Pelatihku

Pelatihku
Episode 103


__ADS_3

"Ngapain anda datang kemari malam malam gini?" tanya Risda kepada sosok lelaki itu, Ini baru pertama kalinya lelaki itu datang ke rumah dan bagaimana bisa lelaki itu langsung menuju ke rumahnya.


"Aku disuruh Ibumu kemari, tadi Ibumu juga sudah pesan suruh belikan kebab sosis karena kamu kan suka kebab," Ucapkan lagi itu yang tidak lain adalah Abie.


"Kenapa harus malam malam gini? Kan nggak enak kalau dilihatin orang, jam segini itu semua orang sudah tidur. Kenapa harus ke sini malam malam?"


"kalau siang Om masih kerja,"


Abie pun langsung menyerahkan dua kantung yang berisikan kebab tersebut kepada Risda, Risda pun langsung menerimanya begitu saja tanpa menyuruh orang itu untuk masuk ke rumah. Dirinya merasa takut dengan sosok lelaki itu, sementara Indah sudah lebih dulu masuk kembali ke rumahnya setelah melihat orang itu.


"Terima kasih Om, kalau sudah selesai Om bisa pulang kok." Ucap Risda yang mulai merasa risih dengan tatapan orang itu.


Risda yang saat ini hanya memakai pakaian pendek itu pun merasa sangat risih, apalagi dengan tetapan yang diberikan orang itu kepada Risda. Seakan akan orang itu memiliki nafsu yang sangat besar, hal itulah yang membuat Risda segera mengusir orang itu secara halus.


Risda sendiri juga belum mengenali dengan jelas orang yang ada di depannya itu, apalagi ibunya yang hanya kenal lewat ponsel saja tanpa mengetahui bagaimana sikap aslinya. Dari perawakannya saja orang itu terlihat sangat kasar, bahkan tidak segan segan untuk main tangan.


Tak beberapa lama kemudian suara ponsel Risda yang berbunyi pun terdengar olehnya, dirinya langsung bergegas untuk mengambil ponselnya itu. Dan terpapang jelas nama ibunya di sana, ibunya itu langsung menelponnya saat ini.


"Halo, Bun. Ada apa?" tanya Riska sambil menempelkan ponsel tersebut di telinganya.


"Apa Om Abie sudah ada di situ? dia sudah belikanmu kebab Ris tadi, apa kamu suka?" Tanya Ibunya kepada Risda melalui ponselnya itu.


"Sudah kok, Bun. Ini baru sampe dianya," Jawab Risda.


Risda yang tidak mempersilahkan dirinya masuk pun, membuat Abie langsung duduk di teras rumah itu tanpa diminta. Risda benar benar merasa tidak nyaman adanya lelaki itu di sana, akan tetapi ibunya pun langsung menyuruh Risda untuk membuatkan kopi.


Bukannya hal itu akan membuat orang itu tidak segera pergi dari rumah itu? Risda pun merasa enggan untuk membuatkan dirinya kopi, akan tetapi Risda tidak mampu membantah ucapan Ibunya.


Dengan terpaksa dirinya pun masuk ke dalam rumah tersebut untuk membuatkan kopi, setelahnya dirinya pun menyerahkan kopi itu kepada Abie. Setelah menyerahkan kopi itu Risda langsung bergegas untuk duduk di dalam ruang tamunya, sementara lelaki itu masih tetap di depan rumahnya.


Risda pun memainkan ponselnya untuk memencet nomor Afrenzo, setelah menemukan nomor lelaki itu dirinya pun langsung berkas mengirim pesan kepada lelaki tersebut.


...----------------...


...Afrenzo...


^^^Renzo!^^^


Hem?


^^^Gue gabut^^^


Oh, kenapa belom tidur?


^^^Ada orang asing dirumah Renzo. Gue takut kalo tidur duluan sekarang.^^^


Orang asing?


^^^Besok gue kasih tau fotonya ke lo^^^


Buat apa?"


^^^Temen lo kan banyak sih, siapa tau kenal sama orang ini^^^


Iya


...----------------...

__ADS_1


Afrenzo ternyata belum tidur, sehingga dirinya langsung membalas pesan dari Risda tanpa butuh waktu lama. Entah kenapa lelaki itu belum tidur sampai jam segini, biasanya lelaki itu sudah tidur terlebih dulu daripada dirinya.


