
"Huft akhirnya semuanya selesai," Ucap Risda sambil menutup bukunya.
Risda dan lainnya telah menyelesaikan pelajaran di hari ini, begitu banyak ilmu yang mereka dapatkan untuk hari ini. Rasanya terlalu lelah bagi mereka semua, apalagi mereka harus mengerjakan semua tugas yang telah diberikan oleh guru.
"Da, lo jadi kan mau nganterin kita kerumah Wulan? Soalnya tadi Bu Ninik tanya soal Wulan," Tanya Rania sambil menghampiri bangku Risda.
"Gue udah janji, pasti gue tepati. Gue bukan orang yang mudah mengingkari janji," Jawab Risda.
"Baguslah kalo begitu."
Risda pun langsung bangkit dari duduknya dan diikuti oleh yang lainnya, beberapa siswa cowok pun ikut serta dalam hal itu. Risda berjalan memimpin mereka menuju kearah parkiran untuk mengambil sepedah mereka masing masing.
"Da, kenapa lo ngak ikut sekalian kerumahnya?" Tanya Richo, salah satu siswa cowok yang ikut kerumah Wulan.
Tidak ada yang mengetahui pertengkaran diantara mereka selain kelima orang yang biasanya bersama dengan Risda, sehingga hal itu membuat para siswa cowok kebingungan. mendengar itu langsung membuat Rania memegangi tangan Richo agar dia tidak semakin bertanya lebih dalam soal itu.
Rania tidak ingin Risda marah tiba tiba, karena Rania tidak ingin Risda berubah pikiran, dan tidak jadi mengantarkan mereka kerumah Wulan. Sebenarnya Rania sudah disuruh oleh wali kelas mereka untuk mendatangi rumah Wulan, karena beberapa hari ini Wulan tidak masuk sekolah sehingga membuat para guru cemas karenanya.
"Keluarga Wulan galak, gue nggak suka dengan keluarganya," Jawab Risda beralasan.
"Maksud lo galak gimana, Da?" Tanya Rizal yang semakin dibuat bingung oleh jawaban Risda.
"Kalian semua nanti bakalan tahu sendiri kalau sudah sampai di rumahnya, bukannya lo sudah kenal Wulan sejak SMP? Kalian kan dulu satu sekolah sama dia," Tanya Risda balik kepada Rizal.
Richo dan Rizal berasal dari sekolah yang sama dengan Wulan, ketiga orang itu masih tetap bersama sampai dijenjang SMA. Hal itulah yang membuat Risda bertanya kepada Rizal, karena mereka berasal dari sekolah yang sama mungkin saja mereka saling mengenal.
"Gue emang satu sekolah sama dia, tapi gue nggak pernah tuh ke rumahnya. Keluarganya aja gue nggak tahu, gue cuma tahu wajah Nyokapnya doang karena dia dulu pernah mengambilkan raport siswa. Selebihnya gue nggak tahu,"
"Mangkanya sering sering main ke rumahnya, daripada kalian semakin penasaran lebih baik kita segera ke sana. Gue mau latihan, jadi gue nggak ada waktu lagi untuk lama lama,"
Mereka pun bergegas untuk menuju ke motor mereka masing masing, mereka semua pun langsung bergegas menuju ke arah rumah Wulan dengan Risda melaju paling depan. Risda pun bagaikan arah petunjuk bagi mereka menuju ke rumah Wulan, karena di sana Risda lah yang paling tahu mengenai Wulan.
Risda paling mengenal sosok Wulan itu seperti apa, karena pertemanan mereka bukan hanya setahun dua tahun melainkan sejak mereka kecil. Risda dan Wulan sudah berteman sejak mereka memasuki sekolah TK, dan karena sebuah masalah yang terjadi beberapa bulan yang lalu membuat mereka terpisah sampai sekarang.
Risda sangat akrab dengan keluarganya sekaligus, akan tetapi keluarganya itu seakan akan tidak pernah menghargai orang lain. Jika Risda main di rumah Wulan, dirinya sering disuruh suruh oleh keluarganya itu bahkan di rumah sendiri dirinya tidak pernah disuruh oleh keluarganya sendiri.
Keluarga Wulan memang sederhana, kedua gadis itu memiliki nasib yang sama. Wulan hanya tinggal bersama dengan Ibu dan Kakaknya saja, sementara Ayahnya sudah sejak kecil tidak pernah pulang entah pergi ke mana.
