
Tengah malam Risda terbangun dari tidurnya karena perutnya tiba tiba merasa lapar, dirinya pun kesulitan untuk bisa tidur kembali dalam keadaan lapar. Risda pun terjaga dari tidurnya sambil memegangi perutnya yang berbunyi, karena sejak pagi dirinya belum makan dan bahkan malam ini dirinya juga belum makan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, akan tetapi Risda sama sekali tidak bisa tidur. Dirinya merasa begitu lapar saat ini, dan tidak ada makanan yang bisa dia makan untuk malam ini. Risda mencoba untuk memejamkan matanya, dia pun masih tetap sama tidak bisa tertidur dengan pulas.
Karena perutnya yang merasa lapar untuk minta diisi sehingga dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak, meskipun dirinya mencoba tidur dalam posisi yang nyaman sekalipun matanya tak kunjung terpejam juga.
"Laper banget, di rumah juga nggak ada apa apa untuk bisa dimakan. Mending gue minum air aja,"
Risda pun bangkit dari tidurnya untuk menuju ke arah dapurnya, dirinya pun langsung mengambil sebuah kelas dan menuangkan air minum ke dalamnya. Setelahnya dirinya pun langsung meminum air itu hingga tandas, air yang terasa dingin itu langsung membuat tenggorokannya begitu segar.
"Ya Allah, semoga air ini bisa mengenyangkanku,"
Risda sama sekali tidak menyesal karena jatah makannya dia berikan kepada Ayahnya, Akan tetapi rasa laparnya itu membuatnya terlihat tidak bisa tidur dan terjaga malam ini. Risda pun berharap bahwa air yang dirinya minum mampu untuk membuatnya tertidur, meskipun tidak untuk menghilangkan rasa laparnya akan tetapi berharap bahwa dirinya bisa tertidur.
Bagi Risda lebih baik dirinya yang sakit daripada harus orang lain, jika dirinya yang sakit itu justru lebih bagus daripada melihat orang lain sakit. Risda tidak suka melihat orang lain terluka, sehingga dirinya merasa bahwa lebih baik dirinya yang terluka daripada orang lain.
Jika dirinya yang terluka maka dirinya sendiri yang merasakannya, dan bukan orang lain yang merasakan sakitnya itu. Dirinya sendiri saja tidak mampu untuk menahan sebuah rasa sakit, dan dirinya berpikir lantas bagaimana orang lain bisa merasakannya.
Risda pun terus berusaha untuk bisa tidur, alhasil dirinya bisa tidur ketika hendak adzan subuh. ketika adzan subuh berkumandang rasa kantuknya mulai datang, dan dirinya pun tertidur aja beberapa saat saja setelah itu dirinya harus bangun untuk berangkat ke sekolah.
Di sekolah Risda terlihat sangat mengantuk, bahkan dirinya sama sekali tidak fokus dengan mata pelajarannya. Matanya sangat sulit untuk bisa dikondisikan, bahkan kedua matanya ingin sekali terpejam saat ini.
"Da, lo sakit?" Tanya Mira sambil menggoyangkan pelan tubuh Risda.
"Gue ngantuk! Jangan ganggu gue," Ucap Risda dengan kesalnya sekaligus menyingkirkan tangan Mira dari bahunya.
Tidak biasanya Risda akan terlihat mengantuk seperti ini, bahan untuk membuka matanya saja dirinya tidak mampu. Untung saja saat itu di kelasnya sedang ada jam kosong, sehingga tidak ada guru yang mengajari dalam kelasnya itu dan bisa leluasa untuk tidur.
"Lo kemarin tidur jam berapa, Da? Kok masih pagi sudah ngantuk aja," Tanya Rania.
"Waktu subuh."
"APA!" Teriak teman temannya secara bersamaan.
Pantas saja Risda terlihat sangat mengantuk kali ini, karena dirinya baru bisa tidur ketika adzan subuh berkumandang diawang awang. Mereka pun penasaran dengan apa yang terjadi kepada temannya itu, sehingga temannya tersebut bisa tidur sepagi itu.
Ketika mereka hendak bertanya kepada Risda, akan tetapi mereka tidak tega untuk membangunkannya, apalagi Risda yang terlihat begitu sangat kelelahan. Dapat dilihat dari caranya tidur saat ini, Risda terlihat begitu pulas bahkan beberapa detik setelah meletakkan kepalanya di atas bangku dirinya mulai tertidur.
