Pelatihku

Pelatihku
Episode 96


__ADS_3

Darah Afrenzo begitu banyak yang keluar dari lukanya itu, akan tetapi anehnya dirinya masih terlihat biasa tanpa kesakitan. Hal itu langsung membuat Risda merasa heran dengan sosok lelaki seperti itu, bahkan dirinya pun menerbitkan sebuah senyuman tipis diwajahnya untuk Risda.


"Emang lo ngak takut kehabisan darah?" Tanya Risda yang terus mengusapi bekas gigitannya itu.


"Nanti gue isi ulang lagi," Jawab Afrenzo dengan santainya.


"Isi dengan apa? Emang darah lo bisa diisi ulang? Jangan bilang lo mau isi ulang dengan darah ayam. Kan kasihan ayamnya,"


"Hemoglobin."


"Iya deh yang anak IPA, gue kagak paham, gue anak ilang,"


"Darah manusia berwarna merah karena di dalam sel sel darah merah terdapat hemoglobin, yaitu molekul protein yang berfungsi untuk oksigen."


"Nah kalo lo kehabisan darah terus kagak punya oksigen dong? Apa ngak modar,"


"Kalo sudah takdir,"


"Ngomong gitu lagi gue tampol wajah lo, lama lama keknya gue harus pake solasi deh buat nutupin mulut lo itu,"


"Mau dibelikan?"


"Renzo! Lama lama lo nyebelin juga ya, nyesel gue nyuruh lo bicara. Mending lo diem kayak dulu daripada bicara yang buat gue kesel,"


"Oh."


"Bilang oh lagi, gue gigit nih!"


"Silahkan,"


"Ngak deh, darah lo ngak enak. Jangan bilang mau kasih msg," Pungkas Risda dan tidak membiarkan Afrenzo berbicara dengan meletakkan jari telunjuknya dibibir Afrenzo.


Jarak keduanya saat ini tengah begitu dekat, bahkan Risda mampu untuk menatap wajah Afrenzo dengan lekatnya, begitupun juga dengan Afrenzo. Risda masih meletakkan jarinya diujung bibir Afrenzo, sementara Afrenzo hanya berdiam diri tanpa berbicara satu kata pun.


"Wajah lo ternyata imut juga ya, tampan, mata lo indah seperti langit malam yang ditaburi bintang." Risda pun menatap lekat lekat wajah Afrenzo yang putih bersih itu.


"Lo...."


"Diem! Jangan kegran jadi orang,"


Risda seakan akan tidak membiarkan Afrenzo untuk berbicara, belum sempat dirinya mengucapkan kata kata, akan tetapi Risda sudah memotongnya begitu saja. Memang belakangan ini Afrenzo banyak berbicara jika berada didekat Risda, karena Afrenzo merasa nyaman untuk berbicara dengan Risda daripada yang lainnya.


Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya dihadapan Risda, karena Risda tidak membiarkannya berbicara dengan masih menempelkan telunjuknya dibibirnya itu. Hal itu langsung membuat perhatian seluruhnya terarah kepadanya, dan juga mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Kecentilan banget sih jadi cewek," Ucap seorang siswi SMA Bakti Negara.


"Dasar ganjen,"


"Gatel banget jadi cewek,"


"Emang kelebihannya apa coba? Cewek kek gitu kok disukai,"


"Emang ngak ada harga diri,"


Begitu banyak siswi yang menggunjinginya, bahkan Risda sendiri juga mampu mendengar ucapan mereka. Hal itu langsung membuat Risda merasa kesal, dirinya pun langsung menarik kembali tangannya itu dan menaruhnya dibawa meja.


"Sudah, mending balik ke kelas," Ucap Afrenzo yang melihat Risda merasa kesal dengan para wanita itu.


"Tapi Renzo, mereka...."


"Ngak akan ada habisnya jika meladeni ucapan orang, mending jadi diri sendiri tanpa mendengarkan omongan orang."


"Iya,"


Afrenzo dan Risda langsung bangkit dari duduknya, keduanya pun langsung bergegas untuk kembali kekelas mereka masing masing. Risda langsung masuk kedalam kelasnya, begitupun dengan Afrenzo.


"Lo dari mana aja, Da?" Tanya Mira ketika melihat Risda masuk.


"Habis makan darah, rasanya ngak enak," Jawab Risda.


"Anjiiiirrrr! Darah siapa yang lo makan? Lo kekurangan uang atau bagaimana?"


"Darah Renzo, ngak sih, gue cuma kesel aja sama tuh orang."


