Pelatihku

Pelatihku
Episode 116


__ADS_3

Sejak tadi Risda di dalam kelas terus menghafalkan ayat yang dimaksud, akan tetapi dirinya sama sekali belum hafal dengan ayat ayat itu. Seakan akan hal itu langsung membuatnya merasa sangat frustasi, bahkan pikirannya sama sekali tidak fokus untuk menghafalkan karena sangking frustasinya.


Menghafalkan ayat suci Al-quran tidak bisa dengan marah marah, atau tidak hafalan itu akan hilang begitu saja. Sudah sedari tadi dirinya mencoba untuk menghafalkannya, ketika ucapannya sudah mulai lancar hafalan itu langsung hilang begitu saja.


"Bagaimana bisa menghafalkan dengan cara seperti itu, menghafalkan sesuatu itu harusnya sabar bukan marah marah, apalagi itu adalah ayat suci Al-Qur'an. Kan nggak hafal hafal kan?" Ucap Rania kebingungan sambil menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah laku Risda.


"Bukannya bantu gue nyimak, malah sok nasehatin gue lagi," Gerutu Risda.


"Ya sudah sini gue simak, lo hafalin dan gue yang akan menyimak."


"Nah gitu dong dari tadi kek,"


Risda pun memberikan ponselnya kepada Rania, dirinya pun membuka sebuah Al-quran digital yang ada di ponsel itu. Risda pun lalu menghafalkannya sesuai dengan apa yang dirinya ingat, meskipun hal itu sama sekali tidak lancar.


"Alhamdulillahilladzi anzal ala, Terus apa? Gue lupa,"


"Ya ampun, Da. Gue udah bilang berapa kali hah? Kenapa lo sama sekali nggak inget sih ucapan gue?"


"Lo ngomongnya terlalu cepat sih."


"Dengerin ya, Alhamdulillahilladzi ......" Rania pun membacakan ayat itu dengan seksama sementara Risda mendengarkannya, "Sudah inget?"


"Kagak! Lo terlalu cepet, gimana gue bisa mengingatnya dengan mudah?"


"Sudah sudah lo hafalin aja sendiri, lama lama gue bisa darah tinggi gara gara lo," Rania pun nampak marah kepada Risda dan mengembalikan ponsel miliki Risda itu.


"Nggak ikhlas banget lo ngajarin gue, temen macam apa'an lo? Temennya susah malah nggak ada yang bantuin," Risda pun semakin kesal dengan tingkah Rania.


"Bukannya ngak iklas, lo sendiri saja yang kagak bisa dibilangi. Gue bahkan udah nyimak lo berkali kali, tapi tetep aja lo ngulangin ayat yang salah berkali kali,"


"Namanya juga hafalan, gue sendiri aja kagak hafal ayat Al-quran lah disuruh hafalan kayak gini. Mana bisa gue langsung hafal ayat aja baru pertama kali gue buka,"


"Gue nyerah, Da!"


Risda hanya mendengus kesal karena tingkah laku Rania, gadis itu tidak benar benar mengajarinya untuk menghafalkan. Dirinya pun kembali mencoba untuk menghafalkan surat Al Kahfi dengan sendiri, Iya tidak minta kepada teman temannya untuk menyimaknya karena mereka pasti akan merasa kelelahan dengan hafalan Risda.


*****


Sepulang sekolah Risda langsung bergegas menuju ke aula bela diri, dirinya langsung bergegas untuk menemui Afrenzo. Risda mau meminta bantuan kepada cowok itu untuk menyimaknya menghafalkan surat Al Kahfi, karena dirinya tidak punya waktu banyak untuk bisa menghafalkannya dengan lancar.


Sesampainya di ruang aula bela diri, Risda langsung bergegas menemui cowok itu yang sedang sibuk dengan samsak tinju. Risda langsung berdiri di sampingnya dengan wajah cemberut, melihat kedatangan Risda langsung membuat Afrenzo menghentikan apa yang sedang dirinya lakukan itu.


