Pelatihku

Pelatihku
Episode 159


__ADS_3

Risda pun tengah membereskan barang barangnya, setelah latihan pagi mereka bersiap siap untuk membereskan barang bawaannya karena untuk persiapan pulang dari latihan gabungan. Setelah selesai membersihkan, mereka di minta untuk berkumpul kembali dilapangan untuk melaksanakan upacara penutupan dalam acara itu.


Acara itu diikuti oleh berbagai macam usia, mulai dari anak sekolah dasar, anak SMP, dan bahkan SMA. Sehingga, dihalaman depan gedung tersebut terdapat begitu banyak penjual makanan yang bekerja untuk mencari uang dalam acara seperti itu.


Upacara penutupan pun dimulai, Risda masih tetap berdiri dibelakang Afrenzo yang menjabat sebagai ketua kelompok dalam kelompoknya itu. Sebagai kenang kenangan, mereka pun diminta untuk melakukan roll depan diatas tanah yang telah diberi air sampai becek. Roll bukanlah materi yang awal bagi Risda, karena dirinya sudah beberapa kali melakukan itu, akan tetapi masih terlihat takut untuk melakukannya.


Mereka diminta melakukannya sebanyak 5 kali putaran, entah seberapa kotornya pakaian mereka saat selesai melakukan hal tersebut. Risda mengambil nafas dalam dalam ketika hendak melakukannya, dirinya hanya takut jika kepalanya keseleo ataupun punggungnya yang akan sakit terkena bebatuan.


"Lo pasti bisa, Da. Yakin pada kemampuan diri lo sendiri, gue udah ajarin ke lo bagaimana caranya untuk melakukannya, tinggal lo aja yang harus yakin bisa melakukannya. Jangan kecewakan diriku," Ucap Afrenzo kepada Risda.


Risda pun menganggukkan kepalanya yakin kepada Afrenzo, dirinya pun mempersiapkan diri untuk bisa melakukannya. Risda pun memulainya dengan berjongkok dan mendekatkan kepalanya ditanah yang dirinya pinjakki. Risda pun langsung melakukannya, dan sebanyak 3 kali dirinya pun berhenti.


"Kepala gue pusing," Guman Risda pelan sambil memegangi kepalanya.


Risda tetap melakukannya hingga dirinya mampu roll sebanyak lima kali, dan di roll terakhir Afrenzo langsung menghampirinya. Afrenzo pun membantunya untuk bangkit berdiri dengan cara mengulurkan tangannya, dan Risda pun langsung menerimanya untuk bisa bangkit.


"Lo nggak papa?" Tanya Afrenzo.


"Gatau kenapa, belakangan ini kepala gue mudah sekali pusing, Renzo. Tapi gue nggak papa kok," Jawab Risda sambil tersenyum tipis agar lelaki itu tidak mengkhawatirkannya.


"Lo tadi sudah makan?"


"Gue sudah makan kok,"


"Habis ini kita periksa dulu ke rumah sakit."


"Nggak usah. Gue nggak papa kok, kalo ditakdirkan sembuh nanti sembuh sendiri,"


"Jangan abaikan soal beginian, Da. Gimana kalau nantinya tambah parah?"


"Kita mati sama sama, gue nggak mau sembuh sendiri, Renzo. Sementara lo sendiri juga terluka, tapi lo mengabaikan itu,"


Afrenzo pun terdiam mendengar perkataan dari Risda, ia tau bahwa sikap Risda sangat keras kepala bahkan tidak mudah untuk dibujuk sekalipun. Afrenzo pun menoleh kearah seseorang, dan orang tersebut pun menganggukkan kepalanya begitupun dengan Afrenzo yang juga menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kita pulang sekarang." Pungkas Afrenzo yang tidak mau dibantah, dirinya pun menarik tangan Risda untuk membawa gadis itu pergi dari tempat tersebut.


Risda pun melepaskan pegangan tangan Afrenzo begitu saja, dirinya tidak mau dipaksa untuk pergi dari tempat itu. Merasakan Risda yang memberontak, hal itu langsung membuat Afrenzo menghentikan langkahnya dan langsung menoleh kearah Risda.


