Pelatihku

Pelatihku
Episode 155


__ADS_3

Risda dan yang lainnya langsung menatap kearah pelatih tersebut secara serempak, begitu banyak pertanyaan yang ada dikepala mereka akan tetapi tak satupun yang melontarkan pertanyaan tersebut. Bagaimana bisa pelatih itu justru bertanya akan kebenaran hal itu? Sementara hal tersebut memanglah sebuah kejahatan.


"Sebenarnya mereka tidak jahat, akan tetapi sebuah keharusan yang membuat mereka seperti itu. Manusia memiliki sebuah kebutuhan yang harus dicukupi termasuk juga makan, minum, pakaian, dan lain sebagainya. Terkadang mereka terpaksa merebut hak milik orang lain demi mencukupi kehidupannya dan membeli sesuap nasi, akan tetapi hal tersebut menjadi sebuah kebiasaan hingga membuat mereka lupa akan jati diri. Mereka tidak perlu susah payah bekerja, dan mampu menghasilkan uang yang begitu banyak dalam satu korban, sehingga membuat mereka berambisi untuk memiliki segalanya," Jelas Afrenzo.


"Benar, setiap orang itu baik tapi keadaan lah yang membuat mereka jadi jahat. Karena sebuah ambisi yang salah hingga mampu membuat dunia begitu kejam, jika kita lengah justru kita yang akan dipermainkan," Sahut lelaki yang menjawab sebelumnya.


"Itulah pentingnya belajar beladiri dalam mengatasi soal kejahatan, sehingga kita bisa membantu sesama dan juga menghentikan kejahatan." Timpal seorang wanita yang berada didekat Risda.


"Dengan belajar beladiri, kita bisa melindungi diri sendiri dan orang yang ada disekitar kita dari kejahatan. Itu termasuk kedalam cinta tanah air, karena kita manusia tidak akan bisa hidup tanpa manusia yang lain, dan hal itu juga termasuk kedalam menjaga kerukunan," Ucap seorang wanita yang paling ujung.


Pikiran Risda yang tidak konek pun hanya bisa diam mendengarkan tanpa mau menambahkan, sehingga gadis itu hanya melongo sambil mendengarkan teman temannya yang saling bersahutan untuk menjawab pertanyaan.


"Baiklah. Jawaban kalian bisa diterima, tapi aku memiliki satu pertanyaan untuk kalian," Ucap pelatih tersebut sambil memandangi mereka satu persatu.


"Kami siap menjawab!" Seru Afrenzo.


"Kami siap menjawab!" Seru seluruhnya setelah mendengar suara Afrenzo.


"Bagus! Kalian begitu kompak. Pertanyaannya adalah, untuk melawan orang orang berbuat jahat seperti apa yang kalian katakan tadi, bagaimana jika kalian kewalahan menghadapinya?"


"Minta bantuan warga sekitar,"


"Jika ditempat sepi?"


"Telfon polisi,"


"Jika hp kalian ketinggalan?"


"Kabur,"


"Jika tidak sempat?"


"Pura pura pingsan,"


"Bagaimana jikalau malah diculik terus dibunuh, atau dibunuh terus dibuang?"


"Hanya bisa pasrah."


"Kalau di perko*a?" Tanya pelatih tersebut menatap tajam kearah wanita yang menjawab pertanyaannya sebelumnya.


"Penjarakan dia,"


"Kalau kalian kehilangan nyawa?"


Mereka semua hanya mematung, hal itu juga perlu diperhatikan untuk bisa melindungi diri sendiri. Pelatih tersebut memandangi satu persatu mereka, akan tetapi tidak ada yang berani menatapnya untuk menjawab.


"Tidak mungkin kita bisa kabur jika sudah dikepung oleh kawanan seperti mereka. Satu satunya cara yang bisa kita lakukan adalah menghadapinya dengan kemampuan yang kita bisa," Guman Risda yang masih bisa didengar oleh seluruhnya karena tempatnya teramat sepi dan gelap.


"Kalau mati?" Pertanyaan itu langsung membuat Risda menaikkan kepalanya untuk menatap kearah pelatih tersebut.


"Kita seorang pesilat dan kita tidak takut akan mati. Jika kita mati dalam mempertahankan harta yang kita punya, maka kita akan mati syahid dalam artian mati sebagai seorang pejuang. Akan tetapi, jika mereka yang mati, mereka masuk neraka."


"Yakin berani jika kehilangan nyawa?" Tanya pelatih tersebut dengan serius.


"Untuk apa takut, Pak? Jika sudah takdirnya maka kita semua akan kehilangan nyawa, bahkan tubuh kita sendiri bukanlah milik kita dan Allah bisa mengambilnya kapan saja. Yang perlu kita persiapkan hanyalah bekal untuk dibawa mati,"


Mendengar jawaban Risda, Afrenzo terlihat begitu kagum dengan gadis itu. Tanpa mereka semua sadari bahwa Afrenzo saat ini tengah tersenyum sambil mendengarkan jawaban dari Risda, karena dikegelapan sehingga senyuman tertutup sebuah kegelapan.