Ayahnya tidak pernah menghubunginya sama sekali hingga dirinya dewasa, bahkan di detik ini sekalipun Ayahnya tidak pernah pulang. Oleh karena itu, Risda tidak pernah mengenal siapa Ayahnya.
Wulan sering bercerita mengenai ayahnya itu kepada Risda, Wulan berkata bahwa ayahnya telah pergi semenjak dirinya memasuki sekolah SD. Katanya waktu itu Ayahnya mengalami kecelakaan parah, dan Wulan mengatakan bahwa Ayahnya tidak berani untuk pulang saat itu.
Selama ini, Wulan dibiayai oleh Tantenya yang merupakan orang kaya. Bukan karena percuma mereka membiayai Wulan, mereka menjadikan Wulan sebagai Babu mereka sendiri untuk membersihkan rumah.
Bahkan Wulan hanya dianggap sebagai pesuruh, di rumah itu seakan akan Wulan tidak ada harga dirinya. Wulan melakukan itu hanya agar dirinya bisa sekolah dan jajan, kalau bukan seperti itu dirinya tidak akan mungkin bisa sekolah sampai jenjang SMA.
Apalagi Ayahnya tidak pernah pulang selama ini, kabarnya saja dirinya tidak mengetahuinya. Ibunya juga seorang buruh tani, uang hasil petani pun tidak mampu untuk membiayai sekolah dan keperluan Wulan selama ini.
Suami dari Tante lainnya itu, adalah seorang pemilik sebuah pabrik sendiri. Oleh karena itu keluarga dari Tantenya itu sangat kaya, siapapun yang bermain dengan Wulan mereka akan diperlakukan sama seperti Wulan yang dianggap sebagai babu.
Di dalam rumah itu ditinggali oleh dua orang bersaudara, jadi di dalam rumah itu bulan memiliki dua orang Tante dan satu Om. Asmi adalah Tante dari Wulan yang telah menikah dengan pemilik sebuah pabrik, sementara Luluk adalah Tante dari Wulan yang memutuskan untuk tidak menikah.
Luluk adalah orang yang paling menyebalkan, dirinya suka menghina orang yang rendahan. Bahkan dirinya memandang fisik dan juga memandang harta, bahkan di usianya yang sudah 40 tahun itu dia menjadi perawan tua.
Pernah ada yang ingin menikahinya, seorang pemuda yang sederhana dan tidak memiliki banyak harta. Di depan banyak orang dirinya menghina pemuda itu, karena dirinya tidak memiliki harta dan wajah pas pasan.
__ADS_1
Karena hinaan itulah yang membuat pemuda tersebut sangat malu, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk menikah dengan wanita yang lainnya, hingga saat ini pemuda tersebut sudah memiliki istri dan juga anak yang masih berusia sekitar 10 tahun.
Sementara Tantenya Wulan yang bernama Luluk masih lajang sampai sekarang, dan tidak ada pemuda yang mau dijadikan suami olehnya. Karena Wanita itu juga membuat hubungan Wulan dan Risda renggang, bahkan keduanya terpisah sangat jauh hingga tidak bisa disatukan kembali.
Meskipun keduanya sudah menyatu sekalipun, hubungan keduanya tidak akan bisa seperti dahulu lagi. Risda bukan tipe seorang pendendam, akan tetapi dirinya akan selalu ingat siapapun yang telah melukainya selama ini.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di gang rumah Wulan, Risda pun menghentikan motornya di gang tersebut. Hal itu langsung membuat seluruhnya ikut berhenti, dan mereka semua kini tengah berada di depan gang tersebut.
"Gue antar sampai sini saja ya, gang ini kalian lurus aja nanti ada rumah sudah. Rumahnya di sini cuma satu, itu rumah Wulan doang. Sementara yang di depan ini adalah rumah Tantenya, rumah Wulan berada di belakang rumah Tantenya," Ucap Risda kepada mereka sambil menjelaskan.
"Lo beneran nggak ikut masuk sama yang lainnya?" Tanya Rania.
"Gue langsung latihan saja, pelatih gue udah nungguin soalnya."
"Jadilah langsung balik ke sekolah nih?"
"Iya. Yaudah gue duluan yak, nanti kalo kagak tau arah pulang lo telfon gue aja,"
"Yaelah tempat segini aja nggak tahu, lagian desa lo ini adalah gang buntu mana mungkin kita tersesat di sini."
