
Risda tengah bersiap siap untuk pergi berlatih, dirinya kini tengah berada didalam kelasnya untuk memasukkan seragam sekolahnya kedalam tas miliknya itu. Sedari pagi dirinya tidak melihat Afrenzo sama sekali, dan Risda menduga bahwa Afrenzo tidak masuk sekolah kali ini.
Risda tidak tau kenapa lelaki itu tidak masuk sekolah saat ini, yang dirinya tau bahwa kemarin dia sempat terluka entah kenapa. Bahkan didalam grub beladiri, sama sekali tidak ada pengumuman bahwa latihan libur, sehingga latihan tetap masuk dan berjalan.
Risda pun membuka room chatnya sama Afrenzo, akan tetapi sejak tadi pagi pesannya hanya bertanda ceklis satu, dan belum berubah sampai sekarang ini. Afrenzo sedang tidak memegang ponselnya, dan hal itu membuat Risda terus kepikiran dengan lelaki itu.
Seperti biasa, setelah berganti pakaian beladiri, dirinya akan bergegas menuju keaula beladiri untuk menunggu siswa yang lainnya sampai latihan dimulai. Disana Risda sudah menemui Fandi yang tengah melakukan pemanasan seorang diri, melihat itu dirinya langsung duduk ditempat biasanya dirinya duduki.
"Renzo kemana?" Tanya Risda sambil menyaksikan Fandi melakukan pemanasan.
"Rumah sakit," Jawab Fandi singkat tanpa menoleh sedikitpun kepada Risda.
"Dia sakit apa? Kok bisa kerumah sakit?" Tanya Risda kembali dengan paniknya.
"Sudah biasa dia keluar masuk rumah sakit, yang belom tuh keluar masuk rumah sakit jiwa. Nanti juga kemari," Dengan entengnya dirinya menjawab tanpa mempedulikan pertanyaan khawatir dari Risda.
"Lo asal njeplat ya kalo ngomong, kagak menghargai orang sama sekali lo. Dia itu pelatih lo, bisa bisanya lo seperti itu," Omel Risda.
"Terus gue harus bagaimana? Udah khatam gue lihat dia kek gitu, dicegah pun kagak bisa."
"Lo kasih simpatik dikit gitu kagak bisa apa? Emang dirinya kenapa?"
"Sakit lah, untuk apa orang kerumah sakit kalo kagak sakit?"
"Kali aja jenguk orang sakit kan bisa. Emang dirumah sakit mana? Nanti gue pulang latihan mau jenguk dia."
"Kagak perlu, besok sudah masuk sekolah lagi kok. Dia opname dari kemaren malam, tadi siang aja sudah maksa pulang. Emang dasar tuh cowok, kagak mikir kesehatan sama sekali,"
"Maksa pulang? Kenapa harus maksa pulang sih?"
"Tanya aja sono sama orangnya, jangan tanya gue."
Risda pun mendengus dengan kesalnya, berbicara dengan orang yang ada didepannya hanyalah hal yang sia sia dan buang buang waktu. Tak beberapa lama pun datanglah para peserta ditempat itu, sehingga Fandi pun langsung memulai latihannya saat itu.
Fandi menggantikan Afrenzo untuk melatih siswa dasar seperti Risda dan teman temannya itu, sementara siswa senior dilatih oleh seangkatan dari Fandi. Selama latihan berlangsung, Risda terus saja memikirkan tentang Afrenzo yang tidak membalas pesannya, sampai sampai dirinya pun terjatuh disaat berlari.
"Akh..." Pekik Risda yang merasakan nyeri dilututnya, dan terlihat kulitnya sedikit terkelupas.
"Yang fokus kalau latihan! Kalau nggak niat latihan, mending pulang!" Bentak Fandi kepada Risda.
"Iya maaf, Senior." Risda pun berusaha untuk bangkit dari jatuhnya, meskipun tanpa bantuan dari siapapun.
Risda kembali melanjutkan larinya untuk memutari lapangan itu, hari ini adalah latihan fisik sehingga mereka disuruh untuk memutari lapangan sebanyak 50 kali. Hal itu juga disusul oleh push up, **** up, back up, dan lain sebagainya sebagai latihan hari ini.
