Pelatihku

Pelatihku
Episode 69


__ADS_3

Risda melihat kearah Afrenzo, Afrenzo sepertinya terlihat sangat kecewa kepada pesilat putra yang ada dibawah bimbingannya itu. Afrenzo terlihat seperti tengah mengomentari sesuatu, dan Risda pun melihat Afrenzo menampar keras pipi lelaki yang ada didepannya itu.


"Loh kok gitu?" Tanya Risda ketika melihat Afrenzo menamparnya.


"Biasalah, Da. Lo baru lihat kali ini kan? Semakin lo mengenal area pertandingan, maka lo akan semakin paham dengan apa yang dilakukan oleh seorang pelatih beladiri. Gue bisa maklum kok kalo lo emang baru pertama kali melihatnya," Ucap Fika sedikit cengengesan.


"Emang pelatih harus nampar siswanya begitu? Bukankah ini bisa dikatakan sebagai tindakan kekerasan?"


"Dalam dunia beladiri kagak ada hal seperti itu, kagak ada yang bisa disebut sebagai kekerasan, Da. Itu adalah cara seorang pelatih untuk menggembleng siswanya, jika dia sulit untuk dibilangi maka pelatih berhak untuk menamparnya. Beladiri itu keras, jadi apapun itu tidak bisa dibilang kekerasan dalam beladiri,"


"Memang harus seperti itu ya? Kasihan dong kalo yang ditampar begitu."


"Astaga Risda! Lo kok kagak paham sama sekali sih, bukankah lo sejak tadi memerhatikan gerakan peserta itu ya? Kok lo belom paham sih?"


"Fik Fika, bagaimana gue bisa paham secepat itu? Gue aja masih 1 bulanan ikut beladiri, lagian gue juga baru belajar dasaran saja. Gue ngak kayak lo yang udah ikut lama, jangan bandingin gue sama lo,"


Risda dan Fika pun kembali menatap kearah gelanggang. Setelah mendapatkan tamparan dari Afrenzo, pemuda itu seakan akan menjadi sangat lincah daripada sebelumnya, Afrenzo terus memberi arahan tentang gerakan yang harus dilakukan oleh pemuda tersebut.


Risda pun merasa kagum dengan Afrenzo saat ini, pantas saja dirinya bisa disebut sebagai pelatih termuda, karena dirinya mampu untuk membawa siswa bimbingannya menuju juara. Papa dan Mamanya Afrenzo adalah seorang pasangan pesilat yang berbeda organisasi, dan keduanya pernah menjuarai tingkat nasional.


Entah kenapa, Papanya tidak suka melihat Afrenzo berlatih beladiri dan menyuruhnya untuk lebih fokus kepada bisnis yang dirintis sejak kecil hingga sebesar saat ini. Afrenzo sendiri tidak terlalu menyukai dunia bisnis dan dirinya lebih menyukai dunia atlit, karena baginya menjadi seorang atlit adalah idamannya sejak dahulu.


"Keputusan pemenang! Jatuh kepada sudut..... Merah!" Seru seorang juri wanita.


Risda pun melihat para juri mengangkat bendera merah, yang artinya pemenang tersebut adalah disudut merah. Tempat dimana Afrenzo berada, seluruh penonton pun bersorak gembira melihatnya, ini adalah babak permulaan sehingga masih banyak babak yang harus dimenangkan untuk menjadi juara.


Gelanggang itu berbentuk persegi dan memiliki empat sudut, kedua sudut ditempati oleh kedua peserta dan official yang membimbing mereka, sementara dua lainnya digunakan untuk peserta yang mendapatkan kartu kuning / peringatan karena membuat lawannya cidera parah.


Setelah pertandingan tersebut, Afrenzo beserta muridnya itu pun bergegas untuk turun dari gelanggang. Melihat itu langsung membuat Fika dan Risda bergegas untuk mendatanginya, keduanya langsung turun dari podium untuk menuju ke arena yang ada dibawah.


"Ehhh... Ngapain kalian berdua kemari?" Tanya Fandi sambil menghadang keduanya.


"Gue mau ketemu sama Renzo, ngapain lo ngehalangin gue?" Tanya Risda sewot.


"Ini bukan area umum yang bisa didatangi oleh siapa saja, kalian bukan peserta jadi dilarang masuk," Pungkas Fandi kepada keduanya.


