Pelatihku

Pelatihku
Episode 99


__ADS_3

Risda berjalan dengan menundukkan kepalanya dalam, didepannya ada sosok Afrenzo yang juga tengah berjalan kearah yang sana. Keduanya kini sedang berjalan menuju keruang kepala sekolah, seperti yang diucapkan oleh Afrenzo kemarin, hari ini Risda akan mengakui semua kesalahannya didepan kepala sekolah.


Risda merasa takut karena dirinya yang telah melakukan kesalahan itu, tapi Afrenzo terus memaksanya untuk mengakui semuanya. Bahkan Afrenzo sampai tidak mau berbicara lagi kepada Risda, jika Risda menolak untuk mengakui semuanya didepan kepala sekolah.


Sebenarnya, Risda masih ada jam pelajaran saat ini, akan tetapi Afrenzo mendatangi kelasnya dan meminta kepada guru yang mengajar untuk mengizinkan Risda. Afrenzo bersikap tegas dan disiplin kepada siapapun, bahkan dengan Risda sendiri pun dirinya nampak begitu tegasnya.


"Renzo, besok aja ya?" Tanya Risda yang sedikit ketakutan untuk pergi keruang kepala sekolah.


"Gue ngak jualan, jadi jangan nawar," Ucap Afrenzo tanpa menoleh kearah Risda yang ada di belakangnya itu.


Bagi sebagian wanita mungkin banyak yang mengabaikan adab ketika berjalan, mereka menganggap bahwa hal tersebut merupakan hal yang biasa. Padahal tidak seperti itu, sebab ada beberapa adab yang harus diperhatikannya ketika di jalan.


Mengapa demikian? Kita tau bahwa wanita merupakan makhluk yang terjaga kehormatannya, oleh sebab itu, syariat sangat memperhatikannya dalam segala aspek. Termasuk ketika sedang berjalan. Dan inilah adab yang harus dilakukan oleh seorang Wanita ketika berjalan, agar ia tetap terjaga kehormatannya.


Sebenarnya Nabi telah berpesan bahwa laisa li an-nisa’i wasathu al-thariq (Bagi seorang wanita bukannlah dijalan tempatnya). Dari perkataan Nabi seperti ini, maka secara tersirat terdapat pesan berupa adab yang harus diperhatikan ketika wanita berada di jalan.


Salah satunya yaitu, dari segi pakaiannya, bahwa ia harus mengenakan pakaian yang sopan. Bagaimana itu pakaian yang sopan? Dalam buku karya Kiai Ali Mustafa, pakaian yang sopan adalah 4 T yaitu, tidak ketat, tidak terawang, tidak membuka aurat, dan tidak menyerupai laki-laki.


Serta ia tidak berjalan didepan laki-laki, maka jika seandainya terjadi perjalanan antara laki-laki dan perempuan, maka adab yang benar ialah ia berjalan dibelakang laki-laki. Sebab, saat laki-laki berjalan dibelakang wanita, maka tidak bisa dipungkiri, ia akan melihat lekuk tubuh wanita, dan akan memperhatikan bagaimana cara jalannya. Jika sudah seperti itu, maka kemungkinan untuk terjadi kemaksiatan selanjutnya. Wal‘iyadzu billah


Jika direalisasikan dengn kehidupan sekarang, maka seorang wanita pun banyak yang keluar rumah, berjalan dengan laki-laki ajnabi, atau dia hanya seorang diri. Maka, yang harus diperhatikan adalah cara berpakaianya, dan hendaknya juga berjalan dengan ala kadarnya, tanpa harus membelok-belokkan pinggulnya, agar terlihat mempesona. Serta tidak berdandan dengan dandanan yang berlebihan, sekiranya laki-laki akan terpanah melihatnya.


Begitu juga tidak memakai wewangian yang berlebihan, dan menundukkan pandangan. Perintah menundukkan pandangan tidak hanya diperuntukkan untuk laki-laki, namun berlaku juga untuk wanita, sebab dari darinya pun dapat mendatangkan fitnah bagi kaum lelaki.


Hikmah dari beberapa adab diatas adalah agar wanita muslimah tetap terjaga kehormatannya. Sebanarnya Islam sangat mengindahkan seorang wanita, namun yang menjadikannya hina adalah dirinya sendiri.


Padahal, pada masa jahiliyah kala itu, seorang perempuan tidak ada harganya, namun saat islam datang, ia membawa syariat bahwa wanita harus dimuliakan dan dijaga kehormatannya. Maka, jika ada wanita yang sengaja mengumbar dirinya, maka secara tidak langsung ia ingin kembali pada masa jahiliyah dulu.