Melihat Afrenzo yang menghentikan aksinya itu, langsung membuat Risda memegangi tangannya. Risda langsung menariknya menuju ke sebuah kursi, dan menyuruh Afrenzo untuk duduk di sana.


"Bantuin gue hafalan," Ucap Risda setelahnya.


"Masih belum hafal juga?"


"Belom, itu sangat sulit."


"Baiklah lo hafalin dulu setelah itu gue simak,"


Mendengar jawaban itu langsung membuat Risda merasa senang, akhirnya ada seseorang yang mau membantunya untuk hafalan. Risda pun langsung mengeluarkan ponselnya, dirinya pun langsung menekan sebuah Al-quran digital.


"Nih, simak ya?" Risda lalu menyerahkan ponselnya kepada Afrenzo.


"Untuk apa pakai ponsel?" Tanya Afrenzo.


"Ya untuk lo nyimak lah, emang kalau nggak nyimak lo hafal?"


"Gue hafal kalau cuma surat Al Kahfi,"


"Benarkah?"


"Iya. Mau buktinya?"


"Boleh,"


Afrenzo pun menyerahkan ponsel itu kembali kepada Risda, dan langsung diterima oleh Risda begitu saja. Afrenzo pun membacakan surat tersebut sementara Risda menyimaknya, Riska merasa begitu kagum bahkan lelaki itu hafal sampai ayat ke 110.


Bahkan lelaki itu mampu membacakan dengan benar beserta tajwidnya sekaligus. Risda mendengarkannya dengan perasaan penuh kekaguman, bagaimana tidak kagum? Afrenzo saja sudah menghafalnya, sementara dirinya sedari tadi satu ayat pun belum hafal juga.


"Ada yang salah nggak?" Tanya Afrenzo.


"Ngak ada," Jawab Risda dengan cepat.


"Sekarang giliran lo yang menghafalkan,"


"Tapi Renzo, gue sama sekali belum hafal, lalu apa yang harus gue hafalin?"


Jujur untuk menghafalkannya saja Risda sangat sulit untuk melakukan itu, tapi mengapa lelaki yang ada di depannya itu sudah hafal bahkan satu surat penuh. Mendengar itu membuat Risda sedikit insecure dengan Afrenzo, karena dirinya bisa menghafalkannya dengan lancar.


"Lo sama sekali belum hafal apapun?" Tanya Afrenzo sambil memincingkan sebelah matanya.

__ADS_1


"Gue udah mencoba untuk hafalin, tapi gue sama sekali belum hafal."


"Lo sejak tadi ngapain? Gimana bisa belum hafal satu ayat pun?"


"Gue nggak tahu lagi harus gimana Renzo, mangkanya itu gue minta bantuan sama lo. Kali aja lo bisa ngebantuin gue untuk hafalin,"


"Ya udah lo baca aja berkali kali,"


"Tapi tujuan gue menghapalin bukan ngebaca,"


"Tanpa membaca berkali kali lo kagak bisa hafal dengan cepat, gue aja hafalin surat itu kurang lebih 3 bulan baru hafal,"


"Yang bener, Lo? Gue bisa mati dong kalo gue kagak hafal besok,"


"Baca aja dulu berkali kali setelah itu gue simak,"


"Baiklah."


Risda tidak mampu lagi untuk membantah ucapan lelaki itu, sehingga dirinya hanya menurut untuk membacanya berkali kali. Meskipun dengan membacanya saja, Afrenzo juga mengoreksi bacaannya itu, dan membenarkan bacaan Risda agar bacaan tersebut terlihat enak didengar.


Risda pun membacanya berkali kali sesuai apa yang dikatakan oleh Afrenzo, sementara lelaki itu terus menyimak apa yang diucapkan oleh Risda. Sesekali Risda mencoba untuk tidak melihat tulisan yang ada di ponselnya, dirinya mencoba untuk menghafalkannya tanpa melihat.


Hukuman seperti ini memang pantas didapatkan oleh Risda, mungkin saja dengan hukuman seperti ini akan membuatnya jerah dan tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tidak ada yang tahu nantinya akan seperti apa, apakah gadis itu terus berulah atau justru berubah.


