Pelatihku

Pelatihku
Episode 37


__ADS_3

Dengan lahapnya Risda memakan makanan yang telah Ibunya belikan untuknya, Risda seakan akan tidak pernah menikmati makanan tersebut. Karena dirumah dirinya biasanya hanya memakan ikan asin, sayur sop, dan kadang kala dirinya makan mie instant.


"Tumben ngak banyak bicara?" Ucap Dewi sambil menatap kearah anaknya yang sedang menikmati sate ayam kesukaannya.


Biasanya Risda akan selalu bercerita ketika sedang makan berdua dengan Ibunya, bercerita tentang keluh kesalnya setiap harinya. Entah kali ini Risda sangat diam dan memakannya dalam diam, Risda pun menatap sekilas kearah Ibunya dan kembali fokus kepada piringnya.


"Kata pelatih, kalo makan ngak boleh banyak bicara, Bun." Jawab Risda dan kembali melanjutkan makannya.


Mendengar ucapan tersebut langsung membuat Dewi terkejut dengan sikap anaknya, memang adab sedang makan tidak boleh banyak bicara. Afrenzo akan menatapnya dengan dingin jika Risda makan sambil berbicara, oleh karena itu membuat Risda menjadi terbiasa makan tanpa berbicara.


Dewi tidak menyadari bahwa belakang ini anaknya berubah, yang dulunya kalau marah sulit dibujuk akan tetapi belakangan ini Risda tidak pernah marah dan justru memilih untuk diam. Risda yang selalu ceria itu mendadak berubah menjadi diam dihadapan Ibunya, Risda merasa sedikit canggung meskipun dengan Ibu kandungnya sendiri.


Karena jarangnya bertemu dan bahkan saling mengutarakan isi hati, membuat jarak diantara keduanya merenggang. Meskipun hubungan keduanya adalah Ibu dan anak, akan tetapi Risda merasa tidak terlalu mengenali sosok orang yang ada didepannya saat ini itu.


Tak terasa nasi dan lauk yang ada dipiring Risda pun tandas tak tersisa sebiji pun. Dan hal itu semakin membuat Ibunya terkejut, biasanya Risda selalu menyisahkan nasinya karena tidak habis, dan justru kali ini telah habis dilahap olehnya.


"Kamu lapar, Nak?" Tanya Ibunya.


"Ngak terlalu, Bun. Ada apa?" Risda kebingungan dengan pertanyaan dari Ibunya itu.


"Tumben nasinya habis dan bersih amat piringnya, mau nambah lagi?"


"Risda sudah kenyang kok, Bun. Kata Guru agama Risda, kalo makan itu harus dihabiskan, nanti nasinya nangis. Lagian cari uang itu susah kan, Bun? Buktinya Bunda jarang pulang juga karena sibuk cari uang, dan juga diluar sana masih banyak yang kelaparan. Tidak semua orang bisa seberuntung kita yang mampu makan setiap harinya, Jika Risda sudah besar nanti, Risda ingin bisa membantu yang kesusahan, agar mereka juga bisa makan seperti Risda,"


Mending jawaban dari Risda, bukannya membuat Ibunya bangga justru membuat Ibunya meneteskan air matanya. Risda tidak tau kenapa Ibunya malah menangis seperti itu, ia berpikir bahwa ucapannya telah menyakiti hati Ibunya.


"Bunda kenapa? Apa ucapan Risda telah menyakiti Bunda? Risda minta maaf," Tanya Risda kebingungan dan langsung menghapus air matanya.


"Maafin Bunda yang tidak pernah pulang ya, Nak. Bunda tidak menyangka bahwa kau sudah sebesar ini, dulunya kamu masih sangat kecil, dan kini sudah mengerti semuanya,"


"Ngak terasa ya, Bun. Sudah 8 tahun berlalu dan waktu selama itu kini telah berlalu," Ucap Risda sambil menerawang jauh kedepan.


"Gimana hari harinya? Apakah semuanya baik baik saja?"


"Iya Bun, semuanya baik baik saja kok," Jawab Risda. "Seandainya Bunda tau, palingan dia ngak bakalan percaya dengan apa yang gue katakan, rasanya seperti hampir mati karena dibunuh bolak balik tanpa perasaan. Gue kayak ngak ada gunanya hidup didunia ini, lalu untuk apa gue dilahirkan," Batinnya menjerit.


"Ya sudah ayo pulang, tadi sudah izin ke Kakak kamu?"


"Belom Bun, pasti nanti dari rumah dimarahin lagi," Guman Risda pelan.


"Dimarahin lagi? Emang biasanya sering dimarahin?"


