Pelatihku

Pelatihku
Episode 136


__ADS_3

Keesokannya, seluruh siswa kini tengah berkumpul dilapangan. Mereka akan mengikuti sebuah kehiatan perlombaan, karena kelas Risda kemarin kalah sehingga mereka diperbolehkan untuk masuk kedalam kelasnya tanpa mengikuti kegiatan.


Kegiatan lomba tersebut berjalan sangat lancar hingga tiba saatnya untuk menulis sebuah harapan, kelas Risda sama sekali tidak memenangkan lomba apapun karena memang tanpa ada persiapan apapun yang mereka lakukan. Kini semuanya tengah berkumpul dihalaman sekolah, mereka pun diberi masing masing kertas untuk menuliskan sebuah harapan.


"Harapan lo apa, Da?" Tanya Rania penasaran.


"Harapan gue mati dengan husnul khotimah," Jawab Risda singkat.


"Lo tau mati aja, Da. Emang lo kagak punya harapan lain?" Tanya Septia yang mendengar ucapan Risda.


"Itu harapan tertinggi gue tau, Tia. Sebaik baiknya manusia adalah manusia yang mati dalam keadaan husnul khotimah," Jelas Risda.


"Terserah lo aja, Da. Asal jangan salto dijalanan," Ucap Septia malas.


Risda pun hanya meringis mendengar ucapan dari Septia, Septia pun menuliskan sesuatu dan Risda sendiri pun mengintipnya. Harapan Septia bertuliskan 'Semoga pertemanan seperti ini tidak akan pernah berakhir sampai kapan pun, dan semoga keluarga Risda menjadi keluarga yang bahagia', harapan itu langsung membuat Risda terharu dengan tulisan dari Septia.


"Tia," Panggil Risda lirih.


"Eishhh... Lo ngintip harapan gue ya?" Tanya Septia yang langsung melipat kertasnya itu.


"Kenapa lo berharap seperti itu? Kenapa lo ingin keluarga gue bahagia? Kenapa harapan itu bukan untuk lo saja?" Tanya Risda sambil memegangi tangan Septia.


"Karena gue, Rania, Mira, dan Nanda memiliki keluarga yang lengkap. Gue tau lo juga pasti ingin seperti kita kan? Mangkanya gue berharap bahwa keluarga lo bisa bahagia, Da. Agar lo tidak sedih lagi,"


"Rasanya gue ingin nangis sekarang, Tia. Bukan karena gue sedih, tapi karena lo bikin gue terharu," Ucap Risda sambil mengusap matanya karena kedua matanya ingin sekali menitihkan air matanya saat ini.


"Jangan nangis lagi, Da. Gue ingin lo tertawa seperti Risda yang gue kenal selama ini, dan selalu bikin heboh seluruh penghuni sekolahan. Jangan nangis lagi ya?"


"Thanks ya, Tia. Lo teman terbaik bagi gue,"


Keduanya pun berpelukan sebagai seorang sahabat, entah harapan apa yang ingin dituliskan oleh Risda itu. Setelahnya, Risda pun bergegas untuk menuju ketempat dimana Afrenzo berada, dirinya ingin mengetahui apa harapan dari lelaki itu.


"Renzo, lo mau nulis apa?" Tanya Risda tiba tiba dan langsung membuat Afrenzo melipat kertasnya itu.


"Bukan apa apa," Jawab Afrenzo singkat.


"Ayolah kasih tau gue, kita kan sudah bersahabat. Jadi kasih tau gue," Risda sangat kepo dengan harapan dari seorang Afrenzo.


"Harapan gue hanya satu,"


"Apa itu?"


"Semoga Risda tetap bahagia," Jawabnya sambil mengusap puncak kepala Risda.


Risda pun semakin terharu dengan ucapan lelaki itu, meskipun dirinya tidak mengetahui apa yang ditulis oleh lelaki tersebut. Setelah melipat kertasnya itu, Afrenzo pun langsung memasukkan kedalam sebuah wadah yang telah disiapkan dan Risda pun tidak bisa melihat tulisannya itu.


"Harapan lo apa'an, Da?" Tanya Afrenzo kepada Risda.


"Gue nggak tau harapan gue apa, gue hanya ingin Nyokap dan Bokap gue kembali bersatu padahal gue tau bahwa itu adalah hal yang mustahil terjadi. Tapi apa salahnya jika berharap seperti itu, meskipun hasilnya tidak akan sesuai dengan harapan,"


"Yakinlah bahwa takdir Allah itu begitu indah, dibalik sebuah cobaan pasti ada hikmah dibaliknya," Ucap Afrenzo sambil menerawang jauh kedepan.


