Pelatihku

Pelatihku
Episode 170


__ADS_3

Risda merasa bahwa motor yang dirinya kendarai terasa tidak nyaman, dirinya merasa lebih enakkan naik motor lama daripada motor yang sekarang. Sementara Adifa, terlihat sangat asik karena diajak oleh Risda jalan jalan naik motor barunya itu. Adifa masih begitu polos, sehingga yang dirinya tau hanyalah kesenangan dan mainan saja, selebihnya dia tidak peduli soal itu.


Risda pun segera membeli apa yang hendak dirinya beli, setelahnya dia bergegas untuk pulang karena cuaca diluar sangat panas hingga membuatnya tidak tahan jika terkena panas terlalu lama. Seperti tidak biasanya, kali ini panasnya terasa begitu menyengat dikulitnya, tapi biasanya ketika berlatih beladiri dia tidak akan merasa kepanasan walaupun dibawah teriknya matahari sekalipun.


Setibanya didepan rumahnya, Risda lalu menghentikan motornya dan berniat untuk menurunkan Adifa dari motor tersebut. Akan tetapi, Adifa sendiri turun dengan berpegang pada gagang gas hingga membuat motor itu menabrak pelataran rumah Risda, untung saja Risda segera mematikan motornya begitu saja agar tidak terjatuh.


Dengan kerasnya, Adifa terbentur pada bagian spidometer yang ada di motor itu. Seketika itu juga terdengar teriakan orang orang yang bergemuruh, dan hal tersebut langsung membuat Adifa menangis dengan kencangnya.


"Risda, kalian nggak papa kan?" Tanya Dewi khawatir kepada anak dan cucunya.


"Nggak papa kok, Bun. Cuma kaget aja, Adifa juga nggak terlalu keras benturannya soalnya sudah Risda tahan dengan tangan tadi," Jawab Risda sambil berusaha menenangkannya detak jantungnya yang berdebar dengan kerasnya.


Dewi langsung menggendong Adifa karena dia menangis sangat kencangnya, sementara Risda langsung membenarkan posisi sepeda motornya. Risda memarkirkannya didepan rumah, Risda merasa sangat bersalah karena kecerobohannya sehingga Adifa sampai memutar gas motornya.


"Lain kali hati hati kalo bawa adiknya, jangan ceroboh kayak tadi," Omel Indah sambil mengambil alih untuk menggendong Adifa.


"Iya iya, Risda salah."


Risda benar benar merasa bersalah, dan omelan dari Indah yang terus menerus membuatnya semakin muak dan seperti tidak ada yang membelanya. Jujur, kali ini dirinya ingin sekali meluapkan rasa yang sesak di dadanya, akan tetapi dia tidak mau karena tindakannya membuat putusnya hubungan persaudaraan.


"Itu bakalan jadi sepedahmu, Ris. Seharusnya bisa untuk mengendalikannya lain waktu," Ucap Dewi meyakinkan Risda dengan sebuah senyuman yang terbit diwajahnya.


"Tapi rasanya sangat beda, Bun. Kayak nggak nyaman gitu naiknya dari tadi," Jawab Risda.


"Sekarang dibiasakan,"


"Iya Bunda."


Risda memegangi erat kunci motor itu, bandul yang dirinya sayangi dipegangnya sangat erat. Rasanya Risda ingin melepaskan bandul itu dari kunci motornya, karena Risda merasa akan kehilangan bandul kesayangannya itu.


"Ris, katanya besok masuk, ya? Kok tumben hari minggu masuk?" Tanya Dewi untuk mencarikan suasana yang dingin, karena tidak ada percakapan diantara mereka.


"Sekolahnya libur, Bun. Besok itu ada acara beladiri, sama pengajian setiap setahun sekali. Risda kan ikut beladiri, jadi Risda disuruh untuk masuk," Jelas Risda agar tidak menjadi kesalahpahaman.


"Jadi acaranya masih besok?"


"Iya, emang kenapa Bun?"


"Nanti malam sepeda nya mau Bunda pake buat ngambil surat surat sepeda,"


"Terus pulangnya jam berapa?"


"Nanti Bunda kabari kalo mau pulang."


"Iya deh, Bun. Pokoknya besok pagi Risda berangkat ke sekolah, berangkatnya harus pagi jam 6 sekaligus persiapan."


"Iya."


