
Risda langsung menuju kerumahnya, tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Afrenzo yang sedang duduk diatas motornya ditepi jalan. Risda langsung menghentikan laju sepedahnya untuk menghampiri Afrenzo yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"Hai. Lo ngapain disini?" Tanya Risda yang kini sudah berada disamping Afrenzo.
"Bukan urusan lo," Jawab Afrenzo dingin dan masih tetap fokus pada ponselnya.
"Jangan galak galak napa sih, gue kan hanya nanya. Kali aja, lo butuh bantuan dari gue,"
"Ngak butuh, kembaliin kotak makan gue,"
"Iya ya, jangan galak gitu dong. Oh iya, thanks ya udah berikan bekal kemaren,"
Risda langsung mengeluarkan kotak tersebut dari dalam tasnya. Risda lalu memberikankan kotak bekal tersebut kepada Afrenzo, Afrenzo lalu menerimanya dan memasukkan kotak tersebut kedalam jok motor miliknya itu.
"Renzo,"
"Hem." Jawabnya hanya berdehem saja.
"Kenapa lo bawain bekal buat gue kemaren? Gimana lo bisa tau kalo gue kagak bawa bekal kemaren,"
"Dasar pelupa," Afrenzo pun menyalakan motornya, "Cepat pulang, jangan keliaran."
Afrenzo langsung bergegas meninggalkan Risda begitu saja, Risda hanya bisa berdiam diri menyaksikan kepergian dari Afrenzo. Ia mencoba mengingat ingat tentang apa yang terjadi sebelumnya, mungkin memang benar dirinya seorang pelupa.
*Flash back off*
Risda sedang berada didalam aula beladiri, sebelum latihan tersebut dimulai. Risda kini tengah menghafal dialog yang akan ia ucapkan disaat perlombaan tersebut, seperti biasa Risda akan datang keaula lebih awal. Disana sudah ada Afrenzo yang tengah terduduk sambil memejamkan kedua matanya.
Cowok itu seperti jarang tidur sehingga ketika diaula seperti itu, dirinya akan tidur sesaat. Mungkin hari harinya dirinya jarang sekali tidur, atau mungkin dirinya memiliki masalah yang teramat berat sehingga tidak mengizinkan dirinya untuk tidur dengan nyenyak.
"Besok bakalan nginep disekolah, dan persyaratannya harus bawa bekal dari rumah. Gimana gue bisa bawa sementara keluarga gue kayak gitu, jelas makin diomelin deh. Gue juga pengen kayak yang lain yang selalu dibuatin bekal sama orang tuanya, kapan gue bisa ngerasain itu," Guman Risda pelan.
Mendengar gumanan tersebut langsung membuat Afrenzo membuka kedua matanya, ia menatap kearah Risda yang tengah fokus kepada buku yang ada ditangannya. Akan tetapi, pikiran gadis itu tengah menerawang jauh, entah kemana.
"Renzo, lo mau kan buatin gue bekal? Ah ngak deh, nanti gue malah ngerepotin lo lagi. Tapi gue pengen dibuatin bekal sama kayak yang lainnya," Ucap Risda yang tidak menyadari bahwa Afrenzo kini memperhatikannya dan juga mendengarkan ucapannya itu.
"Hem," Afrenzo hanya berdehem pelan dan langsung membuat Risda menoleh kearah cowok itu.
"Lo sudah bangun? Jangan dengerin yang tadi ya, gue cuma ngomong doang kok. Gue ngak beneran minta lo untuk buatin gue bekal, gue ngak pengen ngerepotin lo nantinya, Renzo. Nanti gue bisa minta ketemen gue untuk makannya, jangan pedulikan ucapan gue yang tadi ya," Ucap Risda dengan segera.
"Gue buatin," Pungkas Afrenzo.
"Hah? Seriusan lo mau buatin untuk gue? Tapi gue hanya bercanda tadi Renzo, abaikan saja ucapan gue tadi ya. Gue ngak mau ngerepotin lo kok, gue..."
"Gue bikinin,"
"Tapi, Renzo. Gue..."
"Cepat kelapangan sekarang!"
Mendengar perintah Afrenzo langsung membuat Risda bangkit dari duduknya, Risda dengan cepatnya langsung berlari keluar dari aula tersebut. Risda tidak mau membuat Afrenzo marah kepadanya, apalagi sampai harus mendapatkan tatapan sinis dari Afrenzo.
*Flash back off*
Risda tersenyum dengan sendirinya ketika berhasil mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, Afrenzo benar benar mengingat janjinya untuk membuatkan dirinya bekal kali ini. Risda menggeleng gelengkan kepalanya sambil terus tersenyum menatap kepergian Afrenzo yang sudah jauh dari tempatnya itu.