"Baguslah kalo begitu."
Risda pun kembali menyalakan motor miliknya itu, dirinya pun melambaikan tangan kepada teman temannya sebagai salam perpisahan. Teman temannya pun ikut menyalakan motornya dan masuk ke gang yang ditunjuk oleh Risda, setelah hal itu mereka pun berpisah dari tempat itu.
Risda segera melajukan motor miliknya menuju ke rumahnya untuk menaruh tas miliknya, karena jarak rumah Wulan dan rumahnya tidak terlalu jauh, oleh karena itu dirinya terlihat untuk pulang terlebih dahulu. Sehingga ketika dirinya pulang latihan nanti, dirinya tidak perlu susah payah untuk membawa tas tersebut.
Setelah mengganti pakaiannya menjadi pakaian beladiri, Risda langsung menggenakkan jaket. Dirinya pun bercermin didepan cemin riasnya, dirinya nampak begitu gagah dengan pakaian seperti itu.
Risda terkagum kagum dengan dirinya sendiri, bak orang gila yang terus berpose didepan cermin riasnya. Jangan lupa selfi juga, dia itu sangat narsis juga, apalagi ketika diajak foto.
Dengan segera dirinya pun langsung terperanjak pergi dari rumahnya, jalan menuju ke sekolahannya itu melewati rumah Wulan. Ketika Risda melewatinya, nampak rumahnya sangat sepi saat ini.
"Mereka sudah pulang? Cepet banget pulangnya, emang kagak ngobrol ngobrol apa gimana?"
Dirinya pun tidak peduli lagi soal itu, hal itu langsung membuatnya menambah kecepatan laju motornya menuju kesekolahan. Sesampainya disana, dirinya begitu terkejut ketika melihat seluruhnya sudah memulai pemanasan.
Risda segera terburu buru untuk memarkirkan motornya, dirinya dengan cepat melepas jaketnya dan langsung berbaris ditempat tersebut. Afrenzo yang melihat itu langsung memanggil Risda untuk maju kedepan, mau tidak mau dirinya harus maju kedepan.
"Kenapa telat?" Tanya Afrenzo dengan nada tegasnya.
"Nganterin teman," Jawab Risda jujur.
Tatapan Afrenzo langsung melotot setelah mendengar jawaban dari Risda, melihat itu langsung membuat Risda bergidik ngeri untuk melihatnya.
"Wulan ngak masuk sekolah beberapa hari ini, jadi Bu Ninik nyuruh temen temen untuk datang kerumahnya," Risda seakan akan paham dengan apa dikode kan oleh Afrenzo.
Afrenzo membutuhkan penjelasan yang lebih lengkap, agar tidak salah paham dengan maksud dari lawan bicaranya itu. Risda yakin bahwa dirinya akan dimarahi oleh Afrenzo, karena dirinya telat untuk datang ke tempat latihan.
"Lain kali jangan telat, push up 15 kali sebagai hukuman."
"Iya pelatih."
Risda pun langsung bergegas diposisi push up seperti yang dikatakan oleh Afrenzo, dirinya pun langsung melakukan sebuah push up dengan berteriak untuk menghitung. Bukan hanya lainnya saja yang telat wajib dihukum, melainkan Risda juga tak terkecualikan.
Setelah hitungan ke 15, Risda langsung bangkit berdiri untuk menghadap kearah Afrenzo. Afrenzo pun menyuruhnya untuk berdoa dan melakukan pemanasan seperti biasa akan tetapi dirinya melakukannya sendirian, karena yang lainnya sudah melakukan itu.
__ADS_1
*****
Dipagi hari yang cerah, Risda menaiki motornya dengan bersenandung lirih. Dirinya sedang bergegas menuju ke sekolahan, sesampainya digerbang pintu sekolahan, Risda lalu dihentikan oleh beberapa anggota OSIS.
"Matikan mesinnya!" Ucap salah satu dari mereka.
"Iya ya, bawel banget. Nih gue matikan," Ucap Risda dengan nyolotnya.
"Tumben lo berangkat sesiang ini?"
"Berangkat pagi salah, berangkat siang malah salah. Emang ya gue kagak pernah bener dimata kalian semua," Celetuk Risda kesal.
