Pelatihku

Pelatihku
Episode 22


__ADS_3

Dikelas Risda saat ini sedang ada jamkos sehingga seluruh murid nampak sangat ramai, Risda yang kembali ceria itu pun ikut serta membuat keributan didalam kelas. Risda yang memang terlalu aktif itu sama sekali tidak bisa diam, ia pun bermain kejar kejaran dengan teman temannya.


Risda yang suka jail terhadap temannya itu, langsung dikejar oleh temannya. Karena sangking jailnya dirinya sampai harus dikejar temannya, temannya terlihat geram dan ingin sekali memukul Risda dengan kerasnya.


"Da, kembaliin pulpen gue!" Teriak Mira, Mira yang tengah mengerjakan PR tersebut harus terus mengejar Risda karena untuk mengambil pulpennya kembali.


"Tangap gue! Kalo bisa gue balikin deh," Jawab Risda yang terus berlari diantara bangku bangku yang ada dikelasnya.


Brakkkk...


Tanpa sengaja Risda menyenggol lengan temannya yang sedang tertidur, temannya tersebut langsung terjatuh diatas lantai.


"RISDA!!" Bentak teman laki lakinya itu karena kejahilan dari Risda.


"Alamak, mati gue!"


Risda langsung berlari menghindari teman temannya tersebut dengan cepatnya, ia pun berlari keluar dari kelasnya karena kemarahan dari lelaki yang baru saja ia senggol tersebut. Lelaki itu terus mengejar Risda karena ia tidak terima bahwa tidur nyenyaknya diganggu oleh Risda.


"RISDA! Mau lari kemana lo ha?" Teriak lelaki itu.


"Sorry, Bar. Gue ngak sengaja," Ucap Risda.


Lelaki yang tengah mengejarnya itu bernama Bara, Risda memilih berlari keluar karena halaman diluar jauh lebih luas daripada halaman didalam ruang kelas. Risda melihat seorang pemuda yang berdiri tidak jauh darinya, ia langsung bersembunyi dibalik punggung pemuda itu dan memegangi pinggang pemuda tersebut dengan kerasnya.


"Renzo, selametin gue dari harimau ganas!" Ucap Risda sambil memegangi pinggang Afrenzo dengan kencangnya.


"Eh mau lari kemana lagi lo!" Teriak Bara.


"Aaa.... Renzo tolongin gue!" Teriak Risda yang terus menarik narik tubuh Afrenzo.


Hanya dengan sekali lirikan tajam saja, hal itu langsung membuat Bara mematung ditempatnya. Risda yang melinat Bara tidak bereaksi tersebut langsung mengintip dibalik lengan Afrenzo, Bara pun menatap tajam kearah Risda.


"Barang rongsokan, jangan kek gitulah sama cewek, gue bener bener ngak sengaja tadi," Ucap Risda, entah itu hanya ucapan ataukah hinaan.


"Lo!!" Bara menunjuk kearah Risda yang masih berada dibelakang tubuh Afrenzo.


"Ngak boleh main kasar sama cewek," Risda memberi peringatan kepada Bara.


"Risda," Panggil Afrenzo.


Afrenzo lalu menarik tangan Risda untuk berdiri disampingnya, Risda hanya menurutinya dengan menundukkan kepalanya dalam. Jika dihadapan Afrenzo, Risda sama sekali tidak bisa berkutik karena sikap dingin dari Afrenzo.


"Jelaskan sekarang!" Perintah Afrenzo.


"Dia duluan yang ganggu gue, gue lagi tidur tiba tiba diterjang gitu aja sampe jatuh," Ucap Bara.


"Gue ngak sengaja, Bar. Gue kan sudah minta maaf, lo nya aja yang terus ngejar gue,"

__ADS_1


Perempuan memang minta maaf, tapi selalu menyalahkan lelaki diakhir kalimatnya. Memang Risda sudah meminta maaf, akan tetapi kata katanya itu seakan akan menyalahkan Bara dalam masalah ini.


"Risda, minta maaf sekarang!" Perintah Afrenzo lagi.


"Maaf," Ucap Risda sambil mengulurkan tangannya kepada Bara dengan jengahnya, dan Bara langsung menerima uluran tangannya tersebut.


Keduanya pun saling memaafkan, melihat itu membuat Afrenzo senang. Tapi siapa sangka justru hal yang dilakukan oleh Risda selanjutnya malah membuat Afrenzo melotot, bagaimana tidak? Ketika Bara hendak pergi dari sana, Risda justru menggerakkan kakinya untuk membuat Bara terjatuh.


"RISDA....!!!" Bentak Bara.


"Renzo!! Tolong!" Teriak Risda yang kembali bersembunyi dibalik punggung Afrenzo.


Afrenzo hanya menggeleng gelengkan kepalanya pusing karena ulah Risda yang tidak bisa diam itu. Sementara, Risda langsung berlari menjauh dari Bara dan Afrenzo. Ia pun menuju kelapangan yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini.


