Pelatihku

Pelatihku
Episode 130


__ADS_3

Sosok seorang lelaki sedang berkeliling diantara barisan siswa dengan membawa sebuah kayu yang panjang dan keras. Lelaki itu sesekali memukul dengan pelan siswanya yang telah melakukan gerakan yang salah, dan lelaki itu tidak lain adalah Afrenzo.


"Satu!" Teriaknya.


"Ha...!"


"Dua!"


"Ha...!"


Seluruh siswa langsung melakukan gerakan yang diajarkan olehnya sebelumnya, dirinya terlihat begitu gagah diantara barisan siswanya. Kalaupun ada kuda kuda yang salah, maka dirinya tidak akan segan segan untuk memukul.


Mereka terus melakukan gerakan yang sama dengan berulang ulang kali, bahkan rasanya mereka seperti tidak kenal lelah. Entah berapa banyak butiran keringat yang mentes disana, akan tetapi mereka sepertinya tengah mengabaikan hal itu.


Bukan hanya latihan gerakan saja yang mereka lakukan, akan tetapi mereka juga diminta untuk naik turun ditangga yang ada didalam aula beladiri. Ketika naik keatas mereka diminta dengan cara melompat sambil berjongkok, tujuannya adalah untuk memperkuat otot kaki.


Afrenzo menyontohkan gerakannya itu kepada seluruhnya, dirinya melompat sambil berjongkok begitu mudah dan membuat seluruhnya berpikir bahwa hal itu sangat mudah. Ketika mereka mencobanya sendiri, baru melewati 3 anak tangga saja, mereka semua sudah sangat kelelahan hingga membuat kaki mereka gemetaran.


Ketika Afrenzo memperaktikkannya memang begitu mudah, akan tetapi ketika mereka mencobanya itu sangatlah susah. Mungkin kekuatan otot kaki Afrenzo jauh lebih kuat daripada mereka, sehingga lelaki itu begitu sangat mudah untuk melakukannya.


Risda sendiri tidak mampu untuk itu, baru saja dirinya naik dianak tangga pertama dengan lompat, Risda merasa beban tubuhnya sangat berat. Ini hanyalah anak tangga pertama dan ada sekitar 30 anak tangga yang harus mereka lalui, akan tetapi tidak ada yang sanggup untuk melakukan hal itu.


"Kenapa sulit sekali sih, dia bisa kenapa gue nggak bisa?" Guman Risda pelan sambil menghapus keringat yang ada dikeningnya.


Begitu sulit untuk melakukan itu, mungkin Afrenzo yang terbiasa melakukannya sehingga dirinya bisa melakukan hal itu dengan mudah. Hanya beberapa siswa laki laki yang bisa mencapai anak tangga ke 10, mereka pun juga mengeluh soal itu.


"Dalam latihan beladiri, tidak boleh ada kata mengeluh," Ucap Afrenzo dari atas tangga sambil berdiri dengan tegaknya dan melipat kedua tangannya kebelakang.


"Pelatih, bagaimana caranya kami bisa naik keatas dengan mudah? Sementara gaya gravitasi bumi menarik kami kebawah," Ucap salah satu siswa laki laki.


"Kakiku terasa gemetaran, Pelatih. Tidak sanggup lagi untuk naik keatas,"


"Tangga ini sangat tinggi, apalagi jarak antara anak tangga yang cukup jauh. Kalau dengan jalan biasa saja kami sudah kelelahan, gimana caranya dengan lompat jongkok bisa sampai keatas?"


"Huss kalian ini. Kalau Pelatih bisa melakukan itu, itu artinya ada cara tertentu untuk bisa melakukannya," Sela Risda yang masih berada ditangga pertama.


Dirinya agak bimbang untuk bisa loncat ke tangga yang kedua, loncat satu tangga saja membuat nafasnya memburu apalagi untuk longat ke tangga selanjutnya. Risda harus benar benar bisa mengantur nafasnya, dan menstabilkan kakinya agar tidak gemetaran.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Risda, jika Afrenzo saja mampu untuk melakukan itu mungkin saja memang ada cara tersendiri untuk bisa melakukan itu. Hal itu hanya diketahui oleh Afrenzo saja, sehingga seluruhnya kebingungan dengan hal itu.


"Nggak ada hal yang bisa menghasilkan hal luar biasa itu dengan mudah, butuh perjuangan yang keras untuk bisa mencapai hasil. Jika tidak mau berusaha lebih keras, maka bersiaplah untuk menerima kekalahan," Pungkas Afrenzo.


"Nah, hanya perlu usaha," Ucap Risda setelahnya.


Risda pun memandang ke anak tangga yang ada di depannya, memang dirinya bisa menyentuhnya tapi belum tentu dia bisa lompat. Tiada hasil yang luar biasa tanpa adanya usaha, maka dibutuhkan usaha untuk bisa melakukan hal itu.


