
Risda kini tengah terbaring didalam kamarnya, kepalanya terasa sangat pusing saat ini, entah kenapa dirinya merasa seperti itu belakangan ini. Dirinya mencoba untuk memejamkan matanya, akan tetapi dirinya sama sekali tidak bisa tertidur saat ini.
"Ada apa sih ini? Kalo gue ngak tidur, gimana besok praktik larinya?" Guman Risda dengan kesalnya karena tidak bisa memejamkan matanya itu.
Entah mengapa gadis itu sama sekali tidak bisa memejamkan matanya, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 pagi hari. Tidak biasanya gadis itu tidur selarut itu, entah mengapa kali ini dirinya merasa sedemikian rupanya.
"Kenapa gue jadi kepikiran soal waktu itu ya? Apa gara gara cerita sama Renzo?"
Seketika setetes air mata Risda pun jatuh mengenai pipinya, rasa sesak pun menyelimuti hatinya saat ini. Ingin sekali dia berteriak untuk mengutarakan rasa sakitnya itu, akan tetapi dia tidak ingin mengganggu yang lainnya yang sedang tidur.
Beberapa banyak luka yang dia dapatkan tidak sebanding dengan rasa sakit yang dia rasakan, luka tersebut berubah menjadi rasa trauma. Ibarat sebuah kecelakaan, meskipun lukanya sudah disembuhkan akan tetapi akibat dari kecelakaan itu masih membekas. Memang mereka bisa menyembuhkan akan tetapi tidak bisa menghilangkan kecacatan fisik yang diterima.
Hal itulah yang dirasakan oleh Risda saat ini, rasa trauma itu masih terus menggandayangnya hingga membuatnya sangat sulit untuk menerima orang baru. kehidupannya yang selalu menyendiri selama ini, perlahan lahan dirubah oleh sosok seperti Afrenzo.
Sejak kehadiran lelaki tersebut, Risda memiliki semangat untuk hidup kembali. Jika teringat dengan sosok lelaki itu Risda selalu tersenyum dengan sendirinya, dan bahkan mungkin hanya dia yang memahami tentang Risda.
"Renzo..."
*****
Cahaya pagi pun mulai menerangi halaman sekolah dan luas disebuah SMA Bakti Negara, di sini lah Risda yang tengah berdiri dan juga teman teman yang lainnya. Kali ini mereka akan melakukan praktek lari memutari sekolahan tersebut, seluruh siswa kelas 10 sedang berkumpul di halaman sekolah tersebut.
Kelas Sastra Indonesia, bersebelahan dengan kelas IPA. Risda dan Afrenzo kini berbaris dengan bersebelahan, akan tetapi cowok itu berada di barisan paling depan sementara Risda berada di barisan paling belakang.
Si SMA Bakti Negara memiliki aturan bahwa seorang lelaki harus berada di barisan paling depan sebagai pemimpin dari seorang perempuan, sementara wanita berdiri di barisan paling belakang sebagai anggota yang dipimpin oleh pihak laki laki.
Di sana apapun yang menjadi pemimpin adalah seorang lelaki, jika pun tidak ada lelaki maka wanitalah yang akan memimpin sebagai penggantinya. Lelaki adalah sosok pemimpin sehingga mereka harus bersikap sebagai seorang pemimpin yang mampu memimpin anggotanya, jika lelaki lalai melakukan itu maka dia akan disebut sebagai pengecut.
"Renzo, pimpin pemanasan sekarang," Ucap guru olahraga tersebut kepada Afrenzo, karena memang guru tersebut sangat hafal dengan sosok lelaki itu.
"Baik Pak," Jawab Afrenzo dan langsung bergegas maju ke depan.
Afrenzo yang notabenya adalah seorang pemimpin itu pun terlihat sangat gagah, bahkan dirinya terlihat begitu sangat tegas saat ini. Risda benar benar bangga kepadanya, bagaimana tidak? banyak sekali siswa yang ingin mengenal dirinya lebih dalam akan tetapi tidak ada satupun yang bisa mendekat ke arah Afrenzo kecuali Risda.
