Pelatihku

Pelatihku
Episode 27


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 6 lebih akan tetapi Risda belum juga membuka matanya. Risda masih tertidur dengan nyenyaknya diatas kasur rumahnya itu, semalam dirinya diantar pulang jam 1 malam oleh Afrenzo sehingga jam 2 malam dirinya bisa tertidur.


"BANGUN!" Masih tetap sama, Indah membangunkan Risda dengan menarik tangannya keras.


"Astaghfirullah," Ucap Risda yang terkejut ketika dibangunkan tiba tiba seperti itu, jantungnya berdegup kencang karena dibangunkan dengan kasarnya.


"SEKOLAH! DASAR ANAK MALES," Bentak Indah.


Kamar Risda memang tidak memiliki pintu dan hanya tertutup oleh kelambu saja, sehingga Indah bebas keluar masuk dengan sesukanya. Risda pernah meminta dipasangkan pintu akan tetapi tidak ada yang mempedulikan permintaannya itu.


Bukan hanya itu, akan tetapi Indah bebas memakai apapun milik Risda tapi Risda dilarang memakai apapun miliknya itu. Risda jengkel apalagi ketika pulang sekolah kamarnya berantakan, dan hal itu membuatnya sangat malas untuk membersihkan kamar tersebut sehingga dirinya membiarkan kamar itu berantakan.


Risda memegangi kepalanya yang terasa sakit itu, ia pun bangkit duduk diatas kasurnya. Jantungnya masih berdegup dengan kencang seakan akan dirinya selesai melakukan lomba maraton, pikirannya entah pergi kemana saat ini sehingga dirinya sama sekali tidak mendengarkan omelan Indah, pandangannya pun tertuju lurus kedepan seakan akan ia melamun, dan air mata pun mulai menetes dipelupuk matanya.


Melihat itu membuat Indah mengabaikannya, Indah langsung bergegas keluar dari kamar Risda, ia membersihkan rumahnya dengan mengebrak gebrak barang sekitarnya hingga membuat Risda merasa tidak nyaman dirumah itu.


"Kenapa masih hidup hari ini? Kenapa ngak mati aja?" Tanya Risda pelan, entah kepada siapa.


Risda lalu bangkit dari duduknya dengan kedua kaki yang gemetaran, dengan perlahan lahan dirinya pun berjalan menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya itu. Setelah selesai, Risda langsung merapikan pakaiannya dan makan dirumah neneknya.


*****


Risda memasuki kelasnya dan langsung disambut oleh teman temannya. Risda duduk didekat Mira yang saat ini sedang menatapnya, entah ada angin apaan sehingga membuat Wulan ikut gabung bersamanya kali ini.


"Da, lo udah denger tentang lomba teater?" Tanya Mira.


"Teater? Gue baru denger kali ini," Jawab Risda.


"Ayo ikut, kali aja kita bisa terkenal,"


"Gue ngak jago ngomong didepan umum, apalagi harus drama drama seperti itu."


"Katanya lo ngak pengen pulang kerumah, ini kesempatan bagus, Da. Kita akan tinggal disekolahan semalaman, kapan lagi kita bisa tidur barengan seperti ini?"


"Benarkah?"


Nampaknya Risda mulai tertarik dengan apa yang dikatakan oleh Mira, Risda pun akhirnya mau mengikuti lomba teater tersebut. Lomba itu adalah lomba antar sekolah sehingga murid sekolah sekolah yang lainnya akan berkumpul disekolahan Risda.


Mira, Wulan, dan Risda pun mendaftar diri untuk ikut serta berpartisipasi dalam acara lomba tersebut. Sementara yang lainnya, mereka sama sekali tidak tertarik apalagi diwajibkan harus menginap disekolahan tersebut.


Ketiga anak tersebut pun segera menuju kearah kelas yang digunakan untuk siswa yang mendaftar dalam lomba teater. Terlihat sedikit anak yang minat untuk lomba tersebut, karena lomba itu diadakan dengan cara menginap sehingga tidak ada yang tertarik.


Hanya ada 16 orang dari siswa baru seperti Risda dan teman teman yang lainnya itu. Kebanyakan dari mereka adalah Kakak kelasnya, karena yang mendaftar hanya sedikit akhinya mereka semua pun lolos tanpa seleksi apapun.


Mereka pun berlatih untuk menunjukkan bakat mereka dalam memerankan sebuah peran dalam teater tersebut, dari pagi hingga pulang sekolah mereka ada diruangan itu tanpa mengikuti pelajaran dikelasnya itu. Disana Risda bisa bercanda gurau dengan yang lainnya, ternyata tidak semua Kakak kelas disekolah itu sukanya semena mena.


Mereka pun berlatih teater, Risda kebagian pemeran pembantu dalam acara itu. Hal itu sama sekali tidak membuat Risda kecewa karena yang dirinya inginkan adalah tidak pulang kerumah, dengan adanya acara itu, hal itu membuat Risda tidak harus mendengarkan omelan dari