Pelatihku

Pelatihku
Episode 11


__ADS_3

Risda lalu memegangi tangan Afrenzo yang tengah mencengkeram erat kerah baju ketua OSIS itu, Risda menyuruh Afrenzo untuk melepaskan pegangan tangannya itu.


"Gue ngak tau masalah lo apaan sama Renzo, tapi ngak begini juga caranya untuk lo memfitnah Renzo, lo itu ketua OSIS disini, jangan bawa bawa masalah pribadi lo disekolahan" Ucap Risda sambil menuding kearah ketua OSIS itu.


"Tau apa lo soal ini? Lo cewek yang sama, yang sering melanggar aturan, jadi jangan sok nasehatin gue, mending lo urus diri lo sendiri"


"Dengan cara lo seperti ini, gue jadi semakin yakin kalo lo itu adalah pelakunya bukan Renzo, kenapa lo mendesak Renzo seperti itu? Dengan cara lo mendesak seperti ini, membuat Renzo ngak nyaman, gue bakal aduin tindakan lo kekepala sekoalah, biar jabatan lo dicabut!" Ancam Risda.


"Lo mau bikin masalah sama gue? Awas aja, lo bakalan nyesel ngelawan gue"


"Gue ngak takut sama lo! Selama lo masih makan nasi, lo dan gue ngak ada bedanya, kita hanya beda umur bukan berarti beda nyali, lantas untuk apa gue takut sama lo ha?"


Lelaki tersebut mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan dari Risda, akan tetapi Afrenzo langsung berdiri dihadapan Risda untuk melindungi gadis tersebut hingga membuat lelaki itu meninju kearah angin.


"Gue akan bikin pelajaran kepada kalian berdua nanti!" Ancam lelaki tersebut.


"Bodoamat! Gue kagak takut! Kalo bisa sekarang, kenapa harus nanti? Cemen amat lo jadi cowok" Teriak Risda.


Lelaki tersebut langsung meninggalkan keduanya ditempat tersebut beserta kedua anggota OSIS yang ikut bersamanya itu, melihat kepergian mereka membuat Afrenzo hanya menghela nafasnya, Risda lalu mengajak Afrenzo untuk duduk kembali ditempat tersebut.


"Lo kenal sama mereka? Emang kalian ada masalah apaan sih kok sampe segitunya?" Tanya Risda.


"Jangan ikut campur dalam urusan gue" Ucap Afrenzo yang masih dengan nada dinginnya.


"Yaya gue paham, lo emang cowok misterius yang pernah gue temuin Renzo, tapi setidaknya lo juga butuh teman untuk curhat kan? Ngak semua masalah bisa lo selesaikan sendiri, beritahu gue, siapa tau gue bisa bantu atasin urusan lo"


"Dia anak pamanku, namanya Bagas, dan pamanku adalah guru disekolah ini, jadi dirinya bisa kepilih menjadi ketua OSIS" Ucap Afrenzo yang merasa apa yang dikatakan oleh Risda itu benar.


"Lalu kenapa dia menuduh lo seperti itu? Seakan akan dia ngak suka lo ada disekolah ini"


"Dia benci sama gue, karena gue pendiam"


"What!!!" Sentak Risda tiba tiba dan langsung menutup mulutnya, "Eh maaf, aneh aja sih sama kalian berdua, kalian itu saudara kok sampai segitunya, pendiam kan bukan berarti salah, lagian lo juga ngak jahat kok"


"Lo belum kenal gue sepenuhnya, jadi jangan anggap gue baik"


"Tapi seburuk buruknya orang pasti memiliki hati dan sebaik baiknya orang pasti memiliki keburukan, yang gue tau lo itu baik ya meskipun lo irit bicara sih, gue juga kadang agak merinding sih kalo deket lo begini, tapi gue tau bahwa hal yang lo lalui selama ini itu ngak mudah"


"Heemm..." Dan hanya dibalas deheman oleh Afrenzo.


"Lo tenang saja, gue pasti bantu lo kok, kasus ini agak rumit sih, tapi sebelum gue pulang waktu itu, ada seseorang yang menuju kekamar mandi sih, tapi gue ngak lihat wajahnya itu, dan saat itu lo masih berada diaula beladiri, mungkin bisa jadikan orang itu yang ngerusak pintu?"


