
Waktunya uji mental telat tiba, mereka akan disuruh untuk berjalan 1km diluar area sekolahan. Disana sudah terdapat beberapa pos yang telah ditentukan, dan disetiap pos mereka akan diuji materi yang telah disampaikan oleh pelatih.
"Baiklah, untuk ujian kedua. Kalian harus mendatangi 7 pos yang telah disiapkan oleh para senior, pos pertama berada didepan sekolahan, ke dua ada dijembatan dekat dengan jalan raya, pos ke tiga disebuah pertigaan yang ada didesa, pos ke empat berada di jalan dekat dengan lahan kosong, pos ke lima ada dijalan depan sebuah pos ronda yang ada dipertigaan lagi, pos ke enam ada disawah atau ladang penduduk, dan yang terakhir berada didepan pemakaman umum. Masing masing pos, kalian akan diuji oleh para senior, Ada yang ditanyakan?" Ucap Afrenzo sambil menjelaskan letak letaknya.
"Saya pelatih!" Ucap Risda sambil mengangkat tangannya tinggi tinggi.
"Silahkan,"
"Regunya tetap atau diacak lagi?"
"Baiklah, setiap regu akan ada 3 orang saja. Dan kita akan acak kembali,"
Afrenzo pun kembali mengacaknya seperti sebelumnya, kini Risda berada disatu kelompok yang sama dengan Vina, dan juga Affan. Masing masing kelompok selalu ada lelakinya, yang gunanya untuk menjaga yang lainnya agar tidak akan terjadi sesuatu diperjalanan nantinya.
Terdapat 20 kelompok yang telah dibagi itu, Risda dan 1 regunya pun mendapatkan urutan yang ke 10 saat ini. Mereka pun dibiarkan untuk duduk ditempat itu sambil memunggu nomor urut mereka untuk dijalankan.
Risda dan satu kelompoknya itu pun tengah duduk melingkar, ditengah tengah kegelapan malam itu Risda masih tetap memandangi sekitarnya dengan merinding. Pohon pohon yang tinggi disana itu pun semakin membuatnya merasa ngeri, apalagi dengan gelapnya malam ini.
"Renzo, sekarang jam berapa?" Tanya Risda ketika melihat Afrenzo melintas didekatnya.
Pertanyaan itu langsung membuat Affan memukul Risda pelan, bukan karena pertanyaannya itu akan tetapi karena bagaimana dirinya memanggil seorang Afrenzo disana. Kedua temannya itu takut kalau Afrenzo akan marah kepada mereka, akan tetapi justru sebalinya dirinya pun langsung melihat kearah ponselnya itu.
"Jam 10 lebih 15 menit," Jawab Afrenzo.
"Ha?" Ucap kedua temannya itu yang melihat reaksi Afrenzo yang berbeda.
"Kalo ditempat latihan jangan panggil nama," Ucap Afrenzo dan langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu.
"Siap!" Ucap Risda dengan semangatnya.
Jika orang lain yang memanggil seperti itu selain Risda, maka mereka akan dimarahi oleh Afrenzo bahkan akan dihukumnya saat itu juga. Akan tetapi, hukuman itu sepertinya tidak berlaku untuk Risda, bahkan Afrenzo hanya memperingatkan saja.
"Kenapa lo bisa seakrab itu dengan pelatih, Da?" Tanya Vina.
"Lah kan kita besti, Vin. Dia kagak bakalan ngomelin gue kalo masalah panggilan, jadi gue bebas manggil dia seperti apapun itu," Ucap Risda sambil menepuk dadanya bangga.
"Besti? Sejak kapan lo bisa bestian sama dia? Orang dia aja ngak bisa senyum," Tanya Affan penasaran dengan penjelasan dari Risda.
"Sejak masuk sekolah ini lah, kenapa? Lo iri ya sama gue, soalnya gue kan bisa bestian sama dia,"
"Dih ngapain gue iri sama lo, masak iya cowok sama cowok, kagak masuk sama sekali lo, Da. Aneh emang lo," Affan pun berkata dengan nada sensinya kepada Risda.
"Bodoamat sama Lo, Af Af. Mending gue tidur daripada ngomong sama lo," Pungkas Risda dan langsung membaringkan tubuhnya ditempat itu.