"Dimarahin karena Risda salah, tapi Risda ngak tau salahnya dimana."


"Ya sudah, nanti bunda akan bilang ke Kakakmu,"


"Iya Bun."


Dewi langsung bergegas untuk membayar makanan yang telah dimakan oleh anaknya itu. Keduanya langsung bergegas menuju ke tempat dimana Risda memarkirkan motornya, Risda pun menjalankan motornya untuk pergi dari tempat itu dengan Ibunya yang duduk diboncengannya itu.


*****


Risda pun masuk kedalam rumahnya, sementara Ibunya mampir dulu kekamar mandi yang memang berada diluar rumahnya dan kamar mandi itu biasanya digunakan untuk tamu yang datang. Ketika Risda menginjakkan kakinya didepan pintu dan membukanya perlahan lahan, sosok Indah pun langsung bergegas mendatanginya.

__ADS_1


"Dari mana aja kamu ha! Ngak tau waktu apa? Mau jadi anak gelandang diluar sana? Lebih bagus ngak usah pulang sekalian, anak gadis pulang jam segini." Ucap Indah dengan kasarnya kepada Risda.


"Hem," Deheman dari seseorang sebelum Risda menjawab ucapan dari Kakaknya itu.


Melihat sosok Ibunya yang berdiri dibelakang Risda mendadak wajah Indah berubah menjadi melunak, ia pun menjabat tangah Dewi dan menciumnya. Setelah itu ia mempersilakan untuk Dewi masuk kedalam rumah tersebut, dan juga membawakan beberapa tas yang dibawa oleh Dewi sebelumnya.


"Benar benar bermuka dua!" Batin Risda menjerit menyaksikan perubahan ekspresi dari Kakaknya itu.


Risda pun bergegas masuk kedalam rumahnya, ia pun mengambil pakaiannya dan langsung masuk kedalam kamar mandi tanpa banyak bicara. Kepulangan dari Ibunya itu langsung membuat para tetangga berdatangan, karena Dewi yang ramah dengan para tetangga sebelumnya, hal itu membuat mereka senang dengan kehadiran Dewi kembali.


Ada satu tetangga yang datang kerumah Risda dengan tujuan memakan makanan yang telah dibelikan oleh Dewi sebelumnya, seakan akan tetangga yang satu itu memang tidak ada akhlaknya, dia adalah Tante dari Risda, panggil saja namanya Gianti.


Tantenya tersebut begitu antusias kalau ada makanan disaat Dewi datang, dan bahkan dirinya pun ikut serta membuka bungkusan tersebut seakan akan dirinya menjadi pemilik rumah. Risda merasa tidak senang dengan sikapnya itu, akan tetapi dirinya tidak bisa protes karena selama ini dirinya numpang makan dirumahnya.


Memang Risda kalau makan selalu dirumah Nenek dan Kakeknya, karena Tantenya tersebut anak terakhir dari pasangan suami istri itu sehingga dirinya yang akan menempati rumah tersebut. Akan tetapi, dirinya memang begitu pelit bahkan sama orang tuanya sendiri.


Kalau orang lain yang mempunyai makanan dirinya pun ikut makan dan bahkan akan menghabiskannya seorang diri jika makanan itu enak dilidahnya. Akan tetapi, jika dirinya yang punya makanan orang lain pun tidak boleh memakannya, dan palingan langsung disembunyikan didalam kamarnya agar orang lain tidak tau.


"Wi, kapan pulang? Kok ngak denger suaranya datang," Ucap Neneknya yang baru saja masuk kedalam rumah tersebut.


"Barusan Buk, dijemput sama Risda diterminal sana tadi," Ucap Dewi kepada Ibu mertuanya itu.


Neneknya tersebut adalah orang tua dari Ayahnya, akan tetapi dirinya sangat menyayangi menantunya. Ia sangat menyesali perpisahan dari keduanya, dan dirinya sangat bersalah dengan Dewi yang telah menjadi korban perselingkuhan antara dirinya dan anaknya itu.


Rumah Risda seakan akan terlihat sangat ramai dengan kedatangan para tetangganya itu, disana pun ramai dengan orang orang dan serta Kakek dan Nenek Risda juga berada disana untuk menemui Dewi. Bukan karena mereka sayang beneran akan tetapi lebih tepatnya karena uang, Dewi tidak pernah lupa untuk memberi mereka uang karena Dewi memang baik.


Jika Dewi tidak punya uang, mereka tidak akan pernah datang. Dasarnya tetangga ditempat itu hanya memandang seseorang melalui uang, semakin banyak uang yang dimilikinya maka akan semakin dirinya dihargai disana.


