
Risda tengah mengaca didepan kaca yang ada didalam kamar mandi wanita untuk membenahi jilbabnya, karena sekolahnya yang mayoritas islam tersebut membuat setiap murid harus memakai jilbab.
Risda yang biasanya berpakaian pendek dan ngak pakai jilbab tersebut harus dipaksa untuk memakai pakaian panjang dan berjilbab, wajahnya terlihat sendu seraya menatap kearah kaca yang ada didepannya.
"Lo hanya beban Ris, ngak pantas bahagia, apa sih yang lo harapin untuk terus hidup? Kagak ada kan? Kenapa lo masih aja hidup"
Memang fisiknya masih terlihat baik baik saja akan tetapi sebenarnya Risda begitu rapuh ketika mendengar kata beban yang dilontarkan oleh Kakak perempuannya itu, dan hal itu menjadi beban pikiran untuknya.
*Flash back on*
"Jadi anak itu harus berguna, jangan hanya jadi beban! Untuk apa lo ikut ikutan beladiri kayak gitu, ngak penting, mending lo cari kerjaan! Biar dapat uang dan ngak nyusahin mulu"
"Tapi Risda masih sekolah Kak!" Teriak Risda yang lelah karena setelah latihan justru dirinya mendapatkan omelan.
"Lo itu hanya beban bagi Ibu, nghabis habisi duit aja, sadar! Lo itu hanya numpang disini, ngak usah ikut ikutan beladiri lagi, ngak penting juga"
"Terserah Risda mau ikut beladiri atau ngak, itu urusan Risda bukan urusanmu!" Sentak Risda.
*Flash back off*
Risda lalu mengepalkan tangannya jika teringat masalah yang menimpanya itu, sejak tinggal bersama dengan Kakak itu, Kakaknya selalu ikut campur dalam urusannya kedua tangannya tengah terkepal saat ini ketika mengingat itu.
"Lo kenapa Ris?" Tanya Mira yang ngak sengaja masuk kearea kamar mandi wanita dan melihat Risda dengan linangan air mata.
"Gue ngak papa" Jawab Risda sambil mengusap air mata yang akan menetes dengan kasar.
Setelah menjawab itu, Risda langsung pergi dari hadapan Mira, Mira memandang aneh kearah Risda karena tidak biasanya Risda akan terlihat lemah seperti itu, dan baru kali ini dia melihat Risda akan menumpahkan air matanya.
Risda langsung bergegas menuju kelasnya, ia berlarian sambil mencoba untuk menghapus air mata yang akan mengaliri itu, tanpa sengaja ia kembali menabrak kepada seseorang yang ada didepannya.
"Maaf maaf, gue kagak lihat"
Risda pun menghapus air matanya dengan kasar dan berpura pura bahwa dirinya baik baik saja, ia lalu menoleh kearah wajah orang yang ia tabrak tersebut karena tak kunjung mendapatkan jawaban atau omelan dari orang itu karena telah ia tabrak.
"Renzo" Guman Risda pelan.
"Lo hobi banget nabrak orang" Ucap Afrenzo dengan wajah datar kas dirinya.
"Maaf, gue salah, lo juga sih hobi banget tiba tiba muncul dihadapan gue, udah kayak hantu aja lama lama" Ucapnya sambil menundukkan kepalanya dihadapan Afrenzo.
"Lain kali hati hati" Ucapnya langsung berlalu pergi dari hadapan Risda.
"Siap Pak Pelatih" Jawab Risda seraya mengepalkan tangannya dan menaruhnya didepan dadanya pertanda hormat kepada pelatih.
Risda menoleh sekilas untuk melihat pemuda itu pergi, ia pun hanya mematung ditempatnya seraya memperhatikan kepergiannya itu, Risda lalu menurunkan kepalan tangannya setelah bayangan Afrenzo tak lagi ia lihat.
"Masih sama, tanpa ekspresi, beli ekspresi kayak gitu dimana ya? Kuat banget" Guman Risda pelan dan dia berlalu pergi juga dari tempat itu.
*****
Risda langsung duduk di bangkunya setelah sampai, ia melihat ada sebuah coklat diloker mejanya, dan dia pun mengambil coklat tersebut.
"Punya siapa ini woi!" Teriak Risda seraya mengangkat coklat tersebut tinggi tinggi.
"Itu buat lo" Ucap seseorang dan membuat Risda langsung menoleh kearah orang tersebut.
"Cie cie" Seru setiap siswa yang ada dikelas itu saat ini.
"Makasih, tapi gue bisa beli sendiri" Ucap Risda.
