Pelatihku

Pelatihku
Episode 89


__ADS_3

Risda berhenti didepan rumahnya yang pintunya sedang tertutup rapat itu, Risda memandangi halaman sekitar rumahnya itu yang terlihat tandus tanpa adanya tanaman yang tumbuh disana.


Yang dulunya adalah rumah yang penuh dengan kenyamanan, canda tawa, bahkan alasan utama untuk pulang. Sekarang, menjadi rumah yang sunyi, sepi, bahkan Risda sama sekali tidak ingin pulang kerumah itu.


Jika tidak pulang kerumah itu, lantas kemana lagi dirinya akan pulang? Itu adalah rumah satu satunya milik kedua orang tuanya, ketika keduanya sudah pisah maka rumah itu tidak ada yang menempati. Indah dengan mertuanya pun tidak akur, sehingga terpaksa dirinya menempati rumah itu hingga sekarang.


Sudah 4 tahun Indah menempati rumah tersebut, hingga membuat Risda tidak memiliki hak atas rumah tersebut, dan dirinya bagaikan orang yang numpang tinggal tanpa memiliki hak atas rumah tersebut.


Seketika air mata Risda pun menetes ketika mengingat masalalunya, dirinya pun melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam rumah tersebut dan melihat sekeliling rumah yang bagaikan penjara baginya itu. Foto foto kebahagiaan mereka pun terpajang dengan jelas didinding rumah itu, bahkan saat itu keluarganya masih berkumpul menjadi satu keluarga yang bahagia.


Ayah Risda adalah seorang pedagang bakso aci, keluarga mereka awalnya baik baik saja, akan tetapi setelah Ayahnya pindah profesi bekerja sebagai bank keliling sehingga keluarganya berpisah karena Ayahnya tergoda oleh seorang wanita yang dirinya tarik angsurannya itu.


"Hufffttt... Andai keluargaku baik baik saja, mungkin aku tidak akan bernasib seperti ini," Ucap Risda sambil menghela nafas pelan.


Risda langsung menghapus air matanya yang menetes itu dengan kasar, ia melihat wajah milik Ibunya yang tersenyum didalam foto itu. Selama wajah itu masih tersenyum, itulah kekuatan terpendam yang Risda miliki saat ini, dirinya mencoba untuk terus bertahan demi seorang Ibu yang telah melahirkan dirinya itu.


Risda pun langsung masuk kedalam kamarnya, setelah itu dirinya pun langsung mandi dan membersihkan tubuhnya setelah latihan. Setelah itu, dirinya pun membaringkan tubuhnya diatas kasurnya itu.


Risda pun menatap kearah langit langit kamarnya yang terlihat usang karena tidak pernah dibersihkan itu, kalau saja Ibunya ada dirumah, pasti tiap hari akan terlihat bersih dan nyaman untuk ditinggali. Risda pun teringat tentang kenangan kasa lalunya itu, hingga hal itu membuatnya menangis.


*Flash back on*


Waktu sore telah tiba, dimana seorang wanita tengah sibuk memasak didapur yang masih berdinding kayu itu. Seorang anak kecil yang masih berusia 6 tahun itu tengah sibuk bermain gelas plastik yang diisi dengan air.


"Da, tolong belikan garam," Ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Dewi.


"Garam punya Bunda kan masih banyak," Ucap Risda kecil yang melihat kearah sebuah toples yang berisikan garam.


"Buat jualan, Nak. Kalo tinggal segitu mah kagak cukup untuk jualan,"


"Mana uangnya?" Risda pun menengadahkan tangannya kepada wanita tersebut.


Wanita itu pun memberikan dua lembar yang sepuluh ribuan kepada Risda, Risda pun langsung menerimanya begitu saja. Karena dirinya masih kecil, sehingga dia menghitung hitung jumlah uang tersebut dengan jari jemarinya itu.


"Nanti belikan garam, tahu, lada bubuk, sama kaldu ayam."


"Ini masih sisa kan, Bun?" Tanya Risda.


"Masih, ada sisa dua ribu, buat kamu."


"Asyikkkk...."


Risda pun segera berlari keluar rumah, kalau bukan karena imbalan itu, dirinya tidak akan mau untuk berangkat. Tak beberapa lama kemudian, Risda datang dengan sekantung plastik ditangan kanannya, dan dirinya langsung memberikannya kepada Ibunya.


"Bun, uangnya ngak sisa, malah kurang," Ucap Risda lesu sambil memberikan belanjaannya itu.


