belum sempat dirinya memakan bekal itu, akan tetapi dengan teganya Farhan menjatuhkannya begitu saja.
"Gue ngak sengaja, Da. Nanti gue ganti deh," Ucap Farhan.
"BAGAIMANA LO BISA GANTI!" Bentak Afrenzo lagi dengan genggaman tangan yang lebih erat lagi, "LO NGAK TAU SEBERAPA PENTINGNYA BEKAL ITU BAGI RISDA!"
__ADS_1
Afrenzo pun nampak begitu marah ketika mendengar tangisan memilukan dari Risda, ia tau bagaimana hancurnya hati Risda saat ini ketika melihat nasi bekal yang selama ini dirinya inginkan kocar kacir dilantai begitu saja.
"Halah itukan cuma nasi saja, nanti gue ganti yang banyak, Renzo. Lagian gue juga ngak sengaja,"
"Lo gampang ngomong kayak gitu, lo ngak bakalan tau gimana rasanya seberapa pentingnya nasi bekal itu. Gadis yang selama ini berharap untuk dibuatkan bekal oleh Ibunya dan hal itu tidak pernah terwujud, lo ngak bakalan tau gimana rasanya menjadi gadis yang kurang kasih sayang dari orang tuanya. Menurut lo itu hanya bekal biasa, tapi bagi Risda itu sesuatu yang sepesial karena dibuat oleh Ibunya, yang bahkan selama ini dinanti nantikan. Kali ini impiannya terwujud, tapi lo justru merusaknya! Lo bahkan tega memukul balik kearahnya, cowok macam apaan lo!"
"Gue ngak tau soal itu,"
Mendengar ucapan tersebut langsung membuat semua orang terdiam, mereka pun merasa sedih dengan ucapan yang telah dilontarkan oleh Afrenzo. Cowok dingin itu kini berbicara panjang lebar, beberapa Guru pun langsung mendekat kearah Risda dan mengusap kepalanya.
"Nanti Ibu buatkan bekal untuk Risda ya, Risda jangan nangis lagi," Ucap Bu Rita yang selaku wali kelas ditempat itu.
Risda pun menggelengkan kepalanya dengan kuat, ia tidak mampu untuk berbicara lagi ketika mendengar ucapan dari Afrenzo itu, ia tidak mau dibuatkan oleh orang lain dan dirinya hanya ingin dibuatkan oleh Ibunya saja.
"Risda, lo belom makan kan? Makan sama gue aja, ini bekal buatan Nyokap gue. Kita bisa berbagi kok," Ucap Mira dengan kedua mata yang berkaca kaca, dan masih mendapatkan gelengan kepala dari Risda.
Risda pun semakin mengeratkan pegangan tangannya kepada tangan milik Afrenzo, mungkin hanya Afrenzo saja yang mengerti tentang perasaannya saat ini. Risda pun menyandarkan kepalanya dipunggung Afrenzo untuk mengurangi suara isak tangisnya itu, ia tidak mampu untuk menahan air matanya.
"Farhan, ikut Ibu keruang BK. Sekarang!" Ucap Bu Nizza.
"Gue tunggu lo dilapangan sepulang sekolah," Ucap Afrenzo dan langsung mendorong tubuh Farhan, ia lalu menarik tangan Risda untuk keluar dari ruangan itu.
Risda pun hanya mengikuti kemana Afrenzo akan membawanya pergi dari kelas itu sekarang, ia menuju keruang UKS untuk mengobati luka memar yang ada dipipi Risda. Sesampainya diUKS, Afrenzo lalu mengambil obat didalam kotak P3K.
"Baju lo sobek," Ucap Afrenzo yang baru memperhatikan baju Risda.
Risda pun hanya berdiam diri saja tanpa menyahuti perkataan Afrenzo karena dirinya yang sedang menahan tangisnya saat ini, melihat Risda yang hanya berdiam diri itu langsung membuat Afrenzo dengan refkek mengusap kepalanya.
"Gue tau bekal itu sangat berharga bagi lo, Da. Tapi lo jangan nangis kayak gini," Ucap Afrenzo lagi.
"Lo ngak marah sama gue, karena gue udah berantem dikelas?" Tanya Risda sambil terisak lirih.
"Ngak, lo ngak salah. Gue obatin ya?"
"Renzo, apa gue ngak pantas untuk bahagia? Apakah keinginan gue terlalu tinggi? Gue hanya pengen dibuatkan bekal oleh Nyokap gue saja, tapi bekal itu dijatuhkan begitu saja oleh Farhan. Padahal itu bekal pertama gue hiks.. hiks.. hiks.. dan gue belum mencicipinya sama sekali. Nyokap gue udah balik kerja tadi pagi dan ngak mungkin gue dibuatkan bekal lagi, gue benci sama Farhan. Renzo, gue..."
Kalimat Risda seakan akan menggantung dan dirinya tidak mampu untuk meneruskannya. Ditengah tengah Risda sedang mengutarakan isi hatinya, Afrenzo dengan perlahan lahan mengobatinya, mungkin beberapa jam lagi luka itu akan menimbulkan bekas biru dipipi Risda.
"Akan gue bereskan,"
Risda sama sekali tidak mengetahui maksud dari perkataan Afrenzo saat ini, ia pun menatap kearah wajah dari Afrenzo dengan lekat lekat. Kedua mata saling bertemu, Risda dapat melihat ketulusan dari Afrenzo untuk mengobatinya.
"Renzo, kenapa lo begitu baik sama gue? Dan sikap lo jauh berbeda jika sama yang lainnya?"
"Wajah lo mengingatkan gue pada seseorang,"
"Jadi karena wajah ini lo seperti ini? Lo jahat, Renzo. Jika bukan karena wajah ini, mungkin lo juga ngak bakalan peduli kan sama gue?"
"Seseorang yang ada didalam mimpi gue."
Mendengar itu langsung membuat Risda terdiam, Risda mengernyitkan keningnya ketika merasakan perih yang ada dipipinya. Melihat itu langsung membuat Afrenzo mendekatkan wajahnya ke wajah Risda seraya meniup pelan luka tersebut untuk meredakan rasa perih itu.
"Obatnya memang perih, nanti perlahan lahan akan mereda."
"Tapi kenapa lo tadi kagak merasakan perih? Padahal ini obat yang sama,"
"Bagaimana mungkin tidak merasakan? Gue masih bisa tahan."
Risda pun terkekeh pelan, "Kita sama sama bonyok sekarang, gue hebat kan tadi? Baru kali ini gue berantem beneran sama orang,"
"Jangan diulangi,"
"Habisnya gue kesel banget, Renzo. Makanan gue dijatuhkan begitu saja,"
__ADS_1
"Gue tau."