Pelatihku

Pelatihku
Episode 142


__ADS_3

Didalam kamar yang sepi, sunyi, nan gelap itu. Risda tengah duduk dilantai sendirian, kedua matanya terus mengeluarkan sebuah kristal bening. Didalam kamar sendirian, membuat Risda merasa jauh lebih tenang karena suasana yang ada didalam kamarnya itu.


Dirinya pun merenungi nasibnya sendiri, dulu dirinya adalah anak yang paling bahagia karena disayangi oleh kedua orang tuanya. Akan tetapi, keadaan justru berbalik saat ini, bahkan tak seorang pun ada didekatnya. Keluarga, teman, sahabat, mereka semuanya pergi meninggalkannya sendirian.


Risda merasa sangat kesepian, dan tak seorang pun bisa untuk diajaknya mengobrol sekaligus bercanda gurau. Bahkan disaat dirinya dekat dengan teman barunya, Ibunya selalu mengekangnya dan mengatakan temannya itu akan membawa dampak buruk baginya.


Mereka lupa akan satu hal. Yakni, karakter seorang anak yang memiliki pendirian kuat, tidak akan mungkin dengan mudah terpengaruh terhadap temannya. Biarkan mereka berteman dengan siapapun, asalkan kita tetap mengawasinya, karena bersosialisasi juga dipentingkan bagi seseorang ketika sudah dewasa nanti.


Sikap seorang anak tergantung apa yang orang tuanya ajarkan, jika orang tua saja tidak pernah mendidiknya lantas bagaimana karakter seorang anak terdidik. Sejak kecil, Risda tidak pernah diberitahu mana yang salah dan benar, akan tetapi dirinya selalu dituntut untuk menjadi lebih sempurna oleh orang orang sekitar.


Kita tidak akan bisa untuk menyenangkan semua orang, bahkan itu adalah hal yang mustahil kita bisa lakukan. Pasti ada yang membenci kita, walaupun tidak tau kesalahan kita dimana, pasti ada hal yang tidak kita sengaja yang membuat orang lain membenci.


Tidak perlu alasan banyak untuk bisa membenci seseorang, bahkan hal sekecil apapun itu sudah mampu membuat orang lain membenci diri kita. Untuk sebalinya, butuh alasan yang kuat untuk bisa menyikai seseorang, kita tidak akan bisa menyukai seseorang hanya dalam sekali lihat.


Berbeda jauh jika yang kita sukai dalam sekali melihat itu adalah lawan gender kita, mungkin karena wajahnya akan membuat lawan jenis tiba tiba menyukai. Ingat, dalam sekali pandang bukanlah cinta yang didapat, akan tetapi sebuah nafsu yang menginginkan untuk dimiliki.


Nyatanya diluar sana sudah gelap, dan Risda pun membuka cendelanya untuk melihat indahnya rembulan dimalam hari. Dirinya yang mengurung diri sendiri dalam kegelapan itu pun merasa tenang ketika melihat rembulan yang bersinar dengan terang, bahkan hatinya merasa damai tapi tidak dengan air matanya yang justru semakin mengalir dengan derasnya.


"Ya Allah, sampai kapan hidupku akan jadi seperti ini? Ingin sekali diriku mengakhiri semuanya,"


Apakah kalian tau apa yang dirasakan oleh Risda waktu itu? Bahkan dirinya sama sekali tidak memiliki harapan untuk bisa hidup lebih lama lagi. Risda terus berdoa agar hidupnya segera berakhir, dirinya sudah tidak sanggup untuk menahan seluruh beban yang ditanggungnya diusia yang masih kecil itu, dan bahkan dirinya berpikir bahwa kematian akan membuatnya merasa damai.


Risda pun memejamkan kedua matanya, tanpa dirinya sadari bahwa dia sudah tertidur dengan lelapnya meskipun dengan posisi duduk dan menyandarkan kepalanya didinding kamarnya. Entah dia tertidur atau justru tidak sadarkan diri, karena dirinya merasa bahwa seluruhnya menggelap tiba tiba.


*****


Keesokan harinya, Risda tersadarkan dari tidurnya dengan posisi yang kesemutan diseluruh tubuhnya. Karena tidur dalam posisi yang kurang nyaman, hal itu membuatnya merasa bahwa tubuhnya sangat sakit semua.