"Jawaban kalian benar benar membuatku kagum, sebutkan nama kalian masing masing dan akan ku tulis dibuku, nama lengkap." Ucap pelatih tersebut sambil mengeluarkan sebuah buku tulis yang kecil.


"Afrenzo Alfiansyah,"


"Risda Vanatasya Almaira,"


"Vanya Karista Putri,"


"Noviatul Ilmania,"


"........"


Mereka pun menyebutkan nama mereka masing masing, sementara pelatih tersebut sibuk menulisnya didalam buku tersebut. Setelah memberi nilai didalam buku itu, pelatih tersebut mempersilahkan mereka untuk jalan ke pos selanjutnya.


"Pos selanjutnya yang harus kalian lewati cukup sulit, kalian tinggal lurus saja dan ikuti arahan dari penguji nantinya," Ucap pelatih tersebut memberi arahan.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak!" Seru mereka serempak.


Afrenzo kembali memimpin perjalanan mereka itu, dirinya pun langsung diikuti oleh Risda dan yang lainnya dari belakang. Jalanan yang gelap nan sepi pun mereka lalui, hanya butuh waktu 20 menit mereka melewati pos pertama.


Risda menatap penuh merinding kearah sekelilingnya, bagaimana bisa tidak merinding? Bahkan rasanya seperti lorong hitam yang gelap seperti tak berujung didepannya. Mereka tidak sendiri, akan tetapi rasanya mereka semua ketakutan kecuali satu orang, yaitu Afrenzo.


"Lari!" Teriak Afrenzo.


Teriakan tersebut sontak langsung membuat seluruhnya berlari, mereka tidak tau kenapa Afrenzo berteriak untuk berlari akan tetapi karena takutnya hingga mereka tidak bisa berpikir jernih.


Rasa merinding sekaligus hawa dingin yang mencengkeram membuat mereka semua langsung berkeringat dingin, apalagi kaki mereka rasanya sangat lemah untuk menopang tubuh mereka sendiri. Jalanan didepannya seperti bertambah menyeramkan, apalagi mereka harus berusaha keras untuk melarikan diri dari tempat itu.


"Ren...."


Bhukk


Belum sempat Risda berbicara, tubuhnya langsung menabrak punggung Afrenzo dengan begitu keras, untung saja dirinya dan Afrenzo tidak jatuh karena lelaki itu masih bisa menopang tubuhnya dengan tegap. Risda hampir saja mengumpat, akan tetapi ia urungkan karena melihat seorang lelaki berdiri didepan mereka.


Iya, lelaki itu tidak lain adalah orang yang akan menguji mereka di pos kedua ini. Risda ingin sekali marah kepada Afrenzo yang tiba tiba menghentikan langkahnya begitu saja, sehingga dirinya langsung menabrak punggung lelaki itu dengan sangat kerasnya.


"Kami dari regu lima, siap diuji!" Afrenzo memberi laporan kepada pelatih yang akan menguji mereka.


"Baiklah, untuk ujian kali ini adalah ilmu beladiri," Ucap pelatih tersebut.


Entah ujian ilmu beladiri seperti apa yang akan mereka ujikan kali ini, baru juga melewati pos kedua mereka langsung diuji dengan ujian ilmu beladiri. Mereka begitu panik karena takut tidak hafal ketika ujian tersebut berlangsung, akan tetapi berbeda lagi dengan Afrenzo yang santai dalam menghadapinya.


"Laksanakan!" Seru pelatih tersebut.


"Siap laksanakan!" Jawab mereka serempak.


"Kuda kuda kiri depan, ha!" Afrenzo memberi arahan.


"Ha!"


Mereka semua langsung melakukan sikap pasang dengan posisi kaki kiri didepan, sementara kedua tangan mereka pun ikut melakukan posisi pasang dengan keduanya diangkat didepan dada masing masing. Pandangan seluruhnya terarah untuk fokus kedepan, tanpa seorang pun yang berbicara ataupun hanya sekedar menoleh.


Jika sudah melakukan posisi pasang, maka pandangan mereka harus fokus tanpa ada yang bisa mengecohnya sedikitpun. Jika mereka sampai tidak fokus itu artinya musuh akan mudah untuk menjatuhkannya, meskipun didepan mereka sekarang tidak memiliki musuh akan tetapi mereka harus tetap fokus.


Plakkk...


