Pelatihku

Pelatihku
Episode 115


__ADS_3

Risda mengaku bahwa dirinya salah karena telah membikin keributan, akan tetapi lelaki itu juga salah karena memukulnya bahkan dia tidak membedakan gender. Tatapan Afrenzo masih mengarah tidak suka kepada lelaki itu, karena lelaki itu dengan beraninya untuk memukul seorang wanita.


Risda yang memang sejak tadi badmood itu terlihat sangat kesal, bahkan senyum yang ada di wajahnya setiap hari itu seakan akan lenyap. Hari harinya itu terasa sangat berat, apalagi dengan kasus yang menimpanya saat ini.


"Kamu itu cewek kenapa selalu bikin keributan? Seakan akan tidak ada hari untuk berhenti membuat keributan," Omel guru wanita tersebut kepada Risda.


"Bu, dia memang salah tapi tidak sepantasnya Ibu mengomeli dia seperti itu. Keduanya memang salah seharusnya keduanya yang diomelin bukan hanya Risda saja," Bela Afrenzo kepada Risda.


"Kamu ini kenapa selalu membela gadis ini? Setiap kali dia buat keributan, buat masalah kamu selalu membela dia. Tapi apakah dia pernah mendengarkan ucapanmu? Dia bahkan sama sekali tidak merubah kebiasaan itu, setiap kali dia buat masalah kamu selalu membelanya. Sudah berkali kali bapak ibu guru sekolah ini memaafkan tindakan yang dilakukan oleh Risda karena kamu, kami menghormatimu di sini karena kamu juga pelatih bela diri yang ada di sekolah ini," Guru tersebut langsung mengomentari Afrenzo.


Afrenzo hanya mendengarkan saja omelan dari guru itu, bahkan sangat sulit untuk membuat wanita berhenti untuk terus mengomel. Memang benar setiap harinya dia selalu membela Risda, bahkan dirinya pun sering dipanggil ke kantor hanya karena masalah Risda.


Akan tetapi Risda sama sekali tidak menyadari akan hal itu, oleh karena itu ketika guru tersebut mengomeli Afrenzo membuat Risda sangat terkejut. Bagaimana bisa hal seperti itu dirinya tidak mengetahuinya? Dia bahkan tidak tahu tentang Afrenzo yang telah membelanya di hadapan guru.


"Bu, sudah saya bilang. Untuk merubah kebiasaan yang sudah lama itu tidaklah mudah, butuh proses dan juga butuh waktu dan tidak bisa secepat itu. dia bahkan sekolah di sini saja belum ada satu tahun," Ucap Afrenzo dengan tegasnya.


"Iya aku tahu soal itu, bahkan seluruh guru yang ada di sini sudah merasa kesal. Karena dirimu terus membela, jika terus saja begini kapan dia akan bisa belajar?"


"Saya tidak pernah membela orang tanpa alasan, saya juga tidak pernah menghalangi kalian untuk menghukumnya. Kalian boleh menghukum apa saja kepadanya tapi jangan sampai melewati batas, fisik dan mental seseorang itu beda beda nggak ada yang sama. Jadi mohon jangan samakan mental seseorang itu,"


Mendengar perdebatan itu seakan akan semakin memanas membuat Risda langsung menggenggam tangan Afrenzo. Risda tidak mau hanya karenanya, dia sampai berantem dengan para guru, apalagi Risda tidak ingin lelaki itu dikeluarkan dari sekolah ini.


"Sudah Renzo, jangan belain gue mulu. Gue yang salah di sini," Ucap Risda menghentikan perdebatan itu.


"Gue nggak belain lo, Da. Tapi gue belain seorang wanita yang telah dipukul, gue nggak suka ngelihat seorang wanita dipukul sama laki laki. Seharusnya yang diomelin adalah laki laki karena dia yang berani memukul bukan lo," Jawab Afrenzo masih dengan nada yang sama.


"Tapi gue sudah terbiasa dalam posisi ini,"


"Diem!"


Risda langsung menutup mulutnya dengan rapat rapat, bahkan untuk menatap wajah lelaki itu saja dirinya sangat ketakutan. Lelaki itu terlihat sangat menyeramkan ketika dirinya sedang marah, kalau diam saja sudah membuatnya takut bagaimana jika marah justru akan semakin membuatnya ketakutan.