Mereka yang sudah terbiasa dikeras oleh Afrenzo, sehingga latihan seperti itu sudah menjadi makanan mereka tiap harinya. Keringat terus bercucuran membasahi kulit mereka hingga baju mereka, akan tetapi hal itu tidak membuat mereka putus asa begitu saja.
Mereka semua berlatih dilapangan, sehingga angin tipis sore itu mampu sedikit menghilangkan rasa gerah mereka akibat latihan. Setelah satu jam latihan, mereka pun diizinkan untuk istirahat dan minum untuk menghilangkan rasa haus mereka.
Terdengar suara sepedah motor yang mendekat kearah tempat itu, hingga membuat seluruhnya menoleh kearah dimana ada sepedah motor yang datang menuju gerbang aula beladiri. Sosok lelaki yang mengunakan jaket hitam dan helm hitam pun memasukkan motornya ke halaman aula itu.
Melihat itu Risda pun membelalakkan matanya, dirinya lantas langsung berlari menuju kearah lelaki yang dirinya lihat. Melihat Risda yang berlari mendekat, lelaki itu langsung turun dari motornya dan melepas helm yang dirinya pakai itu.
"Renzo, lo kemana aja dari pagi?" Tanya Risda dan langsung meraih tangan kanan Afrenzo.
"Ada urusan." Afrenzo menjawabnya dengan singkat.
"Tubuh lo kok panas? Kata Fandi lo kemarin malam di okname, ya? Kenapa?" Risda merasakan bahwa tangan Afrenzo terasa sedikit panas dari pada biasanya.
"Itu nggak penting, gue bisa jelasin nanti." Afrenzo pun mengenggam tangan Risda dan menariknya mendekat kearah Fandi. "Fan, kumpulkan semuanya sekarang!" Afrenzo pun memberi perintah kepada Fandi.
__ADS_1
"Siap pelatih!" Seru Fandi dan langsung bergegas masuk kedalam aula untuk memanggil para senior.
Fandi dengan secepat mungkin mengumpulkan seluruhnya, sementara Afrenzo langsung duduk ditepi lapangan dan dibawah kanopi pohon yang ada disana. Afrenzo tidak bisa berdiri terlalu lama, karena kepalanya masih terasa pusing dan berat.
Risda tau hal itu dari wajah Afrenzo yang tidak bisa berbohong, Risda sendiri pun duduk disebelah Afrenzo sambil menyelonjorkan kakinya setelah berlatih. Pandangan Risda pun tertuju kepada punggung tangan kiri Afrenzo, ucapan Fandi sebelumnya memang tidak berbohong karena dirinya melihat ada sebuah bekas seperti infusan disana.
Risda ingin sekali bertanya tentang bekas itu, akan tetapi dirinya merasa tidak enak jika bertanya dihadapan semuanya tentang keadaan lelaki itu. Hingga akhirnya seluruhnya pun berkumpul, dan mereka pun duduk melingkar memutari Afrenzo.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh," Ucap Afrenzo memulai.
"Waalaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh," Jawab seluruhnya.
"Sebelumnya saya minta maaf karena baru hadir untuk latihan hari ini, dan terlambat untuk melatih. Perguruan ini mendapatkan undangan dari pusat untuk menampilkan beberapa jurus dalam acara minat bakat, sekaligus pengajian rutinan. Acara itu akan diadakan 2 minggu lagi, karena waktunya yang mepet, untuk yang akan tampil adalah para senior saja, sementara junior menjadi terima tamu."
Afrenzo pun menjelaskan kepada seluruhnya tentang undangan yang dirinya dapatkan dari pusat itu, dirinya juga menjelaskan tentang acara tersebut kepada para pemula yang belum pernah mengikuti acara seperti itu sebelumnya. Mereka semua mendengarkannya dengan seksama apa yang disampaikan oleh Afrenzo, mungkin ini akan menjadi pengalaman yang paling menarik bagi mereka.
"Yang senior latihan setiap hari untuk persiapan, terus untuk yang junior tetap hari senin, rabu, dan kamis. Untuk sementara waktu yang melatih adalah Fandi, kalau ada pertanyaan silahkan ditanyakan." Pungkas Afrenzo diakhir kalimatnya.
"Pelatih, untuk yang senior latihannya jam berapa sampai jam berapa?" Tanya Charlie kepada Afrenzo.
