
Jam masuk sekolah pun sudah tiba, Risda dan yang lainnya langsung duduk di bangku mereka masing masing saat ini. Mendengar suara lonceng berbunyi hal itu membuat Risda kebingungan harus bagaimana, karena dirinya yang belum mengerjakan tugas sejarah kali ini.
Seorang guru wanita pun masuk ke dalam kelas tersebut, guru wanita yang memakai jilbab dengan perawakan wajah yang sangat seram itupun terlihat sangat menakutkan bagi Risda. tidak biasanya dia takut dengan seseorang kecuali Afrenzo, akan tetapi beda situasi dengan saat ini.
"Cepat keluarkan tugas kalian masing masing," Ucap guru wanita itu kepada siswanya.
Seluruh siswa langsung bergegas mengeluarkan sesuatu dari dalam tas mereka masing masing, sementara Risda saat ini terlihat sedang kebingungan karena dia tidak tahu harus berbuat apa. Apa yang harus dia keluarkan? Apa yang harus dia kumpulkan? Dirinya pun merasa kebingungan sendiri.
Melihat teman temannya yang masing-masing mengeluarkan artikel buatan Risda itu pun membuat Risda kebingungan, ia tidak tahu lagi harus berbuat apa saat ini, bahkan dirinya saja belum membuat artikel tersebut.
"Semuanya kumpulkan didepan sesuai urutan nomor absen kalian," Ucap guru itu lagi kepada mereka.
Mereka pun langsung mengumpulkan artikel tersebut di meja guru sesuai dengan urutan nomor absen mereka dari nomor pertama, mereka dengan sesuai nomor urutan itu pun maju satu persatu.
Kini giliran siswa cowok yang maju tanpa membawa apapun, siswa cowok itu berada lebih 3 nomor sebelum Risda. cowok itu pun terlihat santai, meskipun cowok tersebut belum mengerjakan tugas artikel yang telah diberikan oleh guru.
"Saya lupa nggak bawa tugasnya," Ucap siswa tersebut.
"Bagaimana bisa lupa bukannya kemarin Ibu sudah beritahu kalian semua untuk bawa tugasnya? Kenapa masih ada yang lupa? Siapa lagi yang lupa silakan maju ke depan sekarang," Omelan dari guru wanita tersebut kepada semuanya.
Memang benar guru wanita jauh lebih menyeramkan daripada guru lelaki, guru lelaki biasanya hanya dihukum saja sementara guru wanita mereka harus diomeli terlebih dahulu sebelum diberikan hukuman.
Risda salah satu siswa perempuan yang belum mengerjakan tugas tersebut, guru itu masih bisa untuk memaklumi siswa laki laki yang belum mengerjakannya akan tetapi dirinya begitu aneh dengan siswa perempuan yang belum mengerjakan.
Risda pun berdiri di depan kelas tersebut bersama dengan tiga orang temannya. Hanya ada 4 orang yang belum mengerjakan tugas tersebut, salah satunya adalah Risda yang merupakan siswa perempuan satu satunya yang belum mengerjakan.
"Kenapa kamu belum mengerjakan tugasnya?" Tanya guru itu kepada Bima.
"Maaf, Bu. Kemarin saya bantu orang tua buat jualan dipasar malam," Jawab Bima.
"Kenapa ngak disampetin dulu buat mengerjakan? Punya ponsel kan? Kan bisa mengerjakannya lewat ponsel habis itu diprint,"
"Iya Bu, maaf. Lain kali saya akan mengerjakan tugas yang anda berikan,"
Guru tersebut hanya mendecak dengan kesal, bagaimana bisa tidak mengerjakan tugas hanya karena membantu orang tuanya berjualan di pasar. Zaman sekarang pun mereka sudah memiliki ponsel pribadi, lantas bagaimana bisa mereka lupa untuk tidak mengerjakan tugas itu.
"Lalu kamu?" Tanyanya lagi kepada Farhan.
"Maaf, Bu. Kemaren saya ngak belajar karena kerumah saudara,"
"Ini lagi! Alasan apa lagi nih, kerumah saudara apa sampai pagi? Kenapa ngak mengerjakannya?"
"Iya, Bu. Tadi pagi saya baru pulang, soalnya saudara saya khitanan,"
Guru itu pun menepuk jidatnya dengan kasar, alasan dari kedua muridnya yang telah didengarnya itu pun terlihat tidak masuk akal. Bagaimana bisa mereka lupa untuk mengerjakan tugas? Yang satu alasannya jualan dan yang satunya lagi alasannya saudaranya khitanan.
