
10 menit berlalu...
Risda keluar dari kamar mandi dengan merasa lega setelah melakukan hajatnya, Risda pun mendatangi Afrenzo yang kini tengah berada dibawah rimbunnya pepohonan yang ada disana. Risda bergegas untuk menghampiri lelaki itu, dan ternyata lelaki itu tengah tertidur dengan berdiri sambil bersandar dipohon.
"Kayaknya dia lelah banget," Guman Risda sambil melihat kearah wajah Afrenzo.
Risda terus memperhatikannya, Risda takut untuk membangunnya saat ini karena dirinya pernah membangun Afrenzo yang berujung dirinya terkena serangan dari lelaki itu. Risda pun bimbang, jika dirinya membangunkan lelaki itu maka dirinya harus siap menerima konsekuensinya, jikapun dirinya tidak membangunkannya mungkin mereka akan telat untuk latihan.
Jarak Risda dan Afrenzo berada kurang lebih 2 meter saat ini, Afrenzo pun merasa seperti diawasi oleh seseorang hingga membuatnya menggeliat dan membuka matanya. Afrenzo melihat adanya Risda dihadapan, hingga membuatnya langsung berdiri dengan tegaknya.
"Lo udah selesai sejak kapan?" Tanya Afrenzo.
"Ternyata tatapan gue canggih juga ya, langsung buat lo bangun," Ucap Risda tanpa menjawab pertanyaan dari Afrenzo sebelumnya.
"Kenapa nggak bangunin gue sih?" Tanya Afrenzo lagi.
"Nanti lo smekdown lagi, auah ngeri kalo bangunin macan tidur kayak lo, Renzo. Bisa bisa gue yang malah tidur dirumah sakit bukan lo yang bangun,"
Afrenzo hanya diam saja sambil mendengarkan ocehan dari Risda, memang dirinya mudah sekalu reflek dalam lingkungan sekitarnya itu, apalagi disaat dirinya tertidur meskipun tidurnya tersebut terlihat sangat nyenyak.
Afrenzo tidak membantah ucapan dari Risda, karena memang kenyataannya seperti itu dan tidak bisa dibantah lagi. Apalagi yang tengah berdebat dihadapannya itu bukanlah pikirannya melainkan hatinya, oleh karena itu tidak lah mudah untuk membantah seorang wanita.
Setelah mengomeli Afrenzo cukup lama, akhirnya Risda pun berhenti juga karena dirinya yang merasa lelah untuk terus berbicara. Cukup lama dirinya memarahi Afrenzo, dan akhirnya dirinya pun kelelahan untuk berbicara, akan tetapi dengan itu langsung membuatnya merasa lega setelahnya.
"Sudah puas?" Tanya Afrenzo.
"Gara gara lo, tenggorokan gue jadi kering," Keluh Risda.
Lagi lagi Afrenzo yang disalahkan dalam hal ini. Afrenzo hanya ketiduran sebentar akan tetapi langsung mendapatkan omelan dari Risda. Afrenzo hanya menundukkan kepalanya dihadapan Risda, melihat itu langsung membuat Risda cemberut.
"Kok lo diem aja sih?" Tanya Risda.
"Kembali ke ruangan setelah itu lo minum," Ucap Afrenzo sambil melangkah pergi.
"Yah... Gue selalu saja ditinggalin, emang nggak punya perasaan," Gerutu Risda ketika melihat Afrenzo yang melangkah pergi.
Risda langsung bergegas mengejar lelaki itu agar tidak ketinggalan, akhirnya keduanya berpisah menuju ke ruangan masing masing. Risda segera menghampiri teman temannya yang ada di ruangan yang sama dengannya, teman temannya langsung menoleh ke arah Risda ketika mengetahui bahwa gadis itu telah datang.
"Lo dari mana saja, Da? Lama bener pergi ke kamar mandinya, emang lo habis ngapain di sana?" Tanya Vina penasaran.
"Jangan jangan lo habis berdua'an lagi sama tuh pelatih, pantes aja lo sampai lupa waktu, Da. Siala.." Ucap Anna dan langsung ditutup mulutnya oleh Risda menggunakan tangannya dengan eratnya.