"Kasihan ya nih anak, sudah biarkan saja dia tidur," Ucap Rania.
"Iya. Lagian kagak ada pelajaran juga kok," Ucap Septia.
*****
"Hoammmm..." Risda pun menguap setelah dirasa rasa dirinya terbangun dari tidurnya.
Risda pun melihat ke arah sekelilingnya yang di mana seluruh siswa sedang sibuk dengan tugasnya, dirinya sama sekali tidak tahu apa apa soal itu. Risda melihat ke arah Septia dan juga Mira yang sedang mengerjakan tugas secara bersamaan, sementara Rania sedang mengerjakan tugas sendiri dengan kebingungan.
"Ada tugas?" Tanya Risda kepada Mira.
Mira yang tengah fokus dalam bukunya, dirinya pun begitu sangat terkejut ketika mendengar suara Risda. Dirinya tidak mengetahui bahwa Risda yang duduk bersebelahan dengannya itu pun sudah terbangun dari tidurnya, sehingga hal itu membuatnya sangat terkejut.
"Lo udah bangun?" Tanya Septia sambil menoleh kearah Risda.
"Kalau gue nggak bangun mana mungkin gue bisa bertanya," Jawab Risda dengan ketus.
"Iya juga sih," Septia pun tertawa setelahnya.
Risda pun merasa kesal ketika mendengar tawa dari Septia, bertanya sebelumnya tidak dijawab oleh mereka sehingga membuatnya semakin merasa kesal. Apalagi dirinya yang baru saja bangun dari tidur, sehingga tingkat emosinya masih belum stabil.
"Da, tadi lo dicari'in sama Renzo," Ucap Rania yang masih tetap fokus kepada bukunya.
__ADS_1
"Renzo datang kemari?" Tanya Risda sambil membelalakkan matanya.
"Iya. Ngelihat lo tidur terus dirinya langsung pergi gitu aja,"
"Dia nggak ngomong sama sekali?"
"Nggak Da, cuma tiba tiba datang terus ngelihat lo tidur, dirinya langsung balik gitu aja. Ketika gue tanya, dia cuma natap doang tanpa menjawab,"
Rania menceritakan kejadian ketika Risda tertidur, entah mengapa Afrenzo tiba tiba mencarinya di jam segini. Apalagi Afrenzo juga tidak menjelaskan kenapa dirinya datang ke kelas itu, dirinya main masuk dan keluar begitu saja tanpa keterangan.
"Kenapa kalian kagak bangunin gue sih," Ucap Risda dengan kesalnya.
"Habis tidur lo terlalu nyenyak sih, Da. Kita kan jadi kagak tega bangunin lo, apalagi lo tadi mengatakan kalo lo tidur waktu subuh," Jawab Septia.
"Gue harus temuin Renzo."
Risda pun langsung mengusap wajahnya dengan kasar, karena takut kalau ada air liur diwajahnya itu. Dirinya pun langsung bangkit dari duduknya setelahnya, akan tetapi langsung dicegah oleh Rania.
"Jangan dulu, Da. Kelas sebelah masih ada jam pelajaran, apa lo mau ganggu pelajaran mereka?" Tanya Rania sambil memegangi tangan Risda.
"Tapi Renzo nyari'in gue tadi. Gue takut kalo dia emang butuh sesuatu," Ucap Risda.
"Kalo butuh sesuatu, dia pasti bangunin lo tadi kok. Tapi nyatanya apa?"
"Betul itu, Da. Kalau tidak bangunin lo, itu artinya tidak terlalu membutuhkan," Sahut Mira.
Teman temannya merasa heran dengan Risda, kenapa gadis itu begitu panik ketika mengetahui bahwa Afrenzo mencarinya. Padahal ketika teman teman yang lainnya mencarinya, justru dirinya terlihat begitu santai dan tidak seperti ini.
"Ya sudah deh, nanti aja gue temuin dia. Kalian bener," Putus Risda.
Risda pun kembali duduk dibangkunya, meskipun dirinya ingin sekali menemui Afrenzo saat ini, akan tetapi benar yang dikatakan oleh Rania bahwa cowok itu masih ada jam pelajaran. Hal itu membuat Risda harus menunggu sampai jam pelajaran selesai, dan bel istirahat berbunyi.