"Gila lo, Da? Bisa bisanya makan darah orang, haram tau,"


"Ngak tau,"


"Darah itu haram, Da. Bisa bisanya lo makan,"


"Gue ngak tau MIRA! Ini baru tau,"


"Udah ketebak, kalo lo emang kagak pernah masuk sekolah disaat jam pelajaran agama. Pantas saja lo ngak tau,"


Risda pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, diri memang jarang masuk kedalam kelas. Ketika waktu SD dulu, gurunya suka menyuruhnya untuk menulis kembali tulisan yang ada dibuku LKS, dan dirinya tidak pernah menulisnya. Ketika waktu SMP, Risda sering tidak mengikuti pelajaran dan justru pergi kekantin dengan diam diam.

__ADS_1


"Gue tau darah itu haram, bab1 itu haram, minuman beralkohol itu haram, hubungan suami istri sebelum nikah itu haram, arak atau khamar itu haram, makanan yang tidak layak dimakan itu haram, bangkai itu haram kecuali bangkai ikan dan belalang. Tapi gue ngak tau darah Renzo pun haram,"


"Namanya darah dimana mana itu haram, Da. Dih aneh aneh aja nih jadi orang, pake makan darah segala lagi. Lo itu sebenarnya orang atau kanibal sih?"


"Gue? Gue ini siluman,"


"Pantes aja."


Risda hanya mendengus pelan, dirinya pun lalu bergegas keluar kembali dari dalam kelasnya. Hal itu membuat Mira langsung bergegas untuk memegangi tangannya itu, karena jam pelajaran akan segera tiba.


"Lo mau kemana?" Tanya Mira.


"Kekamar mandi, emang lo mau ikut?"


"Dih, ngapain gue ikut sama lo, emang mau ngapain kalo gue ikut?"


"Kali aja bagian menceboki, lo kan suka gitu,"


"Sialan lo, Da. Gue mah ogah sama lo,"


"Ya sudah, jangan halangi gue."


"Pelajaran akan dimulai, jangan bilang lo emang sengaja mau bolos pelajaran lagi kan? Ngaku lo, Da. Gue sudah tau siasat lo,"


"Dih sok tau lo jadi orang, gue mau B A B Buang Air Besar. Ngapain gue bolos cuma kekamar mandi? Mending ke warteg depan sekolahan, jauh lebih enak."


"Terserah lo, Da. Gue males berurusan sama lo,"


"Gue jauh lebih males, Ra. Males ngomong sama lo,"


"Yaudah jangan ngomong, awas aja sampe ngomong sama gue."


"Ogah. Mending sama tembok daripada ngomong sama lo,"


Risda pun langsung bergegas untuk keluar dari dalam kelasnya untuk menuju kekamar mandi. Kamar mandi cowok dan cewek memang bersebelahan akan tetapi ditengahi dengan sebuah ruangan untuk menaruh peralatan bersih bersih.


Dirinya pun melihat sosok seorang lelaki yang masuk kedalam kamar mandi cowok yang ada disana, melihat itu langsung membuat Risda diam diam ikut masuk kedalamnya.


Didalam ruangan kamar mandi itu, terdapat beberapa selat selat pintu, dan ruangan itu terdiru dari beberapa ruangan kecil. Sebelum Risda masuk, dirinya pun melihat sekitarnya untuk mencari adanya CCTV atau tidaknya.


"Keknya aman deh, rasain lo, gas elpiji. Berani beraninya berurusan sama gue," Guman Risda pelan.


Risda pun lalu mengunci pintu tempat dimana Bagas berada, Risda masih memiliki dendam mendalam dengan cowok satu itu. Memang wanita dilarang masuk kekamar mandi cowok, akan tetapi Risda tidak memedulikan itu.


Ceklik..


"Ngapain lo didalam kamar mandi cowok?" Tanya Afrenzo dengan melotot.


"Dikamar mandi cewek ada kecoak, Renzo. Gue takut, jadi numpang disini," Ucap Risda dengan hati hati karena takut perbuatannya dilihat oleh Afrenzo.


"Lain kali jangan diulang, atau mau gue hukum?"


"Jangan dihukum dong, iya ya gue ngak akan ulangi lagi,"


"Ya sudah, kembali kekelas sekarang."


"Baik pelatih yang terhomat sejagad raya."


Risda pun langsung kabur begitu saja dari hadapan Afrenzo karena sangking takutnya dengan lelaki itu, sementara Afrenzo hanya menggeleng gelengkan kepalanya dan bergegas pergi dari tempat tersebut.


