Pelatihku

Pelatihku
Episode 134


__ADS_3

Risda mencoba untuk memejamkan kedua matanya, waktu masih menunjukkan pukul 10 malam saat ini. Akan tetapi, rasa kantuk tak kunjung menghampiri gadis itu, dirinya tengah sibuk untuk memainkan ponselnya yang ada ditangannya itu. Dirinya tidak bisa tidur karena perutnya terus berbunyi saat ini, meskipun dirinya terus berusaha untuk memejamkan matanya akan tetapi kedua matanya tak kunjung bisa terpejam.


"Jika terus terusan seperti ini, rasanya gue ingin mati secepatnya saja. Gue nggak mau merepotkan orang lain, apalagi merepotkan Bunda karena terus meminta uang. Kapan gue mati?"


Risda menitihkan air matanya, dirinya pun menangis sesenggukan seorang diri didalam kamarnya itu. Benar benar tidak ada yang memedulikan dirinya, entah dia sudah makan atau belum makan.


Dirinya memang tinggal bersama dengan keluarga besarnya, akan tetapi dirinya merasa hanya tinggal seorang diri saja. Tidak ada yang peduli dengan dirinya, lantas untuk apa dia harus bertahan sejauh ini? Lebih baik mengakhiri hidupnya saja.


Risda menangis seorang diri tanpa ada yang mengetahui, dan bahkan dirinya menangis cukup lama hingga perlahan lahan dirinya mulai kelelahan dan tertidur dengan pulas. Risda pun bermimpi dengan indah, didalam mimpinya dirinya melihat sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya.


Didalam pemandangan itu, terdapat sebuah sumber air yang mengalir jernih, pohon pohon yang ada disekelilingnya menghasilkan buah buah yang lezat. Dirinya seakan akan merasakan bahwa mimpi itu adalah sebuah kenyataan, mungkinkah itu adalah sebuah surga? Apakah dia sudah ada disurga? Mimpi itu terasa begitu nyata.


"Sayang bangun, kita sholat tahajjud yuk,"


Tiba tiba terdengar suara seseorang ditelinga Risda, dirinya pun merasakan usapan lembut dilengan kanannya. Usapan itu begitu lembut bahkan Risda merasakan adanya sebuah kasih sayang dari ucapan tersebut.


Suara itu tidak dikenali olehnya, suara seorang wanita dengan lemah lembut sekaligus bernada yang indah. Perlahan lahan Risda mulai membuka kedua matanya kembali, dirinya lalu menoleh kesana kemari untuk mencari sumber suara itu, akan tetapi dirinya tidak menemukan apa apa.


Setetes air mata meluruh dibantahnya, bukan air mata kesedihan yang menetes melainkan sebuah air mata kedamaian. Hatinya merasa sangat damai saat ini, seakan akan beban hidupnya perlahan lahan mulai berkurang dan bahkan perutnya tidak terasa lapar lagi.


Risda masih mengingat dengan jelas suara wanita itu, bahkan dirinya tidak pernah dibangunkan dengan nada lembut seperti itu sebelumnya. Dirinya lalu melihat kearah ponselnya dan melihat jam yang tertera disana, masih pukul 2 dini hari rupanya.


Hatinya seakan akan mengatakan untuk dirinya segera mengambil air wudhu, Risda tanpa berpikir panjang segera bergegas menuju ke kamar mandi. Kamar mandinya berada diluar rumahnya, sehingga dia harus menerobos kegelapan untuk menuju kekamar mandinya.


"Siapa?" Tanya Risda ketika melihat bayangan dikejauhan.


Kedua matanya sama sekali tidak berkedip ketika melihat bayangan itu, bayangan itu masih berdiri ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun. Mungkinkah sebuah bayangan yang pernah dirinya lihat waktu kecil? Seketika itu juga, bulu kuduknya terasa merinding.


Dengan cepatnya, Risda lalu mengambil air wudhunya tanpa ingin tau lebih lanjut soal bayangan itu. Setelah membasuh muka dan melakukan wudhu, Risda kembali melihat kearah dimana bayangan sebelumnya berada, akan tetapi bayangan tersebut langsung hilang begitu saja.


Hal itu langsung membuat Risda berlari masuk kedalam rumahnya karena takut, Risda memang penakut akan tetapi dirinya juga memiliki rasa penasaran tinggi. Nafasnya memburu setelah dirinya selesai menutup kembali pintu rumahnya itu, meskipun berlari tidak terlalu jauh tapi hal itu cukup untuk membuatnya terengah engah.