Pelatih tersebut memukulkan kedua tangannya dengan keras dihadapan Afrenzo, bunyi tersebut membuat seluruhnya terkejut tidak kecuali Afrenzo yang masih bisa membuka matanya dengan lebar tanpa sedikitpun tertutup walaupun hanya sebentar. Afrenzo masih fokus dengan apa yang ada dihadapan mereka, Risda sendiri pun merasa ngeri jika dirinya yang diuji nantinya.


Pelatih tersebut pun langsung melakukan sikap pasang didepan Afrenzo, ketika melihat Afrenzo tidak terpengaruh atas gertakkannya sebelumnya. Afrenzo justru tersenyum tipis seraya menatap mata lawannya, Afrenzo menaikkan kedua alisnya untuk mengode musuh didepannya sebagai tanda bahwa dirinya telah siap.


Pandangan keduanya saling bertatapan saat ini, bahkan keduanya sama sekali tidak berkedip sedikit pun itu. Tiba tiba pelatih tersebut langsung menyerang kearah Afrenzo, dan dengan mudahnya Afrenzo langsung menangkis serangannya meskipun dirinya termundur kebelakang.


Risda pun terkejut dengan hal itu, apalagi kedua orang itu berada disebelahnya dan berkelahi didekatnya. Risda pun langsung berjalan minggir untuk mempersilahkan keduanya, dan serang menyerang itu pun tidak berlangsung lama.


"Siapa yang nyuruh pindah?" Tanya pelatih tersebut dengan nada tinggi kearah Risda.


"Maaf Pak," Jawab Risda sambil menoleh kearah Afrenzo dan hanya dibalas anggukan olehnya saja.


Risda terlalu ngeri jika harus fighter, apalagi dirinya yang belum terbiasa untuk saling serang menyerang. Selama ini hanya latihan fisik dan juga jurus yang dilatih pribadi oleh Afrenzo, Risda sendiri belum memasuki masa masa untuk bertanding berhadapan apalagi dengan serangan yang tidak direncanakan.


"Jika sudah pasang, jangan ada kata takut ataupun mundur." Jelas pelatih itu.


"Iya Pak," Jawab Risda sambil menundukkan kepalanya.


"Siapa pelatihmu?"


Deg...


Risda tidak tau harus menjawab apa saat ini, karena pelatihnya itu ada disebelahnya dan menjadi peserta. Jika dirinya menjawab nama Afrenzo, maka identitasnya akan terbongkar ditempat itu.


"Pelatihnya adalah Mas Afi, Pak." Tiba tiba Afrenzo sendiri yang mengatakannya, dan mewakili Risda dalam menjawab pertanyaan tersebut.


Risda kebingungan dengan jawaban dari Afrenzo, Risda terbengong mendengar jawaban tersebut. Pelatih tersebut pun langsung menatap kearah Afrenzo dan tiba tiba...


Bhukk...


Pelatih tersebut melontarkan sebuah pukulan diperut Afrenzo, dan Afrenzo sendiri langsung termundur kebelakang beberapa langkah sambil memegangi perutnya. Risda sangat terkejut hingga menggerakkan tangannya untuk menutup mulutnya, kenapa Afrenzo sampai dipukul seperti itu oleh pelatih tersebut.


"Aku tidak bertanya kepadamu, maka diamlah!" Seru pelatih tersebut kepada Afrenzo.

__ADS_1


Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya pelan, Afrenzo hanya bisa menyengir merasakan pukulan yang diberikan oleh pelatih itu. Pelatih tersebut langsung berbalik arah kepada Risda, dan Risda sendiri yang ditatapnya pun langsung menundukkan kepalanya dalam.


"Apa saja yang diajari oleh Afi?" Tanya pelatih itu.


"Soal beladiri?" Tanya Risda balik.


"Fi Afi, kenapa kau milih murid seperti ini? Yang ditanya beladiri kenapa masih ditanya lagi? Haduh," Guman pelatih tersebut akan tetapi mampu didengar semuanya.


"Pak. Begitu banyak hal yang diajari oleh Mas Afi, bukan hanya sekedar ilmu beladiri, tapi ada juga nasehat nasehat yang diberikannya. Tadi anda bertanya tentang apa saja yang diajarkan oleh Mas Afi, jadi saya tanya apakah tentang beladiri, atau yang lainnya." Risda pun memberi penjelasan kepada pelatih itu.


"Nggak perlu dijelaskan, aku sudah tau semuanya."


"Lah kenapa tadi Bapak nanya?"


"Awas aja ya Fi, aku akan beri peringatan kepadamu nanti tentang muridmu yang ini. Tunggu saja nanti," Gumannya sambil mengeratkan gigi giginya karena geram.


Tanpa disadari, Afrenzo justru menganggukkan kepalanya kepada pelatih tersebut. Sementara Risda hanya bisa memainkan jemarinya mendengar ucapan tersebut, bisa jadi Afrenzo nantinya yang akan menanggung tindakannya itu, apalagi Afrenzo sendiri langsung mendengar ucapan tersebut.