"Kok kurang?" Tanya Ibunya aneh.


Ibunya itu pun langsung membongkar sekantung plastik itu, dirinya pun terkejut dengan apa yang dibeli oleh Risda. Didalam sana ada beberapa bahan yang belum dibeli oleh Risda, akan tetapi banyak bahan makanan yang tidak disuruh untuk beli akan tetapi dibeli oleh Risda.


"Risda, Bunda tadi nyuruh Risda beli apa?" Tanya Dewi.


"Bunda kan suruh beli garam, cabai, gula, kecap, sama tepung terigu." Risda pun mengingat ingat belanjaan yang dirinya beli itu.


"Tapi Bunda nyuru tadi cuma beli garam, tahu, lada bubuk, sama kaldu ayam. Terus kemana yang lainnya?"


"Bunda ngak bilang sih, kan Risda hanya ingat itu saja. Terus gimana dong, Bun?"


"Ya harus balik lagi, ini bukan yang Bunda bilang tadi,"

__ADS_1


"Ngak mau ah, Risda kan capek harus bolak balik. Mana jalannya panas lagi, jauh juga," Keluh Risda.


Tolet tolet tolet


Tiba tiba terdengar pedagang yang tengah melintas dijalanan yang ada didepan rumah Risda, mendengar itu langsung membuat Risda dengan semangatnya untuk meminta uang kepada Ibunya.


"Bun mau beli itu, Bun!" Teriak Risda dengan semangatnya.


"Bentar, Bunda ambilin uangnya dulu," Ibunya pun bergegas untuk menuju kearah kamarnya.


"Bun cepat! Keburu hilang nanti," Risda yang memang ngak sabaran itu pun takut jika pedagang tersebut pergi dari tempat itu sebelum dirinya datang.


Ibunya pun memberikan selembar uang lima ribuan kepada Risda, dan Risda pun langsung berlari menuju keluar rumah demi membeli makanan itu. Itu adalah penjual buah potong keliling, ketika Risda sudah dijalanan, dirinya pun melihat pedagangnya sudah bergegas pergi.


"Pak beli!" Teriak Risda sambil berlari mengejar pedagang tersebut.


Pedagang itu pun berhenti diujung gang yang menuju kerumah Risda, yang lebih tepatnya berjarak sekitar 1 hekto meter dari rumahnya itu. Dirinya sampai didepan penjual itu dengan nafas yang tersegal segal dan langsung memberikan uang itu kepada penjualnya.


"Pak beli melon sama pepaya sama semangka sama nanas," Ucap Risda sambil mengatur nafasnya itu.


Tapi ucapan itu tidak didengar oleh penjual tersebut, karena penjual itu sedang melayani pembeli yang lainnya akan tetapi yang milik Risda pun sudah diberikan kepadanya itu.


Setelah penjual itu terlihat sepi, dirinya pun meladeni Risda, akan tetapi kata penjual itu yang Risda tidak cukup untuk membeli keempat buah itu. Dirinya hanya bisa membeli tiga buah saja, padahal saat itu buah potong harganya masih lima ratusan.


"Ngak cukup, Dek. Uang Adek kurang," Ucap penjual itu.


"Tapi Bunda tadi ngasih uang lima ribu, Pak. Kan masih cukup untuk beli empat buah," Ucap Risda bingung.


"Tapi uang kamu cuma dua ribu, dan harga semangkanya seribuan. Jadi cuma bisa dapat tiga buah saja,"


"Ngak, tadi aku lihatnya juga lima ribu, Pak. Bunda bilang tadi juga lima ribu," Risda tetap kekeh pada ucapannya itu.


Sebelum berlari, dirinya memang melihat kearah uangnya itu, dan memang terdapat tulisan angka 5 didalam uang itu. Risda sangat ingat betul dengan kejadian sebelumnya itu, sebelum dirinya memberikan uang tersebut kepada penjual buah itu.


"Bukan, itu bukan uangku, Pak. Uangku tadi warnanya ngak gitu,"


"Tapi tadi Adek berikan uang ini,"


"Ngak Pak, aku masih ingat."


"Ya sudah tanya ke Bundamu aja,"


Penjual tersebut pun masih kekeh dengan ucapannya, dirinya pun langsung memasukkan buah semangka, melon, sama pepaya kedalam kantung plastik. Dirinya pun langsung memberikan buah itu kepada Risda tanpa kembalian, Risda pun tetap berdiri disamping rombongnya itu untuk menunggu kembalian.