"Pulang sekarang!" Seru Afrenzo dengan tegasnya kepada Risda.


"Gue nggak mau. Lo kenapa sih maksa banget? Gue itu nggak kenapa napa, gue nggak mau pulang lebih awal daripada yang lain, Renzo. Yang lain belum bubar, kenapa gue harus pulang lebih dulu?"


"Lo sakit."


"Gue nggak sakit!"


"Wajah lo pucat, Da. Jangan membantah! Gue nggak suka itu."


Risda pun menundukkan kepalanya mendengar ucapan Afrenzo, hatinya begitu sakit hingga membuat kedua matanya berkaca kaca. Melihat itu langsung membuat Afrenzo menarik kembali tangan Risda yang terasa hangat, kali ini Risda sama sekali tidak melawannya dan hanya pasrah ketika tangannya ditarik oleh Afrenzo.


Tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulut Risda, kali ini gadis itu hanya berdiam diri untuk menahan tangisnya agar tidak sampai keluar dari mulutnya itu. Afrenzo dengan segera masuk kedalam ruangan tempat Risda dan para perempuan menginap, dirinya langsung menyambar tas milik Risda yang ada disana.


Afrenzo kembali menarik tangan Risda untuk membawanya pergi dari tempat itu, keduanya pun bergegas untuk menuju kearah parkiran yang ada disana untuk mengambil motor milik Afrenzo. Sepanjang jalan itu Risda terus terdiam, tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari dalam mulutnya.


Sekilas Afrenzo melihat kearah Risda yang hanya menundukkan kepalanya sejak tadi, bibir wanita itu sedikit bergetar untuk menahan tangisnya. Afrenzo pun menghela nafas dengan kasar melihat itu, dirinya pun langsung menggerakkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Risda.

__ADS_1


Risda pun langsung menepis tangan Afrenzo, dirinya pun membuang muka dari hadapan Afrenzo. Tangan Afrenzo pun mengapung di udara, dan hal itu langsung membuatnya kembali menarik tangannya itu.


"Lo nggak pernah mau jujur sama gue, Renzo. Sebenernya lo nganggep gue ada atau nggak sih?" Tanya Risda dengan penuh kekecewaan.


"Hidup lo udah penuh dengan beban selama ini, Da. Gue nggak mau kalau lo ikut terbebani dengan kehidupan gue, lagian itu bukan masalah serius."


Tibs tiba kepala Risda terasa sangat sakit, dan seperti tengah menanggung beban yang teramat sangat berat. Hal itu langsung membuatnya terhoyor seketika, dan Afrenzo langsung bergegas untuk memegangi tubuh Risda agar tidak jatuh.


"Lo masih sanggup naik motor? Apa perlu gue pinjem mobil buat nganter lo pulang?" Tanya Afrenzo.


"Renzo, gue nggak mau pulang. Gue benci dirumah," Suara Risda pun terdengar sangat lirih.


"Sejak kapan lo mulai terus merasa pusing?"


"Sejak gue terbentur tembok gara gara Kakak gue, Renzo. Gue lupa kapan kejadian itu terjadi, tapi belakangan ini rasanya sangat sakit,"


"Mau gue pijitin?"


"Lo bisa?"


Afrenzo pun menganggukkan kepalanya kepada Risda, dan dirinya pun langsung bergegas menuju ke belakang tubuh Risda. Afrenzo pun memijatnya dengan pelan, akan tetapi teras sakit bagi Risda karena setiap uratnya terus ditekan oleh Afrenzo.


"Maafin gue selama ini ya, Renzo. Gue selalu bikin susah lo, dan terima kasih atas apa yang selama ini lo lakuin buat gue."


"Jangan lu pikirin itu dulu, Da. Lo terlalu banyak pikiran dan gara gara benturan itu menyebabkan kepala lo sering pusing, jangan bebani diri lo sendiri dengan pikiran pikiran yang tidak perlu lo pikirin,"


"Gue hanya mikirin kapan gue mati, semua orang begitu jahat sama gue selama ini, apakah emang gue nggak pantes untuk hidup? Gue sangat tersiksa dalam hal ini, mereka seakan akan setiap hari nyiksa gue, nyiksa batin gue. Gue rasanya selalu salah di mata mereka, kalau memang gue hanya membuat mereka tidak bahagia lebih baik gue mati saja. Mereka bisa hidup bahagia tanpa gue, dan gue juga tidak akan tersiksa karena perilaku mereka terhadap gue."