Sudah satu jam Risda dalam posisi seperti itu, tapi entah kenapa lelaki itu belum juga pergi dari sana. Risda pun mengintipnya dari balik gorden rumahnya itu, akan tetapi kopi yang ia buatkan belum sepenuhnya diminum sampai habis.


Entah kenapa lelaki itu sangat betah di sana, di sana pun penuh dengan nyamuk yang terus menggigitnya. Sampai sekarang dia juga belum pergi dari sana, Risda yang mulai mengantuk itu pun terpaksa harus begadang untuk menunggu lelaki itu pergi dari sana.


"Betah banget sih itu orang di sana, Emang nggak punya kerjaan lain atau gimana sih. Gue udah ngantuk nih cepat pergi napa? Kakak sopan sama sekali bertamu di rumah orang kok jam segini, gak tau apa pemilik rumah sudah ngantuk. ingin ku usir dari sini tapi takutnya malah jadi masalah besar sama Bunda," Batin Risda menjerit seakan akan dirinya sudah tidak tahan untuk terus begadang.


Riska yang hanya memakai celana setinggi paha itu pun nampak begitu risih jika ada orang lain, bahkan saat ini rambutnya terurai lurus panjang. Setiap akan tidur tidak selalu melepaskan kuncir rambutnya, agar dirinya tidak merasa pusing ketika bangun besok pagi.


Lelaki itu benar benar tidak disuruh Risda masuk ke rumah tersebut, bahkan ruang tamunya itu pun lampunya sama sekali tidak dinyalakan dari tadi. Setiap malam lampu di sana seluruhnya dimatikan kecuali lampu kamar, pertanda bahwa seluruh penghuni rumah telah tidur.


Sambil menunggu lelaki itu pergi dari sana, Risda pun memakan kebab yang dibelikannya itu karena dia takut kalau jika dingin nanti rasanya akan tidak enak. Sehingga Risda pun langsung memakannya sendirian, karena seluruhnya tidak suka dengan kebab.


lelaki tersebut telah membelikannya kebab sebanyak 5 buah, Risda pun memakannya hingga habis. Tanpa terasa kebab itu telah tandas dimakannya, akan tetapi lelaki itu masih tetap berada di depan rumahnya sambil duduk di sebuah kursi yang ada diteras rumahnya.


Risda pun terkejut ketika melihat ke arah ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam, pantas saja dirinya merasa sangat ngantuk, bahkan tiap harinya Risda sudah tidur ketika pukul 9 malam.


Risda sudah tidak suka dengan lelaki itu sejak pertama kali bertemu, dan saat ini rasa tidak sukanya itu makin bertambah besar. Dirinya ingin sekali lelaki itu segera pergi dari rumahnya, akan tetapi justru lelaki itu sepertinya merasa nyaman berada di sana.


Risda merasa curiga kenapa lelaki itu bisa tahan ngantuk, akan tetapi katanya lelaki itu selalu bekerja di pagi hari, bagaimana bisa seorang lelaki tahan walaupun tidak tidur seharian penuh. Dirinya yang hanya pergi sekolah dari pagi sampai sore pun sudah merasa ngantuk, apalagi lelaki itu yang pergi bekerja dari pagi sampai malam.


Emosi Risda pun bertambah ketika lelaki itu tak kunjung pergi, dirinya pun mengepalkan tangannya dengan kuat seakan akan untuk mengutarakan emosinya itu. Bagaimana tanggapan orang orang di sana jika mengetahui bahwa ada lelaki yang bertahmu di rumahnya di larut malam seperti ini, bukankah mereka akan menuduh yang macam macam nantinya.


"Om, masih lama kah? Aku sudah ngantuk Om lihatlah jamnya pukul berapa ini," Ucap Risda yang tidak bisa menahan emosinya itu.


Lelaki itu seakan akan paham bahwa Risda tengah mengusirnya, dirinya pun langsung mengangkat gelas yang berisikan kopi itu dan segera meminumnya hingga tandas. Risda pun terlihat menguap saat ini, dirinya benar benar merasa ngantuk dan ingin sekali tidur.


"Ya sudah kalau begitu Om pulang dulu ya," ucap lelaki itu sambil menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada Risda.


"Buat apa ini, Om?" Tanya Risda penasaran karena dirinya tiba tiba diberi uang oleh lelaki itu.