"Gue beliin itu buat lo Ris, makan aja ngak papa, anggap saja sebagai ucapan perkenalan kita" Ucap Satria yang berada tidak jauh darinya.
"Kagak perlu, nih gue kembalikan, gue kagak suka coklat" Ucap Risda seraya menaruh coklat itu didekat Satria.
"Tapi Ris, ini buat lo"
"Atau gini aja, gue bayar coklat itu dan gue akan menerima coklat itu, sebutin berapa harganya, gue ngak mau punya hutang sama orang lain, lain kali jangan gini"
"Iya Ris, gue paham soal itu, maaf"
Risda lalu menyerahkan uang saku yang tersisa didalam saku bajunya itu kepada Satria, setelahnya ia mengambil coklat tersebut dari tangan Satria dan kembali membawanya menuju ke bangkunya.
Tak beberapa lama kemudian datanglah Wulan beserta teman temannya yang lainnya, Wulan langsung duduk di bangkunya yang ada disebelah Risda, ia pun heboh ketika melihat Risda memakan sebuah coklat.
"Minta dong" Ucap Wulan.
"Makan aja kalo mau" Ucap Risda sambil meletakkan coklat itu dimejanya.
"Lo beli dimana coklat ini? Perasaan dikantin kagak ada"
"Gue beli di Satria" Jawab Risda malas.
"Dia jualan?" Tanya Wulan penasaran sambil menatap kearah wajah Risda lekat lekat.
__ADS_1
"Jangan natap gue seperti itu, nanti lo jatuh cinta sama gue loh" Risda lalu menggerakkan tangannya untuk menutup kedua mata Wulan.
"Gelap anjiiiiirr" Umpat Wulan ketika kedua matanya ditutup oleh Risda.
"Yang terang itu harapan gue" Jawab Risda lalu melepaskan pegangan tangannya itu.
"Emang harapan lo apaan? Menjadi lampu?"
"Gue pengen jadi api, biar bisa bakar lo didalamnya"
"Sialan lo Ris"
Risda pun tertawa mendengar umpatan dari sahabatnya itu, sungguh lucu emang, apalagi sampai membuat orang marah adalah hobi Risda yang paling ia gemari.
*****
"Woi pegangan! Kita ngebut!" Teriak Septia.
"Pelan pelan anjaay, lo mau bikin kita jungkir balik apa?" Tanya Risda sambul berpegangan erat pada pinggang Mira.
"Anjjiiirrr, bisa ngak sih jangan teriak di kuping gue? Suara lo udah kayak beldek tau ngak sih" Keluh Mira.
"Maap, gue reflek"
"Reflek sih reflek, jangan teriak teriak napa!"
"Lo juga teriak anjiiiirrr, minta ditabok nih bocah!"
Teriakan ketiganya itu sontak membuat perhatian semua orang tertuju kepada mereka, melihat itu membuat Rania yang tengah duduk ditempat duduk yang ada didepan kelas bersama dengan Nanda hanya bisa menepuk jidatnya.
"Temen lo tuh udah kayak anak TK aja" Ucap Rania.
"Temen lo juga anjiiirrr, kenapa coba kita bisa punya temen kayak gitu?" Umpat Nanda.
"Gue kagak ngakui dia temen gue, bikin malu aja"
"Sama"
Keduanya tidak habis pikir dengan ketiga temannya itu, bagaimana tidak? Daun pohon palem yang jatuh pun digunakan tarik tarikan oleh ketiganya, Septia sebagai yang narik sementara Mira dan Risda bagian yang menaiki.
Karena lantai didepan kelas mereka licin sehingga dengan mudah Septia menarik daun pohon palem itu, bener bener kayak anak TK, karena masih musim istirahat jadi seluruh siswa berada diluar kelas, yang ketiganya lakukan itu menarik perhatian semuanya.
"Wiu wiu wiu... kereta berjalan! Tia, lebih cepat lagi" Teriak Risda kegirangan.
"Berhenti kalo gitu, biar gue aja Tia" Ucap Risda.
"Yakin lo kuat?"
"Ya elah, gue bukan cewek lemah kali"
Septia pun menghentikan larinya, Risda lalu turun dari ujung daun itu, dan langsung memegangi ujung daun yang lainnya, sementara Septia langsung duduk ditempat Risda sebelumnya.
"Ok, siap?" Tanya Risda.
"Siap guys!" Teriak Septia dan Mira bersamaan.
Risda lalu menariknya dengan berlari dilorong sekolahan itu, mereka bertiga pun kembali tertawa dengan kerasnya, sementara disatu sisi Afrenzo tengah menatap kearah ketiganya dari kejauhan, ia pun tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak pernah diperlihatkan diwajahnya.