"Tapi Renzo, gue agak takut,"


"Karena lo salah, mangkanya takut."


"Iya gue tau, gue emang salah soal kemarin. Tapi gue takut kena skors nanti, terus gue harus beri alasan apa ke Nyokap gue nanti?"


"Ngak akan, Da. Palingan disuruh bersihin wc,"


"Itu jauh lebih menyeramkan tau, Renzo. Masak gue harus bersihin wc sih, emang kagak ada yang lain?"


"Ngak ada."


Tanpa terasa bahwa keduanya sudah sampai didepan ruangan kepala sekolah. Melihat itu langsung membuat Risda semakin gugup, dirinya pun merasa sangat gelisah saat ini. Jantungnya terus berdebar dengan kencangnya, dan semakin cepat disetiap detiknya.


"Gue ngak bisa ngelakuin ini, Renzo. Gue takut,"


"Gue temani lo didalam,"


Namun, jawaban Afrenzo sama sekali tidak mampu untuk menenangkan gadis itu saat ini. Risda sangat takut dan bahkan tubuhnya pun sampai berkeringat dingin saat ini.


Afrenzo lalu menggenggam tangan itu, dan langsung menariknya untuk masuk kedalam ruangan kepala sekolah. Disana ternyata sudah ada Bapak kepala sekolah, dan juga adanya Bagas berserta temannya yang telah membukakan pintu untuknya kemarin.


"Bagaimana? Lo sudah tau siapa pelakunya?" Tanya Bagas ketika melihat kedatangan Afrenzo.


Afrenzo hanya berdiam diri tanpa menjawab pertanyaan dari Bagas, dirinya pun menyuruh Risda untuk duduk didalam ruangan itu. Risda hanya menurut saja tanpa menolaknya, karena percuma saja dirinya jika menolak, lagian dia sudah masuk juga didalam ruangan itu.

__ADS_1


"Da, katakan yang sebenarnya," Ucap Afrenzo kepada Risda.


"Saya yang telah mengunci Bagas didalam kamar mandi, Pak. Saya pelakunya," Ucap Risda dengan bibir bergetar pelan ketika mengatakannya.


Semuanya pun menatap tidak percaya kearah Risda, Bagas pun tidak memercayai bahwa Risda yang telah melakukannya. Gadis itu benar benar berani untuk melawannya, bahkan dirinya beraninya menguncinya didalam kamar mandi.


"JADI LO PELAKUNYA!" Bentak Bagas tidak terima jika dirinya dikunci didalam kamar mandi sebelumnya itu.


Mendengar bentakkan tersebut langsung membuat Risda menundukkan kepalanya, dirinya mencoba untuk menahan air matanya karena sebuah bentakkan. Afrenzo pun langsung berdiri dari duduknya dan meraih kerah baju Bagas, dirinya pun mengenggamnya dengan erat karen Bagas telah berani membentak Risda.


"Dia sudah mengaku salah, tidak seharusnya lo bentak dia," Ucap Afrenzo dingin.


"Sudah sudah, jangan berkelahi disini. Ini bukan ruangan untuk berkelahi," Kepala sekolah itu mencoba untuk melerai pertikaian keduanya.


Afrenzo pun melepaskan pegangan tangannya itu dengan kasar, akan tetapi tatapannya masih menatap penuh amarah kepada Bagas. Keduanya itu pun langsung bergegas untuk kembali duduk dikursinya masing masing, akan tetapi tatapan keduanya masih saling beradu.


Tatapan keduanya seakan akan berbicara, 'Masalah kita belum selesai sampai disini, gue akan bikin perhitungan nanti' seperti itulah arti dari tatapan keduanya yang sama sama menajam.


"Jelaskan semuanya," Ucap kepala sekolah itu kepada Risda yang sejak tadi menundukkan kepalanya dalam.


"Saya yang menguncinya didalam kamar mandi, Pak. Saya diam diam masuk kedalam kamar mandi lelaki waktu kemarin, karena ngak sengaja lihat tabung gas elpiji masuk."


"Sejak kapan nama gue jadi tabung gas elpiji?" Tanya Bagas yang tidak terima jika namanya dirubah oleh Risda.


"Kita masih musuh bebuyutan, jadi jangan sok akrab loh dengan gue,"


"Lo bener bener berani ya sama gue," Ucap Bagas dengan nada yang tidak mengenakkan.


"Lo yang mulai duluan, gue yang akan memperbesar,"


"Gue nggak takut sama lo, tabung gas elpiji."