"Pasang!" Perintah pelatih itu.


Risda dengan segera langsung merubah posisinya menjadi sikap pasang untuk bertarung, dirinya tidak tau serangan apa yang akan diberikan nantinya akan tetapi dirinya hanya bisa berdoa semoga serangannya tidak terlalu kuat.


Merinding juga jika harus berhadapan dengan orang yang ahli beladiri seperti yang ada didepannya itu, meskipun Risda anaknya ceplas ceplos akan tetapi jujur dirinya merasa merinding saat ini. Risda bener bener tidak tau harus menangkisnya seperti apa nantinya, dirinya hanya berusaha untuk fokus dengan lawannya.


"Pasangmu benerin!" Seru pelatih itu.


"Baik Pak," Jawab Risda.


"Kuda kudanya ditekuk, siapa yang ngajarin lurus? Afi?"


"Nggak Pak,"


"Tangannya mengepal, apa Afi ngajarin kalo pasang seperti itu tangannya terbuka?"


"Nggak Pak,"


"Terus itu kenapa pasangmu pelit banget, apa Afi ngajarin pelit seperti itu?"


Pelit dalam artian, jarak antara kaki kanan dan kiri teramat sangat pendek dan bahkan pasang seperti itu akan mudah sekali dijatuhkan. Mereka menyebutnya dengan pelit, yang artinya untuk memberi jarak yang jauh teramat sangat sulit sehingga jaraknya berdekatan.


Risda pun langsung membenarkan bagian yang salah dari dirinya, seakan akan pelatih tersebut terus mengujinya dengan cara menyalahkan Afrenzo yang ada didekatnya. Bukan menyalahkan, lebih tepatnya mengomentari didikan Afrenzo.


Ia merasa sangat malu sendiri, apalagi pelatihnya sendiri yang langsung mendengarnya tanpa ada pelantara akan hal itu. Dirinya bingung harus bagaimana saat ini, ketika salah justru yang disindir adalah Afrenzo sendiri dan langsung didepannya tanpa melalui pelantara.


Sementara Afrenzo hanya menanggapinya dengan senyuman, tapi entah apa yang sedang dirinya pikirkan saat ini. Akan tetapi, Afrenzo hanya bisa tersenyum tanpa bisa berbicara sedikitpun untuk menanggapi ucapannya itu.


Risda pun diuji dengan sebuah pukulan, akan tetapi dirinya tidak bisa menangkis maupun menghindarinya sehingga pukulan itu langsung terkena pada uluh hatinya. Risda pun termundur beberapa langkah dan langsung memegangi perutnya yang terasa nyeri akibat pukulan tersebut.


Itu hanyalah sebuah pukulan, tapi entah mengapa rasanya begitu sangat nyeri apalagi rasanya seperti telah dihantam oleh sebuah batu yang besar. Rasanya tidak bisa dijelaskan dengan kata kata, pernahkah kamu tertatap sebuah benda keras ditangan atau kaki? Itu bahkan jauh lebih sakit daripada tertatap benda tanpa sengaja hingga menimbulkan bekas luka.


Bahkan akibat pukulan itu, Risda mampu merasakan denyut jantungnya sendiri dengan kencang. Wajahnya mengernyit menahan sakit, dengan kedua tangan yang memegangi perutnya itu.


"Bilang sama Afi, kalo ngelatih itu jangan main main," Ucap pelatih itu memberi perintah.


"Baik Pak," Suara Risda yang terlihat menahan sakit.


Pelatih tersebut pun langsung menguji yang lainnya, ujian itu berlangsung hingga pada siswa urutan ke sembilan dan kurang dua lagi yang belum diuji. Risda selama itu masih memegangi perutnya yang nyeri, melihat itu Afrenzo langsung memegangi pundaknya.


"Atur nafas lo," Ucap Afrenzo.


"Atur gimana?" Tanya Risda lirih sambil menyengir.


"Tarik nafas dalam dalam, tahan beberapa detik, lalu keluarkan dengan perlahan."


Risda hanya menganggukkan kepalanya kepada Afrenzo, dirinya pun langsung melakukan seperti apa yang diberitahukan oleh Afrenzo. Risda merasa aneh dengan Afrenzo, bahkan lelaki itu yang tiap hari dipukuli pun seakan akan merasa hal itu sudah biasa dan tidak sesakit apa yang dirinya rasakan saat ini.


"Udah mendingan?" Tanya Afrenzo.


"Masih sakit," Jawab Risda.


"Mau izin balik lebih awal? Biar gue izinin,"


"Nggak usah," Jawab Risda dengan cepat karena dirinya sendiri juga tidak ingin terlewatkan dalam hal ujian.

__ADS_1


__ADS_2