*****
Dari kejauhan, Risda melihat Afrenzo yang tengah berjalan menuju kekelasnya. Risda pun langsung berlari untuk mendatangi cowok itu, dirinya ingin menanyakan kenapa cowok itu mencarinya sebelumnya.
Risda terus berlari untuk mengejar Afrenzo, Afrenzo terus melanjutkan jalannya karena dirinya tidak mendengarkan suara Risda yang memanggilnya. Afrenzo tengah sibuk dengan sosok lelaki yang berjalan bersamanya, sehingga fokusnya hanya tertuju kepada jalanan dan juga lelaki yang ada disebelahnya.
Risda tiba tiba langsung menghentikan langkah keduanya dengan berdiri dihadapan keduanya, dengan nafas yang tersegal segal dirinya pun membungkuk sambil memegangi kedua lututnya. Afrenzo dan lelaki itu pun langsung menghentikan langkah kakinya, keduanya pun berhenti untuk membahas sesuatu.
"Hufttt... Capek sekali," Ucap Risda sambil menghembuskan nafas kasar.
"Lo ngapain?" Tanya lelaki yang ada disebelah Afrenzo kepada Risda.
"Bukan urusan lo," Jawab Risda singkat sambil terus mencoba untuk mengatur nafasnya.
"Lo balik kekelas dulu, nanti gue nyusul," Ucap Afrenzo kepada temannya itu.
"Oke."
Lelaki itu pun langsung bergegas untuk meninggalkan keduanya, kini hanya tersisa Afrenzo dan Risda saja. Risda merasa sangat kelelahan karena habis berlari dengan kecepatan penuh untuk mengejar Afrenzo, sehingga nafasnya begitu sangat memburu.
"Kita duduk dulu," Ucap Afrenzo sambil berjalan menuju sebuah gazebo yang ada disekolahan itu.
Langkah kaki Afrenzo pun langsung diikuti oleh Risda, keduanya pun langsung bergegas untuk menuju kearah gazebo itu untuk duduk. Dibawah rindangnya pohon terembesi, keduanya tengah duduk sambil saling berhadapan.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo setelah melihat pernafasan Risda mulai stabil kembali.
"Lo tadi ngapain nyari'in gue dikelas? Kata Rania lo tadi nyari'in gue dikelas," Tanya Risda.
"Gue nggak nyari'in lo kok, sejak pagi gue ada diruang OSIS dengan anggota inti."
__ADS_1
"Tapi Rania bilang..."
"Kalo gue nyari'in lo, emang lo kagak ada dikelas?"
"Gue tadi tidur, Renzo. Gue nggak tau soal itu,"
"Lo dikerja'in kali,"
"Mungkin sih, gue sendiri juga tidak tau pastinya. Lagian lo sendiri nggak mungkin nyari'in gue gitu aja kalo kagak penting,"
Risda pun merasa malu akibat ulah dari teman temannya itu, apalagi Afrenzo yang terlihat tidak tau apa pun soal itu. Risda pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak batal, untuk menghilangkan rasa canggungnya saat ini.
"Renzo / Da " Ucap keduanya bersamaan.
"Lo duluan aja deh," Ucap Risda.
"Lo aja," Ucap Afrenzo.
"Nggak lo aja."
"Lo mau bilang apa?"
"Gue hanya penasaran saja kok, apa lo bener bener nggak datang ke kelas gue tadi?" Tanya Risda sambil mengangkat sebelah alisnya.
Afrenzo pun menjawabnya dengan gelengan kepala pelan, dirinya memang benar benar tidak mencari Risda sebelumnya. Bahkan sejak berangkat sekolah, dirinya sudah berada didalam ruangan OSIS.
Entah mengapa, Risda bisa berpikir seperti itu. Risda pun begitu mempercayai ucapan dari teman temannya itu, sangking penasarannya dirinya pun langsung bertanya langsung kepada Afrenzo.
"Kalo kagak ada hal yang penting, gue balik ke kelas aja lah. Lagain lo juga kelihatannya sibuk banget," Pungkas Risda setelahnya.