Rasanya sangat nyaman, ketika tidur tanpa alas dan langsung melihat bintang bintang yang bersinar diangkasa. Langit tersebut terlihat sangat luas dengan bintang bintang yang menghiasinya agar menjadi lebih indah, apalagi ditambahi dengan semilir angin dimalam hari itu.
"Tidur aja noh, sekalian jangan bangun lagi. Bikin resek banget sih lo, Da."
"Andai gue bisa ngelakuin itu, Af Af. Paling gue udah dikubur didalam tanah dan kagak bakalan balik lagi,"
"Omongan lo bisa dijaga ngak?"
"Ngak bisa, Af Af. Eh...." Risda pun langsung bangun dari tidurnya ketika baru menyadari siapa yang berbicara itu.
Risda pun meneguk ludahnya sendiri dengan sudah payah, ketika menyadari bahwa Afrenzo sudah berdiri disebelah sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya itu. Meskipun gelap, akan tetapi bentuk tubuh Afrenzo dapat dilihat dengan jelas oleh Risda, hingga dirinya tau bahwa itu adalah Afrenzo Alfiansyah.
"Maaf pelatih yang terhormat," Ucap Risda sambil bergidik ngeri dihadapan Afrenzo.
"Lain kali jangan ngomong gitu, pesimis."
"Baik pelatih."
Risda pun langsung menundukkan kepalanya dalam, dirinya entah mengapa merasa takut dengan perkataan Afrenzo barusan itu. Afrenzo pun kembali bergegas untuk memeriksa peserta yang lainnya, dirinya pun langsung meninggalkan Risda beserta kedua temannya itu.
"Lo sih, gue jadi diomelin kan sama dia," Ucap Risda dengan kesalnya kepada Affan.
Risda memang seenaknya manggil nama seseorang, hal itu kadang kala membuat orang yang dipanggil dengan nama berbeda itu pun merasa kesal, akan tetapi Risda masih saja memanggil dengan nama aneh. Dirinya sama sekali tidak takut untuk mendapatkan omelan dari siapapun, akan tetapi nyalinya langsung menciut jika dihadapan Afrenzo.
"Salah lo sendiri pake nyahut omongan gue," Jawab Affan dengan biasanya seolah olah dirinya tidak merasa bersalah kepada Risda.
"Awas lo ya, kalo lo panggil gue nanti, gue ngak akan nyahutin ucapan lo."
"Dih ngambek nih bocah, kek anak TK tau lo, dikit dikit ngambek,"
"Bodoamat dah, serah lo!"
__ADS_1
"Kalian dari tadi ribut mulu, lama lama gue bikinin pertandingan loh," Sela Vina.
"Buatin saja, Afrenzo akan mewakili gue nanti,"
"Emang lo sedekat apa sih sama tuh orang? Palingan juga sedekat bumi dan matahari."
"Sedekat nadi tau, kalo ngak percaya gue bakalan buktiin,"
"So buktiin dong."
Risda pun menoleh kesana kemari untuk mencari sosok Afrenzo, dirinya pun melihat sosok itu kini tengah berada jauh darinya. Risda pun mengangkat tangannya tinggi tinggi dan melambaikannya kepada Afrenzo, Afrenzo yang melihat itu pun langsung bergegas untuk menemuinya.
"Lo lihat kan? Dia berjalan kemari," Ucap Risda.
Meskipun ditengah tengah kegelapan, Afrenzo dapat melihat para siswanya dengan jelas. Karena kebiasaannya yang berada dikegelapan itu pun, dirinya mampu untuk melihat mereka dengan jelas.
"Gila lo? Untuk apa lo panggil dia kemari?" Tanya Affan terkejut.
"Dia kan besti gue," Jawab Risda yang masih terlihat sombong.
"Sombong banget jadi orang,"
"Keahlian harus di sombong kan tau, biar semua orang itu tau."
Afrenzo pun telah sampai ditempat dimana Risda berada, Risda lalu menyuruhnya untuk duduk disebelahnya. Afrenzo hanya menurut saja karena dirinya juga lelah, dirinya sejak tadi terus berdiri tanpa duduk sama sekai.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo.
"Gue mau tanya tentang alam gaib, apakah itu benar benar ada?"
"Iya, memang ada."
"Sebenarnya gue masih kagak paham dengan tujuan latihan malam ini, Renzo. Gue ngerasa bener bener merinding disini, dari tadi gue ngerasa ada yang seliweran dikelas kelas."
