
Risda dan yang lainnya langsung menuju kearah lapangan setelah berganti pakaian, kini mereka memakai pakaian olah raga dengan warna jilbab yang serasi dengan pakaian olah raga yang mereka gunakan.
Pakaian olah raga itu atasannya berwarna merah, sementara bawahannya berwarna hitam, jadi jilbab mereka juga berwarna hitam. Risda yang biasanya pemanasan dengan kerasnya ketika latihan beladiri, dirinya pun merasa bahwa olah raga ini pemanasannya begitu mudah.
"Gerakan gitu mah, bisa banget gue," Guman Risda lirih.
Karena mudahnya, dirinya pun melakukan pemanasan dengan cara seperti ketika hendak latihan beladiri. Hal itu membuat dirinya pemanasannya dengan cara yang berbeda dengan yang lainnya, ketika mengangkat kaki seluruhnya hanya mengangkatnya sekitar sekitar 90°, sementara Risda justru mengangkatnya sampai 130°
Apa yang dilakukan oleh Risda itu pun membuat perhatian seluruh teman sekelasnya terarah kepadanya, bukan maksud lain bagi Risda karana dia hanya kurang puas jika pemanasannya hanya seperti itu.
"Kaki lo lentur banget, Da." Ucap Mira ketika melihat cara Risda pemanasan hingga membuatnya membuka kedua matanya dengan lebar lebar.
"Gara gara Renzo. Waktu pemanasan kaki gue ditekuk tekuk, bahkan gue berdiri aja nih kaki udah nghadap langit dan sampe kecium," Ucap Risda sambil memperlihatkan gerakannya.
Risda pun mengangkat satu kakinya lurus, dan menariknya keatas hingga lututnya hampir menyentuh bibirnya itu. Melihat itu langsung membuat lainnya terpelongo, bahkan banyak yang tidak percaya bahwa Risda bisa melakukan itu.
Biasanya Afrenzo akan melatihnya dengan cara mengangkat salah satu kaki Risda, dan menaruhnya dipundaknya. Sementara Risda diminta untuk mencium lututnya, lutut kaki yang diangkat keatas dan juga kaki yang meminjak tanah.
Latihan itu biasanya digunakan untuk melatih tendangan agar tendangan bisa meraih tempat yang tinggi, jika ada musuh yang tiba tiba menyerang ataupun penjahat yang menyerang, hal itu bisa membuat mereka bisa mematahkan lehernya.
"Emang kagak sakit, Da?" Tanya Rania.
"Awalnya sakit banget, sampe jalan aja susah, tapi kalo sudah kebiasaan mah gampang," Jawab Risda.
"Kek unboxing aja, Da. Kalo kebiasaan jadi enak," Sela Nanda.
"Anjiiiiirrrr! Emang lo pernah di unboxing?" Umpat Risda terkejut.
Hal itu langsung membuat perhatian Guru olah raga terarah kepadanya, melihat itu hanya membuat Risda menyengir sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian disuruh pemanasan malah rame sendiri, mau dihukum?" Tanya Guru laki laki yang menjabat sebagai Guru olah raga.
"Ini sudah panas, Pak. Kalo dipanasi lagi udah ngak sanggup," Ucap Risda.
"Berani membantah kamu?"
"Ngak berani, Pak. Suweerrr deh, kami minta maaf yang sebesar besarnya, Pak."
"Awas aja kalo sampe diulangi lagi,"
"Iya Pak iya,"
Mereka pun kembali melanjutkan pemanasannya itu, Risda masih tetap melakukan pemanasan dengan metode latihan beladiri. Bagi mereka yang terbiasa pemanasan dengan keras, hal itu akan membuat mereka bosan ketika pemanasan waktu olah raga yang sangat berbeda dengan latihan beladiri.
Mereka pun diminta untuk berlari memutari lapangan sebanyak 5 kali untuk siswa cewek, dan 10 kali untuk siswa cowok. Bagi Risda, memutari lapangan itu sebanyak 5 kali adalah hal kecil, dirinya pun terus berlari hingga tidak menyadari bahwa dirinya sudah memutari lapangan itu sebanyak 10 kali, akan tetapi waktu berhentinya sama dengan siswa cewek lainnya yang hanya sampai 5 kali.
Setelah itu, mereka pun melakukan olah raga seperti biasanya. Latihan melemar dan menangkap bola, memasukkan bola kedalam ring, dan lain lain.
"Minggu depan akan ada penilaian lari, karena akan memasuki ujian tengah semester. Jadi fisiknya harus disiapkan, agar mendapatkan nilai yang bagus," Ucap Guru tersebut.