"Sudah sudah, kenapa jadi kalian yang berantem di sini ini? Ini bukan tempat untuk berantem ini adalah ruang kepala sekolah," Ucap kepala sekolah sambil merelai pertengkaran keduanya.


"Maaf pak jika saya bikin keributan di ruangan ini, Saya hanya tidak suka dengan tabung gas elpiji. kemarin saya yang telah menguncinya di kamar mandi, kami ini adalah musuh buyutan, Pak. Dia memang mantan ketua OSIS di sini, tapi sikapnya sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang ketua OSIS. bagaimana bisa seorang mantan ketua OSIS menggertak orang lain karena kedudukan, apakah hal itu wajar?"


"Maksud lo apa'an, gue nggak pernah mengerti orang lain selama ini. Tuduhanmu sangat tidak beralasan, Da."


"Lo emang pelupa tabung gas elpiji, tapi ingatan gue ngak tumpul. bagaimana bisa mantan ketua OSIS yang telah menggertak orang lain, tapi tidak mau mengakuinya? Jangan pura-pura sok bijak di depan guru, gue sangat tahu sikap lo,"


Rasa takut di hati Risda seakan akan lenyap, rasa jengkelnya kepada Bagas kini telah muncul kembali. Risda memang salah karena menguncinya di dalam kamar mandi, akan tetapi dirinya berani untuk mengatakan kebenarannya dengan dukungan dari Afrenzo.


Afrenzo terus mengatakan kepada Risda bahwa jika dirinya berani berbuat, maka dirinya juga harus berani untuk tanggung jawab. Hal itulah yang membuat Risda berani untuk mengatakannya di depan kepala sekolah.


"Bagaimana maksudnya, dia menggertak siapa?" Tanya kepala sekolah yang kebingungan dengan maksud dari Risda.


"Dia suka menggertak orang lain, Pak. Bahkan dia juga berani meminta uang kepada orang lain, bagaimana mungkin ketua OSIS seperti itu?"


"Jelaskan dengan secara terperinci maksudnya apa?" Kepala sekolah SMA Bakti Negara sepertinya kebingungan dengan maksud dari Risda.


"Bukan hanya sekali dan dua kali saja dia melakukan itu, Pak. Hal itulah yang membuat saya sangat jengkel dengan dirinya, seringkali siswa yang baru masuk sekolah ini langsung dipalak olehnya. Kalau anda tidak percaya silakan Panggil siswa baru yang ada di kelas sebelah,"


"Maksud lo apa, Da?" Afrenzo pun terlihat kebingungan dengan maksud dari Risda karena selama ini Risda tidak pernah mengatakan hal itu kepadanya.

__ADS_1


"Diam saja lo, Renzo. Gue lagi ngomong yang sebenarnya, bahkan dia dengan sengaja merusak pintu kamar mandi cowok dan menuduh Renzo yang melakukannya. Dia seakan akan menyalakan Renzo dalam hal ini, gue masih ingat dengan jelas kejadian waktu itu, Renzo. Gue pernah ngomong sama lo waktu itu tentang sosok laki-laki yang pergi ke kamar mandi di saat jam pelajaran sudah usai dan seluruh siswa sudah meninggalkan sekolahan, dan gue yakin itu adalah Bagas."


Risda mengingat dengan jelas tentang kejadian waktu itu, di mana Bagas menggertak Afrenzo untuk mengakui semuanya padahal bukan Afrenzo yang melakukannya. di jam luar pelajaran sekolah, Bagas dengan beraninya mengancam Afrenzo untuk menyuruh lelaki itu mengakui semuanya.


Setelah hari sudah mengatakan hal itu waktu itu, Bagas seolah olah melenyapkan kejadian tentang hal itu. Risda juga beberapa kali melihat Bagas memalak teman sekelasnya, dengan ancaman akan dibuat tidak nyaman di sekolahan itu.


Risda ingin sekali melaporkan hal itu kepada Afrenzo, akan tetapi dirinya belum memiliki waktu yang tepat untuk mengatakan itu. Risda takut bahwa dengan tuduhannya itu membuat lelaki tersebut dihajar kembali oleh Ayahnya, karena Bagas suka membolak balikan fakta yang sebenarnya.


Mungkin ini adalah waktu yang tepat, untuk mengatakan hal itu kepada semuanya. Mendengar itu, membuat semua orang ya ada di situ begitu terkejut di saat mengetahui semuanya.


"Bagaimana lo merasa lagi yakin bahwa itu adalah gue? Untuk apa gue merusak fasilitas sekolah hanya untuk menuduh Afrenzo?"