Risda merasa lega setelah masuk kedalam rumahnya dan mengunci pintunya, dirinya pun mengintip dibalik tirai cendela kaca yang ada dirumahnya, untuk melihat seseorang yang ada diluar. Nampak halaman itu terasa sangat sepi, dan tidak adanya sebuah pergerakan karena hewan.


Risda merasa sangat sejuk setelah habis wudhu, dirinya pun langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengambil mukenah miliknya. Entah mengapa dipagi ini dirinya ingin sekali melaksanakan sholat, bahkan setiap harinya dirinya selalu lalai dalam sholatnya.


Seakan akan ada panggilan hati untuk dirinya melaksanakan sholat malamnya, tidak tau mengapa rasanya seperti ingin curhat dengan sang penciptanya. Bahkan ketika sujud pun dirinya masih sempatnya untuk menitihkan air matanya, tidak ada yang tau apa yang dirasakan oleh Risda saat ini selain Allah.


"Ya Allah, jika hamba tidak diberi kebahagiaan didunia, maka izinkanlah hamba-Mu ini untuk mendapatkan kebahagiaan dialam keabadian-Mu. Berikan hamba kekuatan untuk bisa terus bersabar akan setiap ujian yang Engkau berikan, jauhkan yang buruk dan dekatkan yang baik, Ya Allah. Aamiin.."


Risda pun menitihkan air matanya, karena dirinya terus membayangkan tentang mimpi yang baru saja dirinya alami itu. Mimpi yang begitu indah itu, selalu mampu untuk membuatnya menitihkan air mata disaat membayangkannya kembali.


Itu hanyalah sebuah mimpi, akan tetapi dirinya merasa bahwa mimpi itu adalah nyata. Begitu banyak kedamaian didalamnya, bahkan dirinya sama sekali tidak kekurangan suatu apapun. Mungkin Allah ingin memenangkan hatinya melalui sebuah mimpi yang indah, dan membuatnya mampu untuk bangkit kembali.


Tanpa disadari, bahwa Risda kembali tertidur dan larut kedalam mimpinya dengan menggunakan mukenahnya. Tidurnya itu terlihat sangat lelap, dan bahkan dia tidak memperdulikan posisinya seperti apa, karena sangking lelapnya dirinya tertidur.


*****


"David! Semangat!"


"Wih jagoan gue nih, woi semangat bro! Demi kelas kita!"


"David! David! David!"


"Dih ndukung David doang, yang lainnya juga dong! Ayo, Renzo!"


"Lo ini, Da. Sebenarnya lo dukung kelas kita atau kelas orang lain sih?"


"Ya jelas Renzo lah, ayo Renzo! Semangat!"


Siapa lagi yang membuat keributan ditempat itu selain Risda dan the gengs. Kini ditengah lapangan terdapat Afrenzo, David, Farhan, Bara, Ciko, Devan, dan lainnya. Mereka kini bertanding beregu, dan masing masing memiliki enam anggota.


Afrenzo, Ciko dan Devan mewakili kelasnya dengan tiga orang lainnya, yang lainnya pun sama. Kelas X Sastra Indonesia melawan kelas X IPA, dan ini adalah perlombaan pertama sebelum adanya perlombaan kedua dan seterusnya. Mereka bertanding didalam pertandingan bola volly, dan pertandingan itu terlihat sangat menegangkan, karena kedua regu sama sama kompak dan hebat.

__ADS_1


"Lo dipecat dari kelas kita, Da. Pergi saja lo ke kelas Renzo," Usir Mira yang cemberut karena Risda terus mendukung musuh kelasnya itu.


"On the way,"


Risda pun melangkahkan kakinya untuk pergi ketempat dimana kelas X IPA berada, akan tetapi langkahnya itu langsung dicegah oleh Mira. Dengan cengengesan Mira memegangi tangan Risda, karena takut Risda akan terbawa perasaan.


"Lo mau kemana, Da?" Tanya Mira.


"Berisik," Jawab Risda singkat.


"Ya elah, Da. Gitu aja dibawa serius, gue kan hanya bercanda tadi,"


"Oh."


"Risda, lo kok ngambek an sih? Kagak asik banget jadi orang,"


Mira seakan akan ketakutan kalau sampai Risda marah kepadanya, apalagi Risda sudah seperti partner koplaknya. Tidak akan terasa enak jika tidak ada Risda, karena diantara mereka yang paling kocak adalah Risda.


"Da," Panggil Mira sambil mengoyang goyangkan lengan Risda.


"Yeahhhh.... Renzo hebat!"


Mira yang kebingungan karena Risda yang marah kepadanya, justru Risda masih saja fokus dengan pertandingan yang dilakukan oleh Afrenzo. Seketika raut muka dari Mira pun berubah menjadi sebal dengan gadis itu, bagaimana tidak sebal jika kalian diposisi Mira? Rasanya ingin sekali memukul tuh kepala.