"Lo sangat baik, Renzo. Tapi dingin banget, entah kenapa gue ngerasa nyaman deket dengan lo. Ah, ngak ngak, gue ngak bakalan jatuh cinta sama siapapun."
Risda kembali menepis pikirannya itu, cinta pertamanya telah mengkhianatinya dengan begitu dalamnya. Ia merasa bahwa tidak ada lelaki yang benar benar tulus, bahkan Ayahnya sendiri pun tega kepada dirinya. Cinta pertama seorang gadis adalah Ayahnya, Ayahnya saja bisa menyakitinya apalagi orang lain, itulah yang membuat Risda tidak ingin terjerat cinta.
Risda langsung kembali melajukan motor miliknya itu, jalanan kali ini memang tidak telalu ramai karena para anak sudah berada didalam sekolahannya masing masing sementara para orang tua sudah bekerja ditempatnya masing masing. Sehingga, hanya ada beberapa orang yang lalu lintas yang lewat.
*****
Keesokan paginya, sesuai dengan janjinya. Risda datang kerumah Wulan untuk menjemputnya sekolah, karena ini adalah hari selasa sehingga latihan beladiri Risda libur. Ketika dirinya sampai dirumah Wulan, Risda langsung masuk, seperti biasanya karena mereka adalah sahabat sejak kecil sehingga Risda langsung masuk.
__ADS_1
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 7 pagi, jam 7 pas biasanya mereka akan masuk sekolah. Ketika Risda sudah masuk, dirinya mendapati Wulan yang tengah berbaring sambil menonton televisi dengan pakaian bebas.
"Lo ngak sekolah, Lan?" Tanya Risda keheranan.
"Gue capek, Da. Lo aja yang sekolah, sorry ya. Gue tadi ngak ngasih tau lo dulu kalo mau bolos, sejak dari acara kemaren, badan gue capek semua. Lo ngak ikut bolos sekalian? Bolos saja, Da. Nanti izin kecapekan," Keluh Wulan sambil membujuk Risda.
"Kagak, kalo gue bolos nanti kasihan sama orang tua gue yang udah nyekolahin. Lo tau kan kalo SPP sekolahan itu mahal, mending gue manfaatin untuk masuk sekolah,"
"Ya elah, Da. Bolos sehari aja ngak papa kali, ngak bakalan rugi kalo itu, bilang aja ke orang rumah lo, kali sekolahnya libur karena acara kemaren,"
"Bohong itu dosa, Lan. Gue ngak mau bohong apalagi sampai nyokap gue tau,"
"Terserah lo aja deh, Da. Gue mau bolos sendiri aja,"
"Oh iya udah deh, gue berangkat dulu ya. Gue takut telat soalnya, nyokap lo kemana? Kok sepi amat," Tanya Risda sambil celingukan.
"Ya kesawah lah, kan kerjaan nyokap gue buruh tani," Jawab Wulan.
"Iya ya, gue berangkat dulu."
"Yoi. Hati hati dijalan,"
"Biasa aja,"
Risda langsung keluar dari rumah milik Wulan, Rumah tersebut berada dibelakang rumah Tantenya Wulan. Sehingga, ketika Risda kerumah Wulan, ia harus melewati rumah Tantenya terlebih dahulu, begitupun sebaliknya.
"Wulan ngak sekolah?" Tanya Tantenya kepada Risda yang tengah memutar sepedah motornya.
"Ngak Mbak, katanya capek gara gara acara kemaren," Jawab Risda yang memang sejak dulu dirinya memanggil Mbak, karena usia Tantenya yang tidak muda lagi apalagi belum nikah.
"Oalah iya," Jawabnya setelah mendengar jawaban dari Risda.
Namanya Putri. Seorang gadis tua yang berumur sekitar 40 tahunan memilih tidak menikah, bukan karena keinginannya ataupun impiannya. Dia selalu merendahkan lelaki yang ingin menikah dengannya, dia menolak dengan cara kasar sehingga sampai detik ini wanita itu belum memiliki suami.
Tidak ada lelaki yang mau menerimanya, pernah ada seorang pengusaha yang melamarnya akan tetapi langsung ditolak mentah mentah olehnya. Saat ini pengusaha tersebut sudah menikah dan memiliki 2 anak yang sudah bersekolah dijenjang SMP.
Karena tidak ingin berlama lama lagi disana, akhinya Risda pun melajukan motornya untuk meninggalkan tempat tersebut. Tak beberapa lama kemudian Risda akhinya telah sampai dikelasnya saat ini, ia pun langsung duduk dibangkunya.
"Eh kayaknya ada yang kurang deh," Ucap Risda kepada teman temannya.
