Pelatihku

Pelatihku
Episode 84


__ADS_3

Setelah pulang dari acara latihan malam, Risda langsung bergegas untuk menuju kerumahnya. Dirinya pun langsung bergegas untuk membersihkan tubuhnya tanpa mempedulikan sosok Indah yang tengah mengomelinya itu. Rasa capek setelah latihan malam, semakin terasa ketika mendengar omelan dari Indah, ingin rasanya dirinya marah kepada Kakaknya itu akan tetapi hatinya terus melarangnya untuk marah dan menyuruhnya untuk tetap diam.


"Kak, ada undangan," Ucap Adifa, yakni keponakan dari Risda dan anak dari Indah.


"Undangan apa?" Tanya Risda kepada Adek keponakannya itu.


"Ngak tau kak, Difa kan belum bisa baca," Ucap Adifa kecil.


"Ya sudah, terima kasih."


"Sama sama Kak, kalo gitu Difa main dulu ya,"


"Iya."


Sebenarnya Risda adalah Tantenya akan tetapi Adifa lebih suka memanggilnya Kakak daripada Tante, sehingga sampai hendak masuk sekolah TK dirinya sudah terbiasa memanggil Kakak daripada Tante. Adifa langsung menyerahkan undangan yang dimaksudkannya itu, Risda lalu menerimanya dan membacanya.


"Kumpul remaja masjid sekarang? Kenapa mendadak gini sih,"


Risda memang aktif dalam kegiatan remaja masjid, sehingga didesa tersebut dirinya dikenal dengan pemudi yang aktif dan selalu hadir ketika adanya rapat seperti saat ini. Sejak masuk SMP, Risda selalu ikut serta dalam kegiatan yang diadakan oleh remaja masjid itu, sehingga dirinya menerima undangan khusus agar hadir diacara rapat saat ini.


Sebenarnya tidak mendadak, undangan itu telah diberikan kemarin hari, akan tetapi Risda masih berada diacara latihan malam sehingga dirinya tidak mengetahui bahwa adanya undangan tersebut. Ketika pulang, Adifa langsung memberikan undangan itu kepada Risda, sehingga Risda menganggap bahwa undangan tersebut terlalu mendadak.


Risda pun kembali berganti pakaian, yang sebelumnya memakai pakaian pendek pun kini tengah memakai jubah dan jilbabnya. Setelah itu, dirinya pun langsung bergegas untuk keluar dari rumah dan mengendarai sepeda motornya untuk menuju kerumah ketua remaja masjid itu, sampai disana dirinya langsung disambut oleh ketuanya itu.


"Maaf telat, Wa. Barusan pulang," Ucap Risda.


Sebenarnya namanya bukan Wa, akan tetapi namanya adalah Anggraini. Karena dia adalah ketua bagi organisasi itu, sehingga Risda dan yang lainnya memanggilnya dengan sebutan Wa. Wa artinya kedudukan tinggi didalam organisasi ramaja masjid yang ada ditempat itu.


"Ngak papa, Da. Lagian yang lainnya juga belum kumpul semua," Ucap Anggraini.


"Emang ini ada acara apa, Wa? Soalnya kan didalam undangannya ngak ada tulisan acaranya,"


"Hanya undangan pengajian dari cabang lain, kalo kita ngak datang kesana, rasanya ngak enak juga kan, Da? Apalagi mereka juga telah ngirim undangan ke kita,"


"Iya juga sih, jadi nanti kesananya bareng bareng gitu?"


"Iya, karena undangannya baru diberikan kemarin sehingga ngak sempat untuk nyari kendaraan untuk kesana, jadi kita berangkat bareng bareng pakai sepeda motor. Untuk yang belum bisa naik sepeda motor, bisa nebeng ke yang punya sepeda motor,"


"Oh oke,"


Risda pun dipersilahkan masuk kedalam rumah Anggraini, dan bergabung dengan yang lainnya. Mereka pun saling berbincang bincang untuk menunggu yang lainnya datang, didalam organisasi itu, Risda nampak begitu alim dan sopan. Dirinya sama sekali tidak pernah berbicara kasar dan bahkan terlihat begitu sangat polos.


"Da, nanti lo sama gue ya naik motornya," Ucap Fafa, teman seangkatan sekaligus teman sekampungnya.


"Gampang, jok motor gue masih cukup kok untuk 5 orang," Ucap Risda.


"Emang bener bener kebangetan dirimu, Da."