Perhatian Afrenzo langsung tertuju kepada Risda yang tengah bercerita itu, Risda pun mulai mengingat ingat kejadian waktu dirinya hendak pulang setelah latihan beladiri sendirian, awalnya Risda tidak curiga dengan orang itu akan tetapi karena kejadian ini dirinya sangat mengutuki kecerobohannya kenapa tidak mendatangi orang tersebut.


"Sorry Renzo, gue kagak nyamperin tuh orang, seandainya gue nyamperin waktu itu, pasti kita bakalan tau siapa orang yang telah merusak pintu kamar mandi itu" Risda pun menundukkan kepalanya dalam dihadapan Afrenzo.


"Itu bukan salah lo" Jawab Afrenzo seraya memegangi tangan Risda.


Melihat Afrenzo yang memegangi tangannya membuat jantung Risda berdegup kencang, Risda langsung menarik tangan yang dipegangi oleh Afrenzo tersebut hingga membuat Afrenzo memincingkan sebelah matanya.


"Gue ngak terbiasa disentuh cowok seperti ini, maaf ya Renzo, bukan maksudku seperti itu"


"Ngak papa, gue paham"


Afrenzo sendiri pun tidak menyadari dengan apa yang dia lakukan, dirinya hanya reflek menyentuh tangan Riada, dirinya sendiri pun terlihat sangat gelisah karena detak jantungnya yang semakin cepat itu, hal itu membuat dirinya langsung berdiri dari duduknya.


"Permisi" Ucap Afrenzo.


"Renzo! Lo marah sama gue? Gue minta maaf" Tanya Risda yang langsung berdiri dari duduknya.


"Ngak" Jawab Afrenzo singkat.


"Lalu permintaan gue?"


"Pulanglah, besok pagi datang ketempat latihan"


"Lo serius? Jadi lo mau ngelatih gue secara privat?"


"Iya"


Afrenzo langsung berlalu pergi dari tempat tersebut, sebuah senyuman yang sangat tipis tercipta diwajahnya, entah berapa lama dirinya tidak pernah tersenyum seperti itu, mungkin yang melihatnya bakalan terpelongo karena senyumannya itu.

__ADS_1


*****


Risda memasuki rumahnya disiang hari itu, ia tidak menemukan Kakaknya itu, dan hal itu membuat Risda langsung masuk kedalam kamarnya setelah memarkirkan sepedahnya ditempat biasanya.


"Huftt... Pengen sekali rebahan" Guman Risda seraya meluruhkan tubuhnya dikasur kamarnya yang sempit itu.


Tiba tiba ponselnya berbunyi, ia pun langsung membukanya dan nampak sebuah tulisan bahwa dirinya dimasukkan kedalam sebuah grub whatsapp yang bernama "Squad hokya"


"Grub apaan ini?" Guman Risda.


Risda membuka grub tersebut karena sudah begitu banyak pesan yang masuk kedalam grub itu, ia pun tidak mengenali siapa yang ada didalamnya, yang ia tahu hanya ada Mira didalam.


Mira :


Woi, Risda masih molor! Mangkanya belom muncul


085xxxxxxx :


Njiiiiirrrrrr.., jam segini udah molor aja


081xxxxxxx :


Besok jadi kagak sih, woi gue serius nanya


Risda tertawa tawa sendiri melihat pesan mereka, karena dia belum save nomer teman temannya jadi dirinya tidak mengetahui bahwa itu adalah teman sekelasnya, ia pun langsung membalas.


Risda :


Sorry guys besok gue kagak ikut kalian liburan, soalnya gue ada latihan susulan sama pelatih gue


085xxxxxxx :


Yah, padahal besok waktu yang tepat, bisa ngak sih latihan lo, lo pending gitu ha?


Mira :


Ngak asik lo Da, padahal gue udah siapin kejutan buat lo


081xxxxxxx :


Risda :


Sorry banget ya, bener tuh, lain kali kan masih ada waktu, lagian gue juga belum izin kepada Bunda gue


Setelah cukup lama berbalasan pesan akhirnya teman temannya memakluminya, Risda memang sudah ada janji dengan pelatihnya untuk berlatih beladiri, bagaimana mungkin dia bisa membatalkannya sementara dirinya yang terus memohon mohon untuk dilatih oleh Afrenzo.