"Latihan tetap jam 3, tapi nanti pulangnya jam 10 malam. Butuh waktu lama untuk melatih seni, apalagi waktunya hanya 2 minggu. Kalau orang tua kalian tidak percaya, mereka bisa datang kemari untuk bertemu denganku."
Charlie pun menganggukkan kepalanya paham, ia tau mengapa Afrenzo memilih dijam sore hari, karena mereka juga harus menuntut ilmu disekolahan. Jika hari libur, mungkin latihannya sejak jam 7 pagi sampai jam 5 sore, itu pun waktunya tidak akan cukup untuk melatih seni.
"Ada yang ditanyakan lagi? Untuk materinya, nanti saja shere di grub."
"Tidak ada pelatih!" Seru seluruhnya.
"Baiklah, kalian lanjutkan latihannya. Fan, sudah jam 5, pulangkan yang junior saja, dan yang senior masih lanjut latihan."
"Iya pelatih!" Seru Fandi.
Afrenzo pun bangkit dari duduknya, dan dirinya pun bergegas untuk masuk kedalam aula beladiri, lebih tepatnya dirinya naik kelantai atas tempatnya bersantai. Fandi pun langsung mengumpulkan siswa dasar, dan memimpin doa untuk memulangkan mereka.
"Fan, Renzo kenapa?" Tanya Risda yang tersadar bahwa Fandi melambaikan tangannya didepan wajahnya karena dirinya yang tengah melamun.
"Kepo banget jadi orang. Mending lo pulang deh, males gue lihat lo disini," Usir Fandi dengan tatapan malasnya menatap wajah Risda.
"Gue mau ketemu sama Renzo dulu," Risda pun bergegas untuk menuju ke aula beladiri, akan tetapi tangan Fandi mencegahnya dengan mengenggam erat pergelangan tangan Risda.
"Biarkan dia istirahat, jangan ganggu dia dengan tingkah lo yang kagak ada aturan itu. Yang ada dia malah stres karena lo," Ucap Fandi.
"Renzo kagak pernah ngelarang gue untuk ketemu sama dia! Emang gue ganggu dia apa? Renzo nggak pernah bilang kalo dia keganggu karena gue."
"Dia nggak pernah bilang karena takut nyakitin hati lo yang kayak anak kecil itu, mending lo pulang deh. Biarkan dia istirahat didalam, lo bisa temui dia besok."
"Lo jahat!"
Risda pun dengan kerasnya mengibaskan tangannya dan pegangan tangan Fandi pun terlepas. Merasakan itu, hal itu langsung membuat Risda segera berlari masuk kedalam aula beladiri itu untuk bertemu dengan Afrenzo.
Fandi pun mengejarnya, dirinya pun meminta bantuan kepada senior lainnya untuk mencegah Risda naik kelantai atas. Mereka semua pun langsung berlari untuk mencegah Risda naik keatas, dengan kesalnya Risda pun menghentakkan kedua kakinya kelantai.
"Gue mau ketemu sama Renzo!" Teriak Risda dengan linangan air mata, karena tidak terima jika langkahnya dihentikan oleh para seniornya.
"Gue sudah bilang, biarkan dia istirahat dulu, Da. Lo bisa ketemu sama dia besok, mending lo pulang daripada bikin keributan ditempat ini."
"Gue nggak mau pulang sebelum gue ketemu sama Renzo!"
Keributan ditempat itu pun terjadi, disatu sisi Afrenzo yang sedang memejamkan matanya pun nampak begitu keganggu. Dirinya pun mendengar suara Risda yang berteriak dilantai bawah, Afrenzo sudah bilang bahwa jangan bikin keributan ditempat itu sebelumnya, akan tetapi sekarang justru terlihat sangat ribut.
__ADS_1
Afrenzo pun merabah sekitarnya untuk mencari ponselnya, dirinya pun menemukannya dan langsung menyalakan ponsel itu. Afrenzo mencari nama Fandi didalam ponselnya, dan dirinya pun langsung memencet tombol telpon.
Afrenzo menghela nafasnya dengan kasar beberapa kali, karena suhu tubuhnya yang panas membuat udara yang keluar dari hidungnya terasa panas. Beberapa saat kemudian akhinya Fandi mengangkat telpon darinya, dan terdengar suara Risda yang terus memaksa untuk masuk.
