Pelatihku

Pelatihku
Episode 73


__ADS_3

Risda kini tengah bermain dirumah teman lamanya, keduanya adalah teman sekolah ketika duduk dibangku SMP. Mereka terkenal sangat akrab akan tetapi keduanya terpisah disaat memasuki bangku SMA, karena tujuan mereka berbeda.


Ketika diperjalanan, dirinya tidak sengaja melihat seseorang yang tengah terbaring diatas tanah, hal itu langsung membuat Risda bergegas menghentikan sepedah motornya dan langsung mendatanginya. Ia pun melihat sosok Kakak kelasnya yang suka membuat gara gara itu tengah terbaring sambil mengernyitkan kesakitan.


"Lo ngapain tiduran disitu? Kasur lo sudah pindah kemari ya? Ya elah Bang Bang, lo kan kaya masak mau ngemis buat beli kasur sih, cocok sama tampang lo yang kayak tong sampah itu." Ejek Risda kepada lelaki itu.


Risda memang kalau menghina orang memang juaranya, omongannya sangat pedas hingga kadang kala membuat orang lain murka kepadanya. Akan tetapi, dirinya memang suka melakukan itu, karena disaat itu dia hanya ingin diperhatikan oleh orang yang ada disekitarnya.


"Berisik lo!" Sentak Bagas kepada Risda.


"Peffftttt.... Ya jelas sakit lah, orang lo tidurnya diatas bebatuan kecil. Bukannya gue takut sama lo kalo lo sentak sentak gitu, malah gue pengen ngakak banget. Gue saranin ya, mending lo beli kasur lantai lah, kan agak enakan kalo dibuat tiduran disitu."


"Mau gue hajar lo ha?" Ucap Bagas sambil berusaha untuk bangkit akan tetapi rasa nyerinya menghalanginya untuk bangkit.


"Galak amat, Bang. Btw, lo habis nyuri ayam ya? Kok bisa digebukin sampai bonyok gitu? Ayam siapa yang lo curi?"


"Ayam matamu! Semua gara gara Renzo!" Teriaknya dengan marah.


"Renzo? Emang ngapain dengan Renzo? Ah gue tau, pasti gara gara lo nyuri ayam terus ketahuan sama Renzo, lalu Renzo teriak dan para warga langsung menghajarmu. Benar kan tebakan gue?"


"PERGI LO DARI SINI! CEWEK NGAK GUNA!" Bentak Bagas hingga membuat Risda memejamkan matanya sambil menutup telinganya.


"Suara lo kek petir, kagak cocok kalo teriak kayak gitu. Kemana Renzo sekarang?"


"Bacoott lo! Cari aja noh dipemakaman,"


Plakkk...


"BANGSAAAAATTTTT!"


Bukannya membantu Bagas untuk bangkit berdiri, Risda justru menambahi luka Bagas dengan menamparnya sangat keras. Tamparan keras yang diberikan Risda itu pun membekas dipipi Bagas, hingga membuat lelaki itu semakin mengernyitkan dahinya karena sakit.


"IYUUUHHHH... Jijik banget gue!" Ucap Risda sambil mengibas ngibaskan tanyannya karena darah milik Bagas yang keluar dari ujung bibirnya itu menempel di telapak tangannya.


Karena darahnya tidak mau hilang meskipun telah dikibaskan kibaskan oleh Risda, Risda lalu bergegas untuk mengulapinya menggunakan baju milik Bagas hingga tangannya itu besih seketika.


"Untung aja baju kotor lo, tangan gue jadi bersih kan."


"Pergi dari sini, Bangsaaaat!"


"Ngak usah teriak teriak, gue ngak budek kali. Tanpa lo suruh pun, gue ogah berada disini sama lo,"


Risda pun menyilakan rambutnya dan mengibas ngibaskan pelan. Setelahnya dirinya pun bergegas untuk meninggalkan Bagas disana, dirinya sangat malas bertemu dengan orang menyebalkan seperti Bagas itu.


Risda kembali melajukan motornya, dipertengahan jalan dirinya melihat Afrenzo yang sedang berjalan dengan cepatnya. Dirinya pun langsung menambah kecepatan laju motornya dan menghentikan motor tersebut dihadapan Afrenzo.


"Renzo," Panggil Risda.


"Ngapain lo disini?" Tanya Afrenzo.


"Ngak ngapa ngapain sih, gue tadi ketemu sama si gas elpiji, eh maksudnya Bagas. Dia kenapa? Habis lo hajar?"


"Bukan urusan lo."


Afrenzo pun langsung bergegas untuk meninggalkan Risda, akan tetapi Risda langsung mengejarnya dan meraih tangannya untuk menghentikan laki laki itu.