"Renzo gue ngantuk," Keluh Riska sambil menguap.


"Kalau menguap jangan lebar lebar, dan tutupi pakai tangan. Menguap adalah godaan setan, maka dari itu loh terasa ngantuk kalau membaca Quran," Ucap Risda.


"Memang harus ya menutupi dengan tangan?"


"Harus!"


"Iya iya maaf, gue baru tahu soal itu. Lain kali gue bakal nutupi pakai tangan,"


"Hem," Jawab Afrenzo hanya dengan berdehem.


Risda pun kembali membaca Al quran, dirinya seakan akan merasa sangat jenuh saat ini. Ingin sekali dia terbebas dari hukuman itu, apalah dirinya yang tidak hafal hafal sejak tadi.


Afrenzo seakan akan tidak mengantuk sama sekali, dirinya masih tetap fokus mendengarkan suara Risda. Bahkan dia akan membenarkan jika Risda salah membacanya sesuai dengan ilmu tajwid, Riska sampai keheranan mengapa lelaki itu sangat paham dan fasih dalam membaca Al-quran.


"Coba dihafalin sekarang tanpa melihat," Suara Afrenzo langsung membuatnya sangat terkejut.


Risda dengan sikap langsung menutup ponselnya itu, dirinya seakan akan sangat ragu untuk menghafalkannya. Akan tetapi Afrenzo sangat yakin bahwa wanita itu bisa, karena sejak tadi dirinya sudah bolak balik untuk membacanya.


"Lalu apa gunanya gue? Lo meminta bantuan gue untuk menyimak baca'an lo, dan sekarang gue akan simak. Bacanya pelan pelan dari hati, jangan pakai marah ataupun kesal,"


"Baiklah, nanti kalo salah benerin ya?"


"Iya,"


"Bismillahirohmanirohim, alhamdulillahilladzi anzala ala abdilil kitab,..." Risda pun mulai membacanya.


Sesekali Afrenzo akan membenarkan bacaannya yang salah, tanpa melihat bacaan pun Afrenzo mampu untuk membenarkannya. Menandakan bahwa dirinya sangat hafal dengan surat tersebut, bahkan dirinya sampai tahu di mana letak kesalahan Risda.


Belajar menghafalkan bersama Afrenzo terlihat sangat menyenangkan, bahkan lelaki itu terus membimbing Risda sampai bacaan Risda benar benar sudah sesuai dengan ilmu tajwid. Afrenzo sama sekali tidak mengeluh ketika mengajari Risda, berbeda jauh dengan teman teman yang lainnya yang justru akan memarahi Risda.


"Luar biasa Renzo, belajar dengan lo gue langsung bisa menghafalkan 5 ayat dengan cepat. Gue tinggal menghafalkan 5 ayat lagi baru bisa terbebas dari hukuman," Ucap Risda dengan senangnya.


Kalau belajar seperti ini membuat Risda semakin semangat untuk menghafalkannya, bahkan dirinya mampu menghafalkan 5 ayat jika bersama dengan Afrenzo. Sejak tadi dirinya terus menghafal akan tetapi tidak hafal hafal, metode yang diajarkan oleh Afrenzo sangat bermanfaat baginya.


"Alhamdulillah," Ucap Afrenzo juga merasa senang atas pencapaian dari Risda. "Kalau begitu cepat ganti baju, habis ini langsung latihan,"


"Baik pelatih yang terhormat dan juga baik sekaligus dermawan."


Risda langsung bangkit dari duduknya, dirinya pun langsung mengambil tas ransel yang sebelumnya dia taruh. Risda langsung membuka tasnya dan mencari pakaian sakralnya, setelah itu dirinya pun bergegas menuju ke kamar mandi yang ada di area sekitar aula beladiri.


Setelah mengganti pakaiannya menjadi pakaian bela diri, Risda lalu menghampiri teman temannya untuk berkumpul di lapangan sebelum memulai latihan bela diri.