"Itu para senior kalian, mungkin kalian belum pernah ketemu, tapi kalau ada acara seperti ini mereka selalu hadir untuk ikut serta."
"Jadi yang dari tadi gue lihat para peserta bertambah banyak itu karena ada para senior?"
"Iya."
"Kalian akan tau nanti. Ketika dijalan jangan ramai dan jaga sikap beserta nama baik perguruan ini, jangan sampai aku mendengar ada masyarakat yang protes ke perguruan,"
"Baik pelatih!" Jawab ketiganya bersamaan.
Satu persatu regu itu pun mulai dijalankan, kini saatnya giliran Risda dan kedua temannya itu berjalan. Risda dan keduanya langsung bergegas untuk keluar dari sekolahan itu. Ketiganya langsung disambut oleh dua orang senior yang tidak mereka kenali, dan disini mereka diuji untuk melakukan gerakan jurus yang telah diajarkan.
Risda dan ketiganya pun lolos dengan nilai baik. Setelahnya, mereka bergegas untuk menuju ke pos kedua yakni didekat jembatan sungai yang berada disebelah kanan sekolahan itu jauh. Disinilah mereka juga tengah diuji untuk melakukan gerakan tendangan dan tangkisan.
"Setelah ini kalian lurus saja, dan disana ada sebuah pertigaan. Disanalah pos 3 berada," Ucap salah satu senior kepada ketiganya.
"Baik senior!" Seru ketiganya bersamaan.
Risda dan keduanya langsung bergegas untuk menuju kearah yang telah ditunjukkan, sebelumnya sampai ditempat itu mereka disuruh untuk jalan jongkok sampai dilokasi. Risda agak kesusahan jika disuruh jalan jongkok seperti itu, sehingga ketiganya berjalan jongkok dengan pelan dan lama.
"Lapor, regu ke sepuluh telah tiba, kami siap untuk diuji," Ucap Affan yang menjadi ketua diregu itu.
"Laporan diterima, jelaskan arti lambang perguruan!"
Ketiganya langsung menjelaskan apa yang mereka ketahui tentang arti dari sebuah lambang beladiri. Meskipun penjelasan mereka kurang sempurna akan tetapi senior tersebut masih memaklumi mereka karena baru pertama ikut beladiri disana.
Setelah itu, senior tersebut pun menjelaskan secara keseluruhan dengan benar mengenai arti lambang perguruan itu. Risda dan keduanya mencoba untuk memahaminya, bahkan mereka cukup lama berada ditempat itu.
"Setelah ini kalian lurus saja dan belok kekanan dan disana adalah pos ke empat,"
"Baik senior!"
Jalan yang tengah mereka lalui itu pun terlihat begitu sangat gelap dan sunyi, mereka pun sedikit ragu untuk terus melangkah. Risda dan ketiganya seakan akan tengah ketakutan saat ini, bagaimana tidak? Jalanan yang gelap dan agak jauh dari rumah warga itu pun terlihat begitu sunyi nan sepi.
"Da, lo duluan deh, lo kan pemberani," Ucap Affan kepada Risda.
"Ya elah, lo kan cowok? Ngapain takut anjiir!" Umpat Risda kepada Affan karena jengkelnya.
"Iya nih, apa gunanya lo ada diregu ini? Kayak banci aja," Sahut Vina.
"Bagaimana kalo lo duluan aja?" Tantang Affan.
__ADS_1
"Cih! Kalah lo sama cewek," Ucap Risda dan langsung berjalan untuk mengawalinya.
Dengan perlahan lahan Risda pun melangkah, Affan dan Vina pun berpegangan erat dimasing masing tangan, Risda hingga membuat gadis itu menghela nafas kasar. Entah bagaimana bisa ada cowok yang sangat penakut seperti Affan, justru disini Risda yang terlihat seperti pemimpin dalam regu itu.
"Kalian ini apa apa'an sih?" Tanya Risda dengan nada kesalnya karena keduanya yang berpegangan erat dengan tangan Risda hingga Risda tidak bisa menggerakkan tangannya dengan leluasanya.
"Gue takut, Da. Jalannya agak cepetan dikit yak," Ucap Vina.
"Jalan aja sendiri sono, masak gini aja takut,"
"Gue seriusan, Da."
"Vin, tangan lo apa apa'an sih? Ngak usah noel noel napa?" Keluh Affan.
"Siapa yang noel elo? Tangan gue aja jauh dari tangan lo," Ucap Vina dengan sensinya.