Afrenzo yang merupakan seorang pelatih beladiri itu pun terlihat sangat tegas dan gagah, dirinya mampu berdiri dengan tegap meskipun di hadapan banyak orang. biasanya orang awam akan grogi jika berdiri di hadapan orang banyak, tapi tidak dengan Afrenzo yang terlihat santai.
"Baiklah kita mulai saja pemanasannya, dan kalian tinggal mengikuti apa yang aku lakukan. kita hitung bareng bareng sampai 7 ketukan," Ucap Afrenzo yang berdiri didepan mereka.
Afrenzo pun memulai gerakannya, dan langsung diikuti oleh seluruh peserta yang hadir dalam lapangan itu. Gerakannya yang lentur itu pun membuat semua orang kagum termasuk juga para wanita yang ada di sana, orang yang sering melakukan pemanasan dan orang yang tidak pernah melakukan pemanasan akan terlihat sangat jelas di sana.
Kebanyakan siswa cowok yang ada di sana badannya pun terasa kaku, akan tetapi berbeda jauh dengan para siswa yang sering melakukan pemanasan dan olahraga. Siapa sangka di satu sisi lebih tepatnya seseorang yang berada di depan Risda cukup jauh itu menatap tajam ke arah Afrenzo, dia adalah sosok Satria yang merasa ini dengan Afrenzo.
Cowok itu seakan akan memandang tidak suka ke arah Afrenzo, sementara yang ditatap seperti itu pun nampak terlihat begitu biasa. Bagaimana tidak menjadi idaman? Di seusia itu saja dirinya sudah bisa melatih bela diri apalagi menjadi pelatih yang paling berpengaruh dalam sebuah perguruan.
Sikapnya yang dingin dan tidak mudah tersenyum itu pun membuat dia tampak sekali cool, sehingga banyak wanita yang ingin dekat dengannya. Akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang berhasil mendekatinya, justru Risda yang tidak ingin dekat dengannya ketika pertama kali bertemu justru dia paling dekat dengannya.
Gerakan demi gerakan dilakukan oleh pelatih bela diri itu serta diikuti oleh seluruh siswa yang hadir, di sini Risda lah yang paling keras dalam hidung ketukan di setiap gerakan. Risda begitu bersemangat untuk melakukan pemanasan, Entah mengapa dirinya begitu bersemangat saat ini daripada biasanya.
"1 2 3 4 5 6 7 ...." Suara Risda yang menggema dan menghitung.
Mendengar teriakannya itu, membuat seluruh siswa yang lainnya pun ikut menghitung. Mereka terlihat sangat kompak saat ini, Risda sudah biasa melakukan itu karena setiap kali pemanasan untuk melakukan latihan beladiri.
__ADS_1
Afrenzo pun mengangkat kakinya dan diikuti oleh yang lainnya, mereka terlihat sangat penurut saat ini bahkan kekompakan mereka membuat pemanasan tersebut semakin bertambah semangat. Melihat itu guru tersebut pun memberi nilai plus plus bagi mereka yang bersemangat dalam pemanasan, termasuk juga Risda.
"Pemanasan selesai, Pak. Izin balik ke barisan," Ucap Afrenzo kepada guru lelaki itu.
"Baiklah kamu boleh balik ke barisan, untuk selanjutnya bapak akan memberi kalian sebuah rute yang harus kalian lalui. Pertama kalian keluar dari gerbang ini nanti kalian menuju ke arah selatan, nanti kalian akan bertemu sebuah jembatan yang sangat besar nah setelah jembatan itu kalian belok ke kiri. kalian ikuti saja jalanan yang ada di sana sampai bertemu dengan perempatan perempatan itu kalian belok ke kiri lagi, terus saja ikuti jalan tersebut sampai balik ke sekolahan," Guru tersebut pun memberi arahan kepada para siswanya.
"Baik Pak!" Jawab mereka seremak.
Rute yang ditunjukkan oleh guru tersebut mencapai 1 km, jika mereka lelah mereka diperbolehkan untuk jalan akan tetapi hal itu juga berpengaruh pada nilai mereka. Risda yang paham akan rute tersebut pun hanya menganggukkan kepalanya, karena jalanan itu pernah dirinya lalui.
