Pelatihku

Pelatihku
Episode. 129


__ADS_3

Risda yang ada di sebelah Ifah pun berusaha untuk menahan air matanya. apapun yang dikatakan oleh Ifah memang benar benar terjadi kepada Risda, Ifah mengatakan bahwa Risda terkena gangguan karena terjadilah perceraian dalam keluarganya.


Memang itulah yang terjadi kepadanya, hingga dirinya kehilangan fokus untuk sekolah. Bukan hanya dimata pelajaran saja dirinya tidak fokus, melainkan didalam semua bidang dirinya seperti itu.


"Tolong lebih halus lagi kepada anak ini, mungkin dirinya akan berbeda dengan anak anak pada umumnya. Hilangnya peranan orang tua dalam kehidupannya, membuatnya jadi seperti ini," Pungkas Ifah setelahnya.


"Kalau dijelaskan seperti ini jadi saya bisa paham, saya akan melakukan hal yang saya bisa untuk membimbing anak ini. Mungkin sikap saya selama ini begitu keterlaluan karena saya sendiri tidak mengetahui kenapa anak ini seperti ini, saya akan memperbaiki sikap saya dengan baik. Saya akan berusaha untuk lebih bersabar lagi kedepannya," Ucap Bu Rita setelahnya.


*Flash back off*


Sebuah tangisan terharu keluar dari mata Risda, dan sebuah senyuman tipis tercipta di ujung bibirnya. Setelah mengatakan hal itu kepada Afrenzo, membuatnya merasa lebih lega lagi daripada sebelumnya.


Mungkin memang bercerita kepada orang lain tidak akan bisa menyelesaikan sebuah masalah yang dihadapi, akan tetapi ketika kita mengutarakan hal tersebut kepada orang lain maka kita akan merasa sangat lega.


Jangan pernah mengutarakan atau menceritakan kisahmu kepada orang lain yang hanya penasaran dengan hidupmu, mencari orang yang tulus begitu sulit daripada mencari telinga untuk mendengar. Terkadang orang bisa mendengar, akan tetapi mereka belum tentu untuk bisa mencarikan solusi.


Mereka mungkin hanya bisa mendengarkan saja, dan bahkan mereka juga bisa menceritakannya kepada orang lain. Hal tersebut langsung munculah sebuah gosip yang beredar, orang yang menyukaimu tidak butuh itu dan orang yang membencimu tidak mempercayai itu.


Jangan pernah suka membicarakan keburukan orang lain, ingatlah orang lain juga punya mulut untuk bisa membicarakan keburukanmu. Apa yang kamu bisa lakukan, orang lain juga ada yang bisa untuk melakukan hal yang sama.


"Sejak kejadian itu, guru gue itu bersikap baik sama gue. Dia tidak lagi main tangan sama gue, dan tidak ngusir gue dari kelas. Pekerjaan rumah pun jarang diberikan, akan tetapi dirinya terus membimbing dan ngajarin gue sampai bisa,"


"Baguslah kalo seperti itu,"


"Waktu itu gue benar benar hancur, Renzo. Gue nggak tahu lagi apa yang harus gue lakukan, apapun yang gue lakukan selalu dianggap salah di mata mereka. Bahkan ketika gue tidak melakukan apa apa pun tetap dianggap salah,"


"Dan ternyata, lo mampu untuk melewati itu semua hingga sampai di titik ini. Lo hebat, lo kuat, lo luar biasa, Da. Tidak semua gadis memiliki hati sekuat lo, seharusnya lo bangga dengan diri lo sendiri. Tidak semua orang bisa sekuat lo," Ucap Afrenzo.


"Bukan gue yang kuat, tapi ajal saja yang tidak menjemput gue dengan cepat. Seandainya gue mati waktu itu, gue nggak akan sampai dititik ini,"


"Shuttt.... Mati adalah rahasia Allah, jangan katakan itu,"


Afrenzo pun meletakkan jari telunjuknya dibibir Risda untuk menghentikan gadis itu berbicara, Afrenzo tidak suka jika harus membahas soal kematian. Kematian hanyalah sebuah misteri yang semua orang bakal merasakannya, dan tidak ada yang mengetahuinya kapan dan dimana manusia akan dijemput oleh malaikat maut.


Tatapan keduanya pun saling bertemu, mata yang hitam legam itu pun saling berpandangan satu sama lain. Sekarang tidak ada alasan lagi untuk Risda berusaha bunuh diri, karena lelaki yang ada di depannya terus melindungi dirinya dan tidak membiarkan Risda untuk bunuh diri.