"Woi, fokus lo kemana sih, Da?" Tanya Mira dengan jengkelnya.


"Kemasa depan," Jawab Risda dengan berbinar binar.


"Kean*nya Renzo?"


Cletakk...


Sebuah jitakkan pun Risda lakukan kekepala Mira, pikiran temannya itu benar benar sangat membuatnya malu. Bukan itu yang dimaksud oleh Risda, akan tetapi pikiran Mira sudah tertuju kepada hal itu sebelumnya.


Mira mendengus kesal dengan apa yang dilakukan oleh Risda saat ini, bagaimana tidak kesal? Dirinya hanya menebak tiba tiba saja temannya itu melontarkan sebuah jitakkan kepadanya. Risda yang tanpa rasa bersalah langsung melengos begitu saja dari wajah Mira, seolah olah dirinya tidak peduli dengan Mira yang marah kepadanya itu.


"Shutttt.... Jangan berisik," Risda pun menempelkan telunjuknya diujung bibirnya untuk menyuruh gadis didepannya diam.


"Auah males sama lo, Da. Noh lihat ayang lo jatuh tuh,"


Mira pun menunjuk kearah lapangan, dan langsung membuat Risda menoleh. Risda melihat Afrenzo yang bangkit dari jatuhnya, entah mengapa lelaki itu bisa terjatuh begitu saja. Wajah Risda mendadak berubah menjadi panik, akan tetapi wajah Afrenzo sama sekali tidak terlihat kesakitan.


Afrenzo mampu untuk bangkit kembali, dan terus menikmati permainan bola volly itu. Melihat itu langsung membuat Risda merasa lega, ia tidak tau kejadiannya mengapa Afrenzo bisa terjatuh, sehingga dirinya khawatir kepada lelaki itu.


"Renzo semangat!" Teriaknya sambil bertepuk tangan heboh.


Risda terus mendukung lelaki itu, meskipun dirinya mendapatkan tatapan tidak enak dari Rizal dan yang lainnya. Bukan karena dirinya mendukung Afrenzo saja, melainkan dirinya yang mendukung kelas lain dalam lomba ini.


"Pemenangnya adalah...... Kelas X IPA!" Teriak juri.


"Yeahhhhh.... Renzo emang hebat!" Teriak Risda kehebohan.


Risda dan juga siswa kelas X IPA berteriak heboh karena sangking senangnya. Afrenzo mampu untuk memenangkan lomba kali ini, meskipun dirinya masih berada dibabak pertama dalam pertandingan itu.


"Huuuuu...." Seru seluruh siswa kelas X Sastra Indonesia kepada Risda, karena Risda yang senang diatas kekalahan kelasnya.


Mereka seakan akan tidak suka ketika temannya kalah, dan melihat Risda yang berteriak kehebohan atas kekalahan mereka. Akan tetapi Risda justru bodoamat dengan hal itu, dirinya langsung bergegas untuk berlari menghampiri Afrenzo.


"Renzo, lo nggak papa kan?" Tanya Risda setelah berdiri dihadapan Afrenzo.


"Gue nggak papa," Jawab Afrenzo.


"Kenapa lo bisa jatuh sih tadi?"

__ADS_1


"Sudah waktunya."


Melihat wajah khawatir Risda membuat lelaki itu mengangkat tangannya dan mengusap pelan kepala Risda. Risda pun tersenyum tipis kearah Afrenzo ketika merasakan usapan pelan dari tangan Afrenzo.


"Jilbabnya benerin, jangan sampai anak rambutnya kelihatan," Ucap Afrenzo sambil berlalu pergi.


Risda pun menyentuh keningnya, dan merasakan bahwa rambut poninya keluar. Risda sama sekali tidak menyadari soal itu, dirinya langsung membenarkan jilbabnya tersebut dengan segera.


*****


Risda masuk ke dalam kelasnya untuk bertemu dengan teman temannya, mereka pun terlihat kelelahan setelah melakukan sebuah pertandingan dan juga mendukung teman temannya. Melihat kedatangan Risda langsung membuat kelas itu langsung ricuh, karena adanya Risda didalam kelas itu.


"Lo anak kelas mana?" Tanya Rizal.


"Gue anak ilang," Jawab Risda dengan sensitifnya.


"Pantesan. Keluar aja kalo gitu dari kelas ini," Usir David.