*****


Sudah malam akan tetapi Risda belum juga memejamkan kedua matanya, dirinya terus kepikiran dengan Ibunya yang belum pulang sampai larut malam seperti ini. Sebelum berangkat, Ibunya berpamitan kepada Risda, dan memberitahunya bahwa ketika adzan isya' dia akan pulang, tapi nyatanya sampai detik ini tak kunjung pulang.


Risda semakin cemas ketika melihat kepada jam di ponselnya yang sudah bertuliskan 23.00 artinya sudah jam 11 malam. Dirinya mencoba untuk menghubungi Ibunya, akan tetapi sama sekali tidak ada respon dari Ibunya itu.


Biasanya Abie akan datang kerumahnya disaat saat seperti ini, akan tetapi dia belum juga memulangkan Ibunya sampai detik ini. Bahkan pesannya sama sekali tidak dibalas oleh keduanya, seakan akan keduanya hilang kontak.


Klunting


Tiba tiba ponsel Risda berbunyi, Risda pikir dirinya mendapatkan balasan dari Ibunya, akan tetapi justru terpampang nama 'Pelatihku' disana. Iya, itu adalah pesan dari Afrenzo, yang mengetahui bahwa ponsel Risda masih digunakan sampai larut malam seperti ini, dengan adanya tanda online dibawah namanya.


...----------------...


......Pelatihku......


Kok belom tidur?


Jangan begadang, besok ada acara


Jaga kesehatan


^^^Renzo, kok lo belum tidur sih?^^^


^^^Gue nggak bisa tidur^^^


Kenapa?


^^^Nggak tau aja^^^


Tidur, jangan lupa baca doa

__ADS_1


^^^Nanti dulu, masih belum ngantuk^^^


^^^Firasatku mendadak tidak enak^^^


Hem


...----------------...


Risda pun menyibukkan diri untuk berbalasan pesan dengan Afrenzo, mungkin dengan ini dirinya bisa menghilangkan kecemasannya itu. Setelah cukup lama berbalasan pesan, rasa kantuknya pun datang menghampiri dirinya hingga membuatnya tertidur dengan lelapnya.


Setelah tertidur beberapa saat, Risda kembali membuka kedua matanya. Rasanya suasana masih terlalu gelap untuk memulai aktivitas, bahkan suara qiro'ah yang biasanya dibacakan ketika sebelum subuh pun belum terdengar. Risda langsung mengambil ponselnya, dirinya ingin melihat jam sekaligus melihat apakah ada yang membalas dari keduanya.


Waktu menunjukkan pukul 1 malam, dan terlihat nomor Abie membalaskan pesan. Bukan hanya itu, Risda pun mendapatkan lebih dari 10 pesan balasan dari Ibunya itu. Sederet pesan yang ia kirim kepada Abie, hanya dibalas dengan kata, 'Pergi jauh' saja.


Risda terlihat kesal karena keduanya tak kunjung pulang bahkan sudah jam 1 malam, emang keduanya kemana sampai selarut ini? Bukankah bertamu tidaklah pantas disaat jam jam seperti ini. Sejauh apa mereka pergi, sampai sampai melupakan waktu.


Risda pun langsung membuka pesan dari Ibunya, begitu banyak pesan yang diketikkan oleh Dewi kepadanya. Setiap kata berhasil membuat Risda menangis, bahkan terlihat dirinya sedang sesenggukan ketika membacanya


...----------------...


...Bunda sayang...


Risda


Jaga diri baik baik ya, bunda sangat sayang kepada Risda sampai kapanpun


Sekolah yang rajin


Bunda sangat menyayangi Risda, Risda adalah kesayangan Bunda


Maafin semua kesalahan Bunda ya?


Risda harus bahagia, walaupun jauh dari Bunda


Risda sayang, doakan Bunda yang terbaik ya? Jangan pernah sedih lagi meskipun tanpa Bunda disisi Risda


Maafin Bunda


Sukses selalu anak Bunda yang paling Bunda sayangi


...----------------...


"Bunda kenapa?" Guman Risda sambil menatap kearah layar ponselnya itu.


...----------------...


...Bunda sayang...


^^^Bunda kenapa?^^^


^^^Bunda pulang sekarang! Risda tunggu dirumah^^^


Kok belum tidur?


Bunda nggak papa kok


^^^Bohong!^^^


^^^Jangan bikin Risda khawatir seperti ini^^^


^^^Bun, balas pesan Risda^^^


^^^Bunda kenapa?^^^


...----------------...