"Apa?" Tanya Septia.
"Rania belom berangkat? Dimana dia? Biasanya kan berangkat sama kalian berdua," Tunjuk Risda kearah Septia dan juga Nanda.
"Dia sakit dari kemaren, Da. Lo nya sih yang terlalu sibuk dengan dialog lo sampai sampai ngak nyadar kalo ngak ada Rania," Ucap Mira.
"Eh iya kah? Sejak kapan dirinya ngak masuk?" Tanya Risda kembali.
"Sejak hari sabtu kemaren, seninnya kan kalian libur jadi kalian ngak tau," Jawab Septia.
"Sudah 4 hari ya? Bagaimana kalo nanti pulang sekolah kita jenguk dia? Mumpung nanti latihan gue libur."
Mereka pun menyetujui ucapan dari Risda, mereka sepakat bahwa nanti pulang sekolah mereka akan menjenguk Rania yang sedang sakit. Hari ini latihan Risda libur sehingga dirinya bisa ikut untuk menjenguk Rania dirumahnya bersama sama dengan teman temannya.
*****
Hari yang sangat melelahkan bagi siswa siswi yang berada dikelas Sastra Indonesia saat ini, hari itu banyak guru yang tidak bisa masuk kedalam kelas sehingga mereka merangkum beberapa materi sekaligus dipelajari.
Tangan Risda dan yang lainnya seakan akan kebas karena begitu banyaknya hal yang harus ia tulis, apalagi Mira yang kelelahan menulis dipapan sekaligus dibuku tulisnya sendiri. Akhinya jam pulang sekolah pun tiba, dan hal itu langsung membuat mereka merasa lega.
"Kita berangkat sekarang?" Tanya Risda kepada 5 temannya itu.
5 temannya itu adalah Septia, Mira, Nanda, Kartika, dan Putri. Mereka naik secara berboncengan sehingga saat itu, Risda naik sepeda motornya dengan dibonceng oleh Kartika, sementara keempat temannya naik dimotor juga berboncengan.
Ada tiga motor yang saling berjejer dijalanan saat ini dengan 6 anak yang sedang naik disana. Risda sangat menikmati pemandangan kali ini, dirinya benar benar merasa sangat bahagia sambil menikmati sejuknya udara yang berhembus karena naik sepeda motor.
__ADS_1
Hal itu sampai sampai membuat Risda tidak menyadari bahwa ponselnya tengah berdering terus menerus saat ini, ponsel yang dirinya taruh didalam tas itu membuatnya tidak mendengar suara ponselnya apalagi dijalan seperti ini.
"Eh Tia, rumahnya masih jauh kah?" Tanya Risda yang kini tengah membentangkan tangannya.
Jalanan tengah sawah tersebut pun terlihat sepi sehingga hal itu membuat Risda membentangkan kedua tangannya. Risda terlihat sangat menikmati perjalan tersebut, dibelakang sepeda motor yang mereka naiki terdapat Mira dan juga Putri yang tengah berboncengan.
"Kurang dikit, Da. Lagian kita juga berjalan diskala 20km/jam, ya sampeknya lama lah" Ucap Septia yang naik motor dengan Nanda didepan motor yang dinaiki oleh Risda dan Kartika.
"Lo kayak ngak pernah naik sepedah aja, Da. Kayak anak kecil tau," Gerutu Mira sangat keras sambil menyaksikan apa yang dilakukan oleh Risda.
"Tingkat kebahagiaan seseorang itu beda beda, Ra. Lo ngak bisa samain gue dengan diri lo," Jawab Risda sambil berteriak.
"Terserah lo aja, Da. Pokok jangan sampai salto salto dijalanan, bahaya!"
Tak beberapa lama kemudian sampailah mereka dirumah Rania. Saat itu, kedua orang tua Rania tengah melakukan renovasi depan rumah mereka, sehingga banyak material yang ada didepan rumahnya. Risda dan yang lainnya langsung masuk kedalam ruang tamu setelah mendapatkan perintah dari Ibunya Rania.
"Lo sakit apa, Ran? Ternyata lo bisa sakit juga rupanya," Tanya Risda dengan terkekeh pelan.
"Gue ini manusia, lo aja yang kayak demit bisa sakit apalagi gue, Da. Ngejek sekali ya anda ini,"
"Idih, gue kan nanya baik baik. Karena apa lo sakit? Kok bisa kagak masuk lama?"
"Demam, sebenarnya tadi gue mau masuk sekolah, tapi Nyokap gue nyuruh besok boleh masuk. Dengan terpaksa, kali ini gue ngak masuk dulu,"
"Oh seperti itu, lalu?" Tanya Mira dengan nada mengejek.
