Pelatihku

Pelatihku
Episode 154


__ADS_3

Afrenzo memimpin barisan tempat dimana Risda berada didalam barisan tersebut, dirinya berdiri dibarisan paling depan dan diikuti oleh Risda dibelakangnya beserta anggota yang lainnya. Pakaian Afrenzo tidak seperti pakaian yang sering ia gunakan untuk melatih, sehingga Risda yang menatap kearah punggungnya begitu pangling dengannya.


"Lo nyomot dimana tuh pakean?" Tanya Risda yang penasaran sedari tadi tapi ditahannya.


"Milik Adek gue," Jawab Afrenzo dengan entengnya.


"Adek lo sebesar diri lo? Yah artinya lo kalah besar dong dengan Adek lo itu,"


"Adek keponakan."


"Eh gue kira Adek kandung, hehe.." Risda pun cengengesan dibelakang Afrenzo. "Lo berapa saudara, Renzo?"


"Empat, dan Kakak gue yang pertama udah meninggal."


"Terus lo anak ke berapa?"


"Kedua, gue punya dua Adek dirumah. Cowok sama cewek,"


"Ouhhh..."


"Kenapa?"


"Hanya kepo doang."


"Hem.."


Risda kembali fokus dengan hal yang disampaikan oleh pelatih yang ada disana kepada seluruhnya, dirinya pun mendengarkan dengan cermat meskipun tidak paham dengan apa yang dijelaskan. Setidaknya ada Afrenzo yang bisa dirinya andalkan dikelompok itu, dan hal itu membuatnya merasa lega tanpa perlu khawatir lagi.


"Sudah paham semua?" Tanya pelatih itu.


"Paham!" Seru mereka serempak.


"Sebenernya gue kagak paham sih, emang tadi dia ngomong apa'an sedari tadi? Denger aja kagak, ya kali gue paham," Batin Risda sambil menahan tawanya.


Mendengar cekikikan Risda pelan, Afrenzo pun langsung menoleh kebelakang dengan lirikkan tajam, dan hal itu langsung membuat Risda merubah ekspresinya dengan cepat. Lirikan mata Afrenzo begitu sangst menyeramkan bagi Risda, sehingga membuat Risda hanya bisa berdiam diri.


Afrenzo pun kembali menoleh kedepan disaat Risda hanya menundukkan kepalanya, dan dirinya pun kembali fokus untuk mendengarkan arahan dari pelatih karena dirinya adalah ketua kelompok dari kelompok tersebut. Hal itu membuatnya harus fokus mendengarkan, agar kelompoknya tidak tersesat nantinya.


Cukup lama mereka berdiri, akhirnya kelompok Risda dan Afrenzo dipersilahkan untuk jalan diarah rute yang telah diberikan. Setelah keluar dari dalam halaman gedung itu, Afrenzo langsung memimpin anggotanya untuk berjalan mengikuti langkah kakinya.


"Habis ini kita kemana?" Tanya Risda yang masih berjalan dibelakang Afrenzo.


"Ke jurang," Jawab Afrenzo singkat.


"Lo aja yang kesana, gue kagak mau," Keluh Risda yang tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan pertanyaannya itu.


"Hem..." Seperti biasa, dirinya hanya akan menjawab dengan deheman saja.


Risda terus berjalan sambil memandang punggung Afrenzo yang tingginya lebih tinggi daripada dirinya itu, bahkan dari belakang saja cowok itu mampu membuat Risda terkagum kagum dengannya. Hingga akhirnya mereka melewati jalanan yang gelap dan sepi, hal itu membuat Risda merasa ngeri.


"Jaga ucapan, jangan berisik," Afrenzo memberi komando kepada anggota kelompoknya.


"Baik," Jawab mereka serempak.


"Yang dibelakang aman?" Tanyanya lagi kepada siswa yang ada dibarisan paling belakang.


Jika salah satu anggota dari mereka hilang maka Afrenzo yang harus bertanggung jawab soal itu, karena dirinya adalah ketuanya. Mereka akan mendapatkan hukuman jika ada anggota mereka yang terpisah, dan hukum itu akan ditanggung oleh seluruhnya.


"Aman Mas!" Seru siswa yang berada dibarisan paling belakang.


"Baiklah, jalan hati hati jangan sampe ada yang terpisah. Apapun yang sekilas kalian lihat, jangan pernah teriak," Afrenzo memperingatkan kepada seluruhnya.


Sepertinya jalanan itu belum pernah dilewati oleh siapapun, karena banyaknya tumbuhan liar yang tumbuh subur. Apalagi jalanan itu ada diantara tumbuhan bambu yang subur, hal itu ditandai dengan banyaknya batang bambu yang menjalar dijalanan tanpa ada yang memotongnya untuk tidak menghalangi siapapun yang lewat.


