
Risda tercengang ketika sampai dilantai atas bersama dengan Afrenzo, bagaimana tidak? Dilantai atas terdapat matras yang sangat lebar daripada yang ada dibawah, dilantai atas juga terdapat beberapa alat fitness yang sering dipakai oleh Afrenzo selama ini.
Bisa dibilang bahwa ruangan diatas aula tersebut adalah ruangan khusus untuk Afrenzo berlatih sehingga tidak ada yang datang keatas selain untuk menemui Afrenzo yang bahkan hanya akan mengetuk pintunya saja tanpa masuk kedalam ruangan itu.
Afrenzo langsung berdiri diatas matras yang ada disana dengan melipat kedua tangannya kebelakang, sementara Risda pun berjalan mendekat kedepannya meskipun pandangannya masih terarah kepada ruangan tersebut yang memang seperti ruangan terbuka.
"Pemanasan," Ucap Afrenzo kepada Risda.
"Pemanasan sendiri? Biasanya pemanasan selalu dibimbing,"
"Ikuti gue."
Afrenzo langsung mengangkat tangannya dan menariknya tangan kirinya kearah kanan diikuti oleh Risda yang memerhatikan setiap gerakan yang diajarkan oleh Afrenzo kepadanya itu, setelah melakukan gerakan tangan Afrenzo pun mulai mengajarinya tentang gerakan kaki.
Meskipun hanya berdua didalam sana akan tetapi terasa seperti sendirian karena Afrenzo sama sekali tidak mengeluarkan suaranya sementara Risda terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Afrenzo.
Setelah pemanasan Risda langsung disuruh untuk berlari diatas Kinetic Treadmill, kinetic treadmill adalah sebuah alat yang digunakan untuk berlari dengan kecepatan yang bisa kita sesuaikan dengan kemampuan kita ditempat.
Risda langsung melangkah untuk menaiki alat tersebut sementara Afrenzo langsung menyalakannya sesuai dengan kemampuan Risda, dan dia akan menambah kecepatannya selama Risda nampu untuk mengimbanginya semakin lama semakin cepat pula Afrenzo menambah kecepatannya.
Keringat Risda pun mulai menetes membasahi tubuhnya selama dirinya berlari diatas alat tersebut, ia berpegangan erat kepada pegangan yang ada dialat tersebut agar tidak jauh kebelakang.
"Renzo! Gue ngak kuat!," Teriak Risda yang mulai kewalahan setelah berlari selama 15 menit.
"Lemah." Ucap Afrenzo dan langsung mematikan mesin tersebut.
"Gue sebenarnya belum pernah latihan beladiri, jadi tubuhku memang perlu dilatih lagi,"
"Pulanglah,"
"Renzo, maaf gue sudah mengecewakanmu, kita latihan lagi ya, gue ngak akan nyerah lagi,"
"Lo sakit, mending lo istirahat,"
Afrenzo sebenarnya mengetahui bahwa Risda masih sakit sampai saat ini, kondisinya masih belum benar benar sembuh sehingga berlari sebentar saja dirinya sudah kelelahan, melihat itu membuat Afrenzo tidak ingin meneruskan latihannya.
"Gue ngak mau pulang Renzo, gue mau berlatih disini,"
"Lo sakit, gue ngak mau bunuh orang disini,"
"Tapi gue bisa, hanya pusing saja kok tapi gue ngak mau nyerah gitu saja" Risda pun berlutut didepan Afrenzo agar pemuda itu tidak menyuruhnya untuk pergi dari ruangan tersebut.
"Bangun! Gue ngak suka," Perintah Afrenzo dengan tegas kepada Risda.
"Ngak, lo sudah janji kalo lo bakalan ngelatih gue Renzo, gue ngak mau pergi sebelum lo ngelatih gue lagi disini"
"Lo sakit"
"Gue ngak papa, nanti bisa sembuh sendiri"
"Ngak"
Afrenzo melipat kedua tangannya didepan dada dan membuang pandangan dari wajah Risda, Afrenzo sudah tidak ingin melanjutkan latihan ini karena Risda terlihat sangat pucat saat ini akan tetapi Risda terus berharap bahwa Afrenzo mau melatihnya lagi.
"Lo belum makan?," Tanya Afrenzo.
"Belum, gue tadi langsung berangkat kemari karena takut lo nungguin begitu lama," Jawab Risda jujur.