"Kalo kamu apa?" Tanya guru itu dengan kesal kepada Yudha.
"Maaf, Bu. Kemaren sudah mengerjakan tapi belum di print karena warnetnya tutup, jadi belum bisa mengumpulkan."
"Ini lagi, apa apa'an? Kalo niat mengerjakan itu dari siang, bukannya malam malam. Jelaslah warnetnya tutup kalo malam hari,"
"Iya Bu, maaf."
Mereka hanya bisa menjawab iya Bu, iya Bu, maaf. Hal itu semakin membuat guru wanita itu merasa jengkel dijam pertama, bagaimana tidak jengkel karena mereka tidak mengerjakan tugas yang diberikan olehnya waktu itu.
__ADS_1
"Kalo kamu kenapa? Cewek juga ngak mengerjakan tugas!" Sentaknya karena jengkelnya kepada Risda.
"Lupa, Bu." Jawan Risda singkat dan jujurnya.
"Bagaimana bisa lupa? Ini tugas sudah lama Ibu berikan, tapi kenapa bisa lupa untuk menggerakkannya? Memang kamu dirumah ngapain aja?" Omelnya.
"Pelupa itu sifat manusia, Bu. Jadi kalo saya masih pelupa itu artinya saya masih manusia bukan hantu," Jawab Risda dengan kepedean tingkat dewa.
Guru itu tidak harus dikit dengan ucapan Risda, gadis itu benar benar bisa membolak-balikkan perkataan seseorang. Bahkan bapak ibu guru pun sampai dibuatnya tidak bisa untuk meneladani ucapannya itu, entah mengapa lidahnya itu begitu lentur untuk menjawab pertanyaan dari orang orang yang ada di sekitarnya.
Hanya kepada Afrenzo saja dirinya tidak bisa untuk menyahuti ucapannya, jangankan untuk menjauhinya menatapnya saja sudah membuatnya takut. Kadang galak ketakutannya itu mampu untuk membuat Afrenzo juga berdiam diri, seakan akan begitu mudah bagi di setia untuk melawan ucapan orang lain.
Entah dari mana dirinya belajar untuk hal itu, sehingga dirinya begitu hebat untuk menjawab pertanyaan orang lain akan tetapi bukan soal pelajaran. kalau soal materi dirinya paling susah untuk menjawab, akan tetapi kalau soal skak dirinya mampu melakukan itu agar orang lain tidak bisa berbicara lagi.
Gadis itu benar benar sangat sulit untuk dibilangi, bagan dirinya akan menanggapinya dengan perkataan lain hingga orang lain tidak bisa menjawab perkataan itu. Lidahnya seakan akan begitu mudah untuk membuat orang berhenti berbicara.
"Orang yang sudah mati tidak mungkin jadi hantu, bagaimana bisa kamu jadi hantu?" Tanya guru wanita itu kepada Risda.
"Tapi kalau matinya tidak wajar kan jadi hantu, kalau sudah jadi hantu nggak mungkin saya bisa pelupa seperti manusia."
"Kata siapa orang yang matinya tidak wajar bisa jadi hantu? Orang yang sudah mati arwahnya juga akan pergi bukan bergentayangan,"
Apa yang sering dibilang atau ditakutkan, bahwa ada ruh-ruh yang bergentayangan itu adalah setan yang melakukan tipu daya dengan menyerupai orang yang sudah meninggal.
Dan ketika ruh akan dibangkitkan dari alam barzakh (alam kubur) ke alam akhirat, ruh itu dikembalikan ke jasad yang baru yang diciptakan untuk alam akhirat.
Begitu juga kaitannya dengan Jin, bahwa Jin itu makhluk yang dapat menjelma atau merubah fisiknya menyerupai bentuk manusia atau makhluk makhluk yang lain.
Setan yang berasal dari Jin, ingin menyebarkan tipu daya dan keraguan pada keimanan manusia, maka salah satu caranya adalah dengan menjelma menyerupai seseorang yang telah meninggal.
"Ngak tau, Bu."
"Orang yang sudah mati, tidak akan pernah kembali kedunia ini. Kalo pun ada, itu artinya setan sedang menyamar dan merubah wujudnya,"
"Jadi hantu itu benar benar ada, Bu?"