Guru tersebut pun langsung menyuruh para peserta untuk berlari setelah diberi aba aba, Risda dan lainnya pun langsung berlari. Mereka dengan ramai ramai berlari keluar dari halaman sekolahan itu, karena berlari secara bersama sama hal itu membuat mereka seakan akan panik sehingga mereka berlari untuk mengejar yang lainnya.
Baru juga beberapa meter saja, akan tetapi para siswa perempuan pun terlihat sudah ngos ngosan. Mereka yang tidak pernah lari dengan jarak yang cukup jauh itu, tidak mampu untuk berlari lebih lama lagi sehingga mereka memutuskan untuk jalan kaki tanpa memedulikan nilainya.
Melihat teman temannya yang sudah menyerah, hal itu membuat Risda mendengus kesal. Dirinya pun tetap berlari meskipun tidak terlalu cepat, karena untuk menjaga pernafasannya agar tidak terlalu memburu dan berakhir akan kehabisan nafas.
Dirinya yang sudah terbiasa berlari itu, nampak terlihat santai ketika berlari. Meskipun tanpa diketahui oleh yang lainnya bahwa dirinya juga sedang mengatur pernafasannya yang agak memburu itu.
Siswa lelaki pun lebih mendahului mereka, sehingga bayangan Afrenzo pun sudah tidak terlihat dari pandangan Risda karena jarak keduanya yang teramat sangat jauh. Risda menoleh kebelakangnya akan tetapi sama sekali tidak melihat bayangan teman teman perempuannya itu, karena dirinya lebih mendahului daripada para wanita yang lainnya.
"Lama banget sih mereka, jangan jangan gue salah jalur lagi," Guman Risda sambil terus berlari.
Tak beberapa lama kemudian, terlihat sosok Satria yang tengah berhenti disebuah warung untuk membeli minuman. Risda pun menghentikan langkahnya ketika Satria memanggilnya, dirinya pun langsung bergegas untuk mendatangi Satria.
"Lo kok sendirian aja, Da? Mana yang lainnya?" Tanya Satria kepada Risda.
"Ngak tau, masih ada dibelakang. Gue ngak salah jalur kan? Soalnya jalanannya sepi,"
"Terima kasih sebelumnya, tapi gue ngak mau perut gue sakit soalnya masih panjang jalanan yang harus gue lalui,"
Berlari terlalu jauh ditambah dengan minum yang banyak ditengah tengah pelarian itu akan menciptakan rasa sakit yang teramat dibagian perut. Bahkan rasa sakit itu seperti tengah ditusuk tusuk oleh benda yang sangat tajam, sehingga Risda tidak mau itu terjadi.
"Ngak perlu lari juga, Da. Lo kan bisa jalan?"
"Gue ngak mau nilai gue jelek, ya sudah gue duluan ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Satria, Risda lalu bergegas untuk pergi dari tempat itu. Dirinya tidak mau jikalau nilainya akan jelek nantinya, dan dia juga tidak mau perutnya akan sakit nanti.
Risda terus berlari dan sesekali dirinya akan berjalan untuk mengatur pernafasannya itu agar tidak terlalu memburu. Teman temannya tertinggal begitu jauh saat ini, sehingga dirinya sampai sekarang belum melihat bayangan dari mereka, bahkan bayangan dari siswa lelaki pun tidak terlihat karena dirinya juga telah ketinggalan begitu jauh.
Tidak ada hal lain yang bisa dirinya lakukan sekali terus berlari dirute yang telah ditentukan itu, tanpa seseorang yang ada disebelahnya dan bisa dirinya ajak untuk berbicara.
Kakinya seakan akan terasa lemas saat ini, kepalanya mulai kembali terasa pusing. Sangking pusingnya hal itu membuatnya sampai menabrak sebuah pagar milik orang yang ada disana, karena disana sangat sepi sehingga tidak ada yang mengetahui tentang itu.
"Pengen gue ganti kepala aja kali kek gini," Gumannya sambil menukuli pelan keningnya yang pusing itu.
Risda pun kembali melanjutkan jalannya itu meskipun dengan langkah yang sangat berat, tiba tiba seorang menghampiri Risda. Orang tersebut pun menghentikan larinya, dan memilih untuk berjalan bersebelahan dengan Risda.
