Pelatihku

Pelatihku
Episode 132


__ADS_3

Risda menyampaikan apa yang diberitahukan oleh Afrenzo kepada teman temannya, bahwa sekolah itu akan mengadakan sebuah perlombaan yang wajib diikuti oleh seluruh siswa. Sebenarnya, Afrenzo tidak menyuruhnya untuk mengatakan kepada teman temannya, akan tetapi ya begitulah namanya Risda yang akan heboh ketika ada kabar membahagiakan.


Teman temannya pun juga ikut serta merasa heboh, apalagi mendengar kabar seperti itu dari mulut Risda. Entah sejak kapan gadis itu peduli dengan acara sekolahan seperti ini, tidak biasanya dirinya seantusias begini.


Bukan kabar yang disampaikan oleh Risda yang membuat mereka terkejut, akan tetapi tentang seseorang yang menyampaikan kabar itu. Entah itu benar atau tidaknya, mereka tidak percaya dengan ucapan Risda.


Jika kabar itu memang benar, artinya mereka harus bersiap siap untuk pemilihan peserta yang harus mengikuti lomba itu. Akan tetapi jika kabar itu tidak benar, maka mereka akan malu sendiri jika terlalu berantusias tanpa adanya pemberitahuan dari anggota OSIS.


"Yang bener aja lo, Da. Kok nggak ada yang ngasih tau?" Tanya Mira yang tidak percaya, karena dirinya juga adalah anggota OSIS, akan tetapi tidak ada yang memberitahukan soal ini kepadanya.


"Iya nih, bohong itu dosa lo, Da. Emang lo mau berdosa?" Tanya Septia yang setuju dengan perkataan dari Mira.


"Beneran, Renzo sendiri yang bilang ke gue tadi. Masak kalian kagak percaya sih sama gue?" Tanya Risda dengan wajah sebalnya karena teman temannya tidak memercayai ucapannya itu.


"Bukannya kita kagak percaya, Da. Emang lo ada buktinya?" Sela Rania yang ikut bertanya.


"Tanya aja sendiri noh sama ketua OSIS." Pungkas Risda kesal.


Entah mengapa, mereka selalu tertawa ketika melihat wajah kesal Risda yang terlihat lucu bagi semuanya. Ditengah tengah tawaan mereka, tiba tiba salah satu anggota OSIS pun masuk kedalam kelasnya itu, dan menyuruh seluruh anggota OSIS untuk berkumpul diruang OSIS.


Septia, Mira, David, dan Abdul pun bergegas untuk menuju keruangan OSIS. Karena dikelasnya hanya ada 4 orang yang ikut menjadi bagian dari OSIS itu, sehingga hanya 4 orang saja yang ikut berkumpul.


Kelas tersebut nampak terlihat sepi ketika Mira dan Septia menuju keruang OSIS, karena hanya dua orang itu saja yang mampu membuat suasana kelas menjadi ceria bagi Risda. Karena yang lainnya kalau bercanda tidak seheboh kedua orang itu, dan ketiganya adalah bocah TK yang nyayar di SMA.


"Ran, lo bohong sama gue ya?" Tanya Risda sambil mencerucutkan bibirnya.


Dirinya pun teringat dengan ucapan Rania sebelumnya, yang katanya Risda dicariin oleh Afrenzo. Akan tetapi, Afrenzo sama sekali tidak mencarinya sebelumnya itu, karena lelaki itu tengah sibuk diruang OSIS.


"Bohong soal apa? Perasaan gue kagak bohong sama lo deh, Da. Masak sih gue bohong?" Tanya Rania yang tidak paham dengan arah pembicaraan dari Risda.


"Soal Renzo, lo bilang tadi dirinya nyariin gue. Tapi dia kagak kemari kan?" Tanya Risda sambil menuding wajah Rania.


"Hahaha..."


Rania justru tertawa ketika Risda menudingnya seperti itu, ternyata Risda benar benar menanyakan itu kepada Afrenzo. Memang Rania berbohong kepada Risda soal itu, agar Risda tidak tidur terus terusan didalam kelasnya.


Risda merasa sangat jengkel dengan kelakuan dari Rania, bisa bisanya dirinya mempermainkannya seperti itu, apalagi menyangkut soal Afrenzo. Dirinya telah membuatnya malu dihadapan Afrenzo, yang berpikir bahwa Risda begitu kepedean sehingga mengira bahwa Afrenzo mendatanginya dikelas.


"Diem lo!" Sentak Risda yang semakin kesal mendengar tawa tadi Rania.