Risda pun terasa begitu semangat untuk berlatih dengan Afrenzo besok pagi hingga dirinya tidak memperdulikan rasa pusing yang ia alami saat ini, akhirnya Afrenzo mau untuk melatihnya secara privat.


"Besok datang jam berapa ya? Gue kagak punya nomer hp nya lagi, gimana cara ngehubungin cowok kulkas itu ya?" Guman Risda ketika teringat tentang itu.


Risda langsung membuang ponselnya sembarangan, Risda yang belum ganti baju itu pun langsung memejamkan kedua matanya karena lelah sepulang sekolah, rasanya begitu enak jika disaat itu langsung dibuatnya untuk membaringkan tubuh.


*****


Keesokan paginya, Risda yang selesai makan itu pun langsung kembali kekamarnya untuk memeriksa jam yang ada di ponselnya, waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi dan dirinya belum bersiap siap.


"Berangkat sekarang ngak ya?" Gumannya.


Risda pun meletakkan ponselnya kembali dan langsung membuka almarinya untuk memilih pakaian yang cocok untuk berlatih beladiri, karena dirinya yang belum memiliki sakral beladiri sehingga ia masih menggunakan celana olah raga beserta kaosnya.


Risda langsung berganti pakaian setelahnya, sebenarnya subuh tadi dirinya sudah mandi, mungkin karena dia mendapatkan hidayah sehingga ia melakukan sholat subuh dipagi hari itu, setelah mandi dirinya langsung bergegas sholat.


Risda mengaca kepada kaca yang ada didalam kamarnya itu, ia pun memakai jilbab instan karena dilatihan beladiri dilarang menggunakan jilbab segi empat atau yang lainnya karena akan berbahaya jika memakai jarum pentul didalam latihan beladiri.


"Mau kemana!" Teriak Indah ketika mengetahui Risda tengah mengeluarkan sepedahnya dari rumahnya.


"Ada urusan penting" Jawab Risda.


"Yang kau tau hanya main saja! Main lupa waktu, ngak usah keluar, ngak ada gunanya, mending kau cuci baju, setlika, beres beres rumah"


"Lagian aku sudah izin Bunda"

__ADS_1


Risda memang orangnya tidak suka berdebat sehingga setelah mengatakan hal itu, dirinya langsung bergegas pergi dari rumah tersebut tanpa ingin memperpanjang ucapan Kakaknya itu, memang disini dirinya suka sekali mengatur ngatur Risda dan mengatakan hal hal buruk tentang Risda kepada tetangganya.


Risda langsung melajukan motornya dengan cepat sampai dirinya berbelok digang yang tidak jauh dari rumahnya, setelah itu dirinya memelankan laju sepedahnya karena masih berada didesa desa sehingga banyak anak kecil yang berlalu lalang dijalanan.


"Mbak Ris!" Sapa seorang anak kecil ketika Risda lewat didepannya menggunakan sepedah motornya.


"Iya" Jawab Riada sambil melambaikan tangannya.


Risda memang disukai oleh anak anak didesanya karena dirinya begitu ramah dengan anak kecil, bahkan dia juga menghormati anak anak kecil sehingga mereka pun mampu menghormati Riada juga, bukan hanya itu akan tetapi Risda yang suka berbagi pun membuat mereka suka sekali jika bertemu dengan Risda.


Mereka akan heboh ketika Risda lewat didepan mereka, bahkan saling berlomba untuk membuat suara paling kencang hanya untuk menyapa seorang Risda itu.


Risda pun berlalu keluar dari desanya, tak beberapa lama kemudian akhirnya dirinya sampailah disekolahannya, lebih tepatnya didepan aula beladiri yang dipagari dengan rapi itu, ia langsung membuka gerbangnya yang memang tidak dikunci.


"Mungkin dia sudah didalam" Guman Risda disaat dirinya melihat bahwa gerbangnya tidak dikunci.


Risda langsung mengendarai sepedahnya lagi untuk menuju ke parkiran aula beladiri setelah menutup kembali gerbangnya itu, ia terkejut ketika melihat ada beberapa sepedah motor didalamnya yang sedang terparkir dan suara suara bising dari dalam gedung tersebut seperti sedang berlatih tendangan.