Risda pun tersenyum mendengar jawaban dari Afrenzo, memang hal itu sangat mustahil terjadi apalagi dengan kondisi yang dimiliki oleh Ayahnya. Kertas yang dimilikinya masihlah putih bersih tanpa adanya coretan sedikitpun, sekarang dirinya tau apa yang harus dia tulis diatas kertas kosong itu.


...Harapan Risda...


Aku hanya berharap bahwa Afrenzo mendapatkan kebahagiaannya, dan Ayahnya akan berubah menjadi sangat menyayanginya. Semoga ada sebuah keajaiban dimana Ayahnya sadar bahwa Afrenzo sangat berarti baginya.


Semoga teman temanku tidak akan pernah mengalami nasib yang sama seperti diriku, semoga keluarga mereka akan tetapi bahagia...


Risda pun lalu melipat kertasnya itu, dirinya pun memasukkan kertasnya kedalam sebuah wadah yang telah disediakan. Setelah seluruhnya mengumpulkan kertas harapan, Afrenzo yang selaku ketua OSIS itu pun mengibarkan balon harapan tersebut bersama dengan salah satu guru.


"Renzo, gue nggak tau perasaan gue ke lo seperti apa. Lo baik banget sama gue selama ini, dan gue takut jika lo tiba tiba pergi," Batin Risda ketika menatap kearah Afrenzo.

__ADS_1


Pandangan Risda sama sekali tidak teralihkan dari wajah Afrenzo, dirinya terus menatap kearah wajah Afrenzo yang terlihat kelelahan itu. Acara yang ada disekolahan tersebut sangat menguras tenaganya, sehingga cowok itu terlihat kelelahan akan tetapi tidak akan menyerah begitu mudahnya.


Balon berwarna warni dengan membawa sebuah kotak harapan dari kertas itu pun terbang melayang diudara, seluruh siswa pun merekamnya untuk menjadikan sebuah kenangan. Beberapa dari mereka pun bertepuk tangan, hingga membuat tempat itu terasa begitu ramai.


Pandangan Risda pun terus tertuju dengan balon tersebut, semakin lama semakin tinggi balon itu terbang diangkasa. Bukan hanya pandangan Risda saja yang menuju kearah balon itu, akan tetapi pandangan semua orang pun tertuju kepada balon itu.


Setelah pengibaran balon, mereka semua pun diperbolehkan untuk pulang kerumah mereka masing masing. Risda dan sabahatnya itu tidak langsung pulang kerumah, mereka mampir terlebih dulu disebuah warung untuk mengisi perut mereka.


Mereka pun memesan mie ayam untuk dimakan bersama sama, Risda nampak menikmati hal tersebut karena kapan lagi mereka bisa berkumpul seperti saat ini. Risda pun bercanda gurau dengan teman temannya, tanpa memedulikan waktu yang terus berjalan.


"Da, habis ini lo langsung pulang?" Tanya Mira.


"Iya lah, gue capek banget dan pengen istirahat. Semoga aja gue bisa istirahat habis ini," Jawab Risda.


"Temenin gue bentar, mau?"


"Temenin ngapain?"


"Tungguin sampe Bokap gue jemput, seperti biasanya, Da. Lo mau kan?"


"Iya. Nanti gue temenin sampe Bokap lo jemput, tenang aja,"


Seperti biasa, Risda tidak akan bisa menolak permintaan dari temannya itu. Hal itu membuat Risda pun menuruti ucapan Mira, kasihan juga jika melihat gadis itu menunggu sendirian apalagi sekolahan mereka tidak jauh dari pemberhentian bus umum.


"Lo emang the best deh, Da. Gitu dong baru temen gue," Ucap Mira girang.


"Jangan seneng dulu, Ra. Lo harus bayar waktu gue juga,"


"Ya elah. Lo itu hanya mau uang doang, kagak ikhlas banget sih lo, Da. Gue bokek sekarang,"


"Bercanda ya ampun, Ra. Gitu aja dibawa perasaan, jangan dimasukkan kehati nanti sakit hati, mending masukkan saja ke perut biar kenyang. Biar kagak makan nasi mulu,"


"Sialan lo, Da. Tapi gue kagak nyesel punya teman kayak lo,"


*****


Ketika waktu sudah menunjukkan sore hari, Risda dan yang lainnya langsung berkumpul dilapangan beladiri untuk latihan beladiri. Risda selalu berangkat paling awal dan langsung berbaris dibarisan paling depan, agar dirinya bisa mencerna apa yang disampaikan oleh Afrenzo.