"Tungguin napa sih? Gue belom selesai ngomong,"


Hal itu langsung membuat Afrenzo menghentikan langkah kakinya, keduanya pun saling bertatapan saat ini. Risda dapat melihat adanya kemarahan diwajah Afrenzo melalui kedua matanya, lelaki itu sepertinya tidak ingin diganggu saat ini.


"Gue ngak ada waktu!" Sentak Afrenzo.


"Renzo, lo kan janji ngak akan bernada seperti itu kepada gue, tapi kenapa lo ngelanggar janji itu? Gue salah apa lagi sama lo?"


"JANGAN HALANGIN GUE!" Bentak Afrenzo.


Lelaki itu benar benar tidak ingin diganggu untuk saat ini, Risda melihat makin besar kemarahan yang ada diwajahnya cowok tersebut. Mendengar bentakkan tersebut langsung membuat Risda menitihkan air matanya, Afrenzo pun membuang muka dari hadapan Risda, dan langsung melanjutkan jalannya untuk meninggalkan Risda ditempat itu.


Melihat kepergian dari Afrenzo, hal itu langsung membuat Risda meluruh ditempat tersebut, dirinya pun duduk sambil mendekap kedua kakinya yang ditekuk dan kepalanya dibenamkan diantara lututnya.


Risda menangis sesenggukan karena dibentak oleh Afrenzo seperti itu, apalagi tiba tiba Afrenzo meninggalkannya begitu saja tanpa meminta maaf terlebih dulu.


Sakit rasanya ketika dibentak oleh seseorang yang berharga dalam hidupnya, apalagi Risda sudah menganggap Afrenzo seperti pengganti Ayah atau saudaranya. Dalam diamnya Risda kini tengah menangis, ia tidak menyangka bahwa Afrenzo akan membentaknya seperti itu.


Disatu sisi, Afrenzo masih terlihat sangat marah sambil berjalan menjauhi Risda. Dikejauhan Afrenzo tiba tiba menghentikan langkahnya, ia pun berdecak kesal sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga memutih.


"Bodoh! Seharusnya lo ngak bentak Risda, Renzo!" Umpatnya.


Afrenzo pun langsung membalikkan badannya, dikejauhan dirinya melihat Risda dengan bersedekap dada dan dibawa terik matahari siang yang panas itu. Risda seakan akan tidak peduli dengan panasnya matahari disiang itu yang mengenai tubuhnya, melihat itu langsung membuat Afrenzo bergegas kembali untuk menemui Risda.


"Maafin gue, Da. Gue salah," Ucap Afrenzo sambil menjulurkan tangannya kepada Risda.

__ADS_1


"Lo jahat! Gue benci sama lo, Renzo. Ngak ada maaf buat lo bagi gue," Ucap Risda dengan sesenggukan.


"Maaf, Da. Gue kelepasan bicara kasar ke lo tadi," Ucap Afrenzo sambil menyentuh puncak kepala Risda akan tetapi langsung ditangkis oleh Risda begitu saja.


"Gue ngak butuh maaf lo, Renzo! Pergi lo dari sini, gue ngak mau lihat lo disini,"


"Da, sekali lagi gue minta maaf. Gue salah, gue akan nerima hukuman apapun dari lo, asal lo maafin gue,"


"Gue ngak mau!"


Afrenzo pun langsung berlutut dihadapan Risda, keduanya kini tengah panas panasan dibawah sinar matahari yang sangat menyengat itu. Risda pun Masih setia membenamkan wajahnya, ia tidak mau melihat Afrenzo lagi untuk saat ini.


"Pukul gue, Da. Sebagai ungkapan rasa sakit hati lo,"


"Pergi Renzo! Gue ngak mau lihat lo lagi!" Teriak Risda.


"Da.."


"Gue bilang, gue ngak mau lihat lo lagi disini, pergi lo dari sini!"


"Maafin gue ya? Gue banyak beban pikiran, jadi tanpa sadar bentak lo tadi. Gue bener bener minta maaf,"


"Ngak!"


Afrenzo mencoba untuk mengusap kepala Risda, akan tetapi lagi lagi ditangkis oleh Risda. Risda benar benar tidak ingin disentuh oleh Afrenzo, bentakkan itu pun terasa menyayat didalam hatinya.


"Bentar lagi gue akan mati, Da. Jadi gue minta maaf ke lo kalo gue telah nyakitin hati lo, biar gue bisa pergi dengan tenang nantinya."


