
Luka yang sebelumnya belum sembuh kini pun kembali terbuka dan lebih parah. Risda dapat melihat setitik darah yang mengalir diujung bibir Afrenzo, kedua mata Afrenzo seakan akan ingin sekali terpejam.
"Om, ini bukan salah Renzo! Kenapa Om begitu jahat sama anak sendiri? Kenapa Om pukuli dia sampai seperti ini?" Teriak Risda dengan linangan air mata.
Luka bekas memerah panjang pun tercipta dikaki, tangan, dan badan Afrenzo. Risda tau bahwa itu adalah luka bekas cambukan dari sabuk yang mengikat dipinggang Farzan yang saat ini ada ditangan lelaki itu.
"Da, jangan nangis, gue ngak papa kok," Ucap Afrenzo lirih.
"Diem lo! Ngak papa apanya? Lo lemah kayak gini tapi lo masih bilang ngak papa?" Sentak Risda kepada Afrenzo yang langsung membuat Afrenzo tersenyum meskipun tengah memejamkan matanya.
"Gue hanya ngantuk, Da. Pengen tidur,"
"Ngak boleh, Tante kemana?" Tanya Risda.
"Mama sedang pergi, Da. Gue tidur dulu ya?"
"Renzo lo ngak boleh kenapa kenapa,"
"Maaf ya, gue bentak lo tadi,"
Afrenzo membuka kedua matanya untuk menatap kearah Risda, ia pun menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata Risda. Tak beberapa lama kemudian, tangan Afrenzo pun terjatuh dilantai begitu saja, kesadaran Afrenzo pun memudar.
"Ren.. Renzo! Lo kenapa Ren? Bangun!" Risda pun panik dan langsung mengoyang goyangkan tubuh lelaki itu untuk berusaha membangunkannya.
Afrenzo sama sekali tidak meresponnya, kedua mata Afrenzo tertutup dengan sempurnanya. Risda terus menggoyang goyangkan tubuhnya berharap bahwa Afrenzo segera membuka kedua matanya kembali, akan tetapi harapannya itu sia sia karena kedua mata Afrenzo terpejam rapat.
"Renzo!" Panggil Farzan sambil mendekat kearah anaknya itu.
"APA OM PUAS BIKIN DIA SEPERTI INI!" Bentak Risda sambil mendorong tubuh Farzan.
"Renzo bangun! Kamu kenapa?" Farzan seakan akan menjadi panik ketika melihat Afrenzo tidak sadarkan diri seperti itu.
Bagas dan Ayahnya itu pun langsung bergegas untuk mendatangi Afrenzo, untuk melihat kondisi lelaki itu. Risda mengenggam erat tangan Afrenzo yang tidak sadarkan diri itu, Afrenzo kini tengah bersandar didada kiri Risda.
"Selama ini dia sakit, Om. Tapi dia mencoba untuk menahan rasa sakitnya itu, tapi kenapa Om justru terus menghajarnya seperti ini? Apa Om menginginkan dia mati?"
Deg
Pertanyaan Risda tersebut langsung membuat Farzan sangat terkejut, bagaikan disambar oleh sebuah petir yang teramat sangat kerasnya. Bahkan ketika anaknya sakit, dirinya pun tidak mengetahui soal itu.
"Sakit apa?" Tanya Farzan sambil menatap kedua mata Risda lekat lekat.
"Aku ngak tau, Om. Beberapa hari tubuhnya terus terasa panas dan demam, meskipun dia tidak bilang tapi wajahnya tidak bisa berbohong, Om. Kenapa harus Om hajar seperti ini?"
"Kita bawa kerumah sakit sekarang,"
Farzan pun bangkit berdiri, dirinya pun bergegas untuk menautkan tangan Afrenzo ke lehernya itu. Afrenzo yang tidak sadarkan diri itu terasa amat berat, Risda pun ikut serta untuk memapahnya.
Mereka pun berusaha untuk memasukkan Afrenzo kedalam mobil milik Farzan, Risda pun duduk didalamnya dengan Afrenzo yang disandarkan dipundaknya itu. Mereka pun membawanya pergi kerumah sakit terdekat ditempat itu, Risda merasakan bahwa pernafasan Afrenzo terlihat sangat berat.
Cukup lama berada didalam perjalanan, akhirnya merekapun telah tiba dirumah sakit. Beberapa perawat langsung bergegas untuk menyiapkan bangkar untuk Afrenzo, Afrenzo pun dibawa kedalam ruangan UGD.
"Kenapa lukanya bisa sebanyak ini?" Tanya salah satu Dokter yang menangani Afrenzo.
"Habis berantem, Dok." Jawab Farzan berbohong.
Karena pernafasan Afrenzo terasa berat, hingga membuat mereka memasangkan alat bantu pernapasan dihidung Afrenzo. Mereka juga memasang selang infus ditangannya itu, Risda yang melihat itu hanya bisa merem*as jemarinys sendiri.