Afrenzo pun menganggukkan kepalanya pelan, dirinya pun masih sibuk saat ini. Banyak tugas yang harus dirinya kerjakan seorang diri, termasuk juga dengan perkembangan sekolah tersebut di kemudian hari.
Akan ada sebuah perayaan di sekolah itu, untuk merayakan hari guru. Oleh karena itu lelaki itu terlihat sangat sibuk, apalagi dirinya yang saat ini menjabat sebagai ketua OSIS.
Segala keputusan untuk berlangsungnya sebuah organisasi OSIS ada di tangannya saat ini, Biar bagaimanapun dirinya juga adalah seorang ketua OSIS dan seorang pelatih yang ada di sekolah itu.
Memang bener apa yang dikatakan oleh orang orang, bawa ketika bergabung dalam anggota OSIS mereka akan jarang untuk mengikuti pelajaran. Bahkan tidak sedikit diantara mereka harus ketinggalan pelajaran, karena banyaknya kegiatan yang diadakan oleh OSIS setiap hari.
Mereka diminta untuk mengadakan sebuah program untuk membangun keberlangsungan sekolah itu, bukan hanya sekali dan dua kali program itu akan dilakukan akan tetapi tiap hari. diary tertentu dirinya akan mengadakan sebuah rapat atau diskusi khusus untuk susunan organisasi OSIS.
Karena sejak mengikuti kegiatan OSIS, Afrenzo jarang sekali mengikuti pelajarannya ada di kelasnya. Begitu banyak materi pelajaran yang ketinggalan, sehingga dirinya harus belajar seorang diri tanpa bimbingan dari gurunya.
"Anggota OSIS emang mau ngadain acara apa lagi?" Tanya Risda.
"Untuk merayakan hari guru nasional, setiap kelas harus mengikuti bazar yang akan diadakan, dan juga seluruh lomba yang akan diadakan. Kalian akan diminta untuk masak seperti di acara master chef, masakan siapapun yang paling enak dan paling menarik akan memenangkannya. Ada juga lomba menghias kelas dan melukis tembok yang ada di kelas, hiasan paling bagus juga akan memenangkannya asalkan hiasa itu jangan asal asalan."
"Banyak banget dong lombanya, apakah seluruh siswa wajib ikut?"
"Setiap kelas diminta untuk mengikuti lomba itu, dan kelas kelas itu harus memiliki perwakilan untuk bisa mengikuti lomba. Jika tidak ada perwakilan dari kelas maka seluruh siswa yang ada di kelas itu harus didiskualifikasi,"
Afrenzo pun jelaskan kepada Risda mengenai lomba lomba yang akan diadakan untuk memperingati hari guru nasional, kedengarannya hal itu terlihat sangat menarik. Kegiatan itu akan dilaksanakan dua minggu kemudian, sebelum kegiatan itu didengar oleh orang lain oleh karena itu mereka harus berusaha sekeras mungkin untuk acaranya lancar.
Sebelum hari h tiba, mereka harus segera menyelesaikan persiapan persiapan yang harus mereka lakukan. Afrenzo tidak ingin ketika acara tiba justru semuanya gagal, karena persiapannya belum sepenuhnya semua selesai.
Afrenzo terlihat seperti orang yang sangat sibuk, bahkan ketika pelajaran saja dirinya tidak mengikuti pelajaran tersebut. Sehingga pekerjaan rumahnya begitu sangat menumpuk, belakangan ini Afrenzo tidur dengan cukup larut malam.
Dirinya pun harus mengerjakan tugss sekolah sampai selesai, bahkan dirinya pun sampai meminjam buku temannya untuk menulis kembali apa yang diterangkan oleh bapak ibu guru. Afrenzo terlihat begitu sangat sibuk saat ini, apalagi sepertinya dirinya sama sekali tidak memiliki waktu.
Lelaki seperti itu sepertinya sama sekali tidak memiliki rasa lelah! Bahkan ketika tugasnya menunggu begitu banyak akan tetapi dirinya masih terlihat begitu santai, Risda sendiri pun merasa lelah jika harus dipaksa untuk terus juga kerja tanpa di imbalan.
Bukan hanya Afrenzo saja yang terlihat begitu beralasan, bahkan seluruh anggota OSIS yang ada pun melakukan hal yang sama.
__ADS_1