Nada bicara Afrenzo itu pun terlihat pelan akan tetapi Risda mampu merasakan bahwa ada sebuah kesedihan didalam nada bicara itu. Hal itu langsung membuat Risda mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Afrenzo, matanya yang memerah membuat Afrenzo tidak tega melihat gadis itu.


"Maksud lo apa'an!" Sentak Risda dengan linangan air matanya.


"Maaf," Afrenzo pun menundukkan kepalanya didepan Risda.


"Renzo jawab! Maksud lo apa'an?" Risda pun mendorong pundak Afrenzo untuk menunggu jawaban dari cowok itu.


"Jangan nangis," Afrenzo pun menhapus air mata Risda dengan ibu jarinya.


"Jawab!"


"Da..."


"JAWAB!" Bentak Risda.


"Jangan pulang, gue ngak mau lo dipukuli lagi,"


"Kalo ngak pulang, terus gue harus kemana?"


"Pokoknya jangan pulang,"


"Maaf ya untuk soal tadi?"


"Lo harus baik baik saja,"


Risda pun mengenggam erat tangan kanan Afrenzo dengan kedua tangannya. Tangan kiri Afrenzo pun merapikan anak rambut Risda dengan perlahan lahan, ia pun mengusapnya dengan lembut.


"Gue ajak ke suatu tempat, mau?" Tanya Afrenzo.


"Kemana?"


"Ikut aja,"


"Baiklah, lo yang bonceng."


Risda pun menyerahkan kunci motor miliknya kepada Afrenzo, Afrenzo pun menganggukkan kepalanya dan langsung menerima uluran kunci tersebut. Dirinya pun langsung naik keatas motor milik Risda, dan Risda pun duduk dibelakangnya saat ini.


Afrenzo pun langsung menjalankan motornya untuk membonceng Risda entah kemana, Risda pun menghubungi temannya bahwa dirinya tidak jadi kerumahnya saat ini. Risda dapat melihat bahwa Afrenzo tengah fokus untuk mengemudi sepeda tersebut dengan Risda dibelakangnya.


"Renzo, jangan bentak gue lagi ya? Gue ngak bisa nerima kalo lo yang bentak gue," Ucap Risda lirih akan tetapi masih mampu untuk didengar oleh Afrenzo.


"Maafin gue, gue ngak bisa ngendaliin emosi gue sendiri, Da. Gue paling lemah soal itu,"


"Pokoknya jangan bentak gue lagi, rasanya sakit banget, Renzo. Gue bisa tahan kalo orang lain yang bentak gue, tapi kalo lo yang bentak rasanya berbeda lagi,".


"Kalo gue bentak lo lagi, lo boleh kok pukul gue atau ngehajar gue,"


"Ngak mau, gue ngak mau lihat lo terluka lalu bagaimana bisa gue mukul lo?"


"Anggap aja samsak tinju buat lo,"


"Renzo nyebelin banget sih lo."

__ADS_1


Risda pun mencubit pinggang Afrenzo dengan gemasnya, hingga membuat Afrenzo mengernyitkan keningnya karena sakit akibat cubitan yang diberikan oleh Risda kepadanya.


"Bolehnya dipukul, jangan dicubit, sakit."


"Biarin sakit, lo kan penikmat sakit. Entah sejak kapan lo itu banyak berbicara, biasanya apa coba? Jawab aja cuma berdehem doang, senyum kagak pernah. Renzo, jangan ngomong kayak tadi ya? Gue takut."


"Pegangan, Da. Kita ngebut,"


Afrenzo pun mengalihkan pembicaraan Risda, dirinya pun menambah kecepatan laju sepeda motornya itu. Hari ini adalah hari jum'at sehingga Risda dan Afrenzo tidak ada ekstrakurikuler sehingga jam 12 siang mereka sudah pulang.


Risda yang tidak pernah naik motor dalam kecepatan tinggi itu pun berpegangan erat dibaju Afrenzo, dirinya pun memejamkan kedua matanya karena takut. Entah kemana Afrenzo akan membawanya pergi, akan tetapi Risda terlihat menurut saja.


"Renzo! Gue takut!" Teriak Risda tanpa berani untuk membuka kedua matanya itu.


Mendengar teriakan tersebut langsung membuat Afrenzo memelankan laju motornya, hal itu langsung membuat Risda merasa sangat lega. Risda pun menatap sekitarnya itu, ternyata Afrenzo mengajaknya naik ke bukit.


"Mau ngapain?" Tanya Risda keheranan.


"Turun,"


Afrenzo pun menyuruh Risda untuk turun dari sepedah motornya itu, Risda hanya menurutinya saja, setelah itu Afrenzo langsung memarkirkan sepeda motor tersebut. Afrenzo pun duduk diatas sebuah batu yang cukup besar, diikuti oleh Risda disampingnya.