"Risda sudah besar ya, ngak nyangka aja dulunya masih kecil dan cengeng, eh mendadak berubah jadi dewasa," Ucap Tutik, tetangganya.


"Ya besar lah, orang kalo makan dirumahku, Risda kalo makan banyak banget, bahkan satu piring pun penuh dengan nasi sama lauk. Entah makanan sebanyak itu langsung habis dimakannya," Ucap Gianti menambahi.


"Risda memang makannya banyak, tapi anehnya kenapa tubuhnya ngak gendut gendut ya? Mungkin nasinya jadi tenaga kali ya," Seru Neneknya menambahi.


"Kalo sama makanan byuhh, selalu ngambil banyak, tapi habis," Tambahnya.


Dari ucapan tersebut seakan akan menunjukkan kalo Risda diperlakukan dengan baik, tapi kenyataannya dirinya pernah dimarahi habis habisan karena mengambil nasi sebelum suaminya makan. Risda mengepalkan kedua tangannya mendengar itu, akan tetapi wajahnya masih mampu untuk memancarkan sebuah senyuman.


"Kalo gini aja omongannya bagus banget deh, beda jauh dari biasanya. Bunglon emang mudah berubah ubah ya kalo tempatnya berbeda, sampek hafal banget deh gue, Emang untuk apa sih membanggakan diri? Biar dipuji Nyokap gue apa gimana? Untuk apa? Nyokap gue bukan Tuhan, jadi untuk apa nunjukkin itu ke Nyokap gue? Biar dicatat jadi tetangga yang baik? Heleh, orang modelan kayak lo itu ngak cocok dipuji baik" Batin Risda sambil menatap tidak suka kearah Tantenya itu.


Memang kenyataannya dirinya memang makannya banyak, akan tetapi itu untuk seharinya cuma 1 piring saja. Biasanya Risda akan makan dipagi hari sementara sore harinya dirinya memilih merebus mie instant karena tidak ada nasi ataupun lauk yang tersisa untuknya.


Membiasakan makan makanan mie instant membuat Risda memiliki sedikit masalah dengan perutnya itu. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak memedulikan kesehatannya sendiri, mungkin dengan cara itu akan membuatnya mempercepat kematiannya sendiri, pikir Risda.


Jika dipagi harinya tidak makan, maka sepulang sekolah dirinya akan makan sebelum Tantenya pulang dari kerjanya. Tantenya itu bekerja disebuah pabrik sepatu yang berada lumayan jauh dari rumahnya itu, kalaupun Tantenya sudah pulang maka Risda tidak jadi untuk makan.


"Risda capek, mau kekamar dulu," Ucap Risda yang mulai tidak suka dengan arah pembicaraan itu, pembicaraan itu seakan akan seperti tengah mencari muka dihadapan Dewi.


"Iya Nak," Jawab Dewi seraya tersenyum kepada Risda.


Risda pun bangkit dari duduknya dan segera bergegas masuk kedalam kamarnya, mereka semua berada diruang tengah sehingga dekat dengan kamar Risda. Risda lalu menutup kamarnya dengan kelambu yang terpasang dipintu masuk kamarnya itu.


Risda lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur yang sedikit keras tersebut, kasurnya itu memang keras karena kasur tersebut sangat tipis dan bahkan tetap keras meskipun telah ditumpuk dengan kasur yang lain akan tetapi sama ukurannya.

__ADS_1


Sangat sederhana, itulah rumahnya. Rumah yang sederhana tersebut rasanya ingin membunuh Risda didalamnya, tidak ada kedamaian ataupun kehangatan dirumah itu. Kebahagiaan keluarga yang selalu Risda impikan itu, tidak akan pernah terwujud dalam dunia nyata.


Risda pun memejamkan kedua matanya, terlihat sangat melegakan ketika dirinya membaringkan tubuhnya setelah beraktivitas cukup lama. Ia kembali membuka kedua matanya ketika mengingat sesuatu yang sempat ia lupakan, dan dirinya pun bangkit dan duduk diatas kasurnya itu.


"Gue belom bayar minuman tadi, astaga hutang gue nambah lagi dong ke Renzo. Gue yang minum masak dia yang bayar sih, tadi sangking senangnya melihat Bunda tiba, eh sampai kelupaan kalo belom bayar. Gue juga ngak punya nomor ponselnya lagi, gimana cara gue untuk ngehubungin tuh orang?"


