Pelatihku

Pelatihku
Episode 172


__ADS_3

Risda dan Ana sedang berada didalam perjalanan menuju rumah Risda, Risda sudah tidak sanggup lagi untuk menahan air matanya dan akhirnya air mata itu jatuh dengan sendirinya tanpa adanya penghalang.


Mendengar suara isakkan Risda, hal itu membuat Ana menjadi tidak fokus menyetir motornya. Dengan kecepatan penuh dirinya melaju untuk menyalip mobil truk yang ada didepannya, dan keduanya sangat terkejut ketika melihat ada truk lain yang melaju dengan cepatnya dari arah berlawanan.


"Ana awas!" Teriak Risda kacau.


Ana sontak langsung membanting setir kearah kanan untuk menghindari truk yang datang dari arah berlawanan itu. Hingga keseimbangannya goyah, dan keduanya pun terjatuh dari motor itu dan hampir saja masuk kedalam sebuah sungai yang arusnya sangat deras.


"An, lo nggak papa kan?" Tanya Risda dan langsung bangkit dari jatuhnya untuk mendekat kearah Ana.


Risda pun membantu Ana untuk mendirikan motornya lagi, kaki Ana terjepit sehingga sulit bagi Ana untuk bisa bangkit dengan mudah. Keduanya juga langsung dibantu oleh warga setempat dan menepikan motornya itu.


"Gue nggak papa kok, Ris. Lo aman kan?"


"Syukurlah, gue nggak papa kok."


Risda dan Ana langsung berjalan menuju ke tepi jalan, keduanya menghampiri motor mereka yang telah dipinggirkan oleh warga sekitar. Pergelangan kaki Risda terkilir, sehingga dirinya terlihat pincang ketika berjalan menuju ke sepedah motor milik Ana.


"Maafin gue ya, Ris. Gue tadi nggak lihat jalan ketika mau menyalip," Ana merasa bersalah dengan Risda karena telah membuat Risda mengalami kecelakaan.


"Nggak papa, An. Gue lega kalo lo baik baik saja," Jawab Risda yang nampak khawatir dengan Ana.


"Tapi kaki lo?"


Risda pun memandang kearah kakinya, memang terasa sangat nyeri sedari tadi. Risda pun langsung melipat kaos kakinya, dan terlihat bercak merah yang seperti tengah menggumpal ditempat itu. Pantas saja rasanya sangat sakit, apalagi ketika digunakan untuk berjalan.


"Hanya luka kecil, nanti juga sembuh kok, An. Ini juga nggak terlalu sakit," Bohong Risda karena tidak mau membuat Ana khawatir.


"Kalo Renzo tau kita kecelakaan, dia pasti akan marah besar sama gue, Da. Gue hanya takut dia marah doang, apalagi sampe membuat lo seperti ini,"


"Soal itu biar nanti aku urus, An. Dia tidak akan bisa marahin lo selama ada gue,"


Setelah merasa lebih tenang, Risda dan Ana langsung berpamitan pulang kepada warga sekitar. Keduanya juga mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah sudi untuk menolong, dan keduanya kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Sebelum berangkat dari tempat itu, tiba tiba ponsel Risda berdering. Risda pun menyuruh Ana untuk berhenti dahulu, dan dirinya langsung mengangkat sebuah telpon yang masuk kedalam ponselnya itu. Terlihat nama Charlie dilayar ponselnya, dan hal itu langsung membuat Risda bergegas untuk mengangkatnya.


"Halo Kak, gimana? Apakah Bunda sudah ditemukan?"


"....."


"Aku belum menghubungi nomornya sama sekali, terakhir kali nomernya tidak aktif.'


"....."


"Baiklah Kak, aku akan segera pulang. Terima kasih sebelumnya, maaf telah merepotkanmu."


"....."


Risda pun memutuskan sambungan telpon itu, dirinya merasa lega setelah mendapat kabar dari Charlie. Charlie bilang bahwa Ibunya telah pulang kerumahnya, dan nomor ponselnya sudah bisa dihubungi lagi sehingga ketika Charlie menelpon, Charlie tau bahwa Dewi sudah ada dirumah.


Risda dan Ana langsung bergegas untuk pulang kerumah, dan tanpa banyak berkata kata lagi keduanya pun melajukan motornya dengan kecepatan lebih pelan daripada sebelumnya. Tak beberapa lama kemudian, Risda dan Ana telah tiba dirumah Risda.


"Bunda mana, Nek?" Risda langsung turun dari motor Ana ketika telah sampai dan langsung menghampiri Neneknya yang ada di pelataran rumahnya.


"Dia ada didalam," Jawab Neneknya.


"Didalam? Tapi kemana motornya?" Tanya Risda penasaran.

__ADS_1


"Kamu lihat sendiri saja, dia ada didalam."


Risda hanya bisa menganggukkan kepalanya, dan setelahnya Ana pun berpamitan untuk pulang kepada Risda. Risda menyuruhnya untuk mampir terlebih dahulu, akan tetapi Ana menolaknya karena merasa tidak enak dengan keluarga Risda.


Ana kembali melanjutkan perjalanannya menuju kerumahnya, sementara Risda langsung bergegas menuju rumahnya. Sebelum masuk kedalam rumah yang pintunya tertutup, Risda terlebih dahulu melepaskan alas kakinya dan menaruhnya dipojokan teras.


"Bunda," Ucap Risda dan seketika kedua kakinya merasa sangat lemas.


Risda tidak lagi mempedulikan kakinya yang sakit, dirinya pun langsung berlari kearah Ibunya yang terbaring diruang tamu. Bukan hal itu yang membuat Risda panik, melainkan adanya luka memar dan goresan yang ada diwajah, tangan, dan kaki Ibunya.


Risda pun langsung berlutut didepan Ibunya, dan layaknya seperti seorang pejuang tangguh yang sangat menghormati seorang wanita. Risda dengan pakaian beladirinya berlutut didepan Ibunya yang tengah tertidur pulas, Ibunya tidak mau tidur dikamar karena ingin menunggu kedatangan Risda.


Merasakan seseorang yang tengah menyentuhnya, hal itu membuat Dewi merasa sedikit terusik dari tidurnya. Dewi pun perlahan lahan mulai membuka kedua matanya, dan dirinya melihat Risda yang meneteskan banyak air matanya.


"Bunda kenapa?" Tanya Risda dengan linangan air matanya.


Sakit rasanya melihat orang yang kita sayangi terluka seperti ini, apalagi dia adalah orang tua kita sendiri. Risda tidak mampu menahan air matanya, dirinya pun bersimpu didepan tubuh Ibunya yang terbaring penuh luka di kursi uang tamu karena menunggu kedatangan Risda.


"Kamu sudah pulang, Ris." Ucap Ibunya sambil membelai kepala Risda dengan lembut.


"Siapa yang melakukan ini sama Bunda? Katakan kepada Risda,"


"Kamu benar, Ris. Orang itu bukanlah orang baik, maafin Bunda yang tidak pernah mendengarkan ucapan Risda selama ini, dan maafin Bunda yang telah ceroboh."


"Maksud Bunda apa? Risda tidak paham."


"Kemarin malam...."


*Flash back on*


Dewi dan Abie berangkat dari rumah, ketika keduanya berangkat Risda sempat tidak mengizinkan keduanya untuk berangkat. Risda hanya ingin menghabiskan satu waktu bersama dengan Ibunya, karena biasanya Ibunya akan sibuk dengan Abie ketika dia pulang dari bekerja.


"Ris, Bunda keluar mau ngambil surat surat motormu yang tadi dateng itu. Kalo nggak ada suratnya, kamu bisa ditangkap polisi."


"Bunda juga sih, kenapa harus beli motor yang nggak ada suratnya. Kan itu bahaya Bunda, kalo itu motor curian gimana?"


"Hus... Nggak boleh bilang gitu, Ris. Suratnya ada dirumah orang lain, katanya Abie surat itu dipinjam sama saudaranya."


"Jangan bilang kalo saudaranya pinjam buat digadaikan. Mana ada sih orang yang bodoh melakukan itu, Bun? Meskipun meminjamkan sesuatu itu, nggak mungkin meminjamkan surat surat penting seperti itu, apalagi surat surat motor atau surat tanah."


"Tapi dia nggak pernah bohong sama Bunda, Ris. Dia selalu nepati janjinya."


"Nggak pernah bohong? Bunda percaya bahwa dia selalu jujur? Apa dia emang orang baik baik?"


"Sudah Ris, terus Bunda harus gimana? Apa mau motornya nggak ada suratnya?"


"Mana ada orang baik baik yang datang kerumah tidak tau aturan, Bunda. Percuma juga, motor lama juga sudah Bunda jual, mana mungkin kembali."


"Dia kerja, selalu pulang malam nggak ada waktu kalo siang."


"Kenapa kita jadi berdebat? Sudahlah, terserah apapun mau Bunda. Pokoknya aku sudah memperingatkan pada Bunda sebelumnya," Pungkas Risda yang tidak mau memperpanjang perdebatan itu.


Akhirnya, Dewi pun tetap untuk memutuskan pergi demi mencari surat surat motor yang telah dijanjikan oleh Abie. Meskipun Risda sudah melarangnya untuk pergi, akan tetapi Dewi tetap pergi mengikuti Abie yang katanya hendak mengambil surat surat motor yang ada ditangan Risda.


Risda terpaksa memberikan kunci motor barunya kepada Dewi, sebelumnya Risda telah memasang bandul kesayangannya itu dikunci motor barunya. Awalnya Risda tidak setuju dengan hal itu, akan tetapi Dewi menyarankan kepada Risda untuk memasangnya di kunci motor barunya.


"Bunda, biar aku simpan saja, ya? Udah nggak mau lagi masang ini di kunci motor," Ucap Risda merengek.

__ADS_1


"Pasang saja, lagian itu kan udah jadi milik Risda motornya. Kalo disimpan nanti tau taunya hilang, kalo ditaruh di motor kan jelas selalu dibawa kemana mana,"


"Tapi Bunda, ini kan kesayanganku, nanti hilang bagaimana?" Sangat berat bagi Risda untuk kehilangan kunci motornya itu.


"Nggak bakal hilang, Ris."


"Ya sudahlah."


Dewi pun berangkat pergi dari rumah, dirinya naik motor dengan berboncengan dengan Abie yang memang keduanya berangkat bareng. Melihat kepergian keduanya, seketika itu juga perasaan Risda tidak lagi dapat tenang seperti sebelumnya.


"Semoga bukan pertanda buruk," Guman Risda ketika menatap keduanya pergi dari tempat itu.


*****


Waktu sudah larut malam, akan tetapi keduanya belum juga bertemu dengan orang yang membawa surat motor tersebut. Dewi hanya diajak oleh Abie mutar mutar dijalanan tanpa berhenti, sejak keduanya pergi dari rumah sampai jam 12 malam, keduanya terus saja berada dijalanan.


Dewi merasa seperti dibohongi oleh Abie, katanya mereka akan mengambil sebentar saja setelah itu pulang, akan tetapi sampai tengah malam seperti ini keduanya belum juga bertemu dengan orang yang membawa surat motor itu pergi.


Dewi merasa lelah saat ini, apalagi keduanya tengah berada ditengah tengah sawah dan juga jalanan yang rusak untuk dilewati. Kali ini Dewi yang membonceng Abie, entah kenapa Abie menyuruhnya untuk mengendarai motor tersebut sementara dirinya naik dibelakang Dewi.


"Dimana sih rumahnya? Kenapa harus lewat jalanan seperti ini? Mending kerja aku daripada harus muter muter nggak jelas seperti ini," Omel Dewi karena sudah merasa sangat kesal dijalanan.


Tanpa ada jawaban dari Abie, seketika itu juga sebuah tali yang ada dileher jaket melilit dileher Dewi. Ia tidak menyangka bahwa Abie akan melakukan hal seperti itu kepadanya, terlebih lagi ditengah tengah sawah nan gelap.


Untung saja jari telunjuk Dewi masuk diantar tali jaket dan lehernya, sehingga dirinya bisa menahan tekanan dari tali jaket yang melilit dilehernya. Dewi yang merasa sesak sekaligus terkejut pun langsung membanting setir dan menjatuhkan motor tersebut hingga keduanya terjatuh dengan keras.


Motor itu jatuh disebuah parit parit yang ada dijalanan nan gelap itu, dan keduanya jatuh tepat berada disebelah pemakaman desa. Karena keduanya terjatuh, otomatis tali jaket itu pun juga terlepas dari leher Dewi hingga membuat Dewi ketakutan dengan sosok Abie.


Belum berhenti disitu saja, Abie langsung mendekat kearah Dewi dan mencekik lehernya dengan menggunakan hampitan antara sukunya.


"Aku sudah lelah mendengarmu ngomel terus! Lebih baik kamu mati!" Ucap Abie dengan nada yang berbeda daripada sebelumnya.


"Kau mau bunuh aku? Terus bagaimana dengan anak anak? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan mereka? Kau mau masuk penjara?" Ucap Dewi yang berusaha untuk berbicara, meskipun dia kesulitan untuk melakukan itu.


"Setelah kau mati, aku juga akan bunuh diri!"


Tangan Abie yang kekar membuat Dewi kesulitan untuk bisa lepas, dirinya mengenggam erat tangan Abie yang melingkar dilehernya itu. Dewi tidak bisa berbuat apa apa selain menangis, meskipun dirinya terus berusaha akan tetapi selalu gagal untuk terlepas dari cekikan orang itu.


Suasana pun semakin mencengkram, tiba tiba seekor burung hantu yang amat besar terbang kearah keduanya dan mendarat disebuah ranting pohon yang tidak jauh dari tempat keduanya berada. Langit yang semulanya terang benerang mulai tertutup oleh awan hingga membuat rembulan malam tertutupi olehnya.


"Apakah ini adalah akhir hidupku, Ya Allah. Bagaimana dengan Risda jika aku mati? Dia tidak punya siapa siapa selain aku Ibunya, Siapa yang akan dia miliki?" Batin Dewi yang teringat dengan anak bungsunya.


Dewi pun menjatuhkan tubuhnya hingga membuat Abie ikut terjatuh, dan itu membuat pegangan tangan itu mampu terlepas dari leher Dewi. Dewi akhirnya bisa bernafas walaupun hanya sebentar, karena setelahnya Abie sendiri langsung mencekik leher Dewi dengan menggunakan kedua tangannya.


Abie sangat berniat untuk membunuh Dewi malam itu, Dewi terkapar tidak berdaya dengan pakaian yang penuh lumpur ditempat itu. Karena jarak wajah keduanya sangat dekat, Dewi pun mampu untuk menatap wajah Abie yang sangat menyeramkan itu.


"Kalo aku mati, kau harus menyekolahkan Risda sampai lulus, kau harus bertanggung jawab atas diriku," Ucap Dewi dengan terbata bata.


"Nggak! Kalo kau mati, aku juga akan ikut mati."


"Kenapa kita harus berakhir seperti ini?"


Pertanyaan Dewi sama sekali tidak dijawab oleh Abie, Dewi pun teringat dengan kisah yang pernah dibicarakan oleh Abie. Abie berkata bahwa temannya sudah terbiasa merampas motor orang lain, bahkan dia tidak akan segan segan untuk membunuh korbannya.


Dewi mencoba untuk berkata dengan halus kepada Abie, dia bahkan mencoba untuk membujuk Abie melepaskan cekikannya itu. Percuma baginya jika terus memberontak, karena biar bagaimanapun juga posisinya tidak menguntungkan apalagi dirinya kalah dengan kekuatan dari lelaki itu.


Karena gagal untuk membunuh Dewi, Abie pun langsung menjatuhkan dirinya dan bertingkah seolah olah dirinya tengah kerasukan didepan Dewi. Dewi mencoba untuk menjauh dari Abie, karena dirinya trauma untuk berdekatan dengan Abie.

__ADS_1


Apalagi di posisi seperti ini, dan dirinya menatap kearah sekitarnya yang gelap. Leher sekaligus wajah dan seluruh tubuhnya terasa sakit, sakit akibat kejadian itu. Abie masih saja bersikap seakan akan dirinya kerasukan jin didepan Dewi, hal itu dia lakukan agar Dewi tidak curiga kepadanya dengan niatnya sebelumnya.


Abie takut jika dia akan dilaporkan ke pihak berwajib oleh Dewi, apalagi dirinya yang gagal untuk membunuh Dewi malam ini. Akan menjadi barang bukti yang sangat kuat bagi Dewi, jikalau pun Dewi mau melaporkan dirinya itu.


__ADS_2