Hanya itu kata terakhir, setelahnya Dewi sama sekali tidak membalas pesannya itu. Risda semakin dibuatnya tidak tenang, dirinya ingin sekali menyusul Ibunya itu tapi tidak ada kendaraan yang bisa dirinya naiki saat ini.


Risda mencoba untuk menghubungi Afrenzo kembali, dirinya ingin meminta bantuan dari lelaki itu tapi nomornya juga tidak bisa dihubungi karena mungkin dia sudah terlelap dalam tidurnya. Afrenzo begitu kelelahan, sehingga dirinya sama sekali tidak terganggu dengan suara ponselnya yang terus berdering itu.


Tidak ada yang bisa dirinya hubungi malam ini, semuanya sudah terlelap dalam tidur mereka. Risda hanya menghubungi teman teman cowoknya saja, karena dirinya tau bahwa teman ceweknya tidak akan bisa membantunya dalam keadaan seperti ini.


"Apa yang harus Risda lakukan? Ya Allah, tolong lindungi Bunda untuk saat ini, jauhkan dia dari semua mara bahaya yang terjadi."


Entah begitu banyak tetesan air mata yang mengalir dipipinya, sama sekali tidak ada ketenangan didalam hatinya saat ini. Risda terus berusaha untuk menghubungi Ibunya maupun Abie, tapi nomor keduanya langsung tidak aktif begitu saja, bahkan Ibunya juga tidak membalas pesannya itu.


*****


Keesokan paginya, Risda menarik selimut yang menutupi tubuh dan wajahnya itu. Terlihat kedua mata Risda yang memerah dan sedikit bengkak karena menangis semalam, Risda tidak bisa tidur hingga pagi ini sehingga matanya terlihat sangat menyedihkan.

__ADS_1


Risda terbangun karena suara ponselnya yang berbunyi, terlihat Afrenzo sedang menghubunginya dipagi ini karena dirinya terkejut dengan adanya beberapa panggilan tidak terjawab di ponselnya itu. Risda tidak mengangkat telponnya itu, melainkan membiarkannya terus berbunyi.


"Gue nggak mau ikut acara hari ini, gue malu kalo banyak orang yang ngelihat wajah gue. Apalagi nanti akan banyak tamu undangan yang datang, terus tanya ini tanya itu ke gue dan bikin gue nangis gimana? Nggak mau, gue nggak mau berangkat."


Alasan Risda tidak menerima telpon dari Afrenzo adalah karena ia takut dengan lelaki itu, karena dirinya telah mengecewakanmu Afrenzo dengan tidak ikut hadir dalam meramaikan acara tersebut. Afrenzo pasti akan marah kepadanya, setidaknya untuk hari ini saja dia ingin menjauh dari Afrenzo agar Afrenzo tidak melihat wajah bengkaknya itu.


Risda hanya berdiam diri didalam kamarnya, rasa lapar pun dia hiraukan tanpa dipedulikan sama sekali. Setengah jam dirinya hanya berbaring tanpa melakukan aktivitas, tiba tiba Adifa masuk kedalam kamarnya.


"Mbak Ris, ada temen Mbak diluar," Ucap Adifa yang jelas adalah suruhan dari Indah untuk memberitahu hal itu kepada Risda.


"Siapa?"


"Nggak tau."


Risda langsung bangkit dari duduknya, dirinya pun bergegas menuju ke ruang tamunya untuk menemui temannya tersebut. Ketika dirinya keluar rumah, tiba tiba Indah menghentikannya.


"Kenapa?" Tanya Indah ketika melihat wajah bengkak Risda.


Tanpa menjawab, Risda langsung memberikan ponsel miliknya kepada Indah, agar Indah membacanya pesan dari Ibunya. Risda pun menemui seseorang yang bertamu sepagi ini dirumahnya, terlihat Ana tengah duduk seorang diri di kursi ruang tamunya.


"Ada apa, An?" Tanya Risda sambil menghampiri Ana.


"Lo lupa hari ini, Da? Kok lo belom siap siap sih?" Tanya Ana.


"Gue nggak ikut, An. Nanti bilangin ke Renzo soal ini,"


"Nggak! Lo harus ikut sekarang, Da. Malah pelatih yang nyuruh gue untuk jemput lo sekarang, soalnya dia sibuk banget dengan acaranya. Btw, kenapa lo kagak ngangkat telponnya? Dia sangat cemas tau gegara lo,"


"Gue takut ketemu sama Renzo dalam kondisi seperti ini, An. Mangkanya gue kagak mau ikut, gue malu."