Setelah dirasa seluruh siswa sudah berkumpul dan waktunya untuk memulai latihan bela diri, Afrenzo langsung memimpin mereka untuk melakukan pemanasan. Seluruh siswa pun mengikuti apa yang dilakukan oleh pelatih, dan dirinya pun langsung menyuruh para siswanya untuk berlari memutari lapangan sebanyak 25 kali.


"Sudah hafal jurus yang aku berikan beberapa kali pertemuan sebelumnya?" Tanya Afrenzo ketika seluruhnya sudah melakukan lari mempunyai lapangan dan sedang berkumpul.


"Sudah pelatih!" Jawab mereka serempak.


"Kalian hafalkan lagi untuk acara milad nanti, kita akan melakukan sebuah karnaval dan mengelilingi jalanan. Aku tidak ingin ada siswa sini yang tidak hafal jurus itu," Ucap Afrenzo dengan tegas.


"Baik pelatih!"


Mereka pun langsung kembali menghafalkan jurus yang pernah diberikan oleh Afrenzo, karena para Senior saat ini sudah memiliki tugas masing masing dan latihan masing masing sehingga Risda lah yang memimpin mereka untuk menghafalkan jurus.


Kalau soal jurus itu Risda sudah sangat hafal, karena dirinya juga dilatih secara privat sebelumnya. Sore hari itu mereka latihan bersama sama, Afrenzo hanya bertugas untuk membenarkan gerakan yang salah.


*****

__ADS_1


Pagi harinya Risda sudah berada di parkiran sekolahan SMA Bakti Negara, Risda pun sedikit gemetaran karena pagi ini dia harus menghafalkan. Dirinya tetap duduk diatas sepedah sambil menunggu bel masuk berbunyi, dirinya juga membuka Al Quran digitalnya yang ada didalam ponselnya.


Risda masih belum hafal, kemarin malam dirinya sudah hafal akan tetapi pagi harinya hafalannya itu tiba tiba menghilang karena geroginya. Bahkan dirinya berangkat sebelum ada siswa yang berangkat, sepagi itu dirinya berangkat sekolah karena takut.


Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo pun datang sendirian. Dirinya lalu memarkirkan motornya bersebelahan dengan motor milik Risda, dirinya adalah ketua OSIS sehingga dia harus datang sebelum ada siswa yang datang.


"Renzo, gue deg deg an," Ucap Risda ketika melihat kedatangan Afrenzo.


"Lo masih belum hafal?" Tanya Afrenzo keheranan.


"Udah hafal sih, cuma takut kelupa'an lagi aja,"


"Oh."


"Lo punya solusi ngak? Agar gue kagak deg deg an seperti ini,"


"Ada,"


"Apa'an?"


"Kalau lagi hafalan anggap saja tidak ada orang yang ada di sekitar lo, lo juga harus yakin bahwa lo bisa menghafalkannya,"


"Tapi gimana gue bisa ngelakuin itu? Emang sih kelihatannya itu sangat mudah, tapi belum tentu ketika melakukannya,"


"Yakinlah pada diri lo sendiri."


Setelah mengatakan itu, Afrenzo pun pergi meninggalkan Risda, karena dirinya harus melakukan kewajiban sebagai ketua OSIS. Risda pun terdiam sambil memcerna ucapan dari Afrenzo, tidak ada yang bisa menolongnya saat ini selain dirinya sendiri.


Risda hanya perlu menghafalkannya sekali saja dihadapan guru wanita itu, setelah itu dirinya akan terbebas dari hukuman yang harus dia laksanakan itu.


Risda mencoba untuk menghafalkannya lagi dan lagi, karena dirinya ingin sekali langsung terbebas dari hukuman tersebut. Jika dirinya semakin mengulur waktu, maka hukuman yang akan ia terima bakalan jauh lebih berat daripada sebelumnya.


Sepagi itu belum ada guru yang datang, sehingga dirinya harus menunggu guru wanita tersebut datang untuk menyetorkan hafalan. Sambil menunggu, dirinya terus mencoba untuk menghafalkannya.