"Becanda, Fa. Jangan dibawa kehati nanti jadi sakit hati, mending bawa ke jantumg biar stroke sekalian,"


"Mati dong gue?"


"Ngak papa, gue iklas lahir batin,"


"Mak gue yang ngak iklas pe'ak!"


Risda hanya meringis ketika melihat Fafa yang seperti sedang kesal dengan dirinya itu, soal membuat orang marah Risda ahlinya. Terasa seperti ada kemenangan tersendiri jika bisa membuat orang lain kesal dengannya, akan tetapi justru hal itu membuat yang lainnya merasa jenuh ketika tidak ada yang membuatnya merasa sebal.


Setelah mereka semuanya berkumpul, mereka pun segera naik ke sepedah motor masing masing untuk menuju ketempat lokasi. Lokasinya berada kurang lebih 10km dari tempat Risda dan yang lainnya tinggal. Setalah cukup lama dalam perjalanan, akhinya mereka telah tiba juga ditempat tujuan, yakni disebuah masjid besar yang ada ditepi jalan raya.


Kedatangan mereka pun langsung disambut oleh pemilik tempat itu, dan mereka langsung dipersilahkan untuk masuk kedalam untuk bergabung dengan yang lainnya. Risda yang memang tidak tidur semalaman itu pun terlihat beberapa kali menguap, bahkan kedua matanya seakan akan tidak mau dibuka dan memilih untuk terpejam.


"Da, lo habis ngapain kok ngantuk gitu?" Tanya Fafa.


"Mbak Risda habis begadang kali, kemaren kan sabtu malam minggu," Ucap Adelia yang berumur paling muda dari mereka.


"Iya, kemaren gue begadang sampai pagi, dan langsung berangkat kesini tadi," Ucap Risda.


"Emang begadang apa'an sampai pagi? Habis ngapain lo? Kayak pengantin baru aja begadang sampai pagi," Ucap Fafa.


"Gue habis malam pertama tau kemaren itu, mangkanya sekarang ngantuk,"


"Malam pertama sama siapa lo, Da? Lo aja belom nikah malah main malam pertama aja, emang udah sanggup ngurus bocil, lo?"

__ADS_1


"Sanggup ngak sanggup itu kewajiban. Pikiran lo, emang malam pertama itu hanya suami istri doang apa? Malam pertama dialam kubur juga bisa,"


"Ya elah, Da. Lo sendiri kan yang bilang malam pertama, mangkanya gue nanya malam pertama apa'an?"


"Malam pertama ditempat latihan malam hari lah, emang apa lagi untuk gue?"


"Ditempat latihan? Emang latihan sampai pagi atau gimana lo?"


"Hus jangan rame, dengerin noh ceramahnya,"


"Aneh emang lo, Da. Eh tumben lo ngak sama Wulan lagi? Emang dia kemana kok kagak ikut?"


"Ya tanya ke orangnya lah, ngapain tanya gue? Gue bukan bodyguardnya jadi jangan tanya gue soal dia,"


"Lo dan dia kan sahabatan, Da. Ya jelas lah gue tanya ke lo soal dia, soalnya tiap hari kan lo selalu barengan sama dia,"


"Gue dan dia udah pisah, jadi jangan ungkit ungkit soal dia dihadapan gue,"


"Pisahan? Emang ada masalah apa'an, Da?"


"Lo tanya kayak wartawan aja, terlalu banyak pertanyaan. Jangan ngomong lagi, atau gue banting lo disini," Ucap Risda dengan nada kesalnya kepada Fafa.


"Iya ya, sorry."


Mereka pun kembali mendengar sebuah ceramah yang telah dilakukan oleh seorang kyai. Risda tidak terlalu mendengarkan karena dirinya yang mengantuk sangat berat itu. Risda pun tertidur dipojokan ruangan dengan wajah yang ditutupi oleh jilbabnya karena sangking mengantuknya dirinya itu.


"Woi bangun!" Ucap Fafa sambil mengoyang goyangkan tubuh Risda.


"Apa'an sih?" Tanya Risda dengan nada malasnya itu.


"Sampai kapan lo tidur? Emang perut lo kagak lapar?" Tanya Fafa.


"Emang ada makanan?"


Mendengar kata makanan disebutkan, hal itu langsung membuat kedua mata Risda terbuka sangat lebarnya. Perutnya seakan akan menjadi keruyukan ketika mendengar kata itu, dan meminta untuk segera diisi karena sejak pagi dirinya belum makan.


