
Kini Risda tengah berangkat sekolah, pagi ini Ibunya langsung balik bekerja seperti biasanya. Risda berangkat sekolah dengar perasaan sedihnya karena harus dipaksa berpisah dengan Ibunya, dirinya berangkat sekolah dengan malasnya.
Apalagi pagi ini, mereka melakukan upacara pagi. Hal itu membuat Risda seakan akan tidak memiliki semangat saat ini, dan bahkan dirinya terlihat lesu seperti tidak memiliki tenaga untuk berangkat kesekolah pagi ini.
"Lo sakit, Da?" Tanya Mira ketika melihat Risda begitu lemas.
"Ngak, gue lagi males," Jawab Risda acuh tak acuh.
"Males kenapa woi? Senin senin kok males, seharusnya semangat lah. Lo tau? Nabi Muhammad Saw lahir hari senin tau," Ucap Septia.
"Gue tau, kalo males ya males. Meskipun seluruh dunia menyemangati sekalipun, kalo capek ya tetep capek," Jawab Risda dengan ketusnya.
"Iya juga sih, emang lo habis ngapain, Da?" Tanya Septia penasaran dengan gadis itu.
"Sibuk mikirin hidup yang penuh dengan tanda tanya,"
"Hidup itu jangan dipikirin, seharusnya dinikmatin. Kita disini hanya seperti menumpang minum doang, hanya sebentar. Setelah itu kita juga pasti akan pulang kepangkuan sang Ilahi,"
"Emang sih, emang kalo ngak dipikirin lalu gimana cara nikmatinnya? Kalo kita cuma mikirin perasaan kita doang, nanti bakalan banyak yang terluka dengan kita, Tia. Terus kalo banyak yang terluka, kita bakalan berdosa, kalo berdosa bakalan masuk neraka. Emang lo mau seperti itu?"
"Ya ngak lah, Da. Lo itu aneh aneh aja,"
"Yaudah ayo ke lapangan, bentar lagi upacara dimulai. Emang kalian mau dihukum lagi nanti?" Sela Rania.
"Ya," Jawab Risda sambil menghela nafas dengan kasar.
Mereka pun langsung bergegas untuk menuju kearah lapangan sekolahan SMA Bakti Negara itu, disana sudah terdapat anggota OSIS yang menata barisan siswa yang mengikuti upacara. Ditempat pengibaran bendera terdapat Afrenzo yang sedang menyiapkan sebuah bendera merah putih, untuk melakukan upacara dipagi itu.
"Guys, gue mau nyamperin Renzo dulu yak," Ucap Risda.
Tanpa menunggu jawaban dari teman temannya itu, Risda langsung berlari menuju kearah dimana Afrenzo berada saat ini. Dirinya pun langsung menghampiri Afrenzo dan berdiri didepan lelaki itu.
"Hai pelatih," Ucap Risda sambil senyuman yang mengembang sempurna dengan memperhatikan gigi gingsulnya.
"Hem," Jawab Afrenzo hanya berdehem saja.
__ADS_1
"Lo kemarin ke pasar ya? Kok gue kayak lihat lo naik sepeda motor sih," Tanya Risda penasaran dengan sosok yang dilihat olehnya kemarin.
"Ya," Jawab Afrenzo singkat.
"Jadi kemaren yang gue lihat itu beneran lo? Lo ngapain ke pasar? Apa jangan jangan lo sengaja ngikutin gue kemarin,"
"Gue ada urusan,"
"Urusan apa? Kenapa bisa urusan lo itu pergi ke pasar? Kan aneh aja gitu, tiba tiba lo kirim pesan ke gue terus nyuruh gue untuk hati hati. Emang hati hati dengan siapa sih? Pesan gue juga cuma lo read doang,"
"Lelaki yang bersama lo kemarin,"
"Emang kenapa dengan dia? Lo kenal dengan lelaki itu?"
"Gue ngak kenal,"
"Terus kenapa lo bisa ngomong kayak gitu, seakan akan lelaki itu penuh dengan salah sama lo, mangkanya nyuruh gue untuk hati hati. Emang kenapa gue harus hati hati?"
"Main lo kurang jauh, Da. Orang yang lo lihat baik, belum tentu baik, begitu pun juga sebaliknya, Da. Gue ngak sengaja lihat lo dengan lelaki itu,"
"Emang lo kenal dengan lelaki itu?"