"Ujiannya seperti apa, Pak?" Tanya Risda.
"Kalian akan digiring untuk keluar sekolah, dan berlari memutari sekolahan melalui desa desa sekitar. Siapa yang sampai disekolahan lebih dulu, maka nilainya akan bagus,"
Terlihat sangat mudah bukan? Mereka hanya diminta untuk berlari memutari sekolahan tersebut dengan jarak yang cukup jauh. Karena jalanan yang ada disekitarnya itu sangat berbelok belok hingga mencapai puncaknya.
"Pak, kalo semisal terjadi sesuatu dijalan gimana?" Tanya Rania.
"Bukan jalan raya hanya jalan setapak saja, dan Bapak dan Ibu guru lainnya juga akan mengawasi,"
"Baiklah, Pak."
Mereka pun mencoba memahami apa yang dijelaskan oleh guru lelaki itu, mereka sama sekali tidak membantah ucapan guru tersebut. Risda yang tidak bisa diam itu pun tertarik dengan hal itu, sehingga membuatnya begitu diam dan mendengarkan.
"Pak, apa larinya sama siswa kelas lainnya?" Tanya Wulan.
Wulan yang biasanya tidak pernah tertarik pun saat ini sepertinya begitu antusiasnya. Semenjak kejadian waktu itu, Risda dan Wulan sudah tidak pernah saling berinteraksi, bahkan hanya bertegur sapa pun tidak pernah keduanya lakukan.
"Iya, nanti semuanya akan disuruh untuk berlari, hanya siswa kelas 10 saja. Kalo untuk kelas 11 dan 12 waktunya berbeda,"
Hal itu langsung membuat Risda membelalakkan kedua matanya, itu artinya Afrenzo pun akan ikut berlari bersamanya. Bahkan untuk mengalahkan Afrenzo, itu tidaklah hal yang mudah karena skill yang dimilikinya lebih tinggi daripada yang lainnya karena sering berolah raga dan melatih fisiknya.
"Jelas Renzo yang dapat nilai bagus," Guman Risda pelan akan tetapi masih mampu untuk didengar oleh Mira yang memang ada disebelahnya.
"Belum tentu, Da. Mungkin ada yang akan dapat nilai bagus selain Renzo," Ucap Mira.
"Emang siapa lagi kalo bukan Renzo? Yang gue tau, cowok satu itu sangat berbeda, Ra. Dia juga bisa diangkat sebagai pelatih diusia muda lagi,"
"Kita belum ngelakuin itu, Da. Jadi kita belum tau siapa yang akan mendapatkan nilai paling bagus,"
"Gue sih tetep yakin sama Renzo, Ra. Kalo dia mendapatkan nilai bagus, itu semakin baik,"
"Baik gimana maksud lo, Da?"
__ADS_1
"Lo ngak perlu tau, Ra. Ini urusan gue sama Renzo,"
"Ya ya ya, urusan lo sana Renzo. Kita mah obat nyamuk aja dimata lo,"
Mira pun mendengus kesal karena Risda, Risda pun tersenyum dengan cerahnya saat ini. Jika Afrenzo mendapatkan nilai bagus, dirinya tidak akan lagi dimarahi oleh Papanya. Nilai ujian Afrenzo memang bagus, diatas rata rata semua, bahkan didalam kelas dirinya paling bagus. Akan tetapi, Papanya belum puas dengan pencapaian dari Afrenzo.
Risda bahkan sampai heran dengan Papanya Afrenzo, yang sering sekali main tangan dengan Afrenzo. Akan tetapi, dirinya lebih heran lagi dengan Afrenzo, yang tidak pernah melawan Papanya meskipun dirinya babak belur.
Bahkan sampai saat ini pun, jika Afrenzo melakukan kesalahan sekecil apapun itu, dirinya akan terlihat babak belur. Tidak tau lagi rasa sakit seperti apa yang dirasakan oleh Afrenzo ketika dihajar oleh orang tuanya, jika Risda jatuh saja dirinya merasa sangat sakit apalagi Afrenzo yang dihajar berkali kali.
Ketika berlatih beladiri pun, Risda merasa sakit ketika menangkis pukulan maupun melontarkan pukulan. Dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakit yang dirasakan oleh Afrenzo, dimana diseluruh tubuhnya terlihat memar membiru.
"Kalo ingat itu, gue ngak bisa terima," Cuman Risda sambil mengepalkan tangannya.