"Tapi, Om. Bunda sudah ngasih ke aku jadi aku tidak tidak mau merepotkan orang lain untuk uang jajanku,"


"Sudahlah terima saja,"


"Terima kasih Om."


Riska pun langsung menggenggam uang tersebut, sementara lelaki itu langsung berpamitan untuk pulang. Kalau bukan karena Risda yang menyuruhnya tuh pergi, lelaki itu akan tetap di sana sampai esok hari.


Hari harinya sudah merasa lelah, dirinya tidak mau ditambah lagi dengan begadang yang tidak bermanfaat. Ia merasa bersyukur karena lelaki itu akhirnya pergi dari sana, inilah hal yang dinanti-nantikan oleh Risda sejak tadi.


Risda langsung menutup pintu rumahnya itu, tidak lupa juga dirinya mengunci pintu tersebut. Setelahnya dia bergegas Kembali menuju ke kamarnya, dan langsung membaringkan tubuhnya di sana dengan rasa yang teramat sangat nyaman.


Inilah hal yang sejak tadi dinanti nantikan, tidur dengan nyaman dan menghilangkan rasa lelah yang sejak tadi menyerangnya. Kedua mata Risda langsung terpejam begitu saja ketika kepalanya sudah bersandar di atas bantal, dirinya begitu mengantuk sehingga baru sekejap dirinya bersandar dirinya pun langsung terlelap dalam tidurnya.


*****


Keesokan paginya, Risda begitu sangat malas untuk bangun tidur karena begadang semalaman. Bahkan ketika waktu sudah menunjukkan 6 pagi Risda pun masih terlelap dalam tidurnya itu, suara Indah yang menggelegar langsung membuat Risda terbangun dari tidurnya dengan jantung yang berdebar dengan kerasnya.


"Astaghfirullah," Ucap Risda lirih sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Indah berteriak bukan untuk membangunkan Risda, melainkan dirinya berteriak untuk membangunkan anaknya. Akan tetapi, teriakan yang sangat kencang itu langsung membuat rit sudah terbangun dengan jantung yang berdebar, bukan hanya teriakan saja akan tetapi indah juga menggebrak sebuah pintu dengan kerasnya.


to Bu Risda pun terasa gemetaran karena dipaksa untuk bangun dengan tiba tiba, bisa dibilang bawa nyawanya belum sepenuhnya kembali kepada raganya. Hal itulah yang membuat jantung Risda berdegup dengan kencangnya, bahkan dirinya merasa seperti habis lari marathon.


Riska lalu melihat ke arah ponselnya untuk melihat jam, Ia begitu terkejut ketika melihat jam menunjukkan pukul 06.15 pagi, biasanya jam segitu dirinya sudah pergi ke sekolah.

__ADS_1


Risda pun lalu bangun dari tidurnya dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya tanpa mandi dulu, setelahnya dirinya pun bergegas menuju ke sekolahan tanpa sarapan terlebih dahulu.


Dengan kencangnya dirinya mengendarai sepeda motornya, dia bahkan tidak mendengar suara Neneknya yang berteriak untuk menyuruhnya sarapan terlebih dahulu. Melihat Risda yang pergi ke sekolah tanpa sarapan itu membuat neneknya merasa tidak tenang, apalagi dengan cara mengendarai sepeda motor itu.


Saat ini Risda sama sekali tidak mau mempedulikan dirinya sendiri, bahkan dirinya pun berangkat ke sekolah dengan kecepatan 90 km per jam. Bukankah dengan kecepatan itu terlihat sangat cepat, bahkan jika terjadi kecelakaan pun korbannya tidak akan hidup.


Bukankah itu tujuan Risda sejak awal? Bagaimana mungkin dirinya mempedulikan nyawanya sendiri, bahkan gadis itu pun ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Ia tidak takut jika nyawanya akan berakhir hari ini, bahkan jika itu terjadi Risda akan pasrah.


"WOI PELAN!" Bentak seseorang yang ikut melaju mensejajarkan kecepatannya dengan kecepatan motor milik Risda.


Mendengar teriakannya itu langsung membuat Risda melainkan laju motornya, dari spion motornya itu dirinya melihat sosok Afrenzo sudah melaju di belakangnya. kini laju motor Risda hanya sekitar 30 km per jam, dirinya tidak lagi menambah kecepatan motornya karena mengetahui ada sosok Afrenzo di belakangnya.