"Tapikan kita juga bagian dari beladiri, lo ngak bisa ngehalangin kita gitu aja,"


"Ngak boleh ya ngak boleh!"


Keduanya pun tengah bertengkar saat ini, tiba tiba Afrenzo pun mendekat kearah keduanya yang tengah bertengkar itu. Afrenzo berdehem sangat keras hingga membuat keduanya langsung berhenti berdebat saat itu juga, Risda dan Fandi terlihat seperti kucing dan tikus, dan tidak pernah ada akurnya.


"Ada apa ini?" Tanya Afrenzo kepada Fandi.


"Dia memaksa masuk ke arena gelanggang, padahal selain perserta dilarang masuk," Ucap Fandi.


"Apa salahnya coba? Gue kan pengen lihat langsung," Sela Risda.


"Kagak bisa woi! Lo itu bukan peserta jadi untuk apa lo masuk?" Fandi pun melotot kepada Risda yang memang tidak bisa dibilangi dengan sabarnya itu.


"Sebentar lagi pertandingan akan berhenti, kita cari makan dulu," Ucap Afrenzo yang menghentikan pertengkaran kedua insan itu.


Afrenzo pun bergegas keluar dari halaman itu, beberapa siswa yang ikut bertanding dibawah bimbingannya itu pun juga ikut serta mengikuti langkah Afrenzo. Risda dan Fika yang tidak mau ketinggalan itu pun langsung bergegas untuk berlari mengejar mereka.


"Renzo tungguin!" Teriak Risda sambil berlari.


"Ngak sopan banget sih jadi orang, dia itu Pelatih disini, seharusnya panggil Pelatih bukan namanya. Dasar cewek aneh!" Umpat seorang pemuda yang tengah berjalan dibelakang Afrenzo.


"Gue kagak ada urusan sama lo, dih sok ngatur gue lagi," Ucap Risda dengan sebalnya.


"Nih bocah emang belom pernah kena tendangan kali, nanti sekali kena aja pasti langsung nangis,"


"Bodoamat wek!" Risda pun menjulurkan lidahnya untuk mengejek pemuda tersebut.


"Da, jangan berisik," Ucap Afrenzo dan langsung membuat Risda berdiam diri.


Risda pun menganggukkan kepalanya dengan patuh, dirinya pun melirik kearah pemuda tersebut dan mengejeknya. Ia pun mendorong tubuh pemuda yang lainnya untuk memberinya jalan agar bisa berjalan dibelakang Afrenzo.


"Renzo," Panggil Risda.


"Hem.." Jawabnya hanya berdehem saja, akan tetapi terus melangkahkan kakinya.


"Cewek tadi siapa?" Tanya Risda.


"Cewek mana?"


"Yang sama lo tadi, yang duduk disudut gelanggang sama lo. Dia cantik banget, gue jadi pengen kenalan sama dia,"

__ADS_1


"Oh itu, dia murid gue tapi dicabang yang berbeda, dan baru diangkat menjadi pelatih beberapa hari yang lalu."


"Kenapa dia ngak ikut nyari makan?"


"Siswanya masih bertanding dibabak ini, jadi kita duluan."


"Oh.. Seperti itu,"


Risda pikir bahwa dirinya telah diperlakukan dengan beda oleh Afrenzo, akan tetapi disatu sisi dirinya juga terlihat akrab dengan wanita lainnya. Ada perasaan yang aneh tengah Risda rasakan saat ini, dia mendadak tidak suka jika Afrenzo berdekatan dengan wanita lainnya meskipun itu adalah siswanya sendiri.


Mereka berjalan ditrotoar yang ada didepan GOR tempat dimana pertandingan beladiri itu diadakan. Mereka semua berhenti disebuah warung yang bertuliskan 'Soto ayam kampung' disebuah plakat didepan warung.


Afrenzo lalu mengajak mereka semua untuk masuk kedalamnya, ada sekitar 15 orang termasuk juga Afrenzo dan Risda yang masuk kedalam warung tersebut.


"Minumnya apa?" Tanya penjual soto ayam itu kepada ke 15 orang itu.


"Teh hangat!" Jawab mereka serempak.


"Air putih," Jawab Afrenzo.


"Jeruk hangat," Jawab Risda seorang.


"Kenapa lo beda sendiri sih, Da? Bikin susah aja ngurusi pesenan lo," Tanya Fandi.