Risda pun menepuk pelan jidatnya sendiri, bagaimana mungkin dirinya bisa kelupaan soal seperti itu? Kalo saja tadi dirinya tidak bersama dengan Afrenzo, mungkin dirinya akan dihajar orang bareng bareng karena dirinya sendiri juga belom membayar minuman yang dirinya minum sebelumnya.


"Besok pagi gue harus nemuin tuh anak, gue ngak mau hutang gue nambah terus,"


Risda pun bertekat untuk bertemu dengan Afrenzo besok pagi, tak beberapa lama kemudian dirinya pun akhirnya tertidur dengan sendirinya. Risda tidak tau sejak kapan dirinya mulai tertidur, dirinya pun merasakan seseorang yang sudah berbaring disebelahnya itu, orang tersebut tidak lain adalah Dewi.


Jika pulang kerumah, Dewi biasanya tidur dikamar Risda, sehingga Risda merasa nyaman karena adanya pelukan dari seorang Ibu dan kehangatan dari cinta seorang Ibu. Beberapa kali Risda merasakan belaian dari Ibunya, tidak ada hal yang menyenangkan selain mendapatkan kasih sayang dari sosok seorang Ibu.


"Risda sudah besar ya, jadi anak yang mampu membanggakan orang tua ya, Nak. Bunda sangat menyayangi Risda, sampai kapanpun itu. Bunda minta maaf karena tidak pernah menemani Risda selama ini," Merasakan hal itu langsung membuat Risda membuka kedua matanya.


"Bunda ngak perlu minta maaf, ini semua bukan salah Bunda. Ini adalah takdir yang harus Risda jalani," Ucap Risda sambil menatap kearah Ibunya.


"Kamu belum tidur, Nak?"


"Tadi sudah, sekarang ngak tidur lagi,"


"Maafin Bunda ya, pasti kamu terganggu karena ucapan Bunda tadi,"


"Ngak kok, Bun. Justru Risda senang karena mendapatkan belaian dari seorang Ibu, Bunda adalah orang yang terbaik untuk Risda selamanya,"


"Makasih ya, Nak. Kamu begitu pengertian dengan Bunda,"


"Bunda, boleh Risda meminta sesuatu?"


"Minta apa? Katakan saja, selama Bunda mampu untuk memberikannya, Bunda akan berusaha untuk itu,"


"Disaat wisuda nanti, Risda ingin Bunda menjadi walinya. Waktu SD dulu, Bunda ngak sempat untuk datang karena sedang berada diluar kota bersama majikan Bunda, lalu pas SMP juga Bunga ngak datang padahal waktu itu Risda dirias sangat cantik. Dan untuk wisuda kelulusan SMA nanti, Risda harap Bunda datang ya? Untuk melihat Risda lulus, dan menjadi wali Risda nantinya. Risda ingin ditemani oleh orang tua Risda, sama seperti yang lainnya,"


"Iya, Bunda akan usahakan untuk datang nanti. Sekarang kan baru masuk sekolah, wisuda Risda kan masih lama juga, nanti Bunda usahain ya,"


"Bunda beneran akan usahain datang? Itu adalah acara penting bagi Risda,"


"Iya, Bunda akan usahain nanti."


"Bunda janji ya? Bunda bakalan datang nantinya untuk Risda,"


"Iya, Bunda janji. Sekarang sudah malam, sebaiknya kita tidur saja, besok pagi kan Risda sekolah. Biar ngak telat bangun nanti,"


"Risda pengen dirumah sama Bunda besok, Risda bolos sehari ngak papa kan?"


"Bunda besok pagi sudah balik kerja, palingan diantarkan oleh Masmu ke terminal. Kalo Risda ngak sekolah, sia sia dong Bunda bayar spp,"


"Kok cepet amat, Bun? Bunda kan baru pulang, masak harus balik lagi besok pagi?"


"Bunda ngak dibolehin pulang sebenernya, ini pun maksa untuk pulang dan bertemu dengan Risda. Jadi besok pagi harus balik,"


Mendengar perkataan itu terasa sakit dihati Risda, padahal dirinya masih ingin berlama lamaan dengan Ibunya itu, akan tetapi besok pagi Ibunya harus balik kerja lagi. Risda pun memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit dihatinya, ia tidak mau menangis dihadapan Ibunya itu.

__ADS_1


Risda memilih untuk tidur saja daripada menangis yang nantinya akan membuat Ibunya khawatir, dan keduanya pun terlelap dalam tidurnya dengan saling berpelukan satu sama lain. Malam itu menjadi malam ternyaman bagi Risda dan malam yang sangat indah, Risda sekana akan tidak ingin malam itu cepat berlalu dan dia ingin selalu berada didalam pelukan Ibunya itu.


__ADS_2