Ketika sebuah suntikan yang berisikan obat menancap didagingnya, Afrenzo pun mengernyitkan dahinya karena sakit obat yang masuk kedalam tubuhnya melalui jarum suntik. Perlahan lahan, Afrenzo mulai membuka kedua matanya kembali.
"Alhamdulillah pasien sadar,"
Afrenzo menatap sekitarnya meskipun terlihat sangat buram hingga membuat kepalanya terasa sangat pusing. Afrenzo pun merasakan perih disalah satu tangannya yang terpasangkan jarum infus.
Ketika pandangannya sudah terasa lebih jelas, Afrenzo dapat melihat bshwa dirinya kini tengah berada disebuah rumah sakit. Melihat itu langsung membuat Afrenzo berusaha untuk bangkit dari terbaringnya, ia tidak mau dirawat dalam rumah sakit.
"Mas mau kemana? Istirahat saja," Ucap Dokter itu sambil menahan Afrenzo yang berusaha untuk bangkit.
"Saya ngak mau dirawat, Dok. Saya mau pulang," Ucap Afrenzo lirih.
"Tapi Masnya belum sembuh,"
"Saya ngak mau sembuh, saya mau pulang,"
Afrenzo pun langsung menarik jarum suntik yang menghubungkannya dengan selang infus itu, hingga membuat infus tersebut terlepas dari tangannya. Dirinya terus berusaha untuk bangkit tanpa mau mendengarkan ucapan Dokter dan beberapa perawat itu.
Mendengar keributan tersebut langsung membuat Risda dan yang lainnya segera bergegas untuk mendatangi Afrenzo, Risda langsung mencegah Afrenzo yang ingin pergi dari rumah sakit itu.
"Renzo, lo masih sakit. Jangan memaksakan diri seperti ini," Ucap Risda.
"Ayo pulang, gue ngak mau disini," Afrenzo pun menarik tangan Risda untuk pergi dari tempat tersebut.
__ADS_1
"Renzo, hentikan! Jangan membantah Papa," Ucap Farzan yang hanya diabaikan oleh Afrenzo.
Risda pun berusaha untuk membuat lelaki itu menghentikan langkah kakinya itu. Ia pun memegangi tangan Afrenzo untuk mencegah lelaki itu untuk pergi dari rumah sakit tersebut.
"Renzo, lo ngak boleh pergi dari sini gitu aja dong."
"Gue ngak mau sembuh, Da. Kalo gue sembuh justru penyiksaan gue semakin lama. Kalo gue mati, kan kagak ada yang bisa nyiksa gue lagi, Da."
"Renzo, gue ngak mau lo kenapa kenapa,"
"Gue ngak papa, Da. Gue baik baik saja kok tanpa perlu dirawat disini,"
Tak lama kemudian, Rahma pun tiba dirumah sakit tersebut, dengan paniknya dirinya langsung bergegas untuk menuju kerumah sakit. Ia pun begitu bingung kenapa Afrenzo bisa berdiri didepan seorang gadis, kayanya dia sakit tapi kenapa dirinya seolah olah terlihat baik baik saja.
"Renzo," Panggil Rahma kepada anaknya itu.
"Mama," Ucap Afrenzo ketika melihat Rahma.
"Kamu kenapa, Nak? Apa Papamu memukulimu lagi?" Tanya Rahma yang to the point.
"Renzo ngak papa kok, Ma. Renzo mau pulang saja,"
"Bohong, Tan. Lihat saja tangannya itu, dia nyabut infusnya dengan paksa, dia mau pergi dari sini dan tidak mau dirawat. Padahal dia lagi sakit,"
Pandangan Rahma pun tertuju kepada punggung tangan anaknya itu, terlihat beberapa tetes darah yang keluar dari tangan Afrenzo. Melihat itu langsung membuka Rahma memegang kedua pundak Afrenzo untuk meminta jawaban dari anaknya itu.
"Kenapa kamu seperti ini, Renzo! Jawab ucapan Mama! Kenapa kamu cabut infusnya?" Rahma pun terlihat marah dan sedih karena tindakan Afrenzo.
"Untuk apa disembuhkan, Ma? Jika nantinya bakalan dilukai lagi," Tanya Afrenzo.
Pertanyaan itu langsung membuat Rahma memeluk tubuh anaknya itu, sebuah air mata Afrenzo pun meluruh ketika merasakan pelukan dari Rahma. Lelaki itu tidak biasanya menangis, akan tetapi pelukan Rahma kali ini langsung membuat air matanya meleleh begitu saja.
"Maafin Mama ya, Nak. Mama ngak bisa ngelindungin kamu, maafin Mama."