Risda pun berusaha untuk bisa lompat ke tangga selanjutnya, dengan mengatur nafasnya dirinya pun mencoba untuk melompat. Lompatannya itu berhasil akan tetapi tubuhnya sedikit terhuyur, akan tetapi beruntunglah dirinya yang bisa untuk menyeimbangkan tubuhnya.


Melihat dirinya yang berhasil naik ke tangga kedua, hal itu membuat Risda merasa sangat senang. Dirinya tidak menyangka bahwa dia bisa melakukan itu, meskipun hal itu terlihat begitu mudah bagi Afrenzo.


"Yee... Berhasil!" Teriak Risda kegirangan.


"Masih ada dua puluh delapan anak tangga lagi, jangan senang dulu," Ucap Afrenzo.


"Bagaimana Pelatih bisa tau kalo jumlah anak tangganya itu tiga puluh?" Tanya Risda keheranan.


"Hitung saja."


Risda yang memang orangnya adalah sangat penasaran pun langsung bangkit berdiri dari jongkoknya, dirinya pun perlahan lahan mulai menghitung anak tangga yang ada disana. Dirinya menghitung dari anak tangga pertama sampai tempat dimana Afrenzo berdiri.


"Memang benar tiga puluh," Ucap Risda kepada Afrenzo yang ada didepannya.


Tanpa menunggu jawaban dari Afrenzo, Risda pun bergegas untuk turun kembali. Dirinya pun kembali berjongkok ditempatnya sebelumnya itu, ternyata memang anak tangga itu berjumlah 30, dan ucapan Afrenzo sangat tepat.


Risda pun kembali mengatur nafasnya, sementara siswa perempuan lainnya masih berada ditangga pertama. Tangga itu cukup luas, sehingga mereka bisa berbaris ditangga itu meskipun tidak semuanya.


"Tiga!" Teriak Risda setelah berhasil lompat di anak tangga ke tiga.


Risda terlihat bersemangat setelahnya, meskipun hal itu sangatlah susah akan tetapi dengan usaha dirinya bisa melakukannya. Melihat semangat Risda, hal itu langsung membuat seluruhnya ikut serta bersemangat untuk mencapai puncaknya.


"Sebentar lagi aku bisa menyusulmu, Pelatih. Tunggu diriku," Ucap Risda sambil tersenyum kepada Afrenzo yang ada diatas.


Bukannya marah, justru Afrenzo senang mendengarnya. Bukan Risda namanya jika menyerah begitu saja, meskipun akhinya akan gagal akan tetapi dirinya tidak mau menyerah sedikit pun.

__ADS_1


Lompat dibidang datar aja sangat melelahkan, apalagi dibidang tanjakkan seperti itu. Bukan main lagi beratnya, dan bahkan latihan itu membuat kaki seluruhnya gemetaran setelahnya. Meskipun tidak ada diantara mereka yang bisa lompat sampai di anak tangga ke 15, melompat hingga anak tangga ke 10 saja sudah hebat.


Dengan segala usahanya, Risda mampu untuk mencapai lompatan di anak tangga ke 7, sementara siswa perempuan yang lainnya mampu melompat hingga tangga ke 4 sampai dimana Risda berada.


Latihan seperti itu benar benar menguras tenaga mereka, sangat sulit untuk bisa mencapai puncak dari anak tangga itu. Jika Afrenzo yang melakukannya, maka mereka akan menganggap latihan tersebut sangat mudah karena melihat Afrenzo yang bisa melakukannya dengan mudah.


"Latihan sampai disini, kalian bisa meninggalkan halaman beladiri."


Setelah mendengar itu, seluruhnya langsung bangkit berdiri dari jongkoknya. Kaki mereka rasanya begitu berat saat ini, bahkan untuk berjalan biasa saja membuat mereka seperti habis melakukan perjalanan yang sangat jauh.


Seluruhnya pun bersalaman dengan Afrenzo untuk berpamitan pulang, sementara bagi perempuan hanya menyatuhkan kedua tangannya saja. Mereka semua pun bergegas untuk menuju kerumahnya masing masing, sementara Risda masih berdiam diri diparkiran.


"Lo nggak pulang?" Tanya Afrenzo sambil menghampiri Risda.


"Sepedah gue mogok lagi, Renzo. Gue nggak bisa nyalain," Ucap Risda sambil menyengir.


"Belom diganti juga?" Tanya Afrenzo sambil membelalakkan matanya.


"Belom ada uang, Renzo. Kemaren aja gaji Nyokap gue dibuat bayar SPP, kata Kakak gue tinggal disetrumin aja di deler nanti bisa lagi. Ya udah kemaren cuma digituin doang kagak diganti,"


"Terus bisa dipake?"