"Ada diluar, sudah disiapkan oleh masyarakat sekitar."


"Asyikkkk... Ayo buruan bangun, Fa. Gue mau makan,"


"Pelan pelan napa, Da. Lagian mereka juga masak banyak dan kagak mungkin kehabisan gitu aja stoknya,"


"Perut gue lapar tau, nih perut minta diisi,"


"Diisi sama dedek bayi kah?"


"Orang dimasukin aja ngak pernah, mana bisa tiba tiba diisi sama dedek bayi?"


"Kali aja sih,"


"Ngawur!"


Keduanya pun bergegas untuk menuju ketempat yang dimaksud oleh Fafa itu, disana sudah terdapat beberapa anak yang sudah duduk melingkari beberapa makanan enak. Risda dan Fafa langsung bergabung dengan yang lainnya, dan keduanya pun ikut makan bersama dengan yang lainnya.


Bisa dikatakan bahwa Risda ikut pengajian hanya karena makanannya, seandainya tidak ada hidangannya dirinya tidak akan berangkat saat ini karena terlalu lelah habis latihan semalaman itu. Dirinya pasti memilih untuk tidur dirumah saja daripada harus ikut karena dirinya benar benar merasa sangat ngantuk.


Akan tetapi, setelah bertemu dengan makanan rasanya rasa kantuk yang dialami oleh Risda itu pun lenyap seketika. Dirinya mendadak terasa segar kembali daripada sebelumnya yang lungset bagaikan pakaian yang tidak pernah dicuci.


"Enak ya, Da? Lahap bener makan lo," Ucap Fafa.


"Makan ngak boleh bicara," Jawab Risda singkat.


"Eh, kata siapa lo?"


Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Risda, dan Risda justru tengah sibuk untuk memakannya dengan lahap. Bukan karena rasanya dirinya memakan seperti itu, akan tetapi karena rasa lapar yang sejak tadi menyerangnya itu. Sejak pulang dari latihan, Risda sama sekali belum makan dan bahkan tidak berniat untuk mengambil nasi dirumah itu karena Indah yang terus mengomelinya karena menginap ditempat latihan semalaman.


Akhinya perutnya pun terasa kenyang, setelah makan dirinya pun langsung meminum es yang telah disiapkan ditempat itu untuk mereka yang hadir. Bahkan mulut Risda pun tidak berhenti untuk terus mengunyah cemilan yang telah disediakan disana, dirinya tersebut langsung memakannya akan tetapi dengan perlahan lahan, dan berbeda jauh dari sebelumnya.


"Belom kenyang juga, Da? Gue lihat lo aja sudah ngerasa sangat kenyang,"


"Lambung gue itu lebar, jadi bisa menampung makanan yang banyak," Ucap Risda sambil memegangi sepotong buah semangka.


"Tapi badan lo kurusan aja, kayak kurang gizi, jangan jangan lo kena gizi buruk kali."

__ADS_1


"Gila lo! Orang sehat wal afiat kayak gini lo kata gizi buruk? Ngaca lo, lo itu lebih kurus daripada gue,"


"Iya ya, ngak usah nyolot segala, ludah lo tuh berceceran dimana mana,"


Risda dengan kasarnya langsung mengusap bibirnya, dirinya sangat kesal dengan Fafa. Sekesal kesalnya Risda, dia tidak akan memasukkan kedalam hatinya soal perkataan perkataan dari teman temannya itu. Setelah acara pengajian selesai, mereka pun kembali kerumah masing masing, begitupun dengan Risda.


Setelah pulang pengajian, Risda pun langsung tertidur, karena pulangnya setelah adzan magrib. Sehabis itu dirinya pun tertidur dengan lelapnya hingga esok harinya tanpa ada yang bisa membangunkannya sampai pagi.


*****


"Renzo!" Panggil Risda ketika selesai upacara bendera dihari senin dan melihat bayangan Afrenzo berada tidak jauh darinya.


Mendengar panggilan itu, Afrenzo pun langsung menghentikan langkah kakinya untuk menoleh kearah Risda. Sementara, Risda terus berlari untuk menghampiri ketempat Afrenzo yang kini tengah berada saat ini, Risda pun langsung berdiri berhadapan dengan Afrenzo.


"Renzo, nanti latihannya masuk atau libur?" Tanya Risda.


"Masuk, kalo ngak ada pemberitahuan berarti tetap masuk," Jawan Afrenzo dengan nada tegasnya.