Setelah Risda memarkirkan sepedah motornya, dirinya langsung bergegas untuk masuk kedalam aula beladiri itu, ia mendapati bahwa ada beberapa anak yang sedang berlatih dibawah bimbingan Fandi, sementara dirinya tidak mendapati sosok Afrenzo didalam sana.


"Ngapain lo disini? Siapa yang nyuruh lo masuk?" Tanya Fandi ketika melihat Risda yang berada didepan pintu.


"Renzo dimana? Gue ada janji dengan dia" Tanya Risda sambil celingukan.


"Ngak ada! Pergi saja dari sini, belom waktunya lo latihan dimari" Usir Fandi.


"Gue laporin lo ke Renzo, dia sendiri yang meminta gue datang kemari"


"Kapan dia bilang gitu? Kalo emang dia nyuruh lo datang, seharusnya dia juga datang kemari, tapi lo lihat sendiri kan kalo dia ngak ada?"


"Gue ngak tau! Lo kok nyolot banget sih sama perempuan kek gue?" Tanya Risda sambil melotot kearah Fandi.


"Emang kenapa? Lo yang seharusnya tidak datang kemari, bukan area lo dimari, ini khusus buat para senior" Ucapnya sambil mengepalkan tangannya kuat.


"Gue ngak takut! Dimana Renzo?"


"Ngak ada! Dia ngak datang kemari"


"He,em" Deheman dari seseorang diantara perdebatan mereka.


Mereka langsung menghentikan pertengkaran itu disaat menyadari bahwa sosok dingin yang mereka bicarakan sudah berada dibelakang Risda saat ini, melihat kedatangan Afrenzo langsung membuat Fandi menutup mulutnya rapat rapat.


"Sudah gue bilang kan, kalo dia sendiri yang memintaku kemari" Ucap Risda dengan sombongnya.


"Songgong banget sih jadi cewek itu, pelatih bukan salah saya jika berdebat dengan nih cewek yang ngak ada aturan" Ucap Fandi kepada Afrenzo.


"Lo yang duluan, siapa suruh lo ngusir gue dari sini, gue udah sempat sempatin datang kemari malah lo usir gitu saja" Risda menyolot kepada Fandi.


"Ini sudah aturan! Siswa baru emang dilarang masuk kemari, jika sudah latihan selama 2 tahun lebih baru boleh, banyak anak baru yang ngerusak peralatan dimari"


"Emang ada aturan yang kayak gitu? Kalo gue hebat beladiri, lo yang pertama kali gue pukul sampe babak belur nanti!"


"Sekarang aja gimana woi? Ayo main jotos disini!"


"Gue jotos lo ya! Tapi jangan lo pukul balik"


"Heleh, cemen lo"


"Ikut gue keatas" Ucap Afrenzo untuk menghentikan perdebatan antara mereka.


Bangunan itu terdiri dari 2 lantai sehingga Afrenzo mengajak Risda untuk berlatih diatas sementara dirinya membiarkan senior lainnya untuk berlatih dibawah karena peralatan yang ada lebih banyak dibawah daripada diatas.


Afrenzo langsung berlalu meninggalkan keduanya itu untuk menuju keanak tangga yang berada tidak jauh darinya itu, melihat itu membuat Risda buru buru untuk mengejarnya dengan segera dan meninggalkan Fandi yang tengah mengepalkan tangannya kepada Risda.


Ketika memanjat anak tangga untuk pertama kalinya, Risda pun membalikkan badannya dan menatap kearah Fandi yang terlihat geram kepadanya itu, ia lalu menjulurkan lidahnya untuk mengejek Fandi tingkahnya itu tak luput dari perhatian seluruh anggota beladiri yang ada ditempat itu.


"Tumen pelatih seperti itu" Guman seseorang ketika melihat Risda yang berjalan menaiki tangga.


"Iya, tidak seperti biasanya" Seru seseorang disebelah orang yang berguman itu.


"Mungkinkah ada sesuatu yang sepesial dari wanita itu? Aneh banget"

__ADS_1


"Hus! Cepat lanjutkan kembali latihannya! Jangan mengobrol aja" Teriak Fandi ketika mendengar pembicaraan mereka itu.


Mendengar teriakan itu sontak membuat seluruhnya langsung berlatih kembali karena takut dibentak oleh Fandi, mereka pun melanjutkan latihannya dipagi hari itu, latihan tendangan.


__ADS_2