"Bisa sih, tapi sekarang kagak bisa lagi. Nanti di gituin aja lagi,"


"Kalo nggak diganti ya percuma, Da. Nanti rusak lagi, malah keluarin biaya yang lebih banyak,"


"Terus solusinya cuma harus diganti?"


"Dijual."


Risda pun tertawa mendengar jawaban malas dari Afrenzo, dirinya memang paling bisa untuk membuat orang lain merasa kesal kepadanya. Bahkan dirinya bisa membuat sosok sedingin Afrenzo menjadi kesal dengannya, cowok dingin itu juga bisa merasa kesal ternyata.


"Minggir," Ucap Afrenzo menyuruh Risda turun dari motornya itu.


Risda pun segera turun dari motornya, Afrenzo pun langsung mengstandarkan tengah motornya itu. Dirinya pun berusaha untuk menyalakan motor milik Risda tersebut, sementara Risda hanya melihatnya tanpa berkedip.


Melihat motornya menyala langsung membuat Risda senang, dirinya pun sampai bertepuk tangan dengan hebohnya. Afrenzo yang melihat sikap ke kanak kanakan Risda pun hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya saja.


"Cepat diganti," Ucap Afrenzo setelahnya.


"Mau mogok tengaj jalan? Terus harus dorong motornya sampai dirumah?"


"Kan ada lo, Renzo. Nanti gue tinggal hubungi nomor lo aja," Jawab Risda enteng.


"Kalo gue sibuk gimana?"


"Lo nggak mungkin sibuk terus terusan, kan? Ya gue tungguin sampai lo bisa lah,"


"Kalo waktu nungguin terus diganggu orang gimana?"


"Ya lari."


"Terserah lo,"


Afrenzo yang kehabisan kata kata pun langsung bergegas untuk meninggalkan Risda, dirinya pun berjalan menuju kearah motornya. Melihat itu langsung membuat Risda tertawa, lagi lagi wajah kesal dari Afrenzo terlihat sangat menggemaskan baginya.


Ngenggg... Ngengggg...


Risda pun memutar gasnya dengan kerasnya, hingga sebuah bunyi mesin motor pun terdengar keras. Bagaimana motor itu bisa jalan? Sementara motornya masih di standart tengah. Risda nampak begitu senang saat ini, dan menjadikan hal itu sebagai mainan.


"Renzo, gue jadi pembalap kan?" Tanya Risda sambil berlagak seperti seorang pembalap.


"Sudah pulang, jangan main main lagi," Ucap Afrenzo.


"Yeahh masih bersama dengan suporter Indonesia, kini Risda tengah memimpin didepan. Mari kita saksikan pemirsa bagaimana kecepatan laju motornya, nyatanya Risda masih memimpin didepan. Tidak ada yang bisa menyalipnya pemirsa," Ucap Risda sambil terus memutar gasnya.


"Da pulang!" Ucap Afrenzo dengan tegasnya.


"Wiu wiu wiu, ngenggggg.... Sebentar lagi akan sampai garis finish,"


"Risda! Ini sudah hampir malam,"


"Bentar lagi, Renzo. Gue hampir sampai garis finish,"

__ADS_1


Risda seakan akan tidak memedulikan ucapan dari Afrenzo, hal itu langsung membuat Afrenzo turun dari motornya dan langsung menggerakkan tangannya untuk memutar kontak sepeda motor milik Risda itu.


"Yahhhhh.... Kok dimatikan sih?"


Risda pun merasa kesal karena tiba tiba mesin motornya dimatikan oleh Afrenzo, dirinya pun menatap kearah Afrenzo sambil mencerucutkan bibirnya. Afrenzo hanya bersedekap dada dihadapan Risda sambil menatap kearah Risda dengan tajam, hal itu membuat Risda hanya menyengir kepadanya.


"Pulang sekarang!" Perintah Afrenzo kepada Risda.


"Tapi motor gue mati," Ucap Risda beralasan.


Selalu saja ketika waktunya untuk pulang kerumah, Risda sepertinya tidak ingin untuk cepat cepat pulang. Dirinya merasa nyaman berada diarea aula beladiri, bahkan dirinya seperti sudah menganggap tempat itu sebagai rumah kedua baginya.


"Banyak alasan."


"Dirumah kagak enak banget, Renzo. Rumah gue hawanya panas banget, kalo disini kan dingin."


"Lo itu perempuan...."


"Iya gue tau itu. Perempuan itu kodratnya didalam rumah kan? Tapi kalo perempuan yang kagak punya rumah seperti gue, gimana? Dirumah gue terus terusan tertekan, Renzo. Gue bahkan rasanya seperti tidak ingin pulang lagi,"


Belum sempat Afrenzo menyelesaikan perkataannya, Risda sudah tau apa yang akan dikatakan olehnya. Ucapan itu langsung membuat Risda kembali terlihat sedih, bahkan tidak ada teman yang bisa diajak berbicara ketika dirumah.