"Lo kenapa, Da?" Tanya orang tersebut yang tidak lain adalah Mira.
"Gue nungguin kalian dari tadi, kenapa lama banget sih?" Ucap Risda yang mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, dan berharap bahwa Mira tidak melihat kejadian yang dialami olehnya sebelum itu.
__ADS_1
"Dih ngapain ditungguin? Mending terus lari aja, Da. Biar dapat nilai bagus,"
"Ehhh...."
Setelah mengatakan itu kepada Risda, Mira pun langsung bergegas untuk berlari meninggalkan Risda begitu saja, memang teman yang tidak ada akhlak.
Didalam hati Risda, dirinya bersyukur bahwa itu artinya Mira tidak melihatnya yang menabrak pagar itu. Risda mencoba untuk memfokuskan pandangannya dijalanan, agar dirinya tidak merasa pusing lagi.
Dikejauhan dirinya bisa melihat bahwa ada segerombolan teman temannya yang bergegas menuju ketempat dimana dirinya berdiri saat ini. Melihat itu langsung membuat Risda kembali berlari, karana dirinya tidak ingin mendapatkan nilai yang jelek.
"Gue ngak boleh nyerah!" Ucap Risda dengan semangatnya sambil mengepalkan tangannya untuk meninju angin.
Cukup lama dirinya berlari hingga membuat kakinya terasa sangat sakit, akhinya dirinya sampai juga disekolahan tersebut. Dengan nafas yang memburu dirinya pun langsung lapor kepada Guru olah raga itu, Risda pun mendapatkan peringkat kedua setelah Mira.
Setelahnya dirinya pun langsung duduk disebelah Afrenzo yang kini sudah duduk dengan santainya dihalaman sekolah itu, tanpa aba aba Risda lalu mengambil air minum milik Afrenzo dan langsung meminumnya.
"Da, itu kan bekas gue," Ucap Afrenzo ketika melihat Risda meminumnya.
"Kagak bakalan mati juga," Ucap Risda setelah meminumnya dan menyerahkan kembali air minum tersebut kepada Afrenzo.
"Tapi kan..."
"Memberi minum orang yang kehausan pahalanya lebih besar daripada haji sekalipun,"
"Terserahlah." Pungkas Afrenzo yang tidak mau berdebat dengan Risda saat ini.
Bukan Afrenzo tidak mau berbagi dengan Risda, akan tetapi air mineral tersebut itu bekasnya Afrenzo. Bukankah itu sama saja dengan cium*an yang secara tidak langsung? Hal itulah yang membuat Afrenzo merasa tidak enak.
"Oh iya, lo dapat urutan nomor berapa?" Tanya Risda.
"Ke satu," Jawab Afrenzo singkat.
"Wih keren lo, Renzo. Gue salut sama lo, itu artinya nilai lo juga akan menjadi nilai yang paling tinggi,"
"Lo juga,"
"Gue mah nggak bakalan dapat nilai tinggi. Lo lihat sendiri kan kalo disini sudah banyak orang yang berkumpul, nah gue malah dapat urusan puluhan,"
"Ngak lah, kan siswa cewek yang sampai disini hanya dua orang saja. Itu artinya lo masih berada diurutan ke 2 setelah temen lo itu,"
"Benarkah?" Tanya Risda sambil membelalakkan matanya, sekaligus tidak percaya dengan perkataan dari Afrenzo.
"Fokus lo kemana saja? Bukannya sudah dijelaskan sebelumnya?"
"Gue ngak tau soal itu, kan ingatan gue agak buruk soalnya."
"Mending lo cuci deh,"
"Eh Renzo, lo juga bisa bercanda ya? Kalo bisa dicuci ya sudah gue cuci dari dulu,"
"Hem.." Jawabnya hanya berdehem saja tanpa menyahutinya dengan kata kata.
__ADS_1
Keduanya pun langsung menatap kearah gerbang utama untuk melihat siapa yang berhasil melewati pagar tersebut lebih awal. Ada sekitar 5 anak perempuan yang tengah berlari karah sekolahan tersebut, melihat itu langsung membuat Risda fokus dengan mereka.