Mereka berjalan harus dengan berhati hati apalagi banyaknya duri yang ada dijalan itu yang bisa membuat kaki mereka terluka, meskipun mereka memakai sepatu atau alas kaki sekalipun itu.


Krekkk... Krekkk...


Tiba tiba mereka mendengar sebuah bunyi yang sangat menyeramkan, dan hal itu langsung membuat seluruhnya saling berpegangan satu sama lain. Afrenzo masih tetap santai untuk menghadapinya, dirinya pun sebenarnya tau bahwa begitu banyak mahluk gaib yang ada disekitarnya.


"Renzo, suara apa itu?" Tanya Risda sambil menyembunyikan wajahnya dipunggung Afrenzo.


"Nggak papa, hanya suara karena pohonnya tertiup angin malam," Jawab Afrenzo.


"Pohonnya kagak bakalan roboh kan?"

__ADS_1


"Tergantung."


Afrenzo pun menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan dahan pohon yang menghalangi jalannya itu, dengan hati hati dirinya melakukan itu dan membiarkan anggotanya untuk berjalan terlebih dulu daripada dirinya. Dengan hati hati dirinya melakukan hal tersebut agar tidak sampai melukai yang lainnya, oleh sebab itu dirinya memegangi dahan tersebut dan membiarkan mereka melewatinya begitu saja.


Setelahnya, mereka semua pun kembali berjalan dengan posisi Afrenzo yang berada didepan mereka semua. Jalanan yang rimbun akibat rerumputan liar itu, membuat mereka agak kesulitan untuk melewatinya.


Tanpa sengaja Risda melihat bayangan putih yang melintar diantara semak semak, hal itu langsung membuat Risda membelalakkan matanya lebar lebar karena sangking terkejutnya. Bayangan putih tersebut menghilang tiba tiba karena tertutup dengan rimbunnya rerumputan yang ada disana, dan hal itu langsung membuatnya mencengkeram erat baju Afrenzo.


"Lo kenapa?" Tanya Afrenzo.


"Gue takut, Renzo." Ucap Risda dengan bibir yang bergetar menahan rasa takutnya.


"Jangan takut," Tanpa sadar Afrenzo mengenggam erat tangan Risda untuk menguatkan gadis itu.


Risda hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan Afrenzo, dirinya pun tidak berani untuk menatap sekitarnya, dan hanya berani menatap kebawah untuk mengikuti langkah kaki Afrenzo yang ada didepannya itu. Hingga sampailah mereka disebuah pos yang telah disediakan, dan ketika sampai disana tubuh Risda sudah terasa dingin dan keringat yang bercucuran deras.


"Lo kenapa, Da?" Tanya Afrenzo.


"Tadi gue lihat sesuatu, Renzo. Gue takut," Ucapan Risda seketika langsung membuat seluruhnya merinding.


"Emang tadi ada apa?" Tanya salah satu dari mereka.


"Gue nggak lihat apa apa kok," Sahut yang lainnya.


Mereka pun langsung terlihat bising ditempat itu, mereka saling melontarkan sebuah perkataan yang entah apa saja dibahas oleh mereka. Sementara Afrenzo hanya mendengarkan ucapan mereka hingga mereka puas untuk mengobrol, dirinya pun terus memperhatikan wajah Risda yang masih tertinduk takut.


"Apa yang lo lihat tadi, jangan sampe buat lo takut," Ucap Afrenzo kepada Risda.


"Tapi gue beneran lihat, Renzo. Lo nggak percaya sama gue?"


"Gue percaya sama lo kok, Da. Gue lihat apa yang lo lihat juga,"


"Lo serius?"


"Hem.." Afrenzo berdehem sambil menganggukkan kepalanya pelan.


Risda masih kepikiran dengan apa yang dirinya lihat sebelumnya itu, seakan akan bayangan itu terus bergentayangan didalam ingatannya. Risda tidak bisa membuang ingatan tersebut, ingatan itu terus melintas dan membuatnya takut.


Risda merasa curiga dengan Afrenzo, entah mengapa lelaki itu begitu santai dalam menghadapi hal hal gaib seperti sebelumnya itu. Dirinya ingin seperti Afrenzo yang bisa terlihat baik baik saja, dan sama sekali tidak memiliki rasa takut dengan hal hal yang ada diluar nalar manusia.


"Kami dari regu lima, siap diuji!" Afrenzo memberi laporan kepada pelatih yang akan menguji mereka.


"Baiklah. Kita akan memulai untuk ujiannya," Ucap pelatih tersebut.