Ketika dirinya berada disekolah masih ada teman teman barunya yang bisa diajaknya berbicara, ketika diaula beladiri ada Afrenzo yang bisa diajak bercanda meskipun tanpa banyak kata, akan tetapi ketika dirumah? Dirinya sama sekali tidak memiliki teman untuk hanya sekedar mengutarakan keluh kesalnya.


Risda selalu merasa kesepian ketika dirumah, oleh sebabnya mengapa Risda ketika dirumah selalu saja menghabiskan waktunya didalam kamarnya. Ketika hari harinya dirumah, dirinya jarang sekali keluar dari dalam kamarnya, bahkan dirinya kuat untuk seharian berada didalam kamar sendirian.


Hari senin dirinya latihan beladiri, hari selasa mengikuti ekstrakurikuler desain grafis, hari rabu dan kamis pun juga latihan, hari jum'at biasanya dirinya gunakan untuk main bersama dengan teman sekelasnya, hari sabtu dirinya mengikuti ekstrakurikuler tata busana, dan minggunya pun dirinya gunakan untuk latihan private bersama dengan Afrenzo.


Memang dirinya kelihatan jarang sekali dirumah, meskipun begitu sama sekali tidak membuatnya kelelahan. Justru ketika dirinya berada dirumah walaupun hanya sebentar, hal itu langsung membuatnya merasa sakit.


"Seburuk apapun saudara lo, dia akan tetap menjadi saudara lo, Da. Jika kayu yang sudah terbakar lo nyalain api, justru kayunya akan semakin terbakar. Dan untuk memadamkannya maka lo harus jadi air,"


"Gue paham, Renzo. Tapi sangat sulit untuk bisa melakukan itu, apalagi Kakak gue sikapnya seperti itu,"


"Sabar dan didoakan. Semoga Allah segera membuka pintu hatinya,"


"Aamiin,"


"Ya sudah ayo pulang," Ajak Afrenzo.


"Nyalain lagi motor gue."


Afrenzo pun kembali menyalakan motor milik Risda, dan langsung mendorong motor tersebut dari standart duanya. Hal itu membuat Risda tidak bisa lagi untuk memutar gasnya dengan cepat atau motornya akan hilang kendali.


Keduanya pun bergegas untuk menuju kerumah mereka masing masing setelahnya. Risda dan Afrenzo langsung berpisah jalan karena menuju kerumah masing masing.


*****


Sesampai dirumah, perut Risda langsung berbunyi pertanda minta untuk diisi. Risda pun langsung bergegas untuk mandi, karena dirinya ingin cepat cepat makan setelah mandi.


Ketika selesai mandi, Risda lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk, setelahnya Risda pun menyisir rambutnya. Tiba tiba seorang wanita paruh baya pun masuk kedalam kamar Risda, melihat itu langsung membuat Risda segera menoleh kearahnya.


"Ada apa, Nek?" Tanya Risda kepada Neneknya.


"Habis ini cepat makan. Nasinya tinggal dikit, Ayahmu juga belum makan,"


Mendengar itu membuat Risda hanya berdiam diri, belakang ini memang Sandi selalu meminta makan kepada Ibunya karena dirinya yang tidak kuat untuk bekerja. Neneknya menyuruhnya untuk makan sementara Ayahnya belum makan, bagaimana bisa dirinya makan kalau Ayahnya sendiri belum makan.


"Risda udah makan kok, Nek. Nasinya berikan saja kepada Ayah," Ucap Risda berbohong.


Entah begitu banyak kebohongan yang sering diucapkan oleh Risda, akan tetapi Risda sendiri yang merasakan sakitnya. Sebenarnya perutnya merasa sangat lapar, akan tetapi dirinya tidak tega jika Ayahnya sendiri belum makan.


Prinsip Risda adalah biarkan dirinya sendiri yang berkorban untuk orang lain, asalkan bukan orang lain yang berkorban untuknya. Risda tidak masalah jika tidak kebagian nasi, asalkan Ayahnya bisa mengisi perutnya.


Mungkin kebanyakan orang tua tidak akan tega untuk melihat anaknya kelaparan, justru Risda tidak tega jika melihat Ayahnya sendiri tengah kelaparan.


"Tadi Risda makan apa?" Tanya Neneknya curiga.


"Tadi sudah beli sama teman teman yang lainnya juga kok,"


"Beneran?"


"Iya Nek, sudah kasihkan saja kepada Ayah."

__ADS_1


"Iya."


__ADS_2