"Kembaliannya, Pak?" Tanya Risda yang seakan akan tidak dipedulikan oleh orang tersebut.


"Itu uangmu sudah cukup, ngak ada kembalian lagi."


"Tapi uangku lima ribu, Pak. Biasanya juga dapat 10 buah kalo dibelikan semuanya,"


"Mending kamu tanya Bundamu dulu, tadi dikasih uang berapa sama dia,"


"Tapi Bapak tunggu disini ya, aku tanya Bunda dulu,"


"Iya,"


Risda pun melangkah kembali menuju kearah rumahnya, sesekali dirinya meboleh kebelakang untuk memastikan pedagang itu masih ada. Beberapa langkah dirinya lakukan, selangkah demi selangkah dirunya terus menoleh kebelakang karena takut pedagang itu akan pergi tanpa mengembalikan uang kembaliannya itu.


Ketika Risda berbelok kearah rumahnya, pedagang itu langsung bergegas untuk pergi dari sana. Melihat itu langsung membuat Risda menangis, pedagang itu seakan akan tidak mendengar tangisannya karena jaraknya cukup jauh.

__ADS_1


"Bunda, Hua....." Tangisan Risda sambil berlari masuk kedalam rumahnya.


Mendengar teriakan dari anaknya itu, langsung membuat Dewi bergegas untuk menemuinya karena takut anaknya kenapa kenapa. Risda pun menangis sesenggukan ketika melihat Dewi, sementara Dewi bingung kenapa anaknya itu menangis.


"Ada apa?" Tanya Dewi takut anaknya habis jatuh atau bagaimana.


"Tadi Bunda beri aku yang berapa?" Tanya Risda dengan sesenggukan dan menghapus air matanya itu.


"Lima ribu, Nak. Emang kenapa?"


"Kata penjual buah itu, uang Risda kurang, Bu. Dia bilang uang Risda cuma dua ribu, terus cuma dapat ini doant, Bun. hikss.. hiks.. hikss... Terus dia nyuruh Risda pulang untuk tanya ke Bunda, katanya dia mau nungguin Risda tapi justru dia pergi,"


Risda pun mengutarakan semuanya kepada Ibunya itu, dirinya merasa sakit hati ketika dibohongi begitu saja oleh pedagang buah yang dirinya beli tadi. Katanya dia mau menunggu Risda untuk bertanya kepada Ibunya, akan tetapi justru dia meninggalkan Risda begitu saja.


"Sudah jangan nangis, mungkin bukan rezeki kita, Ris. Nanti Bunda ganti deh, asal Risda ngak nangis lagi," Bujuk Dewi.


"Ngak mau, Bun. Dia yang salah kenapa Bunda yang ganti?"


"Terus gimana? Kalo dikejar pun sudah pergi, Ris. Emang Risda tau perginya kemana?"


Risda pun menggelengkan kepalanya dengan cepat, karena dirinya sendiri pun tidak tau kemana perginya penjual buah itu. Bisa jadi sudah jauh juga perginya, sementara Ibunya tidak bisa naik sepedah motor, mengejarnya dengan jalan kaki pun tidak memungkinkan untuk bisa terkejar.


"Makan saja buahnya, nanti kalo Ayah pulang kita beli yang besar,"


"Beneran ya, Bun?" Tanya Risda dengan membulatkan kedua matanya.


"Iya, sudah dimakan itu buah yang dibeli,"


Risda pun langsung memakannya dengan lahap, dirinya pun menikmatinya meskipun perasaannya masih terluka akibat ditinggal pergi oleh pedagang buah tersebut.


...*Flash back off*...


Risda tersenyum dengan sendirinya ketika mengingat hal itu, dimana ketika dirinya menangis Ibunya akan membujuknya untuk tetap tersenyum. Akan tetapi, kalau saat ini dirinya menangis, maka hatinya sendiri yang akan berusaha untuk menenangkannya bukan orang lain.


Jika dirinya tidak bisa menenangkan hatinya, maka dengan menyakiti diri sendirilah solusi terbaik untuknya. Dengan rasa sakit dianggota tubuhnya, hal itu akan membuat Risda mampu melupakan rasa sakit didalam hatinya.


Mungkin tidak ada yang tau, bahwa Risda sering menyakiti dirinya sendiri ketika sedang terpuruk. Bahkan tembok yang ada didalam kamarnyalah yang menjadi sasarannya untuk meluapkan emosinya itu, hingga membuat punggung tangannya terluka.