"Gue belum sepenuhnya untuk menikmati dunia. Kenapa gue harus buru buru mati? Sementara di hadapan gue ada lelaki yang baik seperti lo, lo yang mengajarkan gue arti sebuah kehidupan. Selama masih ada laki laki seperti lo di kehidupan gue, gue pasti akan baik baik saja,"


"Jangan jadikan gue patokan dalam hidup lo, Da. Gue adalah manusia biasa, dan gue juga bisa luput dalam janji gue sendiri. Maka dari itu, jadikan Allah untuk membuatmu terus bertahan,"


"Lo adalah orang yang baik, Renzo. Tapi mengapa semua orang mengatakan bahwa lo itu jahat, yang gue ketahui tentang lo adalah lo adalah orang yang paling baik yang pernah gue ditemui. Mungkin ini alasan perasaan gue merasa bahwa lo itu orang baik,"


"Sudah jangan dibahas lagi, lebih baik kita segera pulang karena sebentar lagi adzan ashar akan berkumandang."


Afrenzo pun mencoba untuk mengalihkan perhatian Risda, agar Risda tidak mengatakan hal tersebut berulang ulang kali. Lama kelamaan dirinya akan merasa salah tingkah dihadapan Risda, entah mengapa gerakan lelaki itu seakan akan merasa bimbang dan salah tingkah.


"Lo mau mengalihkan pembicaraan? Lagian gue pulang atau nggak juga nggak ada yang nyariin kok. Kenapa lo nya yang panik?"

__ADS_1


"Katanya mau jadi anak baik?"


"Ini nggak ada hubungannya sama hal itu Renzo, apa kalau pulang telat gagal jadi anak baik?"


"Hmm.." Jawabnya hanya berdehem.


"Kenapa? Apa nggak bisa jawab pertanyaan gue sehingga harus berdehem?"


"Kalau nggak mau pulang, lanjutkan saja cerita lo,"


"Nggak deh, nanti gue nangis lagi."


"Lo masih hutang cerita lengkapnya sama gue,"


"Dih sejak kapan gue punya hutang cerita sama lo? Gue hanya punya hutang uang doang sama lo,"


"Tapi lega kan kalo sudah cerita?"


"Iya juga sih, gue ngerasa kek beban gue diangkat begitu aja. Mungkin ini keajaiban setelah cerita,"


"Bisa jadi."


Memang benar apa yang dikatakan oleh Afrenzo, bahwa dirinya merasa lega ketika selesai bercerita kepadanya. Luka yang dirinya rasakan tidak terlalu menyakitkan setelah bercerita, justru apa yang dilalui oleh Risda membuatnya sedikit tersenyum.


Dirinya menertawakan masa lalunya sendiri yang begitu bodoh, sehingga dirinya larut dalam kesedihan yang teramat mendalam. Kisah itu telah menjadi sebuah kenangan bagi Risda, dimana dirinya berulang ulang kali untuk berusaha dibunuh akan tetapi Allah masih menyelamatkan nyawanya.


Kenapa Risda berusaha dibunuh oleh orang yang ada disekitarnya? Lanjut yuk untuk bisa mengetahuinya dengan lengkap, banyak masa kelam yang Risda jalani seorang diri tanpa adanya orang tua yang menemani.


"Pulang atau cerita?" Tanya Afrenzo.


"Pulang aja, deh. Tapi gue laper,"


Perutnya pun berbunyi samar, Risda mengusap perutnya itu karena rasa lapar yang tiba tiba datang. Mendengar itu langsung membuat Afrenzo tersenyum tipis, ternyata gadis itu mudah sekali lapar padahal sebelum pulang tadi mereka sudah makan terlebih dulu.


"Ayo kita cari warung dulu," Ajak Afrenzo.


"Nggak deh, gue pulang aja, Renzo. Gue nggak mau ngerepotin lo terus terusan,"


Risda merasa tidak enak jika Afrenzo terus menelaktirnya, bahkan kesannya seperti dirinya meminta minta kepada Afrenzo. Risda tidak mau merepotkan Afrenzo terus terusan, meskipun keluarga Afrenzo kaya sehingga tidak khawatir mengeluarkan uang berapapun, akan tetapi Risda merasa tidak enak.


"Lo nggak ngerepotin gue kok," Jawab Afrenzo singkat.


"Tapi kan..."


"Gue nggak suka dibantah."


Afrenzo pun melepaskan serembong yang melilit dipinggangnya, dan diikuti oleh Risda untuk melakukan hal yang sama. Setelahnya, Afrenzo langsung memakai jaketnya yang memang sudah terletak disana.

__ADS_1


Afrenzo langsung menarik tangan Risda untuk keluar dari dalam aula beladiri itu, keduanya langsung bergegas untuk menuju keparkiran yang ada disana. Ketika Risda hendak naik keatas motornya, tiba tiba Afrenzo menceganya.


