Pelatihku

Pelatihku
Episode 46


__ADS_3

Rombongan mereka telah sampailah disebuah wisata kebun belimbing. Mereka pun langsung bergegas turun dari bus tersebut, sebelum Risda menuruni tangga, tangan Afrenzo langsung memegangi tangannya itu. Merasakan itu langsung membuat Risda menghela nafas tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo itu.


"Gue janji ngak bakalan ngilang lagi, Renzo. Jadi lepasin gue," Ucap Risda sambil memohon kepada Afrenzo.


"Gue ngak ngehalangin lo kemana aja, ini sebagai hukuman lo," Ucap Afrenzo dingin.


"Renzo, ini sama aja lo ngak ngebiarin gue jalan jalan. Untuk apa adanya rekreasi saat ini, kalo lo terus ngiket gue seperti sebelumnya. Sama aja gue kagak ikut bersenang senang dengan teman teman gue,"


"Turun sekarang!"


Risda pun langsung menuruni tangga yang ada dibus tersebut sesuai dengan ucapan Afrenzo tanpa menolaknya. Sesampainya dibawah Afrenzo membiarkan dirinya untuk bergabung dengan teman temannya itu, Risda nampak begitu senang saat ini.


Afrenzo tidak lagi mengikat tangannya, melainkan membiarkan dirinya berkeliling bersama dengan teman temannya. Ia tau bahwa Risda memang tidak suka diatur oleh siapapun, sehingga mengaturnya tiba tiba akan membuat moodnya berantakan.


Melihat Risda yang tertawa bahagia kembali dengan teman temannya membuat Afrenzo menghela nafasnya, ia tidak akan bisa untuk mengikat gadis itu sesuai dengan kemauannya. Risda akan menolaknya dan akan semakin membencinya nantinya, sehingga hal itu hanya membuatnya menghela nafas panjang.


"Lo kok bisa dibebasin oleh dia sih?" Tanya Rania.


"Gatau, emang tuh orang kagak jelas banget deh. Tiba tiba aja nyuruh gue untuk gabung sama kalian," Jawab Risda yang tidak tau apa yang ada didalam pikiran seorang Afrenzo.


"Mungkin karena lo dianggap berarti olehnya kali, Da. Mangkanya keinginan lo langsung dikabulkan," Ucap Septia.


"Mana ada orang yang berarti, gue dimatanya hanyalah seperti butiran debu anjiirrr! Mana mungkin bisa terlihat sepesial,"


"Emang lo tau jalan pikirnya?" Tanya Mira.


"Kagak sih, tapi gue yakin aja gitu kalo gue emang butiran debu. Diterpa angin kecil aja sudah menghilang entah kemana,"


"Ya elah Da Da, lo emang kagak pernah ngehargai diri lo sendiri,"


Risda pun membalikkan badannya untuk melihat sosok Afrenzo, akan tetapi sosok tersebut sudah tidak ada lagi ditempatnya sebelumnya, entah kemana perginya cowok tersebut. Risda pun hanya menghela nafasnya dan kembali fokus untuk berbicara kepada teman temannya itu.


Risda dan yang lainnya lalu memasuki kebun belimbing tersebut, buah buah yang ada disana seakan akan terawat dengan baiknya, buahnya pun terlihat besar besar dan matang. Ditempat itu memang diperbolehkan untuk makan sepuasnya akan tetapi tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang.


"Da, mending lo manjat saja," Saran dari Mira sambil menatap kearah buah belimbing yang cukup tinggi dan besar.


"Busyet dah, masak iya sih gue yang manjat?" Risda pun ikut menatap kearah buah belimbing itu.


"Kan disini hanya lo yang bisa, kalo gue yang manjat mah langsung jatuh kebawah," Ucap Septia.


Risda pun menghela nafasnya, kebun buah belimbing tersebut cukup luas dan begitu banyak pohon belimbing disana. Biasanya para pengunjung akan memilih buah yang mudah digapai akan tetapi beda lagi ceritanya dengan Risda dan yang lainnya itu.


"Pegangin tas gue, biar gua manjat," Ucap Risda sambil menyerahkan tas kecil kepada Rania.


"Wokeh bro, tenang gue jagain kok tas milik lo."


Rania langsung memakai tas Risda dipundaknya, Risda pun menaikkan celananya. Hanya diacara acara tertentu mereka akan memakai celana, akan tetapi tidak disaat sekolah, mereka akan memakai rok.