"Mama ngak salah kok, Renzo lelah pengen istirahat dirumah saja. Ayo pulang, Ma."
"Tapi kamu belum sembuh, Renzo. Mama ngak mau kamu sakit seperti ini,"
"Ma, Renzo pulang sendiri kalo seperti itu. Mama disini saja, Renzo pengen istirahat dirumah,"
Afrenzo pun langsung menarik kembali tangan Risda untuk pergi dari tempat itu, Risda hanya menurut saja tanpa membantah ucapan Afrenzo. Disetiap langkah, Risda melihat kearah tangan Afrenzo yang berdarah akibat dirinya yang mencabut paksa selang infus tersebut.
"Renzo tunggu!" Ucap Risda dengan menghentikan langkahnya.
"Kita obati tangan lo dulu, bisa bisa lo kehabisan darah kalo seperti itu,"
Afrenzo pun menatap kearah tangannya yang mengeluarkan darah tersebut, Afrenzo pun melepaskan tangan Risda. Dirinya pun menggerakkan tangannya untuk menempelkan kain bajunya di tangan yang berdarah itu, dan menekannya dengan keras beberapa saat.
Setelah pendarahan itu berhenti, Afrenzo pun mendekat kearah wastafel yang ada disana. Afrenzo pun membersihkan tangannya dari bekas darah milinya itu sendiri, hingga tangan itu bersih dari bekas darah.
"Lo bawa sepedah motor, Da?"
"Sepedah gue ada dirumah lo, Renzo. Kita kemari tadi pake mobil Bokap lo,"
"Kita pulang naik angkot."
Afrenzo pun kembali menarik tangan Risda menuju ketepi jalanan yang ada didepan rumah sakit tersebut. Afrenzo pun mencari angkutan umum yang lewat didepan sana, hingga sebuah angkutan umum berhenti ketika Afrenzo menghentikannya.
Keduanya pun langsung masuk kedalam angkot tersebut, Risda dan Afrenzo duduk bersebelahan saat ini. Pandangan Risda masih tidak bisa lepas dari wajah Afrenzo saat ini, wajah tersebut seakan akan menyembunyikan sebuah luka yang teramat sangat mendalam.
"Renzo," Panggil Risda lirih.
"Hem?" Jawabnya yang hanya berdehem saja.
"Gimana kalo Bokap lo nghajar lo lagi nanti kalo lo maksa pulang seperti ini? Gue takut,"
"Gue udah biasa, Da. Lo ngak perlu takut," Ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Gue serius, Renzo. Bokap lo emang suka main tangan sejak dulu?"
"Sejak Kakak ngak ada, semuanya berubah, Da. Apalagi Bagas terus memprovokasi Bokap gue selama ini,"
"Sialan emang tuh cowok, minta diberi pelajaran yang berat."
"Ngak perlu,"
"Tapi dia sudah jahat sama lo, kenapa lo diam saja, Renzo? Seharusnya lo lawan dia,"
"Ngak semudah yang lo pikirkan, Da."
Risda pun berdiam diri mendengar ucapan Afrenzo, sebelumnya dirinya sudah melihat Bagas babak belur akibat Afrenzo. Akan tetapi, Afrenzo semakin dihajar oleh Ayahnya karena tindakan yang dilakukan oleh Afrenzo kepada Bagas.
__ADS_1
*****
Risda berangkat sekolah cukup pagi kali ini, dirinya langsung bergegas untuk masuk kedalam kelasnya. Ia langsung mendapatkan tatapan tidak suka dari Mira yang memang sudah ada didalam sana.
Didalam kelas itu terasa sangat canggung karena hanya ada Risda dan Mira saja, karena keduanya sedang bermusuhan saat ini. Karena rasa canggung itu, langsung membuat Risda keluar dari dalam kelas itu untuk duduk dikursi yang ada diluar kelas.
"Renzo!" Panggil Risda ketika melihat Afrenzo yang sedang berjalan untuk menuju kekelasnya.
Risda pun langsung bergegas untuk menghampiri cowok itu, Risda langsung bergegas untuk berdiri dihadapan Afrenzo. Lelaki itu pun langsung menghentikan langkahnya ketika melihat adanya Risda didepannya saat ini, dirinya pun menatap kearah wajah Risda.
"Lo sudah sembuh?" Tanya Risda keheranan karena Afrenzo yang masuk sekolah saat ini.
"Gue ngak sakit," Ucap Afrenzo singkat.
"Tapi lo kan butuh istirahat yang cukup,"
"Sudah cukup,"
"Lo ngak dihajar lagi sama Bokap lo kemarin malam kan? Lo baik baik saja kan kemarin?"
"Lo ngak perlu khawatirin gue,"
"Gue lega kalo lo kagak dihajar, Renzo."