*****


Setelah selesai melaksanakan hajatnya, Bagas kini bersiap siap untuk membuka pintu kamar mandi itu. Akan tetapi, pintu itu tidak mau terbuka begitu saja, beberapa kali dirinya mencobanya akan tetapi masih tidak bisa juga.


"Woi buka in pintunya!" Teriak Bagas dari dalam ruang kamar mandi itu.


Bagas pun memukuli pintu itu berkali kali untuk mencari bantuan dari luar, dirinya tidak bisa mendobraknya karena arah bukaannya itu masuk kedalam bukan keluar ruangan. Dirinya pun terlihat panik karena tidak ada seorangpun yang mendengar teriakannya itu, bahkan kamar mandi itu memang jauh dari kelas kelas maupun kantor guru.


"Sial! Siapa yang ngunciin gue didalam sini!"


Brakkk brakk brakkk....


Bagas terus memukuli pintu kamar mandi itu, orang jail yang memang tengah mengerjainya didalam kamar mandi. Tak terasa sudah 30 menit dirinya berada didalam kamar mandi tanpa bisa melakukan apapun untuk bisa keluar dari dalam sana.


"BANGSAAATTTT!!" Bentak Bagas karena jengkelnya karena tidak ada yang mendengar teriakannya itu.


Bagas terus mencoba mendobrak pintu itu akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa melakukan itu, bagas berada disalah satu bilik kamar mandi yang ada diruangan kamar mandi cowok. Hal itu membuat teriakannya tidak dapat didengar dari luar, jika tidak ada orang yang masuk kedalam kamar mandi, dirinya tidak akan bisa ditolong.


"Sial! Ponsel gue ketinggalan lagi dikelas, siapa sih yang ngunciin gue sembarangan gini? Awas saja kalo sampe ketemu nanti, gue hajar mati matian lo."


Brakkk.... Brakkk.... Brakkk....


"Woi bukain pintunya! Siapapun tolong gue!!"


Brakkk.... Brakkk.... Brakkk....

__ADS_1


Waktu terus berjalan, tanpa terasa bahwa waktu sudah menunjukkan waktunya sholat dhuhur. Saat itulah ada seseorang yang masuk kedalam ruangan kamar mandi, Bagas sudah kekunci didalamnya selama hampir 3 jam.


"Woi bukain!" Teriak Bagas yang sepertinya tidak ada habisnya setelah berteriak cukup lama.


"Kek ada orang didalam," Ucap salah satu cowok yang masuk kedalam ruangan tersebut.


"Gue mantan ketua OSIS! Bukain pintunya!" Teriak Bagas ketika mendengar suara seseorang itu.


"Bagas? Lo ngapain didalam?" Tanya lelaki itu yang tidak lain adalah teman sekelasnya.


"Cepet cari cara buat bukain pintunya!"


"Iya ya bentar, gue cari kuncinya dulu."


"Kelamaan! Gue pengap disini!"


"Sabar!"


Cowok itu pun mencari kunci kamar mandi itu untuk membukakannya, selama 15 menit dirinya mencari dan akhinya ketemu juga dipojokan wastafel. Cowok itu langsung segera memasukkan kunci itu dilubangnya, dan membukakan pintu tersebut.


"Thanks," Ucap Bagas.


"Kenapa lo bisa dikunci disini? Lo udah ngak ikut pelajaran, dan para Guru nyariin lo dari tadi. Mereka sampai marah karena lo ngak ada keterangan,"


"Ada orang yang sengaja ngunciin gue didalam, Bangsaaattt! Gue udah teriak minta bantuan tapi kagak ada yang nolongin,"


"Orang yang sengaja ngunciin lo didalam? Emang lo punya musuh disekolahan ini?"


"Hanya Renzo, ketua OSIS yang baru itu. Apa jangan jangan dia yang sengaja ngelakuin itu?"


"Ngak mungkin, soalnya kan Renzo dari tadi ada diruang rapat OSIS. Bagaimana dia bisa melakukan itu?"


"Emang ada rapat? Sejak kapan rapatnya?"


"Sekitar sebelum bel istirahat berakhir, dan dia sudah datang duluan disana."


"Gue mau lapor ini kepada kepala sekolah, gue ngak akan biarin pelakunya lolos begitu saja."


Bagas dengan langkah gontai itu pun bergegas menuju kearah ruangan kepala sekolah, dirinya ingin melaporkan kejadian ini kepada kepala sekolah agar para Guru segera mencari pelakunya.