"Gue ngak suka teh, kalo gue minum teh rasanya pengen mual. Emang lo mau gue mutah mutah? Terus mutah dibaju lo?" Tanya Risda balik dengan nada ketusnya.


"Ngak sopan,"


"Biarin! Gue kagak peduli,"


Lagi lagi mereka berdua itu bertengkar, memang seperti tikus dan kucing jika mereka saling bertemu. Entah apapun itu bisa menjadi bahan perdebatan mereka berdua, bahkan soal minum saja sudah mampu menciptakan perdebatan diantara keduanya itu.


Afrenzo hanya menggeleng gelengkan kepalanya pelan mendengar perdebatan itu, tak beberapa lama kemudian akhirnya pesanan mereka pun tiba. Mereka semua pun menikmati lezatnya soto ayam itu, rasanya benar benar lezat dan nikmat.


Mereka pun telah menghabiskan semangkuk soto mereka masing masing, dan menghabiskan minuman yang telah mereka beli. Pertandingan itu berhenti 2 jam untuk mempersiapkan atlit yang akan masuk kebahak selanjutnya itu.


"Setelah ini kalian berdua pulang," Ucap Afrenzo kepada Fika dan Risda.


"Kenapa?" Tanya Fika keheranan.


"Pukul berapa sekarang?" Tanya Risda.


"Kalo besok jam berapa mulainya?" Tanya Risda lagi.


"Sekitaran jam 8 pagi, dan selesainya insya Allah pukul 5 sore."


"Baiklah, kita akan kembali besok,"


Setelah itu, Afrenzo dan siswanya kembali masuk kedalam gedung dimana lomba diadakan, sementara Risda dan Fika langsung bergegas untuk menuju kearah parkiran yang ada di halaman gedung itu. Keduanya langsung bergegas untuk meninggalkan halaman gedung tersebut untuk menuju kerumah mereka masing masing.


*****


"Oh my God! Cucian gue banyak banget anjiiirrr! Bagaimana gue bisa datang nonton pertandingan tepat waktu kalo begini ceritanya?"


Pagi ini Risda bangun ketika matahari sudah terbit, ia pun melihat kearah keranjang pakaian kotornya itu. Begitu menumpuk pakaiannya saat ini dan disana juga ada seragam sekolahnya dihari senin sampai sabtu belum dirinya cuci.


Karena dirinya tidak memiliki mesin cuci ataupun dekat dengan laundry, sehingga Risda harus mencucinya sendiri dengan tangannya. Risda kalau cuci baju akan menghabiskan waktu berjam jam lamanya, tergantung banyaknya pakaian yang harus dirinya cuci.


Terlihat seperti gunung kelud pakaian yang ada didalam keranjang pakaian kotornya itu, melihatnya saja sudah membuat Risda merasa lelah sebelum mencucinya. Ia pun langsung membawa pakaiannya itu kearah sumur yang ada didekat rumahnya, ia lalu merendam pakaian tersebut disebuah bak yang berisi air bersih.


"Sial! Sabun gue juga habis lagi," Umpat Risda dengan sebalnya.


Risda lupa tidak membeli sabun kemarin, padahal dirinya sudah merencanakan kalau pulang dari menyaksikan pertandingan beladiri, dirinya akan mampir ditoko yang ada agak jauh dari rumahnya itu. Karena buru buru agar sampai rumah, dirinya pun melupakan hal yang penting itu.


"Kalo begini ceritanya, gue ngak akan bisa nonton tepat waktu."


Risda pun kembali masuk kedalam rumahnya, ia mengambil kunci motornya itu, setelahnya dirinya pun melajukan motornya untuk pergi dari halaman rumahnya. Risda yang kebiasaan memakai celana diatas lututnya itu pun tanpa memedulikan pandangan warga sekitarnya.


"Pak sabun cuci baju satu," Ucap Risda memesan.


"Yang ukurannya berapa?"


"Yang kecil aja, Pak. Uang saya ngak cukup nanti,"


"Baiklah."


Penjual tersebut langsung menyiapkan apa yang dibeli oleh Risda itu, setelahnya Risda kembali melajukan motornya untuk menuju kerunahnya. Dirinya pun langsung memulai ritual membersihkan pakaian kotornya itu, rasanya lelah sangat lelah ketika dirinya mencuci pakaiannya itu.