Mereka pun melakukan latihan sore dengan dipimpin oleh Afrenzo sendiri. Seperti biasa, Afrenzo akan melatih fisik mereka, dan pelatihan yang dilakukan oleh Afrenzo benar benar sangat berat.


Yang bisanya hanya disuruh push up sebanyak 20 kali, kini pun menjadi push up sebanyak 30 kali. Bukan hanya melakukan sebuah gerakan sendiri sendiri, akan tetapi setiap gerakan mereka hanya Afrenzo yang menghitungnya sehingga terlihat sangat serempak.


"Lari ditempat!" Teriak Afrenzo dengan kerasnya.


Mereka semua lalu melakukan gerakan lari ditempat dengan serempak, semakin lama gerakan mereka harus cepat agar untuk melatih kelincahan kaki mereka. Lari ditempat itu berakhir dengan mereka yang langsung sikap kuda kuda tengah, hal itu mereka lakukan secara berulang ulang kali sesuai dengan perintah dari Afrenzo.


Mereka berlatih fisik cukup lama, hingga akhinya Afrenzo menyuruh mereka untuk duduk dengan sikap bebas. Sikap bebas yang artinya duduk sembarangan senyaman mereka, dan sambil meluruskan kakinya tanpa boleh ada yang ditekuk.


Faktanya, setelah berolahraga anda memang diwajibkan untuk meluruskan kaki. Namun, bukan untuk mencegah varises. Kegiatan meluruskan kaki ini justru untuk membuat otot-otot yang ada pada kaki Anda relaks, tidak terasa kram, pegal, ataupun kaku.


"Setelah ini ujian sekolah akan tiba, setelahnya kalian akan liburan," Ucap Afrenzo.


"Yeahhh liburan tiba!" Seru Risda kegirangan.


"Tapi tidak dengan latihannya."


Ucapan Afrenzo setelahnya langsung membuat Risda terdiam, meskipun dirinya senang karena liburan sekolah telah tiba, akan tetapi wajahnya langsung berubah menjadi polos setelahnya. Seketika itu juga sebuah senyuman cerah mengembang sempurna diwajahnya, bukannya kecewa karena latihannya tetap masuk justru gadis itu terlihat senang.


"Itu artinya kita akan tetap masuk, kan? Yes... Jadi punya kesibukan meski liburan," Ucap Risda setelahnya.


Mungkin hanya Risda saja yang merasa senang ketika mendengar latihan beladiri masih tetap masuk, akan tetapi tidak dengan yang lainnya. Risda memang tidak betah untuk berdiam diri dirumahnya, sehingga lebih baik dirinya bermain diluar rumah agar tidak terus terusan melihat wajah kakaknya yang menyebalkan itu.


Dulunya, Risda tidak mampu untuk meninggalkan rumahnya terlalu lama, bahkan kemanapun dirinya pergi akan selalu merindukan halaman rumahnya meskipun perginya hanya selama 1 jam. Akan tetapi, setelah kepergian Ibunya dari rumah tersebut, bahkan membuatnya tidak mampu untuk berdiam dirumahnya walaupun hanya beberapa saat saja.

__ADS_1


Lebih baik dirinya bersenang senang diluar rumah, daripada dirinya harus berdiam diri dirumahnya dan mendengarkan ocehan dari Indah. Meskipun nantinya dirinya bakalan mendapatkan omelan dari Dewi setelahnya, akan tetapi itu tidaklah masalah baginya karena mentalnya akan tetap aman.


Tidak ada yang dapat mengerti tentang Risda selain dirinya sendiri, bahkan orang sekitarnya pun tidak dapat mengetahui tentang gadis itu. Keputusan yang dirinya ambil dengan matang matang, kadang kala hanya dianggap sepele oleh orang yang ada disekitarnya.


"Dan latihan akan diadakan dipagi hari seperti ketika berangkat sekolah," Ucap Afrenzo lagi.


"Terus pulangnya?" Tanya Risda.


"Pulangnya setelah adzan dhuhur."


Itu artinya latihan mereka akan sangat lama, bahkan dalam waktu selama itu mungkin tenaga mereka akan habis terkuras setelahnya. Risda sama sekali tidak keberatan soal itu, karena dirinya sendiri yang merasa tidak nyaman berada dirumahnya.


Risda memang tinggal bersama dengan Kakak dan juga Neneknya yang ada disekitarnya, akan tetapi meskipun raga mereka ada tapi tidak dengan kepeduliannya. Risda seperti tinggal dengan orang asing yang mengaku keluarga, bahkan dirinya sendiri tidak mengenali siapa keluarganya sebenarnya itu.