"Sumpah, Da. Lo lucu banget tau,"


"Lo mempermainkan harga diri gue tau dihadapan Renzo, kan dia ngiranya kalo gue terlalu pede dicariin,"


"Halah halah, sekali kali aja tau, Da. Kapan lagi lo bisa ngerasa sepede itu?"


"Diem lo. Gue malu banget tau pas ngomong sama dia, apalagi lihat wajah dinginnya yang bingung itu,"


"Lo juga seneng kan kalo ketemu dia? Ngaku aja kali,"


"Iya juga sih. Tapi kagak gini juga caranya woi, mau ditaruh dimana muka gue?"


Risda terus mengomeli Rania, kedua gadis itu seakan akan saling bersahutan untuk berbicara. Mendengar berdebatan mereka, membuat seluruh siswa yang ada didalam kelas tersebut pun menghela nafas karena keduanya membuat keributan didalam kelas.


"Woi bisa diem nggak sih?" Tanya Farhan dengan kesalnya.


"Diem lo, ngapain lo ikut ikutan?" Tanya Risda dengan sensinya kepada Farhan.


"Ngangguin gue vidio call aja kalian, kalo mau berisik mending diluar sana,"


"Tumben lo vidio call an segala lagi, emang udah punya pacar?" Tanya Rania keheranan sambil terkekeh pelan mendengar ucapan dari Farhan.


"Ngece lo?"


"Bisa pacar orang, dia yang ngaku ngaku," Sela Risda.


Memang itulah kebiasaan dari Risda, meskipun bertengkar apapun dengan teman temannya, dirinya tidak memasukkan perkataan temannya dihatinya. Sehingga dengan mudah mereka bisa berkawan lagi, dan bahkan seakan akan tidak ada perdebatan sebelumnya.


"Brengs*k lo, Da."


Risda pun berjalan kearah dimana Farhan berada, memang sebelumnya mereka pernah bermusuhan akan tetapi permusuhan itu tidak sampai berlarut larut. Risda pun langsung menampakkan wajahnya dikamera, nampak terlihat sosok seorang gadis yang berada didalam layar ponsel itu.

__ADS_1


Farhan memang tidak berbohong soal vidio call nya dengan seorang gadis, melihat itu langsung membuat Risda terlihat sangat heboh. Dirinya pun langsung memanggil Rania untuk mendekat kearah, dan Rania pun bergegas menuju ketempat dimana Risda berada karena sangking penasarannya.


"Hai, Mbak. Perkenalkan saya pacar pertamanya, mungkin kamu pacar keduanya pacar saya," Ucap Risda yang ngawur kepada sosok perempuan yang sedang vidio call dengan Farhan.


"Kalo saya pacar keduanya, Mbak. Jangan percaya kalo dia bukan playboy, buktinya kita nih pacarnya bahkan sudah hampir setahun ya kan?" Ucap Rania yang ikut ikutan.


"Sialan kalian berdua! Minggir!" Farhan pun nampak begitu marah kepada keduanya, sehingga dirinya pun mendorong tubuh Risda dan Rania untuk menjauh dari layar ponselnya.


Bukan Risda namanya jika langsung pergi begitu saja, dirinya pun terus berusaha untuk menampakkan wajahnya dilayar ponsel tersebut. Bahkan hingga membuat Rania menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah resek dari Risda.


"Mbak jangan mau sama dia, dia itu kasar," Ucap Risda dengan nada keras agar didengar oleh gadis itu.


Keduanya seakan akan tengah bertengkar, sehingga layar ponsel tersebut terus bergoyang goyang. Hal itu langsung membuat gadis yang terlihat dilayar ponsel pun langsung mematikan vidio callnya dengan Farhan, melihat itu langsung membuat Risda tertawa kemenangan.


"Bangsaat lo, Da. Pacar gue ngambek nih," Ucap Farhan kesal.


"Ya elah, lo kagak asik mah. Rasain tuh,"


Risda pun langsung berlari untuk menjauh dari Farhan, karena melihat bahwa lelaki itu terlihat marah kepadanya. Dirinya berusaha untuk bisa menjauh dari lelaki itu, siapa sangka justru lelaki itu langsung mengejarnya begitu saja dan tidak membiarkan Risda lolos begitu saja.


"Han! Maafin, gue emang sengaja," Teriak Risda sambil terus berlari karena takut ditangkap oleh Farhan.


"Lo harus tanggung jawab, Da! Lo harus jelasin kedia sekarang," Teriak Farhan.