"Emang ada apa, Da? Cerita sama gue, seengaknya lo bisa tenang kalo punya tempat curhat."


Risda berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh dihadapan Ana, karena tidak ada seorangpun yang pernah melihat Risda meneteskan air mata selain Afrenzo dan orang orang tertentu saja.


"Lo siap siap sekarang, dan jangan bikin semua orang cemas nantinya."


"Emang hadirnya gue ada yang peduli?"


"Da, jangan pernah berpikir seperti itu. Banyak kok yang peduli sama lo, termasuk juga pelatih dan senior senior semuanya. Lo sudah ditunggu sama Kak Charlie di sekolah, sebenarnya dia yang disuruh untuk jemput lo, tapi dia kagak bisa naik sepeda motor. Jadi gue yang disuruh untuk jemput lo," Jelas Ana.


"Tapi gue..."


"Kagak butuh alasan apapun, Da. Buruan ganti baju, gue tunggu."


Dengan terpaksa Risda pun kembali masuk kedalam kamarnya, dirinya mengambil bajunya dan bergegas pergi menuju ke kamar mandi. Dirinya membersihkan tubuhnya, dan langsung memakai pakaian beladirinya akan tetapi ditutupi oleh jaket yang membalut tubuhnya.


Indah hanya diam saja seakan akan tidak peduli, akan tetapi didalam hatinya dirinya juga ikut khawatir tapi tidak ditunjukkan didepan Risda. Risda pun mengambil kembali ponselnya dari tangan Indah, karena dirinya hendak pergi untuk mengikuti acara yang diadakan itu.


"Nggak usah dipikirkan soal itu, semuanya akan baik baik saja." Ucap Indah sambil memberikan ponsel Risda kepadanya.


"Iya kak," Jawab Risda sambil menunduk lesu.


"Nggak makan dulu, Da?" Tanya Neneknya yang tiba tiba keluar dari dapur rumah sebelah.


"Nanti aja, Nek. Ini sudah telat," Jawab Risda.


Risda dan Ana langsung berpamitan untuk pergi, dan keduanya langsung bergegas meninggalkan tempat itu dengan menaiki motor milik Ana. Diperjalanan Risda hanya bisa berdiam diri, dirinya pun tidak terlihat ceria seperti biasanya, dan sekarang hanya bisa diam membisu sambil menitihkan air matanya.


Sekolahnya terlihat sangat ramai dengan hadirnya para murid, Ana langsung mengajak ke belakang aula beladiri untuk menemui Charlie yang sudah ada disana. Tempat itu sangat sepi dan juga sejuk karena udara pagi, pepohonan yang rindang membuat tempat itu terasa sangat nyaman apalagi dengan suasana yang sunyi dan sepi.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Charlie ketika melihat kedatangan keduanya.


"Kak," Ucap Risda dan langsung bergegas untuk menghamburkan tubuhnya didalam pelukan Charlie.


"Ada apa? Kenapa nangis?" Tanya Charlie kebingungan, tidak biasanya Risda seperti ini.


Risda pun menceritakan kejadiannya kepada Charlie, meskipun gadis itu tidak memahami ucapan Risda karena Risda berucap dengan sesenggukan yang dimana suaranya tidak jelas didengarkan. Risda pun memberikan ponselnya kepada Charlie, agar gadis itu bisa membaca pesan yang dituliskan oleh Ibunya kepada Risda.


"Kamu curiga kalau Ibumu dalam bahaya?" Tanya Charlie yang langsung mendapat anggukan dari Risda.


"Emang ada apa, Kak?" Tanya Ana yang tidak paham dengan ucapan maupun hal yang dialami oleh Risda.


"Nggak papa kok, An. Untuk saat ini jangan pikirkan soal itu dulu, setelah acara biar seluruh anggota beladiri yang mencari Ibumu. Nikmati acaranya, dan jangan banyak beban pikiran," Ucap Charlie sambil mengusap pelan punggung Risda.


"Tapi gimana dengan Bunda?" Tanya Risda dengan air mata yang terus mengalir tanpa bisa dihentikan.


"Semua akan baik baik saja, dan percayalah kepada pertolongan Allah itu nyata. Biar aku yang urusi nanti, boleh aku minta nomer Ibumu untuk dilacak?"


"Boleh kok, Kak. Salin aja nomernya,"

__ADS_1


"Baiklah."


__ADS_2