"Cewek aneh" Guman Afrenzo.
Afrenzo melipat kedua tangannya didepan dadanya seraya bersandar pada tembok yang ada dikejauhan, hal itu seketika membuat Afrenzo teringat pada masalalunya.
Ia tidak mau memikirkan hal itu balik, ia pun menggeleng gelengkan kepalanya seraya menepis pikirannya itu, ia kembali fokus untuk menyaksikan canda tawa ketiga orang itu.
Dari sanalah Risda bisa tertawa dengan kerasnya, dibalik tawa tersebut ada luka yang berusaha untuk dirinya tutupi, orang yang tertawanya paling keras adalah orang memiliki luka yang teramat dalam dan orang yang menangis terlalu keras.
"Renzo" Tiba tiba seseorang memanggilnya dan membuat ekspresi Afrenzo kembali datar.
"Hem?" Hanya deheman sebagai jawaban dari Afrenzo.
"Kumpul diruang OSIS sekarang, kita akan mengadakan rapat untuk calon anggota OSIS baru, dan kapan diadakannya pemilihan ketua OSIS baru" Ucapnya lagi, pemuda itu adalah ketua OSIS lama.
Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya pelan, ia langsung bergegas pergi dari tempat itu untuk menuju keruangan OSIS, para anggota OSIS lainnya pun menyebar untuk mengumpulkan calon anggota OSIS baru.
Hal itu langsung menghentikan ketiga orang itu bersenang senang, karena Mira dan Septia mengajukan diri sebagai anggota OSIS, sehingga keduanya harus berkumpul juga.
"Kenapa cemberut?" Tanya Rania ketika melihat Risda berjalan kearahnya dengan wajah yang ditekuk.
"Bosen, mereka kumpul diruang OSIS" Jawab Risda dan langsung duduk diantara kedua orang itu.
"Uluh uluh kasihannya" Ucap Nanda.
*****
__ADS_1
Risda kini berada dikelasnya sambil melihat kearah ponselnya, karena jam sudah menunjukkan pulang sekolah sehingga ia bebas untuk menyalakan ponselnya itu, ia menatap sebuah foto yang ada didalam ponselnya.
"Kapan pulang? Risda juga ingin merasakan kasih sayang keluarga, dimana kalian berdua disaat Risda membutuhkan kalian? Risda kangen" Setetes air mata meluncur dari pipi Risda.
Risda pun mematikan ponselnya dan menghapus air matanya ketika merasakan ada seseorang yang tengah membuka pintu kelasnya itu, itu adalah Satria yang memang sekelas dengan Risda.
"Lo sudah makan Ris?" Tanya Satria.
"Udah, kenapa emang?"
"Mau gue ajak makan diluar, ya sudah kalo lo sudah makan, belajar beladiri itu harus makan lebih dulu biar ngak semaput ( Pingsan )"
"Emang ada ya seperti itu?"
"Lo baru pertama ikut dan belom terlalu kenal dengan Renzo, Renzo tidak segan segan membuat orang cidera dengan metode pelatihannya itu, tapi siswanya tidak pernah gagal, banyak kok yang diantaranya bisa meraih juara turnamen beladiri, maka dari itu dia bisa melatih diusia yang masih setara dengan kita"
"Emang lo ikut latihan sejak kapan? Kok lo bisa tau tentang perguruan yang ada disini? Apalagi dengan pemuda es itu"
"Renzo sejak kecil sudah dilatih beladiri, dan gue sudah 1 tahun yang lalu ikut beladiri ini, Bokap gue kan nyuruh sekolah disini biar gue pandai agama, jadi sejak SMP gue juga sudah nyari nyari informasi tentang sekolah ini, dan gue tertarik dengan beladirinya karena banyak siswa yang berhasil meraih prestasi, jadi gue ikut meskipun masih sekolah SMP, kan beladiri ini juga untuk umum"
"Ouh seperti itu, apakah Renzo emang udah dingin sejak dulu? Ngomong aja jawabannya cuma singkat doang"
"Emang gitu orangnya, ngak pernah berubah, mungkin sejak lahir udah gitu kali ya, sangat misterius, tapi lo jangan sekali kali bilang kedia kalo lo tau tentang hidupnya, bisa bisa mati dihajar lo"
"Ngomong gitu aja langsung dihajar?"
"Iya, bahkan Kakak kelas semuanya juga sudah kenal dengan dia, jadi sekali ditatap tajam olehnya, pasti mereka jadi takut, eh kenapa lo jadi penasaran dengan dia?"