"Tolong lebih ditegaskan lagi Bu, peraturannya. Jangan sampai gara gara perbedaan gender wanita direndahkan di sini, ada seorang wanita tapi kenapa anda tidak membela wanita?" Pertanyaan Afrenzo terasa sangat berat, bahkan hingga membuat guru itu tidak bisa menyahutinya.


"Baiklah baiklah, lalu sekarang bagaimana maumu?" Tanya guru tersebut.


"Hukum keduanya dengan cara yang pantas, keduanya salah dan tidak ada yang benar. Jadi hukum keduanya dengan cara yang wajar,"


Kedudukan Afrenzo di sekolah itu tidaklah main main, bahkan para guru pun menghormatinya. Memang dirinya adalah orang yang pendiam, tapi diamnya bukan berarti bisa direndahkan begitu saja.


Bukan hanya dirinya yang pintar dalam dunia bela diri, akan tetapi di usia remaja segitu dirinya sudah bisa mengambil keputusan yang sangat berat. Bahkan dirinya pun mampu untuk mencarikan jalan solusi untuk orang lain, karena keputusannya yang sangat bijak membuatnya sangat dihormati.


Waktu dirinya masih sekolah dasar, guru di sekolahnya pun ingin meloncatkan dia ke kelas yang lebih tinggi. Akan tetapi kedua orang tuanya melarang, karena saat itu Afrenzo belumlah pantas untuk naik ke kelas yang lebih tinggi karena usianya.


Kedua orang tuanya tidak ingin bahwa Avenger lebih muda daripada yang lainnya, dan Afrenzo bergaul dengan orang orang yang lebih tua darinya. Tapi nyatanya sekarang dirinya justru bergaul dengan orang orang yang lebih tua darinya, karena kesibukannya yang tiada batas membuat dirinya tidak memiliki cukup waktu lebih untuk belajar.


Oleh sebab itu, dirinya kurang belajar soal materi sehingga nilai rapotnya pun turun. Oleh karena itu, Papanya menyuruhnya untuk berhenti latihan bela diri dan mengurusi bisnisnya, akan tetapi Afrenzo sudah mencintai ilmu bela diri, sehingga akan sulit baginya untuk melepaskan ilmu bela dirinya itu.


Afrenzo adalah sosok yang pintar jika mau belajar dengan sungguh sungguh, karena kesibukannya yang tiada batas membuatnya tidak memiliki banyak waktu untuk belajar. Bagaimana bisa belajar dengan lancar? Di sekolah saja dirinya kurang fokus karena dia termasuk sebagai ketua OSIS, ketika pulang sekolah pun dia masih sempat untuk mengajar beladiri di SMA Bakti Negara, setelah itu dirinya pun juga mengajar di sekolah lainnya.

__ADS_1


Afrenzo bahkan tidak memiliki waktu untuk istirahat lebih lama, setiap hari dirinya pulang ke rumah selesai adzan maghrib. Setelah itu dirinya pun keluar lagi ketika adzan isya, dan akan kembali ke rumah ketika jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Begitu banyak kegiatan yang dirinya ikuti membuatnya jarang belajar, oleh sebab itulah nilai raportnya semakin menurun. Dia juga dibeda bedakan oleh anak dari teman teman Papanya, hal itu membuatnya semakin tertekan jika di rumah.


"Baiklah kalo begitu, sebagai hukumannya kalian berdua harus menghafalkan surat Al Kahfi dari ayat pertama sampai ayat ke 10. Besok pagi kalian harus temui saya di kantor untuk setor hafalan,"


Mendengar itu Risda langsung melotot, dirinya bahkan tidak suka membaca apalagi ini disuruh untuk menghafalkannya. Bukan hal mudah untuk menghafalkan ayat Al-quran, tulisan huruf aja dirinya tidak mampu menghafalkannya dengan cepat apalagi ini ayat Al-quran.


Mendengar hukuman tersebut justru membuat Afrenzo tersenyum, mungkin sebagian orang tidak mengetahui manfaat dari surat Al Kahfi ayat 1 sampai ayat 10. 10 ayat pertama dari surat Al Kahfi mampu untuk melindungi diri dari fitnah Dajjal, jangan lupa Al Kahfi setiap jumat.