"Hantu ataupun setan itu memang ada, bahkan ada di dunia ini akan tetapi beda dimensi. Mereka bisa melihat kita tapi kita belum tentu bisa melihat mereka, banyaknya hantu dan manusia itu sama. Jika kalian bisa melihatnya maka kalian akan mengetahui bahwa hantu itu sangat banyak, sebanyak dari jumlah manusia yang ada di dunia,"
"Tapi kenapa ada seperti sosok seperti manusia yang kita kenal, Bu? Ayahku dulu kan pergi ke masjid denganku dan Ibuku karena jaraknya memang dekat. Ketika dzikir aku melihat ayahku masih berzikir terus aku pulang, eh nggak tahunya Ayahku sudah ada di depan TV. Aku masuk ke dalam kamar untuk menaruh mukena itu, gak taunya Ayahku langsung masuk dari pintu ruang tamu,"
"Itu namanya jin qarin, jin qarin itu ada dan mengikuti setiap manusia. Qarīn adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk kepada malaikat dan jin yang mendampingi setiap manusia. Istilah ini digunakan di dalam Al-Qur'an dan dikatakan bahwa qarin itu mengikuti manusia sejak lahir hingga mengalami ajalnya. Kedua makhluk itu dianggap sebagai kembaran setiap manusia."
Guru tersebut menjelaskan kepada seluruh siswanya mengenai jin qarin, jin itu memang ada dan mengikuti setiap manusia dari lahir hingga ajal menjemput. Meskipun manusia sudah meninggal akan tetapi jin itu masih ada di dunia ini, dan bahkan jin itu hidup berbulu-puluh tahun lebih lama daripada manusia.
setelah menjelaskan itu guru tersebut langsung menetap ke arah Risda dan yang lainnya, Risda dan ketiga temannya itu pun nampak begitu panik, ketika mengetahui bahwa guru tersebut mulai ingat kembali dengan hukuman sebelumnya bahwa dirinya dan lainnya belum mengerjakan tugas sekolahan.
"Untuk kalian berempat yang belum mengerjakan tugas silakan keluar dari kelas ini dan berdiri di lapangan," Ucap guru itu sambil menatap tajam ke arah keempatnya.
"Apa tidak ada yang lebih ringan lagi, Bu? Saya belum makan, saya tidak kuat berdiri terlalu lama jika belum makan." Berdiri disana cukup lama aja sudah membuat Risda merasa pusing berkunang kunang apalagi jika dirinya dihukum dilapangan.
Memang Risda tidak bisa berdiri terlalu lama, karena dirinya akan merasa sangat pusing dan berkunang kunang bahkan jika terlalu lama lagi dia akan pingsan. Wajah Risda saat ini pun terlihat sedikit pucat, dirinya ingin sekali duduk akan tetapi guru itu sama sekali tidak membiarkannya untuk duduk.
"Baiklah kalian bisa kembali duduk di bangku kalian masing masing. Sebagai gantinya kalian harus membeli buku tulis yang isinya 58, dan menulis 'Saya tidak akan pernah mengulanginya lagi' sampai dihalaman terakhir buku itu."
"Makasih Bu, kami akan melakukan hukuman itu."
__ADS_1
Risda dan ketiga temannya itu langsung bergegas untuk menuju kearah koperasi sekolah untuk membeli buku yang dimaksudkan itu. Setelah membelinya, mereka langsung bergegas kembali kekelasnya lagi.
Keempatnya pun langsung diminta duduk di lantai depan kelas itu, sambil menulis hal yang diminta oleh guru tersebut. Mereka pun menurutinya tanpa membantah, Risda sebenarnya merasa tidak enak badan saat ini, bahkan dirinya merasa bahwa kepalanya begitu sangat berat.
Risda terus menulis sambil mendengarkan guru tersebut yang sedang menjelaskan sebuah materi pelajaran, dirinya sama sekali tidak bisa fokus untuk saat ini. Tiba tiba dirinya pun merasa bahwa pernapasannya itu terasa panas, dirinya yang melewatkan sarapan pagi itu pun terlihat sangat loyo, biasanya meskipun tidak makan di rumah dirinya akan pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mengisi perutnya.
Akan tetapi kali ini, dirinya tidak bisa langsung pergi ke kantin karena jamnya sudah mepet dengan jam masuk sekolah. Selama jam pelajaran itu Risda terus bertahan untuk mempertahankan kesadarannya, kedua matanya itu ingin sekali terpejam saat ini akan tetapi dirinya tidak mau untuk menutup kedua matanya itu.