"Siap!" Jawab mereka serempak.


Mereka pun langsung melakukan sikap siap untuk diuji, yakni berdiri dengan tegap sambil kedua tangan terkepal dan juga pandangan mata mereka menatap kedepan. Pelatih tersebut pun melakukan sikap pasang yang sama dengan mereka, terlihat begitu sangat disiplin untuk melakukan itu.


"Apa kalian cinta tanah air?" Tanya pelatih tersebut


"Siap, cinta!" Seru mereka secara serempak.


"Maka buktikan!"


Mereka semua pun bingung harus berbuat seperti apa, bahkan mereka tidak tau harus membuktikannya bagaimana didepan pelatih itu. Disaat mereka sedang kebingungan, justru Afrenzo terlihat santai akan tetapi tidak menjawab perintah dari pelatih itu.


Afrenzo tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih hebat daripada yang lainnya, karena bagaimana pun juga dirinya termasuk juga kedalam jajaran pelatih yang harusnya menguji mereka. Akan tetapi, Afrenzo memilih untuk menjadi siswa, dan dirinya harus menyesuaikan diri dengan yang lainnya untuk membiarkan mereka menjawab perintah tersebut.


"Loh kenapa pada diam? Ayo buktikan! Katanya kalian cinta dengan tanah air, kenapa hanya diam saja?" Tegur pelatih tersebut.


Risda dan yang lainnya hanya bisa berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan tersebut, mereka juga bingung harus menjawabnya seperti apa? Jika menjawabnya mereka tau, lantas bagaimana caranya untuk membuktikannya dalam waktu sesingkat itu.


"Renzo," Panggil pelatih tersebut.


"Iya pak," Jawab Afrenzo.


"Bagaimana cara membuktikan bahwa kamu cinta tanah air?" Tanya pelatih.


"Siap menjawab, Pak! Dengan cara menghormati guru,"


"Lantas bagaimana caranya menghormati guru? Apakah harus mengangkat tangan untuk memberi hormat?"


"Tidak hanya itu, Pak. Tapi menyapa dan mengucapkan salam ketika bertemu, mengikuti pelajaran dengan penuh semangat, belajar dan mendengarkan penjelasan guru ketika guru sedang mengajar, memandang guru dengan penuh rasa hormat, menggunakan bahasa yang sopan jika sedang berbicara kepada guru, dan mematuhi perintahnya."


"Bagus!"

__ADS_1


Pelatih tersebut merasa puas dengan jawaban yang diucapkan oleh Afrenzo, bahkan seluruhnya pun juga ikut mendengarkan ucapan yang dilontarkan oleh Afrenzo tersebut. Risda sendiri pun merasa kagum dengan ucapan Afrenzo, lelaki itu menjawabnya dengan sangat baik menurutnya.


"Kalau yang disebelahnya?" Pelatih tersebut menatap kearah Risda yang langsung membuat Risda gelagapan.


Risda bingung harus menjawab apa, pikirannya entah mengapa tidak bisa bekerja sama untuk saat ini. "Itu pak, menjaga kebersihan lingkungan." Entah mengapa kata kata itu yang terpikirkan oleh Risda.


"Bagaimana caranya?"


"Membuang sampah pada tempatnya, tidak membuang sampah sembarang apalagi kesungai ataupun saluran air lainnya karena bisa menyebabkan kebanjiran, tidak membakar sampah sembarangan karena bisa menyebabkan polusi udara dan bahkan kebakaran," Jawab Risda merasa yakin.


"Jawabanmu bisa diterima," Ucap pelatih tersebut setelah mendengarkan penjelasan dari Risda.


Menjaga lingkungan termasuk juga kedalam membuktikan bahwa cinta tanah air, dengan menjaga kebersihan lingkungan itu artinya mereka mencintai alam agar alam tetap sehat dan memberikan manfaat bagi seluruhnya.


"Sebelahnya lagi, bagaimana caranya?" Tanya pelatih tersebut kepada siswa yang ada disebalah Risda.


Siswa tersebut terlihat sedang berpikir keras untuk bisa menjawab pertanyaan yang diberikan oleh pelatih itu, dirinya bahkan sampai sampai menjitak kepalanya sendiri karena tidak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebut.


"Anu Pak, menjaga kedamaian," Jawabnya setelah 5 menit berpikir.


"Lalu bagaimana caranya?"


"Tidak membuat gara gara yang dapat menciptakan perpecahan, saling meminta maaf dan memaafkan untuk menjaga kerukunan, tidak saling mengadu domba yang dapat memecah belahkan kedamaian, menjauhi perselisihan dan permusuhan. Sebuah lidi bisa dipatahkan dengan mudah, tapi jika lidi digabung hingga menjadi sebuah sapu maka akan sulit untuk dipecah belahkan."