"Hah... Itu semua hanya masalalu yang tidak akan pernah bisa untuk kembali, meskipun nangis darah sekalipun, masalalu itu sudah pergi dan tidak akan bisa diputar kembali. Seandainya keluarga gue baik baik saja, mungkin semuanya akan baik baik saja dan gue tidak akan seterpuruk ini tiap harinya,"


Setelah mengatakan itu, air mata Risda pun mengalir diujung pelupuk matanya, rasa sesak pun menyeruak didalam hatinya. Semuanya sudah berlalu akan tetapi rasa sakitnya masih terasa dengan jelas, bahkan rasa sakit itu hampir membuatnya bunuh diri.


Perceraian keluarga adalah sebuah bencana bagi anak anaknya, tanpa disadari bahwa dibalik itu semua, bahwa anaknyalah yang paling terluka. Memang sakit ketika dihianati pasangan, akan tetapi lebih sakit jika menjadi anaknya yang harus melihat kedua orang tuanya berpisah.


Tanpa mereka sadari bahwa perceraian keluarga berpengaruh kepada mental seorang anak, ketika pertanyaan 'antara ikut Ibu atau Ayah' diucapkan, maka saat itu juga hati seorang anak akan hancur sehancur hancurnya bahkan tidak mampu untuk diperbaiki lagi.


Anak akan merasa bersalah, pikiran anak-anak memang kerap kali belum matang, sehingga saat orangtua memutuskan untuk bercerai mereka akan merasa bahwa hal ini terjadi karenanya. Mereka akan merasa sangat bersalah, apalagi jika anak masih berusia di bawah 12 tahun. Mereka tergolong sangat rapuh dalam menghadapi hal ini. Anak akan merasa jika dunia mereka menjadi berantakan setelah kedua orangtua bercerai.


Anak jadi paranoid, saat orangtua memutuskan untuk bercerai, maka anak akan berisiko kehilangan rasa percaya diri, ketenangan batin, dan kehilangan cita-cita. Mereka tidak lagi memiliki semangat dalam menjalani kehidupan. Hasilnya, mereka akan berkembang menjadi pribadi yang paranoid. Sifat ini akan membuatnya menarik diri dari pergaulan di masyarakat dan ia akan memilih untuk bersembunyi dalam kesendirian atau malah menjadi seorang pribadi yang kasar.


Bertabiat Buruk, anak-anak korban perceraian biasanya cenderung merasa tidak memiliki arah tujuan hidup dan tidak memiliki pendukung dalam hidupnya. Mereka akan menjadi anak yang di luar kendali dan lebih agresif. Mereka juga cenderung lebih mudah terlibat dalam penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.


Tidak Mau Menikah adalah rasa trauma yang terjadi akibat perceraian akan membuat anak menghindari pernikahan saat ia dewasa. Ia akan merasa enggan melangsungkan pernikahan karena takut mengalami hal yang sama seperti orangtua mereka. Parahnya lagi, mereka bahkan enggan menjalin hubungan akibat rasa trauma mendalam.


Kualitas Kehidupan yang Rendah. Anak-anak yang kedua orangtuanya bercerai biasanya mengalami penurunan kualitas kehidupan. Hal ini disebabkan uang saku mereka berkurang, karena orangtua mereka sudah enggan berkomunikasi untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup sang anak.


Penurunan Akademik. Menurut beberapa penelitian, anak-anak korban perceraian akan mengalami masalah perilaku. Kegiatan belajar mereka cenderung tidak lagi ada yang mengontrol, sehingga berdampak pada kemampuan akademik mereka.


Kesepian adalah salah satu dampak psikis yang pasti terjadi pada anak korban perceraian. Rasa kesepian inilah yang akan sangat mencolok, sebab mereka akan merasakan kehilangan salah satu orangtuanya.

__ADS_1


Jika perceraian adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh oleh orangtua, pastikan kasih sayang dan perhatian untuk anak tidak berkurang agar efek perceraian bagi anak tidak menjadi masalah yang perlu penanganan khusus.


"Bunda! Ayah! Kalian begitu tega dengan Risda, Risda juga pengen seperti yang lainnya, bisa tersenyum bareng sama orang tuanya. Bunda, Risda sangat iri dengan teman teman, apa kalian tidak bisa memberi Risda waktu sehari untuk bahagia dengan kalian? Kalian jahat!"


__ADS_2