Risda pun menggapai tangkai yang paling mudah digapai dan mulai memanjat pohon tersebut. Sudah setinggi 1 meter dirinya memanjat akan buah yang dimaksudnya itu pun cukup sulit untuk digapai.


"Da, manjat lagi lah, kurang dikit itu!" Perintah Rania.


"Bentar woi, banyak semutnya disini!" Teriak Risda dari atas pohon tersebut.


"Ya elah gitu aja takut sama semut, jatuhin aja kali dibawah biar mereka bunuh diri."


"Gila loh, mana bisa mereka mati gara gara jatuh dari sini doang, bahkan tebing curam pun kagak bakalan mati, bangsaat!" Umpat Risda.


Aneh ya? Mungkin hanya semut saja yang tidak akan mati meskipun jatuh dari ketinggian paling tinggi. Karena tubuhnya yang sangat ringan, sehingga mereka tidak memiliki beban ketika jatuh dari ketinggian.


"Astaghfirullah nih anak gadis! Turun sekarang!" Teriak seorang Guru kepada Risda.


Mendengar teriakan tersebut langsung membuat Risda menoleh kebawah dan melihat guru wanita tengah berdiri sambil menggeleng geleng kearah Risda, melihat itu hanya membuat Risda menyengir bagaikan tidak memiliki rasa bersalah.

__ADS_1


"Buahnya belom dapet, Bu. Dikit lagi yak," Tawar Risda dan melanjutkan untuk memanjat.


Setelah cukup lama berusaha akhinya Risda pun bisa menggapai buah tersebut, ia lalu memetiknya dengan perlahan lahan agar buah tersebut tidak jatuh. Setelahnya dirinya pun memakannya diatas pohon, melihat itu langsung membuat teman temannya berteriak kearah Risda.


"Woi anjiirr! Lo makan sendirian ha?"


"Bangsaat lo Da! Gue yang nunjukkin malah lo yang makan,"


"Bagi kita dong! Jangan lo embat sendirian!"


Guru wanita itu pun menggeleng gelengkan kepalanya, entah anak jaman sekarang mulutnya memang sulit dikendalikan. Mereka sama sekali tidak memiliki sopan santun, bahkan berbicara itu pun tidak ada aturannya.


"Bu maapin omongan teman teman ya, emang mulutnya minta disepak tuh," Ucap Risda sambil enak enakan makan diatas pohon.


Makan buah buahan secara langsung apalagi dipohonnya itu adalah hal yang sangat menyenangkan, bahkan buah tersebut rasanya akan sangat manis karena membutuhkan perjuangan untuk bisa mendapatkannya itu.


Mendengar ucapan Risda, membuat mereka menyadari adanya guru tersebut. Mereka telah lupa bahwa adanya seorang guru yang tengah berdiri diantara mereka karena fokus mereka terarah kepada Risda yang tengah memakan buah belimbing itu.


"Bu, jangan diambil hati ya. Emang biasa ini mulut, mulut jalanan," Ucap Rania.


"Biasalah Bu, mulut kami memang belom disekolahkan jadi omongannya kayak gini," Ucap Rania.


"Maafin kami ya, Bu. Ini karena reflek saja kok," Ucap Septia.


Guru wanita itu hanya menghela nafasnya mendengar alasan dari anak didiknya itu, sejak masuk sekolah sampai saat ini, Risda sudah biasa membuat ulah sehingga para guru sudah biasa melihat kenakalan Risda. Akan tetapi, mereka belum terbiasa melihat teman teman Risda yang mengumpat seperti itu.


"Aku tidak mau dengar lagi alasan kalian, jika ketahuan ngomong kasar seperti itu disekolahan. Maka Ibu akan hukum kalian dengan berat!" Ucapnya mencoba untuk menenangkan pikirannya itu.


"Yah, kenapa ngak sekalian dihukum disini sih, Bu?" Protes Risda yang masih diatas pohon karena tidak terima mereka tidak mendapatkan hukuman.


"Kamu turun sekarang! Atau Ibu akan menghukummu disini!" Perintah gurunya itu kepada Risda.


"Iya iya Bu, tapi jangan dihukum sekarang ya?" Tawar Risda.


Risda pun perlahan lahan turun dari atas pohon tersebut, ketika dirinya telah sampai dibawah dan menoleh kearah guru tersebut, tiba tiba dirinya merasa sangat terkejut. Bukan tanpa alasan dirinya terkejut, akan tetapi ketika dirinya melihat sosok Afrenzo yang berdiri disamping guru wanita itu.