"Huss... Kalian ini, temennya lagi sakit malah ngejek gini, yang ada kedatangan kalian kemari malah bikin dia makin sakit," Pungkas Septia yang mendengarkan ucapan mereka.
Drettt.... Drettt...
Suara ponsel Risda pun kembali berbunyi, karena mereka sudah sampai sehingga suara tersebut terdengar dengan jelasnya. Risda langsung buru buru untuk segera mengambil ponselnya yang ada didalam tasnya, ia melihat kearah layar ponselnya dan ternyata sudah ada puluhan panggilan tak terjawab dari Bundanya.
"Kenap telpon sebanyak ini? Apa terjadi sesuatu dengan Bunda," Guman Risda.
Risda pun langsung mengangkat ponselnya, karena telpon tersebut sudah mati sehingga Risda langsung menekan nomor Bundanya untuk memanggilnya ulang.
"Assalamualaikum, Bun." Ucap Risda ketika telponnya sudah terhubung.
"Dimana kamu!" Bentak Bundanya dari sebrang sana.
Deg...
Risda yang tidak pernah mendengar bentakan dari Ibunya itu langsung membuatnya terkejut bukan main. Mumgkin Ibunya terlalu khawatir karena Risda yang sejak tadi tidak mengangkat telponnya akan tetapi dengan cara membentak seperti ini bukanlah cara yang tepat untuk Risda.
"Ada apa, Bun? Aku sedang dirumah temenku, njenguk dia yang lagi sakit," Ucap Risda.
"Pulang sekarang! Jangan bohongin Bunda, Bunda ngak suka dibohongin. Bunda capek capek nyekolahin Risda tapi Risda malah suka bolos seperti ini, Bunda kecewa sama Risda. Sekarang pulang dan jangan pernah main lagi,"
"Tapi Bun, Risda salah apa? Risda ngak pernah bolos sekolah. Risda juga ngak pernah main dirumah temen selama ini,"
Risda bingung dengan apa yang dikatakan oleh Ibunya itu, bolos sekolah yang seperti apa? Dia bahkan tidak pernah bolos. Risda pernah tidak sekolah sehari saja, itu pun karena dirinya sakit, tapi dirinya sama sekali tidak pernah bolos sekolah.
"Kamu mau jadi anak durhaka Risda! Sekolah libur kamu hari ini, lalu kamu pergi kemana aja dari tadi? Bunda telponin ngak diangkat! Lihat berapa kali Bund telpon. Bunda kecewa sama kamu, Bunda nyekolahin kamu biar kamu punya pendidikan tapi kamu justru bolos dan main sama temen temen kamu itu. Bunda yang setiap hari banting tulang hanya untuk kamu, tapi kamu malah merusak kepercayaan dari Bunda,"
Mendengar ucapan itu langsung membuat Risda meneteskan air matanya, teman teman Risda pun saling berpandangan ketika melihat Risda menangis. Mereka yang selalu melihat Risda tertawa dan jail itu langsung berdiam diri ketika melihat kerapuhan dari Risda sendiri.
"Bunda, aku sama sekali tidak pernah berbohong kepada Bunda. Ini aku baru pulang sekolah, dan menjenguk temanku yang lagi sakit, Bun. Kalo Bunda ngak percaya tanya aja sendiri sama teman temanku yang ada disini," Ucap Risda dengan suara yang berat karena merasa sesak akibat ucapan dari Ibunya.
"Ngak perlu, Bunda sudah ngak percaya lagi sama ucapanmu itu, Bunda ngak mau tau, sekarang pulang!"
"Bunda boleh ngak percaya sama Risda, Risda tidak pernah berbohong sama Bunda. Kalo ngak percaya, Bunda boleh tanya ke guru guru Risda yang ada disekolahan, tanya kepada kepala sekolah, ke wali kelas, ke guru yang ngajar Risda hari ini. Risda akan kasih nomernya,"
Putus Risda dan langsung gadis tersebut memutuskan sambungan telponnya begitu saja, ia benar benar kecewa saat ini. Risda merasa hatinya sakit, ia pun mengirim sekitar 10 nomor Bapak atau Ibu guru disekolah itu ke Ibunya.
Ia langsung memasukkan ponselnya kembali, dan tidak lupa dirinya membisukan panggilan. Air matanya bercucuran dengan derasnya, melihat itu hanya membuat teman temannya berdiam diri tanpa ingin tau apa yang terjadi kepadanya.
__ADS_1
"Lo kenapa, Da?" Tanya Mira yang memberanikan diri untuk bertanya kepada Risda.
"Gue ingin mati." Jawab Risda singkat dan langsung bangkit dari duduknya.