Dalam hadist Rasulullah, barang siapa yang menghafal 10 ayat pertama surat Al Kahfi maka akan terhindar dari fitnah Dajjal. Berikut bunyi hadist tentang Surat Al Kahfi Artinya: Siapa yang menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al Kahfi, maka ia akan terlindungi dari ( fitnah ) Dajjal.


"Bu, bagaimana kita bisa menghafalkan surat tersebut begitu cepat? Waktu sehari saja tidak cukup untuk menghafalkannya, Bu. Bagaimana kalau kami setor hafalan itu lusa?" Ucap Risda sambil memohon.


"Iya Bu, apalagi diriku yang belum lancar dalam membaca Al-quran. Itu sangat sulit kalau hanya diberi waktu sehari," Lelaki tersebut pun berpendapat sama seperti Risda.


Keduanya seakan akan protes dengan waktu yang telah ditentukan oleh guru tersebut untuk setor hafalan, Bagaimana bisa hafal 10 ayat pertama surat Al Kahfi dalam waktu 1 hari? apalagi keduanya sama yakni jarang membuka Al-quran.


"Ibu nggak mau tahu pokoknya besok kalian harus tol hafalan surat Al Kahfi 10 ayat pertama, kalau besok sampai tidak setor maka hukumannya akan ditambah jadi 20 ayat pertama dari surat Al Kahfi harus kalian hafalkan besok lusa. Begitupun seterusnya kalau lusa tidak hafal juga maka besoknya lagi,"


Keputusan itu seakan akan tidak bisa ditentang, bukankah itu hal yang bagus untuk keduanya? Semakin bertambah hari maka semakin banyak juga hafalan yang harus mereka kumpulkan. Afrenzo sangat disetuju dengan hukuman tersebut, dengan cara itu keduanya bisa belajar untuk saling menghargai.


"Kenapa lo senyum senyum? Lo setuju kita dihukum dengan hukuman seperti ini?" Tanya Risda yang tidak sengaja melihat senyuman tipis diwajah Afrenzo.


"Itu bagus," Jawab Afrenzo singkat.


Mendengar itu membuat Risda mendengus kesal, memang itu adalah hal yang bagus. Akan tetapi, tidak untuk Risda yang sangat sulit untuk bisa menghafalkan ayat Al-Qur'an, yang bahkan dirinya sendiri tidak lancar untuk membacanya.


"Jangan ada yang protes lagi, atau mau hukuman hafalannya ditambah?" Tanya guru wanita itu.


"Jangan Bu!" Seru keduanya secara bersamaan, karena memang keduanya tidak mau bahwa hukumannya akan ditambah.


"Kalian boleh keluar dari ruangan ini, dan segera hafalkan surat yang Ibu minta."


"Baik Bu."


Risda dan keduanya langsung keluar dari ruangan kantor itu, wajah Risda dan juga lelaki itu nampak sangat kusut. Ini bagaikan hukuman yang paling parah bagi keduanya, apalagi Risda yang memang jarang sekali membuka Al Qur'an.


"Setelah ini langsung kekelas dan hafalkan," Ucap Afrenzo kepada Risda.


"Iya ya, oh iya Al Kahfi itu surat ke berapa?"


"Surat Al-Kahf adalah surah ke-18 dalam Al-Qur'an. Surat ini terdiri atas 110 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah."


"Oh, gue ngak pernah buka surat itu soalnya. Eh, apakah banyak yang harus dihafalkan? 1 suratnya ayatnya panjang panjang ngak?"


"Ada yang panjang, ada yang pendek. Periksa sendiri didalam Al Qur'an, kalo kesusahan untuk menghafalkannya, gue bisa bantu. Nanti sebelum latihan, hafalin diaula,"


"Iya Renzo. Gue boleh nanya sesuatu ngak?"

__ADS_1


"Soal?"


"Soal ucapan Bu Ani tadi, katanya lo..."


"Lupakan soal itu," Belum selesai Risda mengatakannya, akan tetapi Afrenzo langsung memotongnya begitu saja.


"Kenapa harus dilupakan? Apakah diri gue begitu berarti bagi lo?"


"Menurut lo?"


"Renzo gue serius, kenapa lo lakuin itu hanya untuk gue? Karena gue lo sampai dimarahi oleh para guru,"


"Gue juga serius, jangan bahas soal itu."