Dengan perlahan lahan Risda pun kembali mendekat kearah teman temannya itu. Ia pun masih menundukkan kepalanya karena takut akan tatapan yang diberi oleh Afrenzo, meskipun tatapan tersebut sering dirinya lihat akan tetapi dirinya belum terbiasa melihat tatapan tajam seperti itu.


"Awasi dia dengan benar," Ucap guru wanita itu kepada Afrenzo.


Setelah mengatakan itu, guru tersebut langsung bergegas pergi dari tempat tersebut ketika melihat Risda yang sudah turun dari atas pohon. Afrenzo sendiri pun hanya menganggukkan kepalanya, ia memang jarang berbicara sehingga menjawab ucapan guru itu dengan anggukan kepala saja.


"Gue bisa jelasin kok," Ucap Risda kepada Afrenzo.


"Kenapa manjat?" Tanya Afrenzo, dengan nada yang sedikit melunak.


"Kagak ada gala untuk ngambilnya jadi gue manjat, buahnya juga terlalu menggoda selera makan, jadi gue pengen ngambil itu dan memakannya saja kok." Cicit Risda pelan.


"Kenapa ngak minta bantuan?"


"Gue ngak mau ngerepotin lo, jadi gue inisiatif ngambil sendiri dari atas pohon."


"Kalo gini, sama aja lo ngerepotin gue,"


"Maaf."


Risda pun merasa bersalah kepada Afrenzo, ia pun memainkan jemarinya untuk mengurangi gugupnya saat ini. Ia pun menyenggol nyenggol tangan Rania untuk meminta bantuan kepada gadis itu untuk menolongnya dari Afrenzo.


Rania pun tidak bisa berkata kata dihadapan sosok seperti Afrenzo saat ini, Rania pun menggerakkan tangannya untuk menyenggol tangan Septia yang ada disebelahnya, akan tetapi Septia sama sekali tidak paham maksud dari Rania yang menyenggol tangannya itu.


"Apa'an?" Tanya Septia yang tidak mengerti maksud dari temannya itu.


Mendengar pertanyaan itu, langsung membuat Risda berdecak kesal kepada Septia. Ia pun mencerucutkan bibirnya kearah Septia tanpa berani menoleh kearah Afrenzo yang ada dihadapannya itu, keempatnya terpaku ditempat tanpa bisa menggerakkan anggota tubuhnya itu.

__ADS_1


Melihat keempatnya itu yang saling beri kode itu pun membuat Afrenzo hanya menghela nafasnya. Memang wanita itu aneh, meskipun mereka salah akan tetapi tidak mau mengakuinya. Mereka memang mengucapkan kata minta maaf akan tetapi disertai dengan alasan yang kuat untuk menyalahkan lelaki.


"Masih ada waktu 1 jam, kalian bisa pergi." Afrenzo pun menyuruh mereka untuk pergi bersenang senang.


Ucapan itu langsung membuat senyuman diwajah Risda mengembang sempurna, mendengar itu juga langsung membuat Risda menatap kembali kearah Afrenzo dengan senyuman yang lebar.


"Ayo kita jalan jalan lagi teman teman!" Seru Risda sambil meninju angin dengan semangatnya.


"Ayo!" Seru keempatnya secara bersama sama.


Melihat itu langsung membuat Afrenzo menggeleng gelengkan kepalanya pelan sambil berdecak lirih, ia pun langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut, sementara Risda dan yang lainnya langsung bergegas untuk melanjutkan jalan jalannya.


Entah drama apa lagi yang akan dibuat oleh Risda setelahnya, gadis itu sama sekali tidak bisa dibilangi maupun diberitahu dengan suara kasar. Kalau dibilangi dengan suara yang tidak enak didalam hati, dirinya justru akan melakukan hal hal yang mampu membuat orang lain emosi.


Sangat sulit untuk merubah kebiasaan seorang gadis seperti itu, apalagi gadis itu telah menjadi liar dan sangat sulit untuk diberitahu dan dinasehati. Buruh waktu yang tidak sebentar untuk bisa merubah kebiasaan Risda, dan waktu tersebut harus dipakai oleh orang yang sangat sabar untuk menghadapinya.


Risda pun berjalan diantara lebatnya pepohonan buah belimbing itu, ia pun meraih buah belimbing yang mudah diraihnya tanpa harus memanjat seperti sebelumnya. Buah buah yang ada disana terlihat sangat besar dan manis, hal itu langsung membuat Risda dan teman temannya tanpa berhenti untuk terus memakannya.