"Lo lihat pegunungan didepan sana? Begitu luas dan mendamaikan hati," Ucap Afrenzo sambil menerawang jauh kesana.


"Kenapa lo tiba tiba ngajak gue kesini?" Tanya Risda.


"Gue selalu datang kemari kalo pikiran gue ngak tenang, Da."


"Jadi sekarang..."


"Iya, pikiran gue sedang ngak tenang sekarang."


"Apa yang lo pikirin, Renzo? Sampai sampai lo ngerasa ngak tenang?"


"Banyak, ngak bisa dihitung. Lo tau, Allah mempercayakan pundak gue sehingga Beliau memberi beban yang berat untuk gue."


*****


Risda dan Afrenzo kini tengah berada didepan gerbang rumah milik Afrenzo. Keduanya berdiri sambil memandangi kearah pintu rumah tersebut, Risda pun tidak ingin melepaskan pegangan tangannya dari tangan milik Afrenzo itu.


Risda takut kalo Afrenzo akan dihajar lagi oleh Papanya itu, sementara Afrenzo terus meyakinkan kepadanya bahwa dirinya akan baik baik saja nantinya. Meskipun begitu, Risda masih tetap tidak mau untuk melepaskan tangan Afrenzo itu.


"Da, gue ngak papa. Sebentar lagi akan gelap, lo sebaiknya pulang,"


"Ngak mau, gimana kalo Bokap lo marah sama lo nanti?"


"Lo tenang aja, gue udah terbiasa."


"Tapi gue ngak bisa tenang, gara gara ucap lo tadi sebelumnya,"


"Hidup dan mati ada ditangan Allah, Da. Ngak ada yang bisa menentukan kapan ajal menjemput kita selain Allah,"


"Gue ngak mau lo kenapa kenapa, Renzo."


"Pulang, besok latihan malam jangan lupa datang,"


"Tapi..."


"Da, pulang sekarang!" Perintah Afrenzo.


"Baiklah.."


Dengan terpaksa Risda pun menurut kepads Afrenzo, Risda lalu menjalankan motornya untuk menjauh dari rumah tersebut, sementara Afrenzo langsung bergegas untuk masuk kedalam rumahnya.


Karena Risda yang tidak tenang itu, dirinya pun memutar balik motornya dan kembali ditempat sebelumnya untuk mengawasi rumah tersebut. Cukup lama dirinya berada diluar rumah Afrenzo, dirinya pun mencoba untuk mendekat kearah pintu rumahnya itu.


Dirinya mendengar sebuah keributan didalam rumah itu, hal itu langsung membuat Risda begitu terkejut. Dengan segera dirinya pun membuka pintu itu dan masuk kedalam rumah Afrenzo, ia begitu terkejut ketika melihat Afrenzo yang terbaring dilantai sambil memegang perutnya dengan dua orang yang tengah berdiri disampingnya itu.


Disebuah kursi yang berada cukup jauh darinya, terlihat sosok Bagas yang tengah terduduk diam ditempatnya itu. Tidak jauh dari tempat dimana Afrenzo berada, terdapat sebuah pisau yang sepertinya telah dibuang begitu jauh.


"Pa, sampai kapan Papa akan menyiksa Renzo seperti ini? Akhiri semuanya saja Pa, tubuh Renzo sakit semua, lebih baik bunuh Renzo sekarang, Pa. Daripada harus menyiksa Renzo seperti ini."


"Renzo!" Teriak Risda dan langsung bergegas untuk menghampiri tubuh Afrenzo yang terbaring diatas lantai rumahnya itu.


Risda pun langsung membantu Afrenzo untuk duduk. Ketakutannya itu pun benar benar terjadi, Afrenzo tengah dihajar oleh Papanya karena dirinya yang telah menghajar Bagas sebelumnya itu. Keluarga Bagas seakan akan tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo kepada anaknya itu.


Ayah Bagas pun datang kerumah Afrenzo untuk meminta pertanggung jawaban dari Afrenzo mengenai luka yang ada ditubuh anak lelakinya itu. Mendengar itu langsung membuat Papa Afrenzo pun menghajarnya tanpa ampun, dan hingga membuat Afrenzo terbaring dengan lemahnya.


"Renzo kamu kenapa?" Tanya Risda dengan linangan air mata karena tubuh Afrenzo yang sangat lemas itu.


"Ngak papa, gue lagi sekarat, Da. Bentar lagi pasti mati kok," Ucap Afrenzo dengan lirihnya.

__ADS_1


"Jangan ngomong gitu, Renzo!"


__ADS_2