"Shuutttt... Lo lupa dengan ucapan Renzo tadi, ha? Kalo disini jangan panggil dia sebagai pelatih, emang lo mau dimarahi olehnya nanti?" Ucap Risda sambil melihat situasi disekitarnya itu.
Di tempat itu sangat ramai anak anak sepantaran yang ingin mengikuti acara tersebut, mereka semua belum mengetahui tentang Afrenzo yang telah menjadi seorang pelatih. Risda yang mengingat ucapannya sebelumnya langsung menutup mulut Anna dengan eratnya, karena dirinya tidak ingin identitas dari Afrenzo terbongkar di tempat itu.
Anna pun menggeleng gelengkan kepalanya dengan keras karena tidak ingin jika lelaki itu sampai memarahinya, jangankan jika dimarahi dibayangkan saja dirinya pun sangat takut. Bagaimana bisa tidak takut dengan lelaki itu? Tatapannya saja sangat menyeramkan apalagi melihatnya melotot ke arahnya.
"Mangkanya lo diem aja, beruntung kali gue ini baik hati kalo tidak gue bakalan aduin lo ke Renzo nanti. Emang lo mau gue aduin?"
"JANGAN! Iya iya gue minta maaf, gue nggak bakal ngomong gitu lagi. Tapi lo janji ya jangan diaduin ke dia," Ucap Anna sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Tergantung mood gue. Kalo lagi membaik maka tidak gue aduin, kalo memburuk itu artinya lo harus siap siap kena omelannya nanti. Simple kan?"
"Da. Lo kok gitu sih? Kita kan teman, masak lo tega ngaduin gue ke Renzo sih?"
"Jangan mohon mohon sama dia, An. Lo tau sendiri kan dia emang orangnya gitu, tegaan sama temen sendiri. Percuma juga lo ngelakuin itu, nanti juga bakalan diaduin sama dia," Sela Vina.
Risda yang mendengar ucapan Vina pun sontak merasa panas, bukan tubuhnya yang panas melainkan hatinya yang seperti tengah terbakar. Risda pun mendengus dengan kesalnya kepada Vina, padahal dirinya hanya bercanda dengan Anna akan tetapi Vina menganggapnya serius.
"Lo kok nyolot sih!" Sentak Risda sambil terlihat sedikit emosi sekaligus nada bicaranya yang meninggi.
__ADS_1
"Santai kali, Da. Nggak usah emosi gitu juga dong," Ucap Vina kepada Risda.
"Nada bicara lo nggak enak sama sekali dihati, emang lo mau bikin keributan sama gue, ha?"
"Gue nggak mau cari gara gara sama lo, Da. Gitu aja udah nyolot,"
"Lo yang mulai!"
"Kok kalian yang jadi ribut, sih? Seharusnya kan gue sama Risda yang ribut. Kalian kenapa?" Tanya Anna sambil menengahi keduanya.
Risda pun membuang muka dari hadapan Anna, begitupun juga dengan Vina yang melakukan hal yang sama seperti Risda. Anna sendiri pun hanya menghela nafas kasar melihat keduanya, seakan akan ucapannya itu tidak dipedulikan saat ini oleh keduanya.
"Kita ini pendatang ditempat ini, kalo kalian lupa itu. Apa kalian ingin mempermalukan cabang kita dengan berkelahi ditempat ini? Kalo mau berkelahi sekalian tuh saling serang pukulan atau tendangan. Udah nggak jamannya pake mulut, kalau bisa langsung kenapa tidak?" Ucap Anna lagi sambil memperhatikan wajah keduanya.
"Dia dulu yang mulai," Ucap Vina.
"Gue duluan? Yang ada lo yang mulai duluan," Ucap Risda yang tidak terima ketika disalahkan.
"Kok jadi gue sih. Kan emang lo yang duluan,"
"Jangan mengubah kenyataan, Vin. Emang lo yang duluan cari masalah sama gue,"
"Yang ada lo sendiri yang mulai, Da. Gue hanya ngomong gitu aja lo langsung emosi,"
"Emang lo pikir gue nggak sakit hati waktu lo ngomong kayak gitu, ha? Emang lo pikir hati gue terbuat dari apa'an sampe nggak tau rasa sakit!"
"Da, jangan bertengkar lagi. Emang kalian mau perguruan kita di cap jelek gara gara ulah kalian berdua? Sama saja mengecewakan pelatih," Ucap Anna melerai pertengkaran keduanya itu.