Risda pun dengan perlahan lahan mulai bangkit dari tidurnya itu, meskipun rasanya sangat sakit semua akan tetapi dirinya tidak mau menyerah begitu saja. Risda lalu bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, setelahnya dirinya pun bersiap siap untuk berangkat ke sekolah.


Risda melihat ke arah meja makan yang sama sekali tidak terdapat makanan, padahal saat ini perutnya merasa sangat lapar, dan akhirnya dirinya pun memutuskan untuk berangkat sekolah tanpa makan terlebih dulu. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh, karena saat ini Riska telat bangun dan bahkan untuk bersiap-siap juga membutuhkan waktu yang lama karena tubuhnya merasa sangat sakit.


Setelahnya dirinya pun langsung bergegas menuju ke sekolah, dirinya pun memakai pakaian yang masih kurang kering sehingga dirinya merasa sangat dingin. Sesampainya disekolah, Risda sama sekali tidak mendapati temannya berada di sana, bahkan di saat pukul jam segitu dirinya pun masih sendirian di dalam kelas.


"Apakah nggak ada yang masuk ke sekolah? Jam segini kok masih sepi aja," Gumannya lirih.


Karena teman temannya tak kunjung datang membuatnya langsung berkas menuju keluar kelas, dia takut bahwa sekolah itu memang libur akan tapi kenapa kelasnya dibuka jika libur. Dirinya pun mendapati adanya adik adik kelasnya yang tengah berjalan menuju kelas mereka masing masing, Risda lalu bergegas menghentikan salah satu dari mereka dan bertanya.


"Apakah kelas 6 libur sekarang? Kenapa jam segini kok belum ada yang datang?" Tanyanya kepada Rahayu, adik kelasnya yang lumayan dekat dengannya.


"Loh, Mbak Risda nggak tahu? Sekarang tuh kelas 6 pada berkumpul di kolam renang Banyubiru, karena mau ada praktek berenang, apakah Mbak nggak dikasih tahu sama teman teman Mbak yang lainnya?"


"Hari ini ada praktek renang? Aku nggak tahu Ayu, soalnya kan aku sudah lama nggak masuk sekolah dan aku juga nggak punya nomor teman teman jadi nggak ada yang ngasih tahu aku."


"Oalah jadi gitu sebabnya Mbak Risda nggak tahu. Mumpung masih jam segini mending Mbak berangkat saja kolam renang, di sana udah ada kok Bapak Ibu guru yang mengajar,"

__ADS_1


"Apa aku nggak telat kalau datang sekarang?"


"nggak mungkin telat kali, Mbak. Oh iya, nanti ke sananya pakai baju olahraga ya supaya nggak ditarik uang sama kasir,"


"Baiklah terima kasih infonya,"


"Sama sama, Mbak. Ya udah kalau gitu aku masuk kelas dulu ya, Mbak?"


"Iya."


Keduanya langsung berpisah jalan, Risda langsung ke segera kembali ke rumah, sementara Rahayu langsung bergegas untuk masuk ke dalam kelasnya. Sesampainya dirinya di rumah Lasmi, Lasmi pun terkejut karena Risda kembali pulang ke rumah.


"Kenapa balik?" Tanya Lasmi kepada Risda.


"Teman teman ada dikolom renang, Bude. Jadi aku harus berangkat kesana,"


"Terus gimana berangkatnya?" Tanya Erin yang mendengar ucapan Risda.


Risda sendiri pun terdiam karena dirinya tidak mengetahui jawabannya, dia juga bingung harus berangkat bagaimana untuk menuju ke tempat itu, apalagi tempat itu sangat jauh dari rumah. Erin sendiri pun tidak bisa mengantarnya karena masih ada urusan kuliah, Lasmi sendiri pun menyarankan agar Risda naik becak saja menuju ke sana.


Risda yang sebelumnya tidak pernah naik becak sendiri pun merasa bingung, dirinya takut justru akan tersesat dan tidak tahu jalan untuk pulang. Apalagi dirinya juga tidak terlalu hafal jalanan yang ada di sana, selama dirinya tinggal di sana pun dia tidak pernah keluar rumah.