"Gue emang nggak tahu masalah lo apa'an sama Renzo, asal lo tahu saja ya tabung gas elpiji. Lo suka kan bikin Renzo dihajar sama Bokapnya?"


"Sudah cukup, Da. Jangan dilanjutkan lagi soal itu," Sela Afrenzo dengan lirih dan hanya didengarkan oleh Risda saja.


"Tapi Renzo, gimana gue bisa diam di saat lo difitnah sama Bagas? Padahal gue tahu sendiri bawa Bagas yang melakukan semuanya," Ucap Risda yang tidak terima disuruh diam oleh Afrenzo.


"Lo emang bener bener kurang ajar, gue ngak pernah ngelakuin itu, tapi lo tuduh gue sembarangan. Pak, ini bisa jadi pencemaran nama baik," Sela Bagas yang tidak terima dituduh oleh Risda.


"Apa perlu gue panggilkan anak anak yang telah lo palak kemari?" Tanya Risda.


"Panggil kemari!" Perintah kepala sekolah itu.


"Baik Pak,"


Risda lalu bergegas keluar dari ruangan itu, dirinya pun mendatangi kelas tempat di mana anak yang telah dipalak oleh Bagas. cukup lama dirinya berada di kelas itu, dan akhirnya dia keluar dengan beberapa anak gadis lainnya.


Risda dan anak anak itu pun langsung bergegas masuk ke dalam ruangan kepala sekolah, di dalam sana sudah terkumpul berapa banyak orang dan beberapa guru. Para gadis itu nampak ketakutan akan tetapi, Risda terus meyakinkan mereka bahwa semuanya akan baik-baik saja.


"Tolong jelaskan semuanya kepada kepala sekolah," Ucap Risda kepada para gadis itu.


"Iya Pak, kami pernah di palak oleh Bagas sebelumnya, kami seperti harus membayar upeti untuk bisa bersekolah di sini dengan nyaman. Kalau kami tidak bayar kami akan dibuat tidak nyaman di sini," Jawab salah satu gadis yang dibawa oleh Risda sebelumnya.


Mendengar itu, Bagas tidak lagi dapat mengelak. kepala sekolah benar benar marah dengannya, karena dengan beraninya dirinya melakukan itu. bukan hanya kepala sekolah dan Bagas saja yang terkejut, tapi juga Afrenzo yang tidak menyangka dengan ucapan Risda.


Entah kenapa masalah ini jadi tambah besar, Risda tidak menyangka bahwa kejujurannya itu membuat semua orang tidak mempercayainya. Meskipun begitu Bagas masih mengelak, bahwa dirinya tidak pernah melakukan itu.


"Mereka pasti telah diberi sesuatu oleh Risda, sehingga mereka bisa mengatakan itu di depan semua orang. Jujur saja kalian apa yang dikatakan oleh Risda sebelumnya!" Bagas pun menyuruh gadis gadis itu untuk mengatakan hal sebenarnya.


"Kami tidak diberi apa apa dan ini memang benar, tapi sejak jabatan ketua OSIS diambil alih, lo tidak pernah melakukan itu."


"Bapak sangat kecewa sama kamu, Bagas. Mulai hari ini kamu dalam pengawasan Bapak sendiri, kalau sampai kejadian ini terulang lagi, Bapak tidak akan segan segan untuk mengeluarkanmu dari sekolah ini."


"Iya Pak," Jawab Bagas.


"Baiklah kalian semua boleh kembali ke kelas masing masing, dan untukmu Risda, Bapak akan beri hukuman, begitupun juga Bagas."


"Tapi Pak, Saya kan sudah jujur, kenapa harus dihukum lagi? Tolong beri keringanan dikit," Risda masih menawar hukumannya itu, padahal dirinya tidak tahu akan dihukum seperti apa.


"Kamu karena telah mengunci Bagas di kamar mandi, jadi kamu bersihkan kamar mandi itu. Sementara untukmu Bagas, bersihkan seluruh sekolahan ini sampai tidak ada sampah sedikitpun, pokoknya harus bersih mulai dari seluruh halaman sekolah ini sampai kelas kelas."


Mendengar itu, langsung membuat Bagas membelalakkan matanya dengan lebar. Bagaimana tidak? Halaman sekolah itu saja sangat luas, jika pun bersihkan seorang diri pun tidak akan cukup sehari untuk bisa bersih.

__ADS_1


Hukuman itu tidak bisa ditawar lagi, sehingga keduanya mau tidak mau harus melakukan itu. Melihat wajah kesal dari Risda membuat Afrenzo tersenyum tipis, entah mengapa cowok itu sangat suka melihat Risda marah.


__ADS_2