Mendengar ucapan Anna langsung membuat Risda terdiam, dirinya pun tidak ingin jika Afrenzo yang akan menanggung semuanya nanti. Apalagi didalam ruangan itu terdapat banyak perserta dari cabang lainnya, Vina sendiri pun juga menoleh kearah sekelilingnya itu.
Vina pun menyengir menyaksikan pandangan setiap orang terarah kepada keduanya, ternyata hal itu langsung menyita perhatian seluruhnya hingga tatapan mereka semua langsung terarah kepada keduanya.
Vina pun langsung memeluk tubuh Risda begitu saja, seolah olah dirinya berpura pura bahwa keduanya hanyalah bermain sebelumnya. Risda begitu terkejut hingga hendak menjauhkan tubuh Vina itu, akan tetapi Vina pun memberi kode kepadanya hingga membuat Risda langsung paham dengan tatapan seluruhnya.
"Hahaha... Hebat banget kan akting gue?" Tanya Risda sambil terkekeh kepada yang lainnya.
"Kalian berdua kenapa?" Tanya Anna yang tidak paham dengan sikap dari keduanya yang langsung berubah total.
Anna menatap kearah kedua temannya dengan tatapan yang penuh dengan kebingungan, entah kenapa kedua temannya langsung menjadi akrab seperti itu. Tatapan Anna terlihat begitu polos saat ini, sejak kapan keduanya mulai berakting seperti itu? Dirinya langsung dibuat kebingungan oleh dua orang itu.
"Lo lupa kalau disekolahan kita itu ada lomba teater? Bagus kan akting gue tadi?" Tanya Risda sambil beberapa kali menggerakkan alisnya untuk memberi kode kepada Anna.
"Kapan? Kok gue nggak tau sih?" Tanya balik Anna dengan polosnya.
"Hih bocah ini," Risda pun mengeratkan gigi giginya kearah Anna. Gadis itu masih saja tidak paham dengan kode yang diberikannya itu, hingga membuatnya berguman pelan.
"Anna, Risda kan calon sastrawan yang hebat. Bukannya ada baiknya kita mendukungnya?" Tanya Vina.
"Bener tuh, An. Seharusnya lo beri suport ke gue dong biar gue semangat," Seru Risda.
"Kalian ngomongin apa, sih? Gue nggak paham,"
Risda pun langsung menepuk jidadnya dengan kerasnya, Anna bahkan tidak paham dengan maksud dari ucapannya itu, apalagi kode yang diberikannya kepada Anna.
"Bagus banget, Da. Akting lo emang paling keren deh," Melihat Anna yang tidak paham dengan ucapan dari Risda, hal itu langsung membuat Vina menyeloroh menengahi perkataan keduanya.
Risda dan Vina langsung perlahan lahan mendekat kearah Anna, dan keduanya langsung berdiri disamping kiri dan kanan Anna. Anna pun kebingungan dengan hal itu, tiba tiba Vina dan Risda langsung menarik tangannya untuk membawanya keluar dari ruangan
Ketiganya pun langsung pergi dari dalam ruangan itu, dan keduanya berhenti tepst didepan ruangan itu setelah Risda menutup pintu ruangan tersebut. Risda dan Vina langsung menghela nafas lega ketika sampai didepan ruangan tersebut,
"Kalian berdua habis lomba maraton ya?" Tanya Anna.
"Maraton matamu! Kesel gue sama lo, diberi kode dari tadi kagak paham juga lagi. Emang lo mau kalo pelatih sampai marah?" Tanya Risda dengan kesalnya kepada gadis yang ada didepannya itu, hingga membuat gadis itu termundur satu langkah dan langsung disusul oleh Risda yang maju satu langkah.
"Iya nih, untung gue punya ide tadi, kalo nggak? Emang lo mau kita dimarahi sama pelatih?" Vina pun ikut marah kepada Anna. Gadis itu pun kembali termundur satu langkah dan langsung disusul oleh keduanya.
__ADS_1
"Sudah diberi kode, malah kagak ngerti ngerti dari tadi. Capek tau!"
"Punya otak itu dipake, jangan dibuat pajangan mulu."