"Ngak papa, gue hanya pengen tau aja, kok bisa gitu dia punya wajah datar yang tahan lama, anti badai, anti petir dan semuanya anti"
"Ekspresinya cuma 2 doang, datar sama marah, selain itu kayaknya ngak ada, ya sudah gue mau beli makan dulu, mau nitip sekalian ngak?"
"Ngak usah, gue ngak lapar kok"
"Ya sudah kalo gitu, gue tinggal ya, setelah ini lo langsung aja ke aula beladiri"
"Iya"
Satria langsung bergegas pergi meninggalkan kelas tersebut, sementara Risda kembali membenamkan wajahnya pada kedua tangannya yang dilipat dibangkunya itu, kesunyian kembali menyelimutinya.
Setelah cukup lama akhirnya dirinya keluar dari kelasnya untuk menuju keruang latihan beladiri, disana ia mendapati Afrenzo yang tengah duduk disebuah kursi sambil menyandarkan punggungnya ditembok seraya memejamkan kedua matanya.
Risda perlahan lahan mendekat kearah Afrenzo yang tengah tertidur itu, ia memandangi wajah Afrenzo yang terlihat tenang itu, pun membuat Risda terpanah, memang benar yang dikatakan oleh Wulan bahwa Afrenzo itu tampan.
Jarak Risda dan Afrenzo kini semakin dekat, akan tetapi siapa sangka ketika Risda ingin membangunnya tiba tiba Afrenzo langsung menyerangnya begitu saja dan reflek mengunci tangan Risda kebelakang.
"Akh... Maaf Pak Pelatih" Ucap Risda menjerit karena sakit ketika tangannya dikunci tiba tiba.
Mendengar teriakan Risda membuat Afrenzo segera melepaskan kunciannya itu, seperti tanpa rasa bersalah dirinya pun kembali duduk ditempatnya semula, Risda langsung memegangi tangan yang sakit karena ulah Afrenzo itu.
"Kenapa lo tiba tiba menyerang gue, sakit tau" Keluh Risda.
"Reflek" Jawab Afrenzo singkat.
"Ngak begini juga kali, untung tangan gue kagak putus, kalo putus emang lo mau ganti ha? Kalo ngak lo ganti buntung dong gue"
"Maaf"
"Ha? Jangan minta maaf sepertinya itu, suara lo nyeremin tau, gue jadi merinding dengernya"
Risda yang mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Afrenzo itu pun merasa merinding dengan lelaki yang ada didepannya itu, ia tidak menyangka bahwa Afrenzo juga bisa mengatakan maaf kepadanya, padahal sejak ia kenal, Afrenzo tidak pernah mengatakan itu kepadanya.
Afrenzo pun tidak menjawab, memang kebiasaannya yang selalu diam itu pun berakhir dengan dirinya yang tidak menjawab ucapan siapapun, Risda hanya menghela nafas beratnya saja.
Risda hanya berdiam diri ditempat itu karena ia merasa canggung dengan keberadaan dari Afrenzo yang sama diamnya, definisi kulkas berjalan yang sesungguhnya.
"Renzo" Panggil Risda untuk mengurangi rasa canggungnya.
Panggilan dari Risda tersebut langsung mendapatkan tatapan tajam dari Afrenzo, hal itu membuat Risda hanya bisa menyengir ketika ditatap seperti itu oleh Afrenzo si kulkas berjalan itu.
"Bisa ngak sih jangan natap gue kayak begitu, lo itu nyeremin tingkat dewa banget, udah dingin, tatapan tajam kek singa, gue kan jadi takut sama lo" Ucap Risda ngeri ketika melihat tatapan Afrenzo.
"Ada apa?" Jawab Afrenzo masih tetap dingin.
"Minuman lo yang ketinggalan dikantin tadi gue minum, habisnya uang saku gue habis jadi gue ngak bisa beli minum, ngak papa kan?" Ucap Risda pelan pelan karena takut Afrenzo akan marah kepadanya.
"Hem" Hanya dibalas dengan deheman disertai anggukan kecil.
"Makasih ya, tapi kok rasanya ngak dingin? Udah lama kah? Tapi masih enak kok"
"Ngak boleh minun es"
"Pantesan ngak dingin, ngak boleh minum es tapi sikap lo udah kayak es, pantes saja ngak boleh minum es, makin beku nantinya" Guman Risda dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Afrenzo.
__ADS_1
Melihat itu hanya membuat Risda langsung menyengir, biasanya siapapun yang mendapatkan tatapan tajam darinya langsung ketakutan akan tetapi beda lagi dengan Risda yang justru hanya menyengir saja.