"Risda! Awas kau ya," Teriak Bara yang berusaha untuk mengejar Risda.


"Maafin gue, Bar. Gue emang sengaja, hehe..." Tawa Risda nyaring sambil terus berlari.


Afrenzo hanya memperhatikan keduanya yang tengah kejar kejaran dilapangan, Risda memang terlihat seperti anak kecil yang memang sulit untuk dibilangin. Risda terus berlari untuk menjauh dari Bara yang terus mengejarnya itu, Bara pun kelelahan karena dirinya kalah lincah daripada Risda dan akhirnya dirinya kembali kekelasnya.


Risda yang melihat Bara pergi pun langsung berteduh digazebo yang ada dibawah pohon besar, ia sangat kelelahan karena berlarian dikejar oleh Bara. Risda menoleh kearah dimana Afrenzo berada akan tetapi dirinya sendiri tidak menemukan keberadaan dari lelaki itu.


"Kadang ada, kadang hilang."


Setelah merasa nafasnya sudah setabil, Risda pun memutuskan untuk kembali kekelasnya. Risda langsung duduk dibangkunya ketika telah sampai didalam kelasnya. Melihat Risda langsung membuat Mira memegangi tangan gadis itu.


"Gue lupa naruhnya dimana, Ra. Mungkin sudah diambil orang kali," Ucap Risda tanpa rasa bersalah.


"Bangsaaat lo, Da!" Mira langsung memegangi tangan Risda dengan eratnya.


"Sakit anjiiiirrrr!!" Teriak Risda.


Emang Risda ngak ada akhlak


*****


"Woi, bayar kas sekarang!" Teriakan dari Risda yang menggema dikelasnya, karena dirinya adalah bendahara dikelas tersebut.


"Lo emang cocok jadi preman kelas, Da." Puji Mira.


"Ngak sia sia gue pilih lo," Ucap Rania.


Hari itu adalah hari dimana waktunya untuk membayar kas kelas, Risda yang sebagai bendahara kelas tersebut langsung mendatangi satu persatu teman sekelasnya untuk menarik uang milik mereka sebagai upeti kelas.


"Dani, bayar sekarang!" Ucap Risda sambil mengulurkan tangannya.


"Lo ini mau ngerampok atau gimana sih, Da?" Tanya Dani dengan kesalnya.

__ADS_1


"Iya, kenapa? Lo ngak terima?" Tanya Risda.


"Gue bukannya ngak terima, sangu sekolah gue ketinggalan anjiiirrrr!!" Dani ingin sekali mencakar wajah Risda yang sangat menyebalkan itu.


"Gue ngak mau tau, pokoknya bayar sekarang atau lo gue tendang dari kelas ini!" Ancam Risda.


"Terus gue harus bayar pake apa pe'ak!"


"Ya pake uanglah, ya kali pake daun,"


"Siniin uang lo, biar gue bayar!"


Keduanya pun berdebat, dan akhirnya Risda pergi dari bangku Dani tanpa mendapatkan uang kas. Dengan kesalnya dirinya langsung bergegas menuju kebangku Dimas yang berada tidak jauh dari bangku milik Dani.


"Bayar, atau lo gue gintes!" Ancam Risda.


"Lo ini, gue gintes balik mau kagak?" Tanya Dimas dengan santainya.


"Emang lo bisa? Cepat bayar sekarang anjiiirrrr!!"


"Gue ngak ada uang receh,"


"Gue recehin!"


"Anjiiirrr pemaksaan lo! Ngak ada, besok aja gue bayar dobel deh,"


"Gue ngak terima alasan apapun, Dimdim. Pokoknya lo harus bayar segera!"


"Sejak kapan nama gue jadi Dimdim? Lo main ganti ganti aja!" Sentak Dimas.


"Gue barusan ganti, ngapa? Ngak usah protes, mending lo bayar sekarang!"


"Iya ya, berisik banget lo!"


Dimas langsung mengeluarkan selembar uang kertas 5000an dan langsung diberikan kepada Risda, Risda dengan senang hati langsung menerimanya begitu saja, ia pun mencatat nama Dimas disana.


"Kembaliannya buat gue ya, terima kasih," Pungkas Risda dan langsung bergegas pergi dari meja Dimas.


"Sialan lo, Da! Gue ngak terima, cepat balikin!"


"Pemaksaan!"


"Lo yang pemaksaan SETTAAANNNN!" Sentak Dimas.


"Lo yang Anjjiiiiing, bangsaaattt!"


Risda pun melemparkan uang kembalian milik Dimas tersebut dihadapan Dimas, Dimas pun merasa sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Risda saat ini. Dimas mengepalkan kedua tangannya begitu saja, sementara Risda justru tertawa.

__ADS_1


__ADS_2