"Gue ngak kenal sih, Nyokap gue juga baru pertama kali ketemu kemarin. Keknya dia suka deh sama Nyokap gue,"
"Apapun itu, lo harus berhati hati dengan orang asing. Begitupun juga dengan gue, lo harus hati hati dengan gue,"
"Emang lo jahat? Jika lo emang mau nyelakain gue, seharusnya udah dari dulu lo lakuin itu. Tapi yang gue tau, justru lo berusaha untuk nyelamatin gue,"
"Cepat baris!" Ucap Afrenzo sambil memerintahkan Risda untuk menuju kebarisannya.
"Iya iya, Renzo. Gue bakalan baris tanpa lo perintah sekalipun. Gue pergi,"
Risda pun kembali berlari untuk menuju kearah barisannya saat ini, dirinya langsung bergegas untuk mendatangi teman temannya. Sementara Afrenzo, dirinya hanya menatap kearah Risda yang berlari menjauh, dirinya pun menampakkan ekspresi wajah yang sangat sulit untuk diartikan.
"Lo dan keluarga lo harus jauhin dia, Da. Atau semuanya akan disesali nantinya," Guman Afrenzo lirih.
__ADS_1
Afrenzo pun kembali dengan apa yang dirinya lakukan saat ini. Risda dan yang lainnya langsung berbaris ditempat itu, mereka semua pun memulai acara tersebut. Dipagi yang sangat cerah itu, membuat seluruhnya terlihat terang bagaikan terkena cahaya yang sangat terang.
*****
Setelah melakukan upacara bendera, Risda dan yang lainnya langsung bergegas untuk menuju kearah koperasi siswa untuk membeli minuman dingin. Mereka sepertinya seakan akan tidak kuat dengan panasnya cahaya pagi, sebingga membutuhkan sesuatu yang membuat mereka dingin dan sejuk.
"Da, lo tadi ngomongin apa sih sama Renzo?" Tanya Mira penasaran dengan Risda.
"Dih kepo banget jadi orang. Mending kita balik aja ke kelas, daripada ngomongin disini, dan nanti akan menjadi fitnah. Mending dikelas sambil tiduran dan menunggu guru datang,"
"Baiklah," Jawab mereka serempak.
Risda dan teman temannya itu pun bergegas untuk menuju kearah kelas mereka masing masing. Sesampainya dikelas, mereka pun menikmati minuman yang sebelumnya mereka beli itu.
Rasa dingin dan kesejukan air mineral itu pun, membuat mereka nampak lebih rileks daripada sebelumnya. Kini pikiran mereka lebih tenang daripada sebelumnya yang harus dijemur cukup lama.
"Seger yak, dingin banget di tenggorokan gue," Ucap Risda.
"Da, lo bawa baju ganti ngak?" Tanya Mira.
"Baju ganti? Emang buat apa'an?"
"BODOOOHHH LO!" Ya buat olah raga lah, emang buat apa'an lagi?" Umpat Mira kesal atas jawabannya dari Risda.
"Ya bawa lah, gue kira in baju ganti apa'an tadi, kalo soal olah raga mah gue ngak mau sampe ketinggalan,"
"Dih, hoax doang lo, Da. Dulu aja sampe ngak ikut olah raga karena kagak bawa baju ganti, sok sok an ngak mau ketinggalan segala lagi sekadang,"
"Bukan sok sok an, Ra. Sejak gue ikut latihan beladiri, gue jadi pengen olah raga terus terusan. Keknya gue udah kecanduan olah raga deh, soalnya tanpa olah raga hidup gue tuh kek hambar aja gitu,"
"Lo bukan kecanduan olah raga, lebih tepatnya kecanduan Afrenzo. Kalo lo dihadapan yang lain udah kek singa aja, tapi dihadapan Afrenzo kek kucing tau yang penurut banget tau,"
"Benarlah? Renzo nyeremin sih, mangkanya gue takut sama tuh orang, bisa bisa gue dimakan hidup hidup. Ngeri tau lihat dia,"
"Meskipun ngeri, lo masih tetep kekeh kan dekat dia? Sama aja lo bohong, Da."
__ADS_1
Risda pun mendengus dengan kesalnya mengenai ucapan dari Mira itu. Tapi bener juga sih apa yang dikatakan oleh Mira itu, dirinya begitu penurut jika dihadapan Afrenzo dan akan menjadi galak ketika dihadapan yang lainnya itu.