
Risda pun pulang dari latihan, ditengah tengah perjalanan dirinya melihat motor Afrenzo yang tengah terparkir ditepi jalan, hal itu membuat Risda menghentikan sepeda motornya untuk mencari tau keberadaan dari Afrenzo.
Karena memang posisinya saat ini dijalanan yang sepi, hal itulah yang membuat Risda merasa curiga dengan apa yang terjadi kepada Afrenzo kali ini. Tidak jauh dari tempatnya berada, Risda melihat sosok lelaki yang ia cari cari itu tengah duduk membelakangi dirinya.
"Renzo," Panggil Risda seraya mendekat.
"Ngapain lo kemari." Sentak Afrenzo dan langsung mendorong tubuh Risda hingga terjatuh tepat disebelahnya.
"Lo kenapa? Kenapa ujung bibir lo berdarah, Renzo?" Risda terkejut ketika melihat wajah Afrenzo.
"Bukan urusan, lo. Pergi dari sini sekarang juga!"
"Ngak, bagaimana bisa gue meninggalkan lo dengan keadaan seperti ini?"
"Gue, ngak butuh lo ada disini."
"Ngak Renzo, gue akan obatin luka lo,"
"Lo yang pergi, atau gue yang pergi!"
"Renzo,"
Afrenzo langsung bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan Risda seorang diri ditempat itu. Risda menatap kepergian Afrenzo dengan sedihnya lantaran cowok itu yang tengah terluka saat ini, entah apa yang terjadi dengan Afrenzo kali ini.
Langit yang tengah menampakkan senja tersebut pun menghiasi suasana ditempat itu, entah mengapa kali ini Afrenzo bersikap demikian keadaannya. Risda lalu bangkit dari jatuhnya ketika mendapati bahwa Afrenzo sudah pergi meninggalkan dirinya.
"Akh... Tanganku seperti terkilir," Rintih Risda pelan sambil memegangi pergelangan tangan kirinya.
Risda pun bergegas untuk menuju ke sepedahnya lagi, ia sudah tidak melihat bayangan Afrenzo disana. Dengan perasaan yang bercampur aduk, Risda langsung bergegas menyalakan sepedah lagi untuk pergi dari tempat itu sebelum matahari mulai terbenam di ufuk barat.
Dengan perlahan lahan, Risda menjalankan sepedahnya meskipun tangannya sedang sakit karena keseleo.
"Ada apa dengan Renzo? Kasar banget,"
*****
__ADS_1
Pagi harinya, pergelangan tangan Risda yang keseleho terlihat sedikit membiru. Risda kini berada di area parkir sekolahannya itu seorang diri, Risda nampak baru tiba ditempat itu saat ini.
Tiba tiba, seseorang menarik pergelangan tangannya yang sakit tersebut dengan kerasnya.
"Akh, sakit" Pekik Risda.
"Lo Kenapa?" Tanya orang itu.
"Ngak papa," Jawab Risda seraya menarik tangannya kembali dari tangan pemuda itu.
Pemuda tersebut nampak khawatir dengan Risda. Akan tetapi, Risda justru menyengir dihadapan pemuda yang tidak lain adalah Satria, teman sekelasnya itu.
"Jangan bohong, Da. Sini aku lihat tangan lo,"
"Ngak usah, gue risih."
Risda langsung berjalan pergi meninggalkan Satria ditempat tersebut, sementara Satria langsung mengejarnya dengan rasa khawatir. Merasakan bahwa dirinya tengah dikejar membuat Risda menghela nafasnya dengan kasar.
"Risda, lo ngak bisa berbohong,"
"Lo masih marah ke gue, soal kemarin? Sorry, Da. Bukan maksud gue seperti itu,"
"Gue ngak marah sama lo, tapi gue ngak suka dikejar kejar seperti ini,"
"Sorry banget, Da. Gue hanya khawatir sama lo, tangan lo kenapa?,"
"Bukan urusan lo," Risda berlalu pergi.
"Da, tungguin gue!"
Satria pun menarik tangan Risda yang sakit tersebut, ia memegangi tangan tersebut dan merasakan bahwa ada yang keseleo dipergelangan tangan Risda. Satria pun mengajak Risda untuk duduk didepan kelas mereka saat ini, Risda sendiri tidak bisa menolaknya.
"Gue pijitin ya, tahan sebentar."
"Akh..."
__ADS_1
Satria dengan perlahan lahan mulai memijat tangan Risda, sementara Risda merintih kesakitan karena pijatan tersebut. Risda nampak membuang muka dari hadapan Satria dan lebih memilih untuk menatap tanah yang ada dibawahnya.
"Kenapa lo bisa seperti ini, Da?. Bukannya kemaren lo baik baik saja?"
"Ngak penting lo tau atau tidak, thanks. Sudah repot repot mijitin gue,"
"Kalo lo butuh apa apa, ngomong saja ke gue. Gue akan bantu kok,"
"Iya."
Risda pun menatap kearah pergelangan tangannya yang terasa sudah enakan, ia lalu menoleh kearah lain dan melihat Afrenzo yang tengah menatap kekeduanya. Merasa bahwa dirinya ditatap oleh Riada, hal itu membuat Afrenzo langsung membuang muka dari wajah Risda dan langsung masuk kedalam kelasnya.
Melihat kepergian dari Afrenzo, membuat Risda hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Sementara itu, Satria sama sekali tidak mempedulikan sekitarnya dan justru fokus untuk memijat tangan Risda yang keseleo itu.
"Lo apakan Risda?" Pertanyaan itu terlontarkan oleh mulut Mira yang baru tiba.
"Risda keseleo, gue hanya membenarkannya saja," Jawab Satria.
"Astaga Risda! Lo, ngak papa kan?" Tanya Mira khawatir kepada temannya itu.
"Gue ngak papa, ini hanya luka kecil doang, masak iya sih bikin gue nangis hahaha," Jawab Risda seraya tertawa.
"Lo aneh banget, Da."
"Bukan gue namanya kalo tidak aneh,"
Risda menepuk dadanya dengan bangga menggunakan tangan yang satunya. Setelah terada lebih mendingan, Risda langsung menarik tangannya dari tangan Satria.
"Thanks ya," Ucapnya.
"Iya, lain kali lo harus hati hati,"
"Iya, gue tau kok."
Risda langsung masuk kedalam kelasnya bersama dengan Mira, Satria hanya bisa menatap kepergian keduanya dalam diam. Mungkin saat ini, Risda belum jatuh cinta kepadanya, akan tetapi dia berharap bahwa suatu saat nanti Risda bakalan membuka hatinya untuk dirinya.
__ADS_1