Setelah cukup lama menunggu, dan para siswa sudah berdatangan. Tak beberapa lama kemudian, guru wanita yang dimaksudkan itu pun datang, hal itu langsung membuat Risda bangkit dari duduknya dan berlari untuk menemuinya.


"Pagi Bu," Ucap Risda kepada guru wanita itu.


"Pagi juga, gimana?" Ucap guru wanita itu.


"Sudah hafal, Bu. Saya kemari mau setor hafalan,"


"Baiklah, ayo keruangan saya dan hafalkan disana."


"Baik Bu,"


Guru wanita tersebut langsung berjalan menuju kearah ruangannya berada, sementara Risda mengikutinya dari belakang. Keduanya pun berjalan melewati lorong lorong kelas yang masih terlihat sepi, karena para siswa yang datang langsung menuju kekelas mereka masing masing.


"Bu Ani, apa yang Ibu katakan kemarin benar?" Tanya Risda penasaran dengan soal kemarin.


"Soal apa?" Tanya Bu Ani kepada Risda.


"Soal Renzo yang membela saya, apakah itu benar?"


"Benar, Renzo sudah menjelaskan semuanya kepada Bapak Ibu guru yang ada disekolah ini tentang itu."


Guru tersebut langsung menghentikan langkahnya setelah mengatakan itu kepada Risda, dirinya pun menatap kearah Risda dengan senyuman tipis. Entah apa yang dikatakan oleh Afrenzo kepada mereka, akan tetapi tatapan itu seakan akan penuh dengan kasih sayang.


Keduanya berhenti tepat didepan pintu ruangan yang dimaksud oleh guru wanita itu, guru wanita tersebut langsung menatap dengan lekat wajah Risda. Wajah Risda yang sangat polos itu terlihat sangat memperihatinkan, bahkan Risda sendiri bingung kenapa guru itu menatapnya seperti itu.


"Kamu memang tidak beruntung soal keluarga, tapi kamu beruntung punya teman yang baik."


"Ibu benar, Renzo adalah teman yang baik,"


"Dia sudah menjelaskan semuanya kepadaku, kalau ada masalah ceritakan kepadaku, anggap saja aku sebagai Ibumu sendiri. Jangan lampiaskan semuanya pada kenakalan, kamu tidak sendiri,"


"Bu..."


Risda begitu terkejut ketika tubuhnya ditarik oleh wanita yang ada didepannya itu, dan wanita itu membawanya masuk kedalam pelukannya. Hangat, itulah yang dirasakan oleh Risda saat ini, pelukan tersebut berhasil membuat air matanya menetes dengan sempurna.


Risda tidak menyangka bahwa guru itu akan memeluknya seperti itu, dengan eratnya wanita itu memeluk tubuh Risda dan juga membelainya dengan pelan. Risda sendiri tidak mampu untuk membendung air matanya, dan dirinya pun membalas pelukan itu dengan isakkan tangis lirih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Teruntuk guruku tercinta, terima kasih karena telah mengajarkanku makna yang begitu besar. Memberiku sebuah pelukan hangat, yang tidak didapatkan oleh siswa lainnya. Jasamu, pengorbananmu, akan selalu aku kenang selamanya dalam novel ini. Sebuah kehormatan jika engkau membaca secercah tulisan ini. Maafkan diriku yang selalu membuat masalah ini, semoga tulisan ini akan sampai kepadamu


Novel ini aku buat untuk mengenang orang orang hebat yang ada dalam hidupku, mungkin kita tidak akan bisa bertemu lagi selamanya tapi setidaknya dengan adanya novel ini kalian akan dikenang selamanya.


See you di Syurga-Nya, orang orang baik.


Tunggu diriku datang, menyusul kalian...


Salam cinta _Malaikatkecil_

__ADS_1


Teruntuk anak broken home, tetap semangat ya. Kalian adalah orang orang terpilih, yang dipilih oleh Tuhan untuk dikuatkan pundak kalian. Keep strong and keep smile


__ADS_2