Risda tidak tahu bagaimana caranya untuk berangkat ke sana, apalagi dirinya tidak memiliki kerabat untuk mau menghantarkannya menuju ke kolam renang. Risda pun memutuskan untuk tidak jadi berangkat saja daripada dia tersesat di jalan, akhirnya Erin mau mengantarkannya tapi tidak bisa menjemputnya.


Dan hal itu seketika membuat Riska merasa bingung dan bimbang harus bagaimana, jika Erin hanya mengantarnya lalu pulangnya dia harus nebeng siapa. Akan tetapi Risda setuju saja soal itu, karena nanti dirinya bisa meminta kepada bapak ibu guru agar teman temannya mau menebenginya untuk pulang.


Risda tidak lupa membawa seluruh uang yang dirinya miliki, karena nantinya dirinya ingin membeli makanan untuk bisa mengisi perutnya di sana, sejak kemarin dirinya belum makan sehingga perutnya merontal rontal untuk minta diisi. Risda dan Erin segera bergegas menuju ke kolam renang, sesampainya di sana Risda pun langsung diperbolehkan masuk tanpa membayar karena kolam renang sudah di boking oleh sekolah Risda.


Risda langsung berkelas mendatangi guru olahraganya yang ada di sana, guru olahraga tersebut sangat terkejut melihat kedatangan Risda yang tiba tiba, karena belakangan ini Risda tidak masuk ke sekolah akan tetapi justru masuk ketika acara praktek berenang.


"Kamu ke mana saja selama ini? Kenapa tidak pernah masuk sekolah bahkan tidak ada keterangan? Teman temanmu mengunjungimu ke rumah tapi tantemu justru bilang kamu sakit," Tanya guru olahraga tersebut kepada Risda.


"Maaf, Pak. Jika aku tidak masuk sekolah tanpa keterangan, aku sakit beberapa minggu ini dan dibawa oleh orang tuaku pulang ke rumah jadi tidak sempat untuk meminta izin kepada pihak sekolah."


Guru itu mampu memaklumi ucapan Risda, karena dirinya juga melihat wajah Risda yang pucat dan postur tubuhnya berbeda jauh dari sebelumnya. Saat ini tubuh Risda terlihat sangat kurus, daripada terakhir kali guru olahraganya itu melihat Risda.


Karena di saat sakit Risda sama sekali tidak kemasukan makanan, hal itu membuat berat badannya menurun drastis dan postur tubuhnya pun sangat kurus seperti hanya tersisa kulit dan tulang saja. Risda pun menjelaskan semua yang terjadi kepadanya di saat sakit kepada guru itu, sehingga mereka pun mengizinkan Risda untuk bergabung dengan yang lainnya.


"Apa kamu yakin sanggup untuk berenang kali ini? Nanti kalau dirimu semakin tambah parah gimana sakitnya?" Tanya guru itu.


"Aku nggak papa kok, Pak. Aku tidak ingin nilai raportku akan jelek jika tidak mengikuti praktek berenang ini,"


Risda tetap Keke untuk mengikuti acara praktek berenang itu, dirinya tidak ingin jika nilai raportnya akan jelek jika tidak mengikuti praktek olahraga tersebut. Akhirnya guru tersebut pun menyuruh Risda untuk masuk ke dalam kolam renang, dan bergabung dengan teman teman yang lainnya.


"Kamu kenapa jarang masuk sekolah?" Tanya Rena ketika melihat Risda.

__ADS_1


"Aku sakit, Na. Jadi Ayahku mengajakku pulang kudu dirawat di rumah, kamu tahu kan di rumah Bude Lasmi itu seperti apa?"


"Iya aku tahu kok, Ris. Syukurlah kalau kamu sudah sembuh,"


Risda pun tersenyum kepada Rena, begitupun sebaliknya Rena pun tersenyum kepada Risda. Beberapa teman diska pun memandang Risda dengan tidak suka, karena memang sejak awal mereka tidak suka adanya Risda di sekolah itu.