"Renzo,"


Afrenzo pun langsung bergegas meninggalkan Risda begitu saja, dirinya pun tidak mendengarkan panggilan dari Risda. Melihat kepergian dari Afrenzo, membuat Risda merasa bingung dengan lelaki itu.


Risda merasa bersalah dengan Afrenzo, dirinya yang selalu membuat ulah akan tetapi Afrenzo lah yang selama ini membelanya didepan para guru. Bahkan Risda sendiri tidak mengetahui seberapa berharganya dirinya dimata Afrenzo, bahkan Afrenzo sendiri tidak pernah mengatakan itu kepadanya.


"Gue sudah ngecewain harapan lo, Renzo. Gue ngak tau kalo lo sampai ngelakuin itu demi gue, tapi sulit bagi gue untuk ngerubah kebiasaan gue. Sama seperti apa yang lo katakan tadi," Guman Risda sambil menatap kepergian dari Afrenzo.


Ketika bayangan Afrenzo sudah tidak terlihat olehnya lagi, Risda pun menunduk lemas ditempatnya saat ini. Dirinya benar benar merasa bersalah dengan sosok Afrenzo, apalagi mengingat bahwa selama ini Afrenzo sering membelanya.


"Da, lo kenapa?" Tanya seseorang yang tiba tiba muncul dibelakangnya.


Risda lalu menoleh kearahnya, dan mendapati bahwa Rania sudah berdiri dibelakangnya itu. Rania meninggalkan jam pelajaran karena dirinya ingin pergi kekamar mandi, dirinya tidak sengaja melihat Risda berdiri ditempatnya dengan mematung.


Hal itu langsung membuat Rania bergegas untuk mendatanginya, dirinya khawatir kalau Risda kenapa kenapa, karena sebelumnya gadis itu telah membuat keributan. Rania takut kalau sampai Risda sakit, karena perkelahian itu.


"Gue ngak papa, Ran. Gue hanya kepikiran soal hukuman gue kok," Jawab Risda beralasan.


"Emang lo dihukum apa?" Tanya Rania penasaran.


"Gue disuruh ngehafalin surat Al Kahfi ayat pertama sampai 10, dan gue bingung cara ngehafalinnya gimana. Sementara gue aja, lo tau sendiri kan?"


"Mangkanya jangan bikin keributan terus, biar kagak pernah mendapatkan hukuman. Nakal boleh tapi jahat jangan, apa yang lo lakuin tadi seakan akan lo itu jahat, Da. Lo yang salah, seharusnya minta maaf bukan malah nantangin adu duel,"


"Iya ya, gue emang salah, Ran. Gue udah mengakuinya didepan semuanya juga kok,"


"Ya sudah ayo kembali ke kelas, dan lo langsung aja tuh hafalain surat yang dimaksudkan itu. Biar cepat hafal,"


Keduanya langsung bergegas untuk menuju kekelas mereka, langkah demi langkah telah dilakukan oleh keduanya ketika berjalan menuju kearah kelas mereka. Setelah itu, sama sekali tidak ada percakapan diantara keduanya ketika sedang berjalan menuju kekelas mereka.


Hari ini begitu banyak yang harus dilalui oleh Risda, bahkan membuatnya tidak mampu berpikir dengan benar. Sehingga sebelumnya, dirinya pun terpancing emosi, dan terjadilah perkelahian itu.


Dirinya yang sejak kemarin badmood, tiba tiba berhadapan dengan seseorang yang membuatnya semakin badmood. Hal itu langsung membuatnya merasa muntab, dan tidak mampu untuk menahan perasaan marahnya lagi.


Sehingga kejadian seperti ini pun langsung terjadi, dimana dirinya berkelahi dengan kakak kelasnya, dan perkelahian itu berujung membawanya menuju kekantor sekolah untuk mendapatkan hukuman. Bukan hal mudah untuk bisa menghafalkan surat Al Qur'an, bahkan jika tidak diniatkan dalam hati, hafalan yang telah dihafal itu bisa langsung menghilang begitu saja.

__ADS_1


Risda pun pasrah dengan hal itu, jika dirinya tidak mampu untuk menghafalkannya besok, maka dirinya harus menghafalkan ayat lebih banyak untuk lusa nanti.


__ADS_2