Mereka pun diperbolehkan untuk pulang setelahnya, akan tetapi Risda masih tetap berada di parkiran aula beladiri itu. Entah mengapa gadis itu tidak langsung pulang kerumah setelah latihan selesai dilaksanakan, Afrenzo yang selesai berberes beres pun terkejut ketika melihat Risda yang masih berada ditempat itu sendirian.


"Kenapa kagak pulang?" Tanya Afrenzo.


"Renzo, gue males pulang kerumah sekarang. Temenin gue disini sebentar ya?" Ucap Risda.


"Lo ada masalah?"


"Nggak sih, cuma nggak tau kenapa rasanya gue kagak ingin pulang kerumah itu. Gue males banget kalo disuruh pulang begini, gue nggak nyaman dirumah sendiri,"


"Kalo ada masalah, cerita saja,"


"Gue nggak punya masalah apapun sekarang, Renzo. Gue nggak tau kenapa gue kagak mau pulang,"


"Apa ada hal yang ingin lo bicarain?"


"Renzo... Sampai kapan hidup gue akan seperti ini? Gue tidak memiliki harapan untuk terus bertahan. Apa yang harus gue pertahankan? Sementara semuanya seakan akan menjatuhkan," Setetes air mata pun meluruh dipipi Risda.


Entah mengapa gadis itu tiba tiba ingin sekali menangis, padahal sama sekali tidak ada masalah yang terjadi kepadanya. Risda selama ini memang menanggung beban hidupnya seorang diri tanpa ada yang membantunya untuk menyemangati, bahkan rasanya dirinya tidak memiliki semangat lagi dalam menjalani hidupnya.


Dirinya yang berusaha berjuang seorang diri untuk bertahan, akan tetapi orang yang ada disekitarnya terus berusaha untuk menjatuhkan dan menyiksa mentalnya. Jika bukan karena adanya sosok yang mampu mengerti dirinya, mungkin ia sudah tidak lagi bernyawa saat ini.


"Da. Yang berlalu biarlah berlalu, untuk sekarang jangan pikirkan lagi masalalu lo itu. Kalo ingin cerita sesuatu, ceritakan saja, mungkin dengan cara itu lo bisa tenang," Ucap Afrenzo dengan nada lembut.


Tidak biasanya lelaki itu berbicara dengan nada selembut itu, bahkan baru kali ini Risda mendengar suara Afrenzo yang lembut dan sabar. Hal itu langsung membuat Risda menatap tidak percaya kearah Afrenzo.


"Renzo, banyak hal yang telah gue lalui selama ini. Tapi tak seorangpun tau soal itu, apa gue salah karena telah menyembunyikan semuanya dari orang lain?"


"Lo nggak salah. Memang tidak semua hal harus lo ceritain ke yang lainnya, dan mereka tidak perlu tau apa yang terjadi. Terkadang kebanyakan orang hanyalah penasaran dengan kisah lo, tapi belum tentu mereka benar benar peduli sama lo,"


"Iya juga sih. Lo pulang saja duluan kagak papa, gue masih ingin disini,"


"Lo cewek, tidak seharusnya sendirian ditempat seperti ini. Jika lo tidak mau pulang, terus bagaimana jika Nyokap lo justru khawatir sama lo?"


"Lagian Nyokap gue juga kagak ada dirumah, mana mungkin bisa khawatir sama gue?"


"Tapi, Kakak lo bisa ngadu ke Nyokap lo kan? Gimana kalo dia ngadu hal hal yang buruk tentang lo kepadanya?"


"Iya juga sih, tapi gue masih ingin disini dan nggak pingin pulang. Kalo lo cape, pulang dulu kagak papa,"


"Kalo lo nggak pulang, gimana gue bisa ninggalin lo sendirian disini?"


"Kalo gitu, gue cari tempat lain saja lah,"


"Nggak perlu. Justru makin bahaya jika diluar,"


Risda pun terdiam mendengarkan ucapan Afrenzo, memang didunia luar jauh lebih berbahaya daripada tempat dimana dirinya berada saat ini. Rasanya sangat malas untuk pulang kerumahnya, tapi Risda juga tidak tau kemana lagi dirinya harus pergi.


Apalagi dirinya yang masih belum bekerja, sehingga uang yang dimilikinya hanya cukup untuk jajan beberapa hari saja. Risda tidak punya uang untuk bisa pergi kemanapun yang ia ingin, sehingga dirinya tidak bisa berbuat apa apa tanpa adanya uang.

__ADS_1


__ADS_2