"Lo demam, mangkanya bicara lo ngelantur seperti itu, Da. Mending kita pulang sekarang agar lo bisa istirahat di rumah,"


"Lo ada masalah sama orang rumah?"


Risda pun menganggukkan kepalanya, melihat anggukan kepalanya itu langsung membuat Afrenzo menghela nafasnya dengan kasar. Entah masalah apa lagi yang dihadapi gadis itu, rasanya hidupnya tidak pernah selesai dengan masalah yang terus berdatangan tanpa adanya sebuah akhir.


"Kita periksa dulu."


"Tapi Renzo...."


"Kalo lo nggak mau periksa, mending gue anterin lo pulang daripada ke aula."


Risda pun langsung terdiam mendengar ucapan dari Afrenzo, Risda takut diperiksa bukan karena sakitnya suntik atau pahitnya obat, akan tetapi dia takut jika mengetahui sakit apa yang dirinya alami. lebih baik dirinya tidak tahu akan tetapi tiba tiba tiada, daripada dirinya tahu hingga membuat beban pikirannya tambah berat.


Mau tidak mau Risda pun akhirnya menggangguki ucapan Afrenzo, karena dirinya hanya diberi dua pilihan yang sangat sulit baginya, antara diantar pulang langsung atau periksa dulu untuk pergi ke aula. Keduanya pun langsung bergegas pergi meninggalkan halaman gedung itu, Afrenzo pun membawanya ke sebuah klinik dokter spesialis untuk memeriksa keadaan.


"Menurut pemeriksaan, Mbaknya cuma kecape'an saja dan butuh banyak istirahat yang cukup. Apakah Mbak sering begadang dimalam hari?" Tanya Dokter itu seusai memeriksa keadaan Risda.


"Lo sering begadang, Da?" Tanya Afrnezo sambil memicingkan sebelah matanya kearah Risda.


Risda hanya menggelengkan kepalanya untuk memberi jawaban kepada Afrenzo, dirinya terlalu malas untuk menyahutinya dengan ucapan, sehingga dirinya hanya menjawabnya dengan gelengan atau anggukkan kepala saja. Dokter tersebut pun menuliskan sesuatu dikertas, dan memberikan kertas tersebut kepada Afrenzo.


"Silahkan antri diruangan pojok depan untuk mengambil obat," Ucap Dokter itu memberi arahan kepada Afrenzo.


"Terima kasih, Dok."


Afrenzo pun mengajak Risda untuk keluar dari ruangan tersebut untuk bergantian dengan pasien yang lainnya, dan dirinya menyuruh Risda untuk duduk di kursi yang ada diruang tunggu, sementara dirinya mengantri untuk mengambil obat.

__ADS_1


Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo selesai mengantri untuk mengambil obatnya. Setelahnya dirinya langsung bergegas untuk mendatangi Risda yang tengah duduk sendirian, dirinya pun menyodorkan obat tersebut kepada Risda.


"Ini vitamin nanti diminum setelah makan pagi dan sore, terus ini obat sebelum makan dan yang ini sesudah makan bareng dengan minum vitamin." Afrenzo menjelaskan waktu untuk meminum obat kepada Risda.


"Gue kagak paham."


Otak kecil Risda memang sangat sulit untuk memahami penjelasan dari lelaki itu, meskipun dirinya sudah diberitahu dengan detail sekalipun dia akan mudah lupa nantinya. Hal hal seperti itu mudah sekali dirinya lupakan, akan tetapi tidak dengan orang orang yang telah menyakitinya.


"Lo tadi sudah makan beneran apa belom?"


"Tadi pagi sudah, tapi sedikit. Karena perutnya juga kagak bersahabat,"


"Ya sudah, kita beli makan dulu. Habis itu ke aula beladiri,"


Risda hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan itu, setelahnya keduanya segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk mencari sebuah warung makan. Saat ini waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, sehingga rumah makan yang buka hanyalah warung warung di pinggir jalan yang buka pada pagi hari saja.