"Tepat sekali. Kalau yang disebelahnya?"


Nampaknya seorang wanita tengah melamun saat ini, dirinya pun baru tersadar ketika siswa yang menjawab sebelumnya menggerakkan tangannya untuk menyenggolnya. Gadis itu langsung gelagapan dan sangat kebingungan untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut, apalagi dirinya yang mendadak dibangunkan dari lamunannya.


"Memberantas kejahatan termasuk juga dengan korupsi uang negara," Jawabnya setelah berpikir lama.


"Kalau kamu yang diberantas gimana?" Tanya pelatih itu.


"Ya mati, Pak."


Begitu polos gadis itu menjawab, hingga membuat Risda hampir keceplosan untuk tertawa lepas, untung saja tangannya langsung menutupi mulutnya. Afrenzo langsung menoleh kearah Risda, agar Risda tidak menertawakan jawaban dari temannya.


"Tol*l" Guman teman yang ada disebelahnya.


Pelatih tersebut sampai menepuk jidatnya mendengarkan jawaban dari gadis yang ada didepannya, memang benar sih jawabannya tapi entah mengapa membuat mereka harus menahan tawanya.


"Bener sih jawabannya, tapi kalo diberantas terus salahnya apa, Pak? Dia kan bukan korupsi uang negara," Tanya Risda.


"Dia emang tidak korupsi uang negara, tapi korupsi waktu kita karena tidak menjawab jawab," Ucap seorang gadis yang ada disebelah Risda.


"Diem lo, kayak bisa menjawabnya sendiri aja," Ucap Risda.


"Bener tuh, Pak. Saya kan nggak korupsi uang negara, terus kenapa saya yang diberantas?" Tanya gadis yang menjawab sebelumnya.


"Karena kalah kedudukan," Jawab pelatih tersebut.


Memang mudah untuk mengatakan bahwa akan memberantas koruptor negara, akan tetapi bagi orang biasa maka harus membutuhkan bukti bukti yang kuat untuk bisa melakukan itu, apalagi berurusan dengan orang orang yang memiliki jabatan tinggi.


"Bener juga sih," Gumannya lagi karena mendapat jawaban dari pelatih yang ada didepannya.


"Ada beberapa cara untuk menghadapi orang yang tinggi jabatannya, Pak." Jawab Afrenzo, hingga membuat seluruhnya menatap kearahnya.


"Jelaskan!" Perintah pelatih tersebut.


"Mencari bukti bukti yang jelas jika orang itu melakukan tindakan korupsi, jika memang terbukti melakukannya maka kita harus memiliki sebuah bukti yang kuat dan menggerakkan masyarakat untuk melaporkan tindakan korupsi tersebut ke lembaga yang telah disediakan," Jawab Afrenzo.


"Apakah dengan cara berdemo?"


"Jika itu diperlukan maka lakukan, tapi dengan cara demo yang baik. Kita menyampaikan unjuk rasa terhadap pemerintah, tapi tidak perlu memakai kekerasan. Pemerintah pun tidak perlu menanggapinya dengan kekerasan karena biar bagaimanapun juga pemerintah dipilih oleh rakyat. Tapi jaman sekarang akan sulit untuk melakukan itu, karena para koruptor seakan akan dilindungi oleh pihak negara,"


"Hemmm..." Guman pelatih itu.


"Itulah permainan politik, suara rakyat terkadang diabaikan oleh mereka, bahkan hanya dianggap hal sepele apalagi jika berhadapan dengan orang yang telah melakukan korupsi. Negara ini tidak kekurangan orang pintar, tapi kekurangan orang yang memiliki akhlak baik. Orang yang pintar belum tentu berakhlak, tapi orang yang berakhlak sudah pasti pintar,"


"Bisa diterima, lantas kejahatan apakah hanya korupsi?"


"Ishhh... Kenapa jadi bahas soal politik sih? Ini kan ujian silat, kenapa harus ngatur pemerintah?" Batin Risda.


"Tidak hanya itu saja, Pak. Perampok, begal, pemalak, pencopet dan lainnya juga termasuk kejahatan." Jawab seorang lelaki yang berada dibarisan paling ujung.


"Benarkah?"

__ADS_1


Pertanyaan itu langsung membuat mereka melongo, bagaimana bisa pelatih itu justru bertanya antara benar atau salah soal kejahatan itu? Pertanyaan itu seakan akan seperti dia tidak mempercayai soal kejahatan tersebut.


__ADS_2