"Gue kagak mau, Anjiiingg! Jelasin sendiri lah, punya mulut emang fungsinya buat apa'an?"


"Bangsaat lo, Da!"


Keduanya pun terlihat seperti tikus dan kucing yang saling kejar kejaran, bahkan keduanya sama sekali tidak mengenal panasnya matahari disiang hari itu. Keduanya berlarian dilapangan yang ada disekolah tersebut, dan tempatnya tidak jauh dari ruang OSIS berada.


"Renzo, bocil lo tuh bikin masalah lagi," Ucap Abdul sambil melihat Risda dan Farhan saling kejar kejaran ketika pintu ruangan itu terbuka.


Afrenzo yang mendengar ucapan dari Abdul pun menoleh kearah dimana Abdul menoleh, semua orang sudah tau tentang kedekatan keduanya itu. Afrenzo hanya melihatnya sekilas, setelahnya dirinya kembali fokus dengan pembahasan yang harus dibahas.


"Biarin," Ucap Afrenzo singkat.


Afrenzo tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja, karena dirinya adalah ketua OSIS disana. Sehingga, dirinya harus menyontohkan kepada yang lainnya, dan menjadi panutan bagi seluruhnya.


"Gila banget sih nih anak, nggak bisa apa kalo kagak buat masalah sehari?" Guman Mira ketika melihat Risda berlarian.


"Lo juga kali, kagak sadar diri amat."


Keduanya langsung berhenti berdebat ketika melihat tatapan tajam dari Afrenzo yang terarah kepada keduanya. Tatapan itu terlihat sangat menyeramkan, dan tatapan itu berarti bahwa menyuruh keduanya untuk diam dan kembali fokus kepada pembahasan.


Afrenzo pun menjelaskan kepada mereka mengenai kegiatan yang akan mereka lakukan, dan menunggu persetujuan dari mereka mengenai ivent lomba yang akan diadakan. Rasanya tidak ada yang keberatan dengan soal itu, seluruhnya pun sepertinya setuju dengan ucapan dari Afrenzo.


Kapan lagi mereka bisa terbebas dari pelajaran seperti ini? Apalagi kegiatan itu terlihat sangat menyenangkan, sehingga mereka semua langsung setuju begitu saja setelahnya. Disatu sisi, Risda terus bermain kejar kejaran dengan Farhan, bahkan Farhan sepertinya tidak memiliki rasa lelah untuk mengejar dirinya.


"Da! Lo harus tanggung jawab!" Teriak Farhan.


"Bukan gue aja tau yang harus jelasin. Rania juga terlibat, kenapa lo kagak minta dia juga buat jelasin sih?" Tanya Risda yang terus berlari untuk menghindar dari kejaran Farhan.


"Lo yang paling parah, Anjiirrr!"


"Rania juga tau!"


"Pokoknya lo yang harus tanggung jawab!"


"Gue kagak mau!"


"Lo mau cari gara gara lagi sama gue?"


"Gue kagak takut sama lo! Ikan lohan."


"Da!"


"Bodoamat!"


"Awas aja lo sampe ketangkep,"


"Coba aja kejar gue, wek wek..." Risda pun mengece Farhan, sambil menjulurkan lidahnya.

__ADS_1


Dirinya terus berusaha untuk berlari menjauh dari Farhan, dia tidak mau ditangkap begitu saja sama lelaki itu. Tiba tiba,..


Bruukkk...


Risda pun menabrak seseorang yang ada didepannya begitu saja, meskipun dirinya yang menabrak akan tetapi dirinya juga yang merasa sakit. Jidat Risda rasanya seperti tengah menabrak sebuah tembok yang sangat keras, hal itu langsung membuat untuk berhenti berlari.


"Re... Renzo..." Ucap Risda terbatah batah ketika mendapati sosok Afrenzo yang menatapnya dengan tajam.


Melihat adanya lelaki itu, hal itu langsung membuat Farhan ikut serta menghentikan langkah kakinya. Dirinya masih mengingat dengan jelas pukulan yang diberikan oleh Afrenzo sebelumnya, dan bahkan kekuatan lelaki itu cukup kuat daripada yang dirinya duga.


"Gue tunggu dikelas nanti," Ucap Farhan sebelum dirinya pergi.


Risda pun merasa kesal dengan apa yang dilakukan oleh Farhan, enak saja dirinya main kabur saja setelah adanya Afrenzo disana. Risda pun mengusapi jidatnya yang terasa sakit itu, akibat dirinya yang menabrak dada bidang milik Afrenzo.


"Sudah cukup lari larinya?" Tanya Afrenzo kepada Risda.