__ADS_1


Cukup lama dirinya mencuci akhinya cuciannya telah selesai juga, ia pun langsung menjemurnya dibawah terik matahari pagi. Setelahnya dirinya langsung bergegas menuju kekamarnya untuk melihat jam yang tertera dilayar ponsel miliknya itu.


"Ha! Sudah jam setengah sebelas siang? Gue telat nonton!" Teriak Risda frustasi.


Begitu banyak panggilan masuk dari nomor milik Fika tertera disana, dirinya benar benar telat saat ini. Bahkan Fika pun mengirimkan pesan keadaanya, Risda lalu membacanya.


...Isi pesan dari Fika :...


Da jadi kagak?


Woi bales dong!


Ini jadi berangkat atau ngak sih? Udah jam segini lagi, lo dimana woi?


Kalo kagak yaudah gue berangkat sendiri


eh ada Dion yang ikut juga


Da


Yaudah gue berangkat sekarang!


^^^Yah kok gue ditinggalin sih?^^^


^^^Fik tungguin gue lah^^^


...----------------...


Setelah mengirim pesan terkahir kepada Risda, saat itu juga ponselnya tidak bisa dihubungi. Bahkan balasan dari Risda pun tidak dilihat olehnya saat ini, itu artinya Fika benar benar telah meninggalkan dirinya untuk pergi melihat pertandingan sendiri.


"Ya elah, gue ditinggalin lagi."


Risda pun melempar ponselnya kesembarangan arah, dirinya pun langsung merebahkan tubuhnya yang kelelahan itu diatas kasur kamarnya. Acara untuk menyaksikan pertandingan beladiri itu telah lenyap bagi Risda, ia tidak jadi berangkat untuk melihatnya saat ini.


Dengan kelelahan itu pun langsung membuat Risda hanyut kedalam mimpinya sendiri, ia benar benar merasa kelelahan saat ini, dan hal itu langsung membuat tidurnya terlihat sangat nyenyak.


*****


Risda bangun ketika waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, dirinya langsung buru buru untuk mengangkat jemurannya itu dan melipatnya, setelah itu dirinya masukkan kembali kedalam lemari miliknya.


"Kira kira siapa yang menang ya? Gue lupa kagak punya nomer Renzo, kalo punya pasti gue langsung tanya kedia."


Risda masih membayangkan pertandingan yang dirinya lihat kemarin itu, tentang bagaimana jalannya secara pertandingan, tentang bagaimana Afrenzo menampar siswanya sendiri, tentang Afrenzo yang tengah mengarahkan siswanya itu.


Risda lalu membuka ponsel milinya itu, diri melihat begitu banyak pesan masuk dari grubnya itu. Didalam grub tersebut hanya ada dirinya, Mira, Rania, Septia, dan Nanda saja.


...Pesan grub :...


Mira : Ngak ada info sekarang? kali aja ada ngopi ngopi


Rania : Emang lo ada uang?


Septia : Gue mau kalo Mira yang bayarin


Rania : Betul tuh, kali seperti itu gue juga mau


Nanda : Woi rame mulu, ada apa'an?


^^^Risda : Info bunuh orang?^^^


Mira : Mau jadi psikopat lo, Da?


Septia : Gila emang nih anak


^^^Risda : Emang gila sejak lama^^^


...----------------...


Risda pun tengah sibuk berbalaskan pesan dengan teman temannya itu, dirinya benar benar gabut saat ini. Ia ketinggalan acara pertandingan beladiri, cuciannya numpuk banyak, dan lagi Mira justru malah mengajaknya untuk ke cafee.


Benar benar hari minggu yang melelahkan dan sekaligus membosankan saat ini. Dirinya tidak tau hal apa yang bisa dirinya lakukan selain merebahkan tubuhnya yang kelelahan itu.


*****


"Nda, ponsel lo jadi kagak ketemu?" Tanya Risda yang saat ini tengah berada didalam kelasnya.


"Ngak ada, Da. Sampe pusing gue nyarinya tapi kagak ketemu ketemu juga," Ucap Nanda.

__ADS_1


Kali ini Kartika tidak masuk sekolah, Tantenya mengirimkan sebuah surat yang bertuliskan bahwa Kartika sedang sakit sehingga tidak bisa mengikuti pelajaran dihari ini.


"Mau main main ternyata nih orang? Maaf Tika bukannya gue nuduh lo, tapi dengan cara seperti ini membuat gue makin curiga sama lo," Batin Risda menjerit meskipun dengsn wajah tersenyum.


__ADS_2