"Terus ini tangan siapa dong?"
"Lo jangan aneh aneh ya, kita hanya bertiga ini!" Sentak Risda kepada Affan.
"Gue ngak aneh aneh anjiiiiirrr! Gue beneran tanya, ini tangan siapa?"
"Sebaiknya kita lihat bareng bareng aja deh," Saran Risda.
"Hitungan ketiga langsung noleh semua ya, Satu... Dua... Tiga!"
Karena penasarannya membuat ketiganya langsung menoleh kearah yang sama, mereka sangat terkejut ketika melihat sosok sesuatu mahluk yang memiliki kelopak mata yang hitam membulat dengan pakaian serba putih dan diikat diatas kepalanya.
"POCONG!!!" Teriak ketiganya bersamaan, dan ketiganya pun langsung berlari sekencang mungkin yang mereka bisa untuk pergi dari tempat itu.
"Heleh, pocong jadi jadian pun takut, apalagi beneran," Ucap pocong tersebut yang tidak lain adalah senior beladiri disana yang berpenampilan seperti pocong untuk menguji mereka.
"Bang beli sate 100 tusuk makan disini," Ucap seorang wanita dengan nada yang menyeramkan.
"Ma... Makan disini? Ma.. Ma.. Maaf Mbak, ngak jualan," Ucap senior tersebut dengan terbata bata.
Senior yang menyamar menjadi pocong tersebut pun langsung menoleh kearah sumber suara, nampaklah sesosok kuntilanak yang tengah berdiri dihadapannya saat ini. Dengan kekuatan super yang dirinya miliki, dia langsung melontarkan tendangan kearah kuntilanak tersebut dan hal itu langsung membuat si kuntilanak terpental dan jatuh ketanah.
"Sialan lo, Han!" Sentak kuntilanak tersebut yang tidak lain adalah rekannya sendiri.
"Lo sih nakut nakutin gue, jadi kena karma kan."
"Bantuin gue berdiri sekarang!"
"Ya ya,"
Senior yang menyamar menjadi pocong tersebut pun langsung menarik rambut palsu milik si senior yang menyamar menjadi kuntilanak. Ketika rambut itu tercabut, nampaklah sebuah kepala yang botak terpampang jelas disana.
"Gue nyuruh lo bantuin gue berdiri! Bukan narik rambut pasangan gue!" Ucapnya dengan tidak terima.
"Lo berat, mending gue cari sasaran lainnya." Setelah mengatakan itu, dirinya pun langsung melompat lompat untuk pergi dari tempat itu.
*****
Ketiganya pun sampai dipos empat dengan nafas yang tersegal segal karena penampakan pocong itu, mereka pun langsung berkeringat dingin dengan nafas yang memburu. Jantung mereka benar benar tidak aman untuk saat ini, rasanya seperti jantung itu berdebar sangat kencang nya.
"Kalian kenapa?" Tanya salah satu senior yang menjaga di pos keempat.
"Anu senior, ada pocong!" Teriak Risda sambil berusaha untuk menetralkan kembali pernafasannya yang memburu itu.
"Pocong? Kenapa harus takut dengan pocong?"
"Wajahnya nyeremin banget, Senior. Saya saja tidak berani untuk menatapnya, untung saja masih bisa lari dari jalan saja," Affan pun menambahi.
"Betul senior, kelopak matanya sangat hitam dan juga tatapannya begitu tajam," Imbuh Vina.
"Tapi tatapannya tidak setajam Renzo sih, tapi cukup untuk menakut nakuti kita,"
"Huss! Dia pelatih disini, jangan panggil nama kalo saat seperti ini," Ucap senior itu untuk menegur Risda.
"Iya ya maaf, soalnya sudah terbiasa manggil seperti itu,"
"Kalo diluar latihan, lo bebas manggil dia apapun yang lo mau, tapi kalo untuk latihan jangan panggil nama. Itu aturan dalam perguruan sejak dulu,"
"Baik senior, saya akan mengingatnya," Pungkas Risda yang memang tengah malas untuk berdebat dengan seorang senior seperti mereka.
__ADS_1
Jika dibandingkan dengan mereka, Risda memang tidak ada apa apanya, dirinya hanyalah seorang pemula dan bahkan sabuk aja belum punya. Lantas bagaimana bisa dia melawan senior? Bukankah justru dirinya yang akan babak belur nantinya.