"Sudah. Lo ngapain disini? Bukannya tadi rapat OSIS ya?" Tanya Risda sambil menyengir karena takut kalau cowok itu sampai marah kepadanya.


"Lo bikin keributan tau. Sampai rapatnya berhenti gara gara teriakan lo," Jawab Afrenzo dengan nada dinginnya.


"Maaf," Cicit Risda pelan dan dirinya pun ketakutan untuk melihat wajah garang dari Afrenzo.


"Jangan diulangi lagi,"


"Iya iya Renzo, gue kagak berisik lagi deh setelah ini. Tapi jangan hukum gue,"


"Lo harus dihukum karena membuat rapatnya berhenti."


"Jangan dong, Renzo. Maafin gue pliss..."


"Nggak bisa!"


"Renzo, lo kan baik sih. Jangan hukum gue lagi ya? Gue janji nggak bikin keributan lagi setelah ini, beneran deh."


"Apa buktinya?"


"Lo pegang aja ucapan gue, Renzo. Hari ini kagak bakal bikin masalah lagi, tapi entah besok dan besoknya," Risda pun terkekeh pelan ketika mengatakan kalimat terakhirnya itu, dirinya terkekeh dengan menutupi mulutnya menggunakan kedua tangannya.


Memang sehari saja dirinya tidak membuat masalah, maka dirinya merasa sangat bosan dan harus ada bahan untuk bisa menghilangkan kebosanannya itu. Kalau tidak, dirinya tidak akan memiliki semangat untuk menjalani hari harinya, karena rasa bosan yang terus menyerangnya begitu saja.


"Da. Sehari saja nggak bikin masalah, emang kagak bisa?"


"Loh kok ngamok? Tapi gue kan kagak nyuruh lo buat ngurusin masalah gue,"


"Lo tanggung jawab gue disini, Da. Gue ini pelatih lo, jadi yang bakalan disalahin sama para guru adalah gue,"


"Maapin lagi, tapi gue gabut."


Risda pun paham soal itu, apalagi disana Afrenzo juga dianggap sebagai guru pembimbing ekstrakurikuler beladiri. Sehingga kedudukannya sangat disegani oleh para guru, apalagi diusianya yang masih remaja sudah ditugaskan untuk melatih beladiri, hal itu membuatnya dianggap sebagai jenius beladiri.


"Mau dihukum?"


"Jangan!"


"Kembali ke kelas sekarang, jangan berisik."


"Iya ya, Renzo. Tapi gue kagak bakalan kena hukuman kan?"


"Tergantung,"


"Tergantung apa lagi sih? Orang gue sendiri aja kagak gantung diri, gimana gue bisa tergantung?"


Memang biacar dengan Risda itu adalah hal yang sangat sulit, apalagi dirinya yang mampu untuk menjawab omelan dari orang lain. Bahkan dirinya suka sekali membuat orang marah kepadanya, bukan hanya teman temannya saja, bahkan para guru pun bisa dibuatnya marah.


"Kembali ke kelas, atau ikut gue keruang BK?"


"Serem ih. Yaudah gue balik aja ke kelas, daa..." Risda pun langsung melambaikan tangannya kepada Afrenzo.


Risda langsung membalikkan badannya dan bergegas pergi dari hadapan Afrenzo, dirinya merasa begitu ngeri ketika melihat tatapan yang diberikan oleh lelaki itu kepadanya. Tatapn Afrenzo masih tetap menajam, dan sampai sekarang tatapan itu masih mampu untuk membuat Risda merasa ketakutan.


Meski Risda sering mendapatkan tatapan seperti itu, akan tetapi dirinya tidak pernah memiliki keberanian untuk menatap cowok itu balik. Bahkan tatapan lelaki itu masih saja terlihat sangat menyeramkan bagi Risda sendiri, hingga membuat bulu kuduknya merasa merinding.

__ADS_1


Risda melihat tatapan Afrenzo seperti dirinya tengah melihat sosok yang tak kasat mata, dan keduanya sama sekali tidak ada bedanya dihadapan Risda. Afrenzo sendiri juga tidak bisa menatap biasa kepada lawan bicaranya, karena tatapan seperti itu rasanya sudah menjadi terbiasa baginya.


Ketika jaraknya agak jauh dari Afrenzo, Risda sendiri pun langsung berlari sekuat tenaga yang dirinya bisa. Agar dirinya cepat cepat pergi dari hadapan Afrenzo, karena Risda merasa begitu ngeri dengan lelaki itu.


__ADS_2