"Emang apa'an, Da? Masalah pa?" Tanya Mira penasaran karena mendengar gumanan dari Risda.
"Masalah pelakor!" Jawab Risda dengan nada agak tinggi.
"Pelakor yang ngerebut Bokap, lo?" Tanya Rania.
"Siapa lagi?"
"Ya deh iya, terserah lo aja, Da."
"Ya ya lah, kalo terserah orang banyak mah musyawarah!"
Sebenarnya bukan itu yang dimaksud oleh Risda, akan tetapi itu hanyalah kebohongan Risda agar mereka tidak curiga dengan dirinya. Setelah jam olah raga selesai, mereka pun langsung bergegas untuk menuju kekantin sekolah, karena selesai olah raga adalah waktunya istirahat.
Risda pun memesan makanan yang biasanya dirinya pesan disana, dia pun langsung duduk ditempat biasanya dirinya duduk bersama dengan Afrenzo. Banyak yang mengira bahwa dia dan Afrenzo memiliki hubungan yang serius, akan tetapi bagi Risda hubungan keduanya hanyalah sekedar pelatih dan murid.
"Renzo!" Panggil Risda ketika melihat Afrenzo datang kekantin sekolah sambil melambaikan tangannya.
Afrenzo tidak menanggapi panggilannya itu, akan tetapi dirinya langsung duduk dihadapan Risda yang sedang menikmati makanannya itu. Melihat itu, langsung membuat Risda memancarkan senyuman kepada Afrenzo.
"Lo ngak beli makanan dulu?" Tanya Risda.
"Makan jangan berbicara," Ucap Afrenzo singkat.
"Maaf," Risda hanya menyengir kearah Afrenzo.
Afrenzo pun mengangkat tangannya, dirinya pun seakan akan memberi kode kepada penjual yang ada dikantin tersebut. Penjual itu adalah seorang wanita, sementara Bapak Hajirohman kini tengah ada urusan dipusat.
Tak beberapa lama kemudian, datanglah wanita tersebut sambil membawakan secangkir minuman hangat dan juga beberapa cemilan. Wanita itu langsung menaruhnya dihadapan Afrenzo, dan Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya.
"Renzo, lo bilang apa ke wanita itu? Kok dia sampai hafal sih padahal lo ngak ngomong apapun kedia," Tanya Risda penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo.
"Gue pesen cemilan," Jawab Afrenzo singkat.
Risda masih penasaran, kenapa wanita itu juga paham dengan maksud dari Afrenzo, dan membawakan beberapa makanan yang dimaksud oleh Afrenzo itu. Bahkan tanpa berbicara sedikitpun, wanita itu mengerti maksud dari Afrenzo.
"Terus kenapa dia bisa tau maksud dari perkataan lo itu?"
"Ada ikatan batin."
"What!! Jadi lo sama dia ada hubungan sepesial gitu?"
Cletakk..
Sebuah jitakan pun meluncur begitu saja dikening Risda, pelakunya masih tetap sama, yakni Afrenzo Alfiansyah. Risda hanya mendengus kesal sambil mengusap usap kepalanya yang terasa sakit itu, selalu saja lelaki itu menjitaknya begitu saja.
"Sakit tau, lo pikir emang tangan lo itu ringan ha?" Tanya Risda dengan kesalnya.
"Biar pikiran lo ngak ngawur," Jawab Afrenzo.
"Kan gue hanya nebak doang, lo juga sih ngomong kok cuma setengah setengah, mana gue paham tau. Mangkanya jelasin yang sejelas jelasnya, dasar orang suka aniaya."
"Hem," Omelan Risda hanya dijawab dengan deheman saja oleh Afrenzo dan hal itu membuat Risda semakin kesal.
Dirinya pun meraih tangan Afrenzo dan mengigitinya dengan kerasnya. Merasakan itu hanya membuat Afrenzo mengernyitkan keningnya karena rasa sakit dan ngilu akibat gigitan dari Risda.
Afrenzo sama sekali tidak berusaha untuk melepaskan gigitan yang diberikan oleh Risda itu, Risda pun berhenti mengigit tangannya ketika merasakan adanya cairan yang berasa lain dimulutnya itu.
Risda pun langsung melepehkan ludahnya itu diatas sebuah tisu, nampak terlihat adanya bercak merah ditisu tersebut. Dirinya pun melihat kearah tangan Afrenzo yang terlihat bercak darah dan juga bekas gigitannya itu.
"Enak rasanya?" Tanya Afrenzo.