Sudah sekitar 20 lembar dirinya menulis, akhirnya jam pelajaran itu pun selesai dan kini waktunya untuk istirahat. Risda langsung bangkit dari duduknya, ketika berdiri di saat duduk terlalu lama kepalanya terasa pusing dan berat apalagi pandangannya yang buram kabur.
"Da, lo nggak apa apa?" Tanya Mira ketika melihat Risda yang sedang memegang kepalanya itu.
"Gue nggak papa kok, Ra. Cuma pusing doang," Jawab Risda sambil menggeleng gelengkan kepalanya dengan cepat.
"Ya sudah ayo ke kantin, lo kan belum makan juga, Da. Mending lo isi perut lo itu dulu,"
"Iya ayo,"
Keduanya pun langsung bergegas menuju ke kantin sekolahan, Risda yang terlihat sangat lemah itu pun tidak bisa berlari untuk menuju ke kantin, sehingga keduanya harus berjalan kaki menuju ke sana. Biasanya keduanya akan berlari, akan tetapi kali ini tidak hanya berjalan dengan santai karena rasa pusingnya itu.
Dirinya sering merasa pusing, karena kepalanya beberapa kali terbentur dengan kerasnya. pertama dirinya terbentur ketika berada di sekolah dasar, saat itu ada kakak kelas yang menabur sebuah sabun yang telah diparut di atas lantai, sehingga dirinya bisa terjatuh dengan kerasnya dan mengenai kepalanya.
Kedua kalinya, dirinya pun terbentur kayu yang besar ketika membantu ibunya untuk memasang sebuah dipan tingkat. Sangking kerasnya hal itu juga menyebabkan bisa sering merasa pusing, bahkan dirinya seperti tidak bisa merasakan sakit karena saking kerasnya.
ketika kalinya, hal itu dilakukan oleh ayahnya sendiri, hingga membuatnya terbentur ke arah tembok tepat di bagian belakang kepalanya. benturan yang sangat keras itu hingga membuat temboknya sedikit retak, dan rasa sakit itu sepertinya seakan akan menjalar.
Keempat kalinya, hal itu dilakukan oleh Indah beberapa waktu yang lalu. Karena dirinya yang sering terbentur itu pun membuatnya mudah sekali merasa pusing, bahkan kepalanya merasa sangat berat untuk ditegakkan saja dirinya kadang tidak mampu.
"Lo sakit?" Tanya seseorang ketika melihat Risda yang baru tiba di kantin dengan wajah yang sedikit pucat.
"Gue ngak papa kok, Renzo." Iya orang itu adalah Afrenzo yang melihat Risda datang terlambat dikantin itu.
"Wajah lo pucet,"
"Gue hanya belom makan doang, nanti setelah makan juga bakalan sehat kembali. Gue lupa belum sarapan tadi,"
"Duduk, biar gue yang pesen."
Risda pun langsung mengikuti perintah dari Afrenzo, dirinya belum bisa untuk membantahnya akan tetapi Afrenzo sudah menarik untuk duduk. sementara Mira itu langsung bergegas menuju ke arah penjual untuk memesan makanan, setelahnya dirinya pun langsung duduk bersebelahan dengan Risda.
"Lo beneran ngak papa, Da?" Tanya Mira yang melihat wajah Risda seakan akan tidaj bersemangat.
"Gue ngak papa," Jawab Risda.
Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo datang sambil membawakan segelas minuman hangat kepada Risda. Dirinya pun langsung menyodorkan minuman itu kepada Risda, dirinya pun langsung menyerahkan 1 kapsul obat lambung kepada Risda.
"Minum dulu obatnya, setelah itu makan," Ucap Afrenzo kepada Risda.
"Gue ngak bisa minum obat, Renzo."
"Ha? Bagaimana bisa? Terus kalo lo sakit ngak pernah minum obat?" Tanya Mira yang heboh.
"Minum sih, cuma harus dihaluskan dulu baru bisa."
Mendengar itu langsung membuat Afrenzo melotot, karena dirinya begitu terkejut ketika mendengarnya itu. Bagaimana bisa wanita yang ada didepannya itu tidak bisa minum obat? Bahkan harus dihaluskan terlebih dulu, bukannya itu akan malah menambah rasa panitnya? Memang aneh.
__ADS_1