"Itu berfungsi nggak sih? Kalo nggak mending dijual aja,"
"Pengen gue cincang sekalian lo, An. Terus gue kasih makan ke buaya,"
"Kurang sadis tau, Vin. Mending kita mutilasi saja dia terus potongan tubuhnya kita pisah pisah,"
"Ide yang bagus, Da. Kalo seperti itu kan nggak ada yang bakalan tau kalo dia sudah dicincang,"
Keduanya pun terus memojokkan Anna, Anna sendiri pun terus berjalan mundur dan diikuti dengan keduanya yang melangkah maju. Hingga akhirnya, Anna pun terbentur sebuah tembok yang ada dibelakangnya.
"Kalian kok jahat banget sih," Cicit Anna pelan sambil menatap ketakutan kearah keduanya.
Keduanya menatap tajam kearah Anna, dan sambil mendekatkan wajah wajah mereka ke wajah milik Anna. Hal itu langsung membuat Anna tidak bisa bergerak dan seakan akan tengah mati rasa, sekilas dirinya melihat bayangan Afrenzo yang melintas dikejauhan.
"Pel... eh Renzo, tolong!" Teriak Anna sambil berlari dengan terbirit birit kearah Afrenzo.
Melihat cara berlari Anna membuat keduanya langsung tertawa dengan terbahak bahak, karena sangking lucunya gadis itu ketika ketakutan seperti saat ini. Tawa keduanya langsung menghilang ketika melihat kemana Anna berlari, Anna berlari menghampiri Afrenzo dan hal itu langsung membuat keduanya ikut bergegas untuk menemui Afrenzo.
"Kalian kenapa?" Tanya Afrenzo kepada ketiga anak perempuan itu.
"Renzo. Risda sama Vina mau mutilasi gue katanya," Adu Anna kenapa Afrenzo.
"Heh! Mulut lo itu jangan asal bicara ya, Gimana caranya gue mutilasi lo? Jangan sembarangan lo kalo bicara," Ucap Risda yang tidak terima diadukan kepada Afrenzo.
"Da," Panggil Afrenzo pelan.
"Jangan percaya ucapannya nih orang, Renzo. Gue bukan seorang psikopat kok, mana mungkin gue ngelakuin itu sama nih orang." Risda terus membela dirinya sendiri karena dia tidak mau disalahkan dalam hal ini.
Vina hanya mampu berdiam diri saja tanpa protes sedikit pun, jangankan berbicara menatap wajah Afrenzo saja dirinya sudah gemetaran. Sementara tatapan Afrenzo masih terarah kepada Risda, sementara Risda terus saja membela dirinya sendiri.
"Da," Panggil Afrenzo lagi dan langsung berdiri dihadapan Risda. "Sudah, sebentar lagi pelatihan akan dimulai. Kalian bersiap siap dulu, habis itu langsung pergi ke lapangan. Jangan sampai telat."
"Dimulai?" Tanya Risda terkejut.
"Iya. Gue mau ke ruangan kalian untuk memberitahu yang lain agar mereka bersiap siap juga, eh ketemu kalian disini. Beritahu juga yang lain habis ini,"
Suara Afrenzo pun terdengar begitu halus dan menenangkan bagi siapa yang mendengarnya, dan bahkan hal itu membuat Vina dan Anna terkejut karena tidak pernah mendengar nada bicara Afrenzo seperti ini.
"Siap pelatih yang terhormat."
"Da,"
"Eh salah, maksud gue adalah Renzo yang terhormat."
Risda pun menyengir kearah Afrenzo, Afrenzo pun hanya menganggukkan kepalanya pelan kearah Risda. Setelah itu Afrenzo bergegas untuk meninggalkan mereka bertiga, dirinya hendak memberitahukan yang lainnya juga.
"Da," Panggil Vina.
"Ada apa?" Tanya Risda dan langsung menoleh kearah Vina.
"Gue nggak salah denger kan?"
"Nggak kok, latihan emang segera dimulai."
"Bukan itu,"
"Terus apa?"
"Suara Renzo."
"Emang kenapa dengan suara Renzo? Biasanya juga seperti itu,"
__ADS_1
"Biasanya? Dia bahkan tidak pernah bernada seperti itu sebelumnya."
"Jadi... Ah kalian selalu heboh sendiri!" Seru Risda dan langsung bergegas meninggalkan mereka untuk menuju keruangan mereka.