"Bukan begitu, biasanya lo berangkat kepagian. Name tag lo mana?" Tanyanya ketika tidak mendapati name tag milik Risda.
"Yah kepo."
"Jangan bercanda! Atau gue aduin ke ketua OSIS."
"Dih malah ngancem, mau aduin ya aduin aja kali. Lo ngak lihat apa name tag gue itu ada disini," Ucap Risda sambil menunjuk kearah jilbabnya.
"Mana?" Tanyanya lagi karena tidak mendapati name tag milik Risda.
"Eh kok ngak ada ya," Risda baru menyadari bahwa name tag nya tidak ada ditempatnya saat ini.
Perasaan tadi pagi dirinya sudah memakai name tag nya itu, akan tetapi mengapa name tag itu tiba tiba hilang begitu saja. Yang tidak membawa perlengkapan sekolah akan dikenakan hukuman, mereka harus diajarkan disiplin sejak kecil agar ketika dewasa nanti mereka sudah terbiasa.
"Berdiri dilapangan sekarang!"
"Iya ya, ngak usah ngegas juga kali. Gue masih bisa denger tau,"
Risda lalu mencerucutkan bibirnya kepada anggota OSIS itu, dirinya pun menaruh asal sepeda motornya itu seperti para siswa yang lainnya. Setelahnya dirinya langsung bergegas menuju ke lapangan yang dimaksud, tidak ada yang diperbolehkan masuk sebelum perlengkapan sekolahnya lengkap.
Mereka pun disuruh untuk berdiri di bawah tiang bendera, sudah begitu banyak siswa yang berkumpul di sana karena tidak membawa atribut sekolah. Cukup lama dirinya berdiri disana, akhirnya gerbang sekolah itu pun ditutup agar siswa yang terlambat masuk sekolah akan ketinggalan pelajaran.
"Catat nama nama mereka, yang daftar namanya paling banyak, dia harus dikenakan sangsi. Dan akan mendapatkan hukuman diakhir semester nanti," Ucap Afrenzo kepada wakilnya.
"Siap Renzo," Jawab sang wakil.
Satu persatu dari mereka pun ditanyai mengapa tidak membawa atribut lengkap, Afrenzo pun menatap tajam kearah Risda karena Risda berdiri dibarisan orang orang yang tidak membawa atribut lengkap. Melihat tatapan Afrenzo seperti itu, membuat Risda langsung bersembunyi dibalik punggung siswa laki laki yang ada didepannya.
"Busyet deh, cowok itu selalu saja nyeremin. Gimana caranya agar gue bisa terbebas dari dia? Udah nyeremin, dingin, dan juga tatapannya tajam banget. Apa jangan jangan dia ..... Jilbabku miring kali ya? Apa ada nasi sisa dipipi gue? Atau make up gue yang berantakan, eh busyet gue kan kagak pake make up make up an," Batin Risda yang heboh.
Risda kebingungan mengapa lelaki itu selalu saja menatapnya seperti itu, seakan akan tidak ada hal lainnya yang dirinya lihat saat ini. Bahkan tatapannya itu selalu saja sangat tajam, hingga hal itu membuatnya merasa sangat ngeri dengan tatapannya itu.
"Kenapa lagi dia?" Tanya Afrenzo kepada wakilnya sambil menunjuk kearah Risda.
"Lupa ngak bawa name tag, Renzo. Diloloska atau tetap dikenakan sangsi?"
"Kenakan sangsi. Biar tidak diulang lagi,"
Setelah mengatakan itu, Afrenzo pun berlalu pergi dari tempatnya itu. Sementara wakilnya langsung mencatat namanya disebuah lembaran kertas yang dirinya bawa itu, dan melanjutkan untuk mencatat nama nama siswa yang tidak membawa atribut lengkap.
Mereka semua pun langsung dihukum untuk berdiri selama 1 jam disana, sesuai dengan ketentuan yang telah ditentukan sebelumnya. Barang siapa yang tidak membawa atribut lainnya maka mereka akan dihukum berdiri selama 1 jam penuh.
Selama berdiri dibawah tiang bendera itu, Risda terus memperhatikan pergerakan yang dilakukan oleh Afrenzo. Lelaki itu dan juga beberapa anggota OSIS pun berjalan mengelilingi para siswa yang dihukum, agar tidak ada yang diam diam duduk berjongkok diantara barisan.
__ADS_1