Risda pun tersenyum cerah kepada Afrenzo, melihat Afrenzo baik baik saja itu sudah cukup baginya. Ia merasa lega karena semalam Farzan tidak lagi menghajar Afrenzo, sehingga dirinya bisa berangkat sekolah saat ini.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo.
"Untuk kegiatan nanti malam, berangkat kemari jam berapa?"
"Jam 4 sore sudah sampai disini, jangan telat."
"Gue nanti pulang jam 3 sore soalnya ekstra tata busana, terus harus cepet cepet balik ke sekolah lagi dong? Jarak sekolah dalam rumah gue sekitar 15 menitan itu pun kalo kecepatan lajunya 70 km/jam. Kemungkinan gue bakalan telat,"
"Jangan ngebut, gue maklumi nanti,"
"Thanks ya, Renzo. Gue janji ngak telat terlalu lama kok,"
"Ya sudah, cepat masuk kekelas,"
"Baiklah,"
Risda pun lalu bergegas untuk kembali masuk kedalam kelasnya, dirinya pun juga melihat adanys Rania dan yang lainnya yang baru tiba di dalam kelas. Risda lalu memilih untuk menghampiri Kartika yang sudah duduk dimejanya itu.
Belakangan ini, Risda selalu bersama dengan Kartika, keduanya pun sering bercanda gurau bersama, daripada bersama dengan keempat teman barunya itu.
"Tik, gimana Tante lo? Masih maksa buat mindahin lo kesekolah yang lainnya?" Tanya Risda kepada Kartika.
"Masih, Da. Tapi ngak tau kapan pindahnya, soalnya katanya Tanteku masih ngurusin data datanya,"
"Aneh bener deh, gue ngurusi surat pindah sekolah dulu aja kagak selama ini, bahkan sudah seminggu loh ini," Batin Risda.
"Gue udah lihat sekolahnya dulu, Da. Memang lebih dekat dengan rumah gue daripada sekolahan ini, jadi gue hanya bisa nurut ucapannya, Da. Daripada kagak ada yang nganter nantinya,"
"Jangan pindah, Tik. Kalo lo pindah, terus gue sama siapa? Gue kagak ada temennya dong,"
"Kan masih ada yang lain, Da. Kan lo biasanya juga sama Mira, Septia, dan Rania juga kan? Kenapa sekarang kagak pernah sama mereka?"
"Gue musuhan sama mereka, Tik. Gue masih dituduh ngambil hp Nyokapnya Nanda, gue ngak suka dituduh tuduh seperti itu,"
"Kok bisa lo yang dituduh, Da? Padahal kan lo dulu sama gue, tapi gue ngak dituduh tuh."
"Kita belom aman, Tik. Meskipun mereka ngak nuduh tapi gue yakin mereka sering membicarain kita dibelakang, dan gue ngak suka itu."
"Yang sabar ya, Da."
Meskipun tanpa disadari oleh Kartika, Risda pun terus mendesaknya untuk mengaku bahwa dirinya yang mengambil ponsel tersebut. Risda selalu mengawasi gerak gerik dari Kartika, dengan caranya sendiri Risda mencoba untuk membuat Kartika jujur.
Tidak sekali atau dua kali dirinya terus mencoba untuk membuat Kartika mengaku, akan tetapi Kartika sama sekali tidak mau mengakuinya.
"Tik, gue dulu juga seorang maling, gue pernah nyuri barang yang gue pengenin. Jadi wajar saja mereka nuduh gue, jadi gue ngerasa agak takut,"
"Kenapa lo nyuri, Da? Terus gimana?"
"Gue pengen, tapi kagak punya uang buat beli. Jadi gue ngambil gitu aja, sampai sekarang kagak ketahuan. Ternyata maling itu enak ya, dia bisa ngambil barang tanpa harus kehilangan uang, sepertinya itu membuat gue candu,"
Risda pun bercerita panjang lebar kepada Kartika, ketika menunjukkan bel pulang akan tiba. Keduanya kini berada diruang musik. Disaat itu, Kartika mulai mengaku kepada Risda tentang ponsel milik Ibunya Nanda, mendengar itu langsung membuat Risda sangat terkejut bukan main.
Kumpulkan semuanya bel pulang jangan pulang dulu, gue mau ngomong sesuatu, Risda pun mengirim pesan kepada teman temannya itu.
Melihat pesan tersebut langsung membuat teman teman Risda merasa heran dengan pesan yang dikirim oleh Risda, bukankah mereka musuhan? Tapi kenapa Risda mengirim itu kepada teman temannya.
__ADS_1
Bel pulang pun berbunyi, Risda langsung mengajak Kartika untuk kembali kekelasnya saat ini, Kartika hanya menuntut saja tanpa merasa curiga sedikitpun. Sesampainya dikelas itu, dirinya begitu terkejut ketika melihat adanya keempat orang yang masih berada disana.