Afrenzo memesan dua bungkus nasi dan dua kantung plastik teh hangat. Di dalam aula bela diri tidak ada mesin untuk menghangatkan air, Sehingga dirinya membeli itu untuk Risda agar bisa minum obat, karena Risda sendiri juga tidak ingin pulang ke rumahnya.


*****


Afrenzo membuka sebuah obat yang harus diminum sebelum makan, dirinya pun mendapati bahwa obat itu adalah obat kapsul yang bisa hanyut jika terkena air. Afrenzo pun menyuruh Risda untuk meminumnya, akan tetapi harus dia sendiri tak kunjung untuk meminumnya.


"Gimana cara gue bisa minum obat kalau seperti ini? Gue nggak terbiasa minum obat utuh begini, nanti kalo gue tersedak gimana?"


Risda memang tidak bisa minum obat secara langsung, biasanya dirinya akan meminum jika obat tersebut telah dihancurkan dan ditambah air untuk menjadi sebuah pasta. Dirinya pernah mencoba hal itu sebelumnya, akan tetapi belum sempat obat yang dia minum masuk ke dalam tenggorokan, Risda sudah termuntah muntah terlebih dulu.


Hal itulah yang membuat dirinya trauma sampai sekarang, dia sangat takut minum obat bukan karena pahitnya, akan tetapi karena dirinya tidak bisa menelannya begitu saja. Afrenzo sendiri pun merasa heran dengan gadis yang ada dihadapannya itu, dan dirinya pun menghela nafas panjang setelah melihat Risda membuang mukanya dari hadapan Afrenzo.


"Bentar, gue ambil sendok dulu."


Afrenzo pun langsung bergegas pergi dari ruangan aula beladiri itu, dirinya pun teringat bahwa di kantin sekolah masih ada sendok yang bisa dirinya gunakan. Kantin tersebut milik gurunya, sehingga dirinya bisa meminjam apapun yang dia butuhkan.


Riska pun kini tengah duduk sambil bersandar di sebuah kursi yang ada di dalam aula beladiri, kedua matanya ingin sekali terpejam akan tetapi dirinya tidak bisa tidur. Afrenzo datang dan langsung duduk disampingnya, Risda melihat bahwa lelaki itu tengah membuka kapsul itu dan menuangkan isinya ke sendok yang dirinya bawa.


Afrenzo lalu memberi sedikit air di sendok itu untuk melarutkan serbuk obatnya, baunya saja sudah tercium sangat pahit apalagi rasanya yang entah seperti apa.


"Lo yakin minum dengan cara seperti ini?" Tanya Afrenzo untuk memastikan.


"Mending seperti ini, daripada gue kagak bisa nafas karena nelen obat." Risda pun menjawabnya dengan ketus.


"Ya sudah buka mulutmu, biar gue suapi."


Tangan kanan Afrenzo memegangi sendok yang berisikan obat, sementara tangan kirinya tengah memegangi segelas teh hangat yang dirinya beli sebelumnya. Risda pun langsung membuka mulutnya sedikit dan Afrenzo langsung menyuapinya dengan obat, dan dengan terburu buru Afrenzo langsung memberikan segelas teh tersebut kepada Risda.


"Enak?" Tanya Afrenzo sambil menyengir.


"Kagak!"


Risda pun merasa bahwa mulutnya terasa sangat pahit karena obat saat ini, akan tetapi itu jauh lebih baik daripada dirinya menguras seluruh isi perutnya saat ini. Keduanya pun langsung memakan nasi yang mereka beli sebelumnya, Afrenzo sendiri juga belum makan sejak kemarin malam.


"Renzo, lo sakit apa?" Tanya Risda setelah selesai minum dan menghabiskan makanannya.


"Gue nggak sakit, apa lo masih mikirin soal ucapan pelatih tadi malam?" Tanya Afrenzo heran.


"Katanya lo sakit, dan lo juga berhak untuk bahagia. Maksudnya apa'an?"

__ADS_1


Afrenzo pun menyentuh dadanya sendiri, dirinya pun mengusapnya pelan. "Sakitnya disini, karena tidak diizinkan untuk berlatih."


__ADS_2