"Naik motor gue aja," Ucap Afrenzo.


"Emang kita mau kemana? Nanti balik kesini lagi dong?" Tanya Risda aneh.


"Nyari makan," Afrenzo pun meramas kunci motor milik Risda dan memasukkannya kedalam jaketnya.


Afrenzo langsung naik keatas motornya dan langsung memakai helmnya, dirinya pun langsung menyalakan motornya itu. Karena tidak punya pilihan lain, hal itu membuat Risda hanya bisa pasrah dan menuruti kemauan dari lelaki itu.


Risda lalu naik keatas motor Afrenzo, dan berpegangan erat pada jaket milik Afrenzo itu. Risda yang memang takut kecepatan tinggi ketika dibonceng, hal itu membuat Afrenzo mengurangi kecepatannya untuk melaju.


Jika sedang naik motor sendirian, kecepatan laju motor Risda pun begitu tinggi. Akan tetapi, ketika dirinya berboncengan membuatnya tidak suka dengan kecepatan tinggi dan merasa sangat takut.


Bukan tanpa alasan dirinya seperti itu, karena Risda tidak ingin terjadi sesuatu dengan orang lain bersamanya. Sehingga ketika dirinya sendiri, maka apapun yang akan terjadi kepadanya maka orang lain tidak akan ikut serta celaka.


Risda tidak takut kalau terjadi sesuatu kepadanya sendiri, akan tetapi dirinya akan begitu merasa bersalah ketika orang lain ikut terlibat didalamnya. Baginya, lebih baik dirinya yang terkena bahaya sendirian asalkan tidak dengan orang lain.


*****


Risda pulang kerumah dengan wajah lelahnya, entah mengapa ketika sampai dirumah dirinya merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Didalam rumah, dirinya sama sekali tidak menemukan kedamaian didalam hatinya, justu rasa tertekan pun terus hadir menghantuinya.


Baru saja dirinya pulang, akan tetapi dia langsung mendapat omelan dari Indah. Entah mengapa hatinya tetap merasa sakit ketika mendengar perkataan dari Indah, padahal dirinya sudah terbiasa mendengar suaranya itu.


Ternyata perkataan Indah begitu sangat menyakitkan, daripada luka yang dimilikinya. Dirinya mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya terluka, beban yang menurutnya telah hilang pun rasanya seperti kembali lagi.


"Enak ya, dirumah ada temennya jadi pekerjaan ringan,"


"Temen apanya? Dia tuh perawan pemalas, jangankan menyentuh piring dan cucian motor, menyentuh sapu saja tidak pernah."


"Benarkah? Masak sih seperti itu? Seharusnya kamu mengajarkannya dengan baik sebagai Kakak. Dan tunjukkan apa saja yang harus dilakukannya,"


"Tunjukkin gimana? Orang dianya saja sudah besar, seharusnya tau apa yang harus dilakukannya. Bukannya hanya berdiam diri sambil bersantai santai,"


"Iya juga sih. Kalau aku punya Adik kayak gitu, mending disuruh ngamen aja biar dapat yang,"


Mendengar perkataan itu langsung membuat hati Risda seakan akan tersayat, baru saja dirinya menginjakkan kakinya dirumahnya, akan tetapi dirinya langsung mendengar suara Indah mengobrol dengan tetangganya.


Ucapan itu begitu simpel, akan tetapi rasa sakit hatinya begitu sangat luar biasa mendalam. Memang Risda tidak pernah ikut serta dalam membereskan rumah itu, karena tidak ada bimbingan yang bisa membimbingnya dengan benar.


Seandainya jika dirinya tinggal bersama dengan Ibunya, mungkin tidak ada yang berani mengatakan hal tersebut tentang dirinya itu. Mereka akan langsung dibuat bungkam oleh Ibunya, karena Ibunya tidak akan suka jika putrinya dijelekkan didepan orang lain.


Akan tetapi tidak ada kehadiran Ibunya disana, membuat Risda tidak bisa berkata apa apa. Dirinya pun langsung bergegas untuk masuk kedalam kamarnya, meskipun dirinya terus mendapatkan omelan dari Indah.


Indah memang tidak suka ketika melihat Risda bahagia, apalagi bahagia dengan kehidupannya sendiri. Indah merasa sangat cemburu karena Dewi lebih menyayangi Rias dariada dirinya sendiri.


Risda adalah anak terakhir dari pasangan Sandi dan Dewi. Sehingga dirinya mendapat kasih sayang yang lebih dari kedua orang tuanya, daripada apa yang didapat oleh Indah.

__ADS_1


Jika Risda menangis maka yang disalahkan adalah Kakaknya karena telah membuat adiknya itu menangis sesenggukan.


__ADS_2