"Halah sakit cuma dibuat alasan, giliran ada acara begini aja masuk,"


"Bener tuh. Masuk kok cuman pas waktu acara ini doang, bilang aja kalau emang males sekolah,"


"Bagaimana bisa kita tidak merasa aneh ya, kan? Ni anak pasti pura pura sakit biar bisa tidak masuk sekolah,"


"Kamu pasti sakit bohongan kan, Da? Mana mungkin ada sakit selama itu, jangan jangan sakit itu hanya buat alasan saja. Kami tuh tahu sendiri kalau kamu emang males, jangankan mengerjakan pr di rumah mengerjakan tugas saja kamu jarang mengumpulkan,"


Risda pun hanya bisa terdiam mendengar cibiran dari teman temannya itu, banyak yang mengatakan bahwa Risda hanya berpura pura sakit selama ini. Riska pun hanya dia membisu ketika teman temannya terus membully nya, karena akan sulit untuk meyakinkan orang yang membenci kita meskipun kita mengatakan kebenaran.


"Kalian kok gitu sih? Riska kan baru masuk sekolah, Kenapa kalian mengatakan hal hal yang menyakitkan seperti itu?" Tanya Rena yang membela Risda.


Rena adalah satu satunya teman, yang selalu ada untuk Risda, tapi Risda tidak pernah terbuka kepada siapapun. Mereka pun langsung bersorak kepada Rena karena dia membela Risda, dan mereka terus menyalahkan Rena karena dia berpihak kepada Risda.


"Sudah sudah jangan berantem lagi," Sela guru olahraga yang tiba tiba menengahi pertengkaran mereka.


Mendengar ucapan guru olahraga itu seketika langsung membuat mereka terdiam, semuanya pun terdiam tanpa adanya suara sedikitpun. Akhirnya praktek olahraga tersebut pun selesai dilaksanakan, dan seluruhnya pun dibiarkan untuk bermain air sepuas mereka.


Setelahnya Risda langsung bergegas untuk mengganti pakaiannya, dirinya memakai pakaian biasa. Dia lalu mendekat kearah guru olahraganya, meskipun teman temannya masih sibuk berenang akan tetapi dirinya sudah siap untuk pulang.


"Pak," Panggil Risda.


"Mau pulang sekarang? Sudah dijemput kah?" Tanya guru olahraga itu terkejut ketika melihat Risda yang sudah bersih, akan tetapi teman temannya masih sibuk bermain air.


"Aku nggak dijemput, Pak. Boleh aku minta tolong ke Bapak untuk mengantarkan pulang?"


"Nggak dijemput? Ya sudah nanti sama Bapak aja,"


Guru olahraga itu pun mau mengantarkan Risda pulang, Risda tau bahwa guru itu masih menikmati acara berenangnya bersama dengan keluarganya. Sehingga Risda hanya duduk duduk dikursi tunggu sambil melihat seluruhnya bermain air, sama sekali tidak ada keinginan untuknya melanjutkan berenangnya.


Risda sendiri pun takut dengan air, sehingga dirinya pada waktu praktek hanya memberanikan diri sesaat. Setelah praktek dirinya langsung bergegas untuk keluar dari air karena takut, dirinya yang tidak bisa berenang itu pun hanya disuruh membenamkan wajahnya beberapa detik saja.


Risda melihat teman temannya yang begitu ceria bermain air, bahkan terlihat adanya kebahagiaan dari wajah mereka. Risda sendiri tidak mampu untuk terlihat sebahagia itu, dirinya juga ingin seperti teman temannya yang terlihat bahagia saat ini.


Akan tetapi, kebahagiaannya telah lenyap sejak dulu, dan yang tersisa hanyalah senyuman palsu saja diwajahnya. Dirinya termenung sendirian sambil melihat teman temannya yang sibuk berenang, karena mereka sangat lama berenangnya sehingga Risda memilih membeli makanan terlebih dulu.


Risda memakan makanan yang dirinya beli sendirian, karena sejak kemarin dirinya belum makan membuatnya sangat lahap untuk memakan makanan itu. Sambil menunggu gurunya selesai bermain air, Risda pun mengisi perutnya dengan makanan yang hangat.


Gurunya memang bersama dengan keluarganya, akan tetapi gurunya itu berganti pakaian lebih dulu daripada isteri dan anaknya hanya untuk mengantarkan Risda terlebih dulu. Biar bagaimanapun juga, Risda masihlah tanggung jawab dari gurunya karena ini adalah acara sekolah.

__ADS_1


Oleh karena itu, gurunya mau mengantarkan dirinya pulang terlebih dulu, sebelum pulang bersama dengan keluarganya.


__ADS_2