"Huekk.. Rasanya asin, amis, ngak enak. Pengen muntah," Keluh Risda setelahnya dan dirinya seperti tengah pengen mual saat itu juga.
"Namanya juga darah,"
"Darah lo kok gitu sih rasanya, ku kira manis kek wajahnya."
"Emang manis ya?"
__ADS_1
"Ngak, besar kepala lo? Gigitan gue ngak sakit apa?"
"Ngak."
"Maapin, habisnya gue kesel sama lo sih. Pasti sakit kan? Gue minta maaf, Renzo. Gue ngak sengaja,"
"Mau lagi?" Afrenzo pun menyodorkan tangannya kembali kepada Risda.
"NGAKKKK!!! Lo pengen gue muntah muntah disini ha?"
Risda pun lalu mengambil beberapa lembar tissu, dan menempelkannya diluka bekas gigitannya itu. Warna tissu yang tadinya putih pun berubah menjadi warna merah karena darah milik Afrenzo, dan melihat itu membuat Risda merasa bersalah.
"Seharusnya lo lepasin tadi, Renzo. Kan lo jadi terluka,"
"Bukannya itu tujuan lo?"
"Renzo! Gue kan hanya kesel sama lo doang, gue ngak ada niat nyakitin lo. Seharusnya lo lepasin tadi,"
"Keselnya udah hilang?"
"Gue makin kesel sama, lo. Udah tau sakit, tapi masih bisa tahan aja,"
"Gue ngak masalah, selaman itu lo bisa ngehilangin kekesalan lo sama gue,"
"Sama aja, gue makin kesel sama lo, Renzo."
"Ya udah gigit lagi,"
"Ngak, darah lo rasanya ngak enak."
"Emang ada darah yang rasanya enak?"
"Ngak tau, gue belom pernah nyobain satu satu. Jangan tanya gue soal itu,"
"Nanti gue kasih bumbu deh,"
"Bumbu apa'an? Yang ada gue makin neg nantinya,"
"Msg,"
"Gah!!"
Risda pun terus mengusapi darah milik Afrenzo itu, bahkan dirinya sampai mentahbiskan beberapa lembar tissu hingga membuat darah itu berhenti mengalir. Darah Afrenzo memang banyak, sehingga dirinya tidak takut akan kehabisan darah saat ini.
Risda semakin heran dengan lelaki yang ada dihadapannya itu, bahkan sekitar bekas luka itu kini berubah menjadi merah dan sedikit memar. Entah kulit seperti apa yang dimiliki lelaki itu, sehingga dirinya begitu tahan dengan rasa sakit.
"Renzo, kenapa lo bisa tahan sakit seperti itu sih?"
"Gue sudah terbiasa dengan rasa sakit, Da. Jadi sudah tidak terlalu sakit,"
"Tapi kan lo juga manusia yang masih memiliki rasa sakit, Renzo. Ngak mungkin kan lo bisa terus terusan tahan?"
"Rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit ketika sakaratul maut, dan semua orang pasti akan merasakan hal itu cepat atau lambat. Gue hanya latihan untuk menahan sakit, agar gue bisa melalui saat saat itu dengan mudah,"
"Jangan ngomong lagi, Renzo. Ucapan lo bikin gue merinding, gue ngak mau lo pergi ninggalin gue gitu aja,"
"Lo suka sama gue?"
Deg
Pertanyaan dari Afrenzo itu langsung membuat jantung Risda seakan akan berhenti berdetak. Risda tidak mampu menjawabnya, karena dirinya tengah merasa bingung dengan perasaannya sendiri.
Risda tidak mampu menjelaskan bagaimana perasaannya saat ini terhadap Afrenzo, Risda yang sulit jantuh cinta itu pun merasa sesuatu yang berbeda dari lelaki itu hingga membuatnya tidak mampu mengendalikan perasaannya sendiri.
"Gue ngak tau," Jawab Risda sambil menoleh kearah yang lainnya.
"Hem?"
"Bukannya lo yang suka sama gue?"
"Kapan gue bilang gitu?"
"Lo selalu ngawasin gue tiap hari, dimanapun gue berada lo selalu ada, ketika gue ingin bunuh diri waktu itu lo selalu datang. Bukankah itu sudah jelas kalo lo suka sama gue?"
"Hanya kebetulan saja, lo yang kepedean."
"Ngak mungkin, terus yang dipasar kemaren apa? Lo kan ngikutin gue,"
"Gue kepasar karena disuruh Nyokap gue,"
"Bohong!"
"Terserah mau percaya atau ngak."
__ADS_1