Keduanya pun langsung bergegas menuju ke arah parkiran yang ada di sekolahan tersebut, karena sebelumnya Risda mengendalikan motornya begitu sangat kencang sehingga dirinya cepat sampai ke sekolah. Risda pun memarkirkan motornya di dekat motor milik Afrenzo, lebih tepatnya kedua motor itu bersebelahan.


"Lo mau mati?" Tanya Afrenzo dengan dinginnya kepada Risda.


"Bukan gitu maksud gue, Renzo. Gue hanya takut kalau telat sekolah,"


"Alasan!"


"Renzo, gue bisa jelasin kok. Gue bukan hanya beralasan saja, tapi ini beneran,"


"Dengan cara ngebut dijalan, emang itu sudah benar? Lo hanya akan mati sia sia," Omel Afrenzo kepada Risda.


"Maafin gue, Renzo. Gue bener bener minta maaf,"


"Lupakan. Jangan pernah diulangi lagi,"


"Iya Renzo, maaf."


Afrenzo pun berlalu pergi dari sana meninggalkan Risda begitu saja, karena hari ini dirinya telat juga setelah begadang semalaman, entah hal apa yang membuatnya harus begadang. Dirinya pun langsung bergegas untuk menuju ke gerbang depan, sementara Risda langsung menuju kekelasnya.


"Da, lo bawa tugas sejarah ngak?" Tanya Mira ketika melihat Risda masuk kedalam kelasnya.


"Astaga! Gue lupa ngak bawa artikelnya, gimana nih?" Tanya Risda yang teringat bahwa adanya sebuah tugas untuk membuat artikel mengenai sejarah sebuah kerajaan.


"Mampus lo, Da. Hari ini terakhir mengumpulkan,"


"Sebenarnya gue belum ngerjain sama sekali sih, terus gue harus gimana?"


"Siap siap aja dapat hukuman."


"Sialan!!"


Risda dengan sebaliknya itu pun langsung duduk di bangkunya dengan kasar, bahkan bangkunya itu sampai berbunyi nyaring karena pukulannya. Sejak kemarin nasibnya benar benar sial, bahkan hari ini pun semakin sial karena dirinya belum mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru sejarah.


Apalagi tugas itu sudah beberapa hari yang lalu, bahkan saat ini sudah waktunya untuk mengumpulkan tugas tersebut, sementara dirinya belum mengerjakannya sama entah hukuman apa yang akan dirinya terima nantinya, Risda terus berdoa semoga hukuman itu tidak terlalu berat.


Sejak pagi moodnya benar benar hancur, mulai dari bangun sekolah yang kesiangan, suara kakaknya sambil mengobrak ngebrak pintu, berangkat sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu, dan bahkan kena marah oleh Afrenzo karena dirinya yang ngebut di jalanan.


Dirinya merasa sangat kesal, entah mengapa dirinya harus mengalami hal itu di hari yang sama. Bahkan ini masih pagi hari, akan tetapi masalahnya sudah berkumpul sejak dirinya bangun dari tidurnya.


Risda merasa tubuhnya seperti melayang, dan kepalanya terasa sangat berat. Detak jantungnya yang masih sangat cepat itu pun membuatnya mudah kelelahan saat ini, bahkan dirinya terlihat sangat tidak memiliki semangat untuk beraktivitas.


bukan hanya karena mood-nya akan tetapi juga karena dirinya yang belum sarapan. Risda mau bergegas ke kantin untuk mengisi perutnya, akan tetapi hanya ada waktu 5 menit sebelum bel masuk sekolah. Waktu segitu tidak cukup untuk dirinya pergi ke kantin, karena jarak kelasnya dan juga kantin drama sangat jauh.


Oleh karena itu dirinya harus menunggu jam istirahat tiba, dan waktu itu sekitar 4 jam lagi. Risda harus berpuasa selama kurang lebih 4 jam, karena tidak mungkin di saat jam pelajaran pertama dirinya sudah pergi ke kantin, lantas bagaimana tanggapan bapak ibu guru nantinya jika mengetahui bahwa Risda sudah ke kantin di pagi hari itu.

__ADS_1


Hal itulah yang membuat Risda mengurungkan niatnya itu, ia tidak mau kalau sampai namanya tercemarkan lagi. Meskipun memang namanya sudah tercemar di sekolahan itu, sebagai seorang siswi yang sangat keras kepala dan bandel.


__ADS_2