"Terserah gue lah, lo nggak ada hak untuk ngusir gue. Lagian kalian sendiri yang bertanding, bukan gue,"


"Tapi lo dukung kelas lain,"


"Hedeh... Itu aja kagak bakalan ngaruh sama kalian kan? Kalau kemampuannya hanya segitu, meskipun seluruh dunia mendukung, tetap aja hasilnya seperti itu. Bukan begitu?"


Risda memang paling bisa untuk membalikkan ucapan, sebelum berkata dengan Risda ada kalanya untuk kita menyiapkan banyak kata kata agar gadis itu tidak bisa menjawab. Jika berbicara tanpa persiapan, maka siap siap akan dipermalukan oleh seorang gadis seperti Risda.


Risda langsung duduk dibangkunya, meskipun mereka kesal dengan Risda akan tetapi kekesalan itu tidak akan berlangsung lama. Seakan akan hubungan pertemanan mereka begitu dekat, sehingga masalah seperti itu tidak akan mampu untuk membuat mereka bermusuhan.


"Habis ini adalah finalnya. Setelah itu akan ada lomba bulu tangkis antar kelas, lo yang mewakili kelas ini sama Septia, Da. Pokoknya harus menang," Ucap Rania.


"Oke, gue kemarin udah latihan untuk lomba bulu tangkis sama Renzo sebelum latihan beladiri. Gue udah siap, kalo lo gimana, Tia?" Tanya Risda kepada Septia.


"Tergantung takdir, Da."


Belum juga tanding, akan tetapi Septia terlihat seperti lemas. Entah apa yang membuatnya tidak ada tenaga untuk mengikuti lomba itu, dirinya tidak berhadap lebih untuk bisa menang dalam lomba itu karena dirinya sendiri tau kemampuannya sampai dimana.


Septia terlihat pasrah dengan keputusannya nanti, entah apakah keduanya akan menang atau kembali dengan kekalahan. Septia terlihat sangat pasrah saat ini, bahkan dirinya pun meluruh keatas bangkunya sendiri.


"Lo ada masalah apa'an, Tia? Dari tadi lo diem mulu, dan loyo seperti itu lagi. Cerita lah sama kita kita," Ucap Risda.


Memang sejak tadi Risda fokus dengan pertandingan yang dilakukan oleh Afrenzo, akan tetapi dirinya juga memperhatikan perilaku Septia yang hanya diam saja sejak tadi. Gadis itu seakan akan menanggung sebuah beban yang dirahasiakan dari teman temannya, akan tetapi Risda mampu merasakannya karena dirinya juga sering merahasiakan apapun dari siapapun.


"Tia?" Panggil Risda karena Septia hanya berdiam diri saja.


"Gue nggak papa kok, Da. Hanya capek saja," Jawab Septia sambil memaksakan diri untuk tersenyum.


"Lo nggak bisa bohong sama gue, Tia. Pasti ini soal pertandingan kan? Kalo lo emang belom siap, biar Mira saja yang menggantikan,"


Pas... Tebakan yang diucapkan oleh Risda sangat tepat sasaran. Meskipun tanpa bercerita, Risda mampu untuk menebak apa yang terjadi karena dirinya adalah seorang pengamat yang tidak sembarangan untuk menebak. Risda tau buku tangkis adalah sebuah pertandingan yang sangat sulit bagi Septia, apalagi dirinya tidak mampu memukul Kok dengan benar.


"Gue bisa kok, Da. Hanya saja ngelihat siswa kelas lainnya yang jago main membuat gue ngerasa insecure, gue nggak yakin bisa menang," Ucap Septia lirih.


"Menang dan kalah itu sudah biasa kok dalam pertandingan, Tia. Namanya juga pertandingan, jelas ada yang menang dan ada yang kalah,"


"Tapi Da, gue kagak mau mengecewakan yang lainnya,"


"Mangkanya harus berusaha, sebuah kemenangan tidak akan bisa dicapai dengan mudah tanpa usaha, dan sebuah usaha hanya sia sia tanpa berdoa. Usaha tanpa doa itu sombong, dan berdoa tanpa usaha itu bohong. Semangat untuk kita,"


"Thanks ya, Da. Atas kepercayaannya,"


"Kalau pun nanti kalah, kita kita kagak bakalan marah kok. Setidaknya kita ikut meramaikan meski tidak mendapatkan kemenangan,"


Mendadak Risda berubah menjadi sok bijak dihadapan teman temannya, tapi apa yang dikatakan oleh Risda ada benarnya. Septia pun menganggukkan kepalanya, dirinya merasa gemetaran karena waktu pertandingan beberapa saat akan dimulai.

__ADS_1


"Kita kelapangan?" Tanya Risda.


"Baiklah. Kita berangkat sekarang," Ucap Septia dengan mengepalkan tangannya erat.


__ADS_2