Kepala sekolah itu pun sangat terkejut ketika mendengarnya, dirinya pun langsung bergegas untuk mengumpulkan para siswa setelah selesai melakukan sholat dhuhur. Mereka semua dikumpulkan dilapangan yang panas, tak terkecuali siapapun itu.


"Ada apa'an sih? Kenapa dikumpulkan dengan panas panasan gini?" Tanya Risda yang sambil mengusap peluh yang ada dikeningnya itu.


"Kalo gue tau, gue udah kasih tau ke kalian," Jawab Rania dengan ketusnya.


Rania pun merasa kesal karena dikumpulkan dilapangan disaat jam 12 siang itu. Rasanya panas udara itu membuat panas juga hatinya, sehingga dirinya terlihat sangat kesal.


"Kenapa lo ngak tanya aja tuh sama pelatih kesayangan, lo?" Tanya Mira.


"Dih, lagian dia jauh dari sini. Dia juga anggota OSIS, gimana gue bisa nyamperin dia sekarang? Kita juga disuruh kumpul sesuai kelas," Jawab Risda.


"Ya kali aja, lo kan suka ngelanggar aturan."


"Itu juga ada batasnya kali, Ra. Emang lo pikir bisa dengan mudah?"


"Halah Da Da, lo emang paling bisa kalo ngeles,"


"Mangkanya belajar dong sama ahlinya."


Risda pun menepuk dadanya dengan bangganya, dirinya seakan akan merasa bahwa itu adalah sebuah prestasi terbaik. Fokus seluruhnya itu pun langsung tertuju kepada kepala sekolah, yang saat ini tengah berdiri dihadapan semuanya akan tetapi ditempat yang dingin.


"Kalian tau kenapa kalian semua dikumpulkan disini sekarang?" Tanya kepala sekolah.


"Tidak tau, Pak!" Jawab mereka serempak.


Kepala sekolah itu terlihat melambaikan tangannya kepada seseorang, dan Bagas pun berjalan mendekat kearahnya setelah melihat lambaian tangan tersebut. Melihat itu langsung membuat Risda membelalakkan kedua matanya, dirinya menebak bahwa ini ada hubungannya dengan perbuatannya sebelumnya.


"Teman kita, Adik kita, Saudara kita yang bernama Bagas telah dikunci oleh seseorang dikamar mandi sekolah. Yang merasa telah menguncinya, mengakulah sekarang atau akan diberi hukuman yang sangat keras."


Mendengar itu langsung membuat semuanya terkejut, bagaimana bisa mantan ketua OSIS itu terkunci begitu saja didalam kamar mandi? Jelas ada yang menguncinya disana.


Risda yang mendengar itu pun sangat terkejut, karena dirinya yang biasanya membuat masalah itu, dia masih mampu untuk menyembunyikan kegugupannya saat ini.


"Jangan sampai mereka tau, bisa mati gue. Tapi gimana jika Renzo bilang ke kepala sekolah? Kan yang tau gue tadi hanya dia seorang," Batin Risda menjerit.


Dirinya pun langsung menatap kearah Afrenzo yang berdiri cukup jauh darinya, dia sangat terkejut ketika melihat tatapan Afrenzo dingin terarah kepadanya. Hal itu semakin membuat Risda menjadi gugup dan gelisah, cowok itu seakan akan tengah marah kepadanya saat ini.


Kepala sekolah itu terus memberikan ancaman ancaman yang menakutkan, akan tetapi Risda tidak begitu mendengarnya karena kini dirinya masih fokus dengan Afrenzo. Afrenzo terlihat sangat menakutkan saat ini, bahkan tatapannya saja sudah mampu mengintimidasi Risda.


*****


"Masuk!!" Sentak Afrenzo kepada Risda.


Risda terlihat ketakutan dengan lelaki itu, bagaimana tidak? Afrenzo kini terlihat sangat marah dengan Risda. Sepulang sekolah, Afrenzo langsung menarik tangan Risda begitu saja dan membawanya menuju aula beladiri dilantai atas.

__ADS_1


Afrenzo pun menyuruh Risda masuk kedalam ruang atas aula beladiri itu, dirinya lalu menutup pintu ruangan itu dengan rapatnya. Hal itu langsung membuat Risda nampak begitu takut dengan lelaki itu saat ini.


"Renzo, maafin gue," Cicit Risda pelan karena sangking takutnya dengan Afrenzo saat ini.


__ADS_2