"Ada apa dibawah, Fan? Kenapa berisik sekali?" Tanya Afrenzo dengan nada beratnya.
"Ini pelatih, Risda memaksa untuk menemuimu diatas. Aku sudah melarangnya untuk keatas, tapi dia terus ngotot untuk masuk dan menemuimu." Jelas Fandi dan suara itu langsung membuat Risda terdiam karena Risda tau bahwa Fandi tengah berbicara dengan Afrenzo.
"Apa dia tidak mau pulang? Sebentar lagi adzan magrib berkumandang. Nanti dia dimarahi lagi sama Kakaknya."
"Tetap tidak mau pulang, Pelatih." Suara Fandi yang nampak kesusahan untuk berbicara lantaran suara Risda yang terus menggema.
"Biarkan dia kesini, kalian lanjutkan latihan saja."
"Baiklah."
Afrenzo pun memutus sambungan telpon itu dengan sepihak, dirinya pun kembali menaruh ponselnya lagi, karena begitu pusing jika teru terusan menatap kearah layar ponsel. Setelah itu, Afrenzo pun berusaha untuk duduk, dan dirinya juga menyandarkan tubuhnya di tembok yang ada disana.
Risda mengepalkan tangannya dengan keras kearah Fandi, karena dirinya juga mendengar pembicaraan dari Afrenzo dan Fandi saat ini. Tidak ada yang bisa menghentikan gadis itu untuk bertemu dengan Afrenzo, meskipun itu Fandi ataupun para senior lainnya.
"Huh... Lo denger sendiri kan? Renzo saja tidak ngelarang gue, bisa bisanya lo ngelarang gue untuk ketemu sama dia." Omel Risda dengan nada ketus.
"Buruan masuk sono, sebelum gue berubah pikiran lagi. Gue kunciin lo diluar aula biar Renzo kagak dengar."
"Awas aja ya, gue bakal aduin lo ke dia!"
Dengan kesalnya, Risda langsung melangkahkan kakinya untuk menaiki tangga yang ada disana. Dengan segera mungkin dirinya pun sampai didepan pintu yang ada diujung tangga yang dirinya naikin saat ini. Risda tidak langsung masuk kedalam, melainkan dirinya mengetuk pintu itu terlebih dulu.
Tok... tok... tok...
"Masuk! Pintunya nggak dikunci." Suara Afrenzo yang terdengar dari dalam.
Mendengar itu langsung membuat Risda membuka pintu tersebut, dengan perlahan lahan dirinya mulai melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam ruangan tersebut. Risda melihat Afrenzo tengah duduk diujing ruangan sendirian, sementara Afrenzo menatap kearahnya dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.
"Renzo, lo nggak papa kan?" Tanya Risda sambil mendekat kearahnya.
"Ada apa? Lo butuh apa?" Tanya Afrenzo balik tanpa menjawab pertanyaan Risda sebelumnya.
Risda pun langsung duduk di hadapan Afrenzo sambil menatap kearah lelaki itu, dapat dilihat bahwa wajah Afrenzo terlihat sedikit pucat daripada biasanya. Melihat itu langsung membuat Risda menitihkan air matanya, dan Afrenzo pun langsung menghapusnya.
"Lo kenapa nangis?" Tanya Afrenzo.
"Renzo, jangan sakit."
"Gue nggak papa kok, Da. Hanya demam biasa saja kok, nanti juga sembuh."
"Jangan demam."
"Gimana caranya?"
"Nggak tau. Pokoknya jangan sakit, ya?"
"Sakit tuh penghapus dosa, Da. Biar dosa gue kagak numpuk banyak banyak, Nanti timbangan disa gue berat kalo diakhirat tanpa sakit,"
"Gue nggak suka lihat lo sakit."
"Selama lo terus semangat hidup, gue kagak bakalan sakit kok, Da. Jangan pernah ngelakuin hal hal yang nyakitin diri lo sendiri,"
"Gue nggak pernah nyakitin diri gue sendiri, Renzo."
__ADS_1
"Menurut lo? Nggak jaga kesehatan dengan baik itu nggak sama saja dengan nyakitin diri lo sendiri? Percuma lo ikut beladiri, Da. Jika lo akhirnya nyakitin diri lo sendiri, beladiri untuk menjaga diri bukan nyakitin diri sendiri."
"Maafin gue."