"Kalo gitu gue izin kagak masuk ya untuk nanti,"


"Kenapa?"


"Masalahnya parah, Renzo. Lo kenal temen sekelas gue yang namanya Tika ngak?" Tanya Risda dan hanya dijawab anggukan kepala saja oleh Afrenzo, "Hp nya Nyokap temen gue yang namanya Nanda dicuri olehnya,"


"Jangan nuduh orang sembarangan,*


"Gue ngak nuduh, Renzo. Tapi dia sendiri yang ngaku waktu hari sabtu itu. Katanya dia mau mengembalikan ponsel itu kepada Nanda hari ini, tapi dia kagak masuk,"


"Terus apa hubungannya?"


"Dengerin dulu lah, lo itu main motong motong pembicaraan saja. Nah Nanda sama Rania ngak terima gitu aja, hp Nyokapnya Nanda hilang sementara Rania harus ganti uang kas yang telah dicuri olehnya juga. Keduanya ngak terima dan nanti mau ngerencanain untuk mendatangi rumahnya, gue takut nanti mereka akan bertengkar disana,"


"Jangan ikut campur urusan mereka,"


"Tapi Renzo, mereka juga temen sekelas gue, masak gue harus diem aja kalo mereka lagi berantem nantinya? Gue ngak bisa diam gitu saja, Renzo. Kalo temen temen gue kenapa kenapa gimana? Lagian kita juga kagak tau keluarganya seperti apa,"


"Hemmm..." Jawan Afrenzo yang hanya berdehem sajs.


"Jadi lo ngizinin apa ngak soal ini, Renzo? Gue harus hadir diantara mereka untuk jadi yang penengah, takutnya nanti malah ribut lagi disana."


"Ngak,"


"Renzo! Yaudah gue bolos sendiri saja meskipun ngak dapat izin dari lo, kslo gue ngak ikut, gimana nasib temen temen gue nantinya?"


"Baiklah, gue izinkan cuma satu hari saja liburnya, setelah itu jangan bolos lagi,”


"Terima kasih, Pelatih! Kalo begitu gue ke kelas dulu ya,"


"Iya,"


Risda pun kembali bergegas untuk menuju kekelasnya dengan cara berlari larian santai, dirinya pun bersenandung pelan sambil bergegas untuk menuju ke kelasnya kembali. Dirinya pun memasuki area kelasnya, dan langsung bergegas untuk mendatangi teman temannya yang memang sudah sampai disan lebih dulu daripada Risda.


Setalah upacara bendera merah putih selesai dilakukan, mereka pun langsung membubarkan dirinya masing masing tanpa memperdulikan sesama temannya itu. Sementara Risda, dirinya harus mendatangi Afrenzo sebelumnya untuk meminta izin kepada pelatihnya itu.


"Gimana, Da? Lo dibolehin ikut kan?" Tanya Rania.


"Alhamdulillah boleh kok, jadi nanti kita bisa pergi kerumah Tika bareng bareng. Alasan sakitnya sama sekali tidak logis, Ran." Ucap Risda.


"Ngak logis maksud lo apa'an, Da?"


"Didalam buku gue ada tulisannya, tulisan dibuku dan surat itu sama persis. Itu artinya, dirinya sendiri yang telah menulis surat itu untuk neralasan. Bisa jadi kan?"


"Lo bener banget, Da. Ya heran aja sih gue sama dia, apa jangan jangan ponsel Nyokap gue udah dijual olehnya? Kan itu bisa jadi, mangkanya dirinya sekarang itu kebingungan harus ganti rugi denyan cara apa, hingga keputusan akhinya dirinya tidak masuk ke sekolah." Jelas Nanda.


"Nah itu, sebaiknya pulang sekolah nanti kita kesana untuk melihatnya secara langsung. Oh iya, jangan samai ada yang tau soal ini selain kita, takutnya nanti justru dirinya bekerja sama dengan keluarganya jadi mereka bisa menyembunyikan kesehatannya itu,"


"Bener banget, Ok fike... Nanti kita kesana bareng bareng dengsn tibs tiba agar sikapnya itu terbongkar."


"Setuju soal usulan lo, Da."


"Setuju!!"


"Setuju!!

__ADS_1


"Setuju mulu, kapan sekitarnya?" Tanya Risda.


"5 tahun lagi kalo masih hidup," Jawab Mira.


__ADS_2