"Seharusnya lo makan sebelum latihan!" Sentak Afrenzo kepada Risda.
"Maaf," Cicit Risda lirih karena sentakan keras dari Afrenzo kepadanya itu.
"Sekarang lo pulang, makan"
Mendengar perintah itu hanya membuat Risda berkaca kaca, tidak biasanya gadis itu akan menitihkan air mata entah kenapa kali ini dirinya berkaca kaca didepan Afrenzo seakan akan ada beban begitu besar yang tengah ia tanggungnya.
"Gue ngak mau pulang," Setitih air mata muncul dipelupuk mata Risda.
"Gue ngak mau ngelatih lo lagi, kalo lo ngak nurut sama gue,"
"Renzo, plisss... gue ngak mau pulang kerumah sekarang, mereka jahat,"
"Lo bisa tidur disini"
__ADS_1
Afrenzo langsung meninggalkan tempat tersebut dan membairkan Risda untuk tetap didalam ruangan tersebut sementara dirinya langsung turun kebawah entah pergi kemana, melihat itu membuat Risda langsung meluruh diatas matras yang ia pinjakki saat ini.
*****
Tanpa disadari bahwa Risda benar benar tertidur diatas matras dengan keringat dingin diseluruh tubuhnya, Afrenzo pun datang sambil membawakan sekantung makanan ketempat itu dan membangun Risda.
"Da, bangun" Ucap Afrenzo sambil mengoyang goyangkan pipi Risda.
Risda pun mengerjap kerjapkan kedua matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk kedalam pupil matanya itu, ia mendapati bahwa Afrenzo tengah berjongkok di depannya saat ini, sementara dirinya begitu terkejut ketika menyadari bahwa dirinya tengah tertidur disana.
Risda langsung bangkit dan duduk didepan Afrenzo dengan segera, ia pun nengusap kasar wajahnya untuk menghilangkan bekas tidurnya itu, sementara Afrenzo langsung menyodorkan sesuatu dihadapan Risda.
"Makanlah" Ucap Afrenzo.
Risda menerimanya dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan, entah sejak kapan Afrenzo begitu baik kepadanya, meskipun wajahnya masih terlihat dingin akan tetapi perhatiannya kepada Risda dapat Risda rasakan saat ini.
"Lo beliin ini buat gue?," Tanya Risda kebingungan.
"Makan, gue ngak suka dibantah"
"Thanks ya"
Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya saja, ia langsung bangkit dari jongkoknya untuk mendekat kearah kinetik treadmill yang sebelumnya digunakan oleh Risda, ia pun langsung menyalakannya dan mulai berlari diatas alat tersebut.
Risda hanya bisa menyaksikan apa yang dilakukan oleh Afrenzo tersebut dengan kagum, ia pun membuka bungkusan yang dibawakan oleh Afrenzo sebelumnya dan mendapati adanya bubur ayam didalamnya, rasanya pun masih hangat.
"Jangan makan yang keras keras, ngak baik untuk lambung lo" Ucap Afrenzo sambil berlari diatas alat tersebut.
"Bagaimana lo tau kalo gue punya penyakit lambung?"
Afrenzo pun tidak membalas ucapan dari Risda itu, ia justru fokus untuk berlari diatas alat tersebut, Risda yang tidak mendapatkan jawaban dari Afrenzo itu pun mendengus kesal karena cowok itu sama sekali tidak mau menjawab pertanyaannya.
Risda lalu menyuapkan bubur tersebut kedalam mulutnya, rasa hangat langsung menyelimuti mulut dan tenggorokannya itu, rasanya nyaman ketika bubur tersebut masuk kedalam mulut Risda hingga membuat Risda tersenyum dengan sendirinya.
"Kata orang penyakit lambung bisa menyebabkan kematian, semakin parah sakitnya mungkin akan semakin baik untuk gue, jadi gue bisa tenang dialam baru nanti," Guman Risda pelan akan tetapi masih mampu didengar oleh Afrenzo.
"Pikiran ngak berguna," Ucap Afrenzo dingin.
"Gue lelah Renzo, entah sampai kapan gue akan ada didunia ini, jika bisa dipercepat udah gue lakuin sejak dulu,"
"Iya ya, gue masih punya hutang sama lo, gue janji secepatnya akan gue bayar hutang gue sama lo sebelum gue benar benar pergi untuk selamanya,"
"Gue yang akan pergi duluan, bukan lo" Batin Afrenzo.