Afrenzo tengah duduk disebuah gazebo kayu yang telah disediakan ditempat tersebut, ia pun memesan sebuah minuman disana. Gazebo kayu itu memang dipasang untuk para pengunjung istirahat dan memesan minuman yang disediakan disana.


"Masalah kita belum selesai, Renzo!" Ucap seseorang dan langsung membuat Afrenzo mendongakkan kepalanya.


"Gue ngak punya masalah sama lo," Jawab Afrenzo dan membuang muka dari hadapan orang tersebut.


"Lo punya masalah sama gue!"


"Hem," Jawab Afrenzo hanya berdehem.


Afrenzo seakan akan mengabaikan orang yang ada dihadapan itu, ia benar benar merasa kurang nyaman dengan adanya orang tersebut. Orang itu tidak lain adalah mantan ketua OSIS yang ada disekolah itu, namanya Bagas.


"Gue ngak suka lo ada didunia ini!" Ucap Bagas lagi.


Afrenzo langsung bangkit dari duduknya setelah mendengar ucapan dari Bagas itu, entah apa masalahnya hal itu membuat Bagas sangat membencinya itu. Afrenzo berdiri dengan tegaknya untuk menyamai tinggi tubuh dari Bagas.


"Kalo lo ngak suka, kenapa ngak lo bunuh sekalian?" Tanya Afrenzo sambil menatap tajam kearah Bagas.


"Gue ngak mau mengotori tangan gue sendiri dengan darah lo,"


"Dan gue ngak akan pernah membunuh diri gue sendiri."


Setelah mengatakan hal seperti itu, Afrenzo lalu meninggalkan tempat tersebut, dengan langkah gontai dirinya meninggalkan Bagas dari tempat tersebut. Dirinya tidak habis pikir dengan cowok itu, Bagas seakan akan terus menganggunya tanpa dirinya ketahui alasan apa yang membuat Bagas sangat membencinya itu.


*****


Setelah kelelahan berjalan jalan, Risda dan yang lainnya pun kembali kedalam bus terlebih dahulu dengan membawa segelas plastik es coklat yang telah ia beli. Didalam bus itu, Risda dan yang lainnya duduk sambil bersandar dikursi mereka masing masing.


"Minum es seperti ini, rasanya seger banget ya," Ucap Rania sambil menikmati es yang ada ditangannya itu.


"Lebih nikmat lagi kalo gratisan, nyesel gue beli minuman ini. Disini harganya mahal mahal banget, masak segelas kecil ini aja harganya 15 rebu," Gerutu Risda.


"Ya elah, ditempat wisata seperti ini mana ada yang murah." Septia menggeleng gelengkan kepalanya mendengar gerutu dari Risda.


"Bener yang dikatakan Renzo, lebih baik gue minum air putih dari pada minum es kayak gini. Udah isinya sedikit, es batunya segede gaban, rasanya kagak ada manis manisnya, sekali seruput pun langsung habis. Enakan air putih, murah, lega lagi." Ucap Risda sambil mencecerkan kekurangan dari es yang ada ditangannya itu.


"Ya elah lo itu Da Da, apa apa selalu ngomongin Renzo, Renzo, Renzo, Renzo, dan Renzo. Emang hubungan lo sama Renzo apa'an sih?" Tanya Mira yang penasaran.


"Dia itu pelatih gue, dan lo pasti tau kan hubungan gue dengan Renzo apa'an? Masih nanya lagi, kurang jelas apa lagi gue harus jelaskan ke lo lo semua?"


"Oh, hanya pelatih to," Jawab Rania sambil memanggut manggut dengan senyuman yang mencurigakan bagi Risda.


Melihat itu langsung membuat Risda mencerucutkan bibirnya, seakan akan teman temannya itu sama sekali tidak percaya dengan dirinya. Mereka selalu memojokkan Risda untuk mengatakan apa hubungannya dengan Afrenzo, dirinya yang selalu mengatakan bahwa Afrenzo adalah pelatihnya itu pun selalu mendapat senyuman yang misterius dari teman temannya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Hai.. Jangan lupa dukung author ya, dengan memberi bunga ataupun vote. Biar Author makin semangat ngetiknya


Berkarya itu tidaklah mudah, maka dukungan kalian sangat dibutuhkan.. Jangan lupa like dan komen ya


__ADS_2