Afrenzo pun kembali fokus kepada apa yang tengah ia lakukan saat ini, sudah setengah jam dirinya berlari dengan kecepatan yang tinggi akhirnya dirinya menghentikan mesin tersebut dan langsung duduk diatas matras dengan selonjoran.
Ia pun melihat Risda yang sudah menghabiskan makanan tersebut dan meminum minuman yang telah dibelikan olehnya kepada Risda, Risda pun menatap kearah Afrenzo yang tengah menyetabilkan pernafasannya itu.
"Gue janji bakalan gue lunasi" Ucap Risda seraya menyodorkan botol minuman kepada Afrenzo.
Afrenzo sebelumnya memang membeli 2 botol minuman untuk Risda dan juga dirinya, melihat itu membuat Afrenzo langsung menerima uluran botol itu dan membukanya.
"Boleh nanya sesuatu ke lo ngak?," Tanya Risda pelan karena takut membuat Afrenzo marah.
"Hem..." Jawab Afrenzo adanya berdehem.
"Waktu itu lo kok bisa bawa duit sebanyak itu? Apa lo ngak dimarahin orang tua lo karena ngasih duit itu sembarangan?"
"Itu duit gue, gue dapat dari ngelatih disini,"
"Jadi itu tabungan lo? Sorry ya gue ngak tau,"
"Emang gue pernah ngasih tau?"
"Ngak juga sih, tapi gue ngerasa ngak enak aja sama lo, apalagi tau kalo duit itu hasil lo ngelatih,"
"Gue ngak maksa lo buat bayar, asal lo punya tanggung jawab untuk ngembalikan,"
"Iya gue pasti balikin kok, gue nyicil ngak papa kan?"
"Ngak, lo harus nabung sendiri"
"Tapi, gue ngak bisa bayar secepat itu, gue janji bakalan lunasin kok"
__ADS_1
"Ya"
*****
Risda berjalan menuju kelapangan bersama dengan teman temannya, hari ini adalah hari senin sehingga mereka akan melaksanakan upacara bendera dihari senin itu, hari itu juga adalah hari pemilihan ketua OSIS yang baru di SMA Bakti Negara.
Mereka pun melakukan upacara bendera dengan tertib, hingga upacara bendera telah selesai dilaksanakan, setelahnya calon anggota OSIS baru pun diminta untuk maju kedepan sebagai calon dari organisasi OSIS disekolahan itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wa bharakatuh, Alhamdulillah hirobbil alamin, puji syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, karena kita bisa berkumpul diacara pagi ini tanpa kurang suatu apapun, kami dari anggota OSIS ingin menyampaikan bahwa akan diadakan sebuah pemilihan ketua OSIS, Sekertaris, dan bendahara baru, untuk kandidat kandidatnya dimohon untuk memperkenalkan diri" Ucap ketua OSIS.
Afrenzo dan yang lainnya langsung memperkenalkan diri masing masing, alasan Afrenzo mengikuti pemilihan tersebut adalah untuk memajukan perguruan beladirinya disekolahan itu, semenjak dipimpin oleh Bagas, team beladirinya selalu dipojokkan.
"Renzo! Hore! Renzo semangat, Renzo pasti kepilih" Semangat Risda untuk menyemangati Afrenzo hingga membuat fokus semuanya tertuju kepada Risda dan Afrenzo.
Afrenzo pun menatap sekilas kearah Risda dengan tatapan yang sulit diartikan, dirinya langsung berdiri ditempat yang telah disediakan untuk dirinya itu sebagai calon dari ketua OSIS.
"Jadi lo dukung Renzo?," Tanya Wulan yang keanehan melihat Risda yang bersorak untuk Afrenzo.
"Iya, daripada ketua OSIS yang lama itu, seenaknya aja ngancem gue" Jawab Risda dengan ketusnya.
Bagas masih duduk dibangku kelas 11 SMA, sehingga dirinya pun mencalonkan kembali sebagai ketua OSIS, ia pun menghasut murid murid lainnya untuk mendukung dirinya begitupun dengan Risda yang diancam olehnya kalau sampai Risda memilihnya.
"Iya juga sih, ketua yang lama kebanyakan bacooot,"
"Jadi, lo ikut gue untuk ndukung Renzo?,"
"Kita dukung bareng bareng!," Seru Wulan diikuti oleh teman temannya itu.
"RENZO SEMANGAT! RENZO PASTI MENANG!" Teriak Risda diikuti oleh teman temannya.
Melihat kehebohan diteam Risda membuat Bagas yang selaku ketua OSIS lama itu pun hanya bisa mengepalkan tangannya, ia tidak akan membiarkan saudara sepupunya itu menang untuk melawannya saat ini, sementara Afrenzo menyaksikan apa yang dilakukan oleh Risda itu dengan sebuah senyum tipis yang mengembang diwajah dinginnya itu.
Wajah Afrenzo yang sudah tidak lagi dingin itu pun membuat seluruh siswa yang melihatnya langsung berpindah haluan menjadi mendukung Afrenzo, hal itu semakin membuat Bagas bertambah geramnya.
Risda terlihat sangat bersemangat untuk mendukung pelatihnya itu, dirinya nampak begitu sangat heboh saat ini sehingga perhatian seluruhnya terarah kepada Risda dan teman temannya itu.
Seluruh siswa pun dimintai maju ke depan untuk mengutarakan pendapat mereka mengenai siapa yang akan menjadi ketua OSIS selanjutnya, mereka pun langsung mengantri dibarisan yang telah ditentukan untuk pemilihan tersebut.
"Renzo, lo pasti menang kali ini," Bisik Risda ketika gilirannya untuk memilih.
"Harus," Jawab Afrenzo singkat.
Risda mengacungkan kedua jempolnya kepada Afrenzo yang tengah berdiri diposisinya saat ini, Afrenzo pun tersenyum tipis kepada Risda hingga membuat Risda melongo kearahnya.
Risda tidak pernah melihat Afrenzo yang tersenyum kepadanya, meskipun itu hanyalah senyuman tipis akan tetapi hal itu sontak membuatnya terkejut hingga membuat mulutnya menganga lebar dengan kedua mata yang membulat.
Bagaimana tidak, cowok sedingin itu kini tengah tersenyum kepada dirinya dan bahkan senyum itu tidak pernah terlihat selama ini, sepanjang Risda mengenal dirinya, baru pertama kali dirinya melihat Afrenzo yang tengah tersenyum cerah itu.
"Woi cepat napa!," Teriak seseorang yang langsung menyadarkan Risda dari lamunannya.
"Eh iya, maafin gue," Jawab Risda.
Risda pun menjadi salah tingkah didepan Afrenzo yang masih menatapnya saat ini, ketika Risda melangkah pergi dari tempat itu seketika itu juga senyuman tipis diwajah Afrenzo juga luntur begitu saja dan langsung berganti dengan wajah dinginnya kembali.
Risda pun segera bergegas kembali menuju kebarisannya lagi setelah memilih calon ketua OSIS baru itu, Risda langsung kembali bergabung dengan teman temannya lagi untuk menunggu hasil dari pemilihan yang mereka lakukan saat ini.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya peserta terakhir untuk mengutarakan pendapatnya itu selesai, dan kini sedang menunggu hasilnya untuk pemilihan tersebut.
"Eh Da, hubungan lo sama Renzo itu apaan sih sebenarnya?" Tanya Wulan yang merasa penasaran.
"Ngak ada yang sepesial, dia hanya pelatih gue doang, bagaimana bisa gue punya hubungan sana tuh orang yang sedingin kulkas lima pintu"
"Dia itu incaran gue, bisa bisanya lo rebut dia dari gue"
"Lan, lo ngak papa kan? Gue ngak ada niatan tuh ngerebut Renzo, lagian gue juga ngak ada perasaan apapun sama tuh orang, gue dan dia itu hanya sekedar pelatih dan siswa saja, ngak lebih"
"Awas saja sampe lo ngerebut dia dari gue, Renzo harus jadi milik gue"
"Lan, lo ngak percaya sama gue?"
"Ngak, teman bisa saja jadi musuh dibalik selimut, lo bilang ngak ngerebut tapi cepat atau lambat lo pasti akan ngerebut dia dari gue, jelas jelas dia incaran gue"
"Maksud lo apaan! Jangan hanya gara gara masalah ini lo buat pertemanan kita berakhir sampai disini! Lo sangat berubah Lan"
__ADS_1
"Gue ngak peduli!"
Wulan pun bergegas pergi dari hadapan Risda, ia memilih untuk baris didekat teman yang lainnya daripada harus bersebelahan dengan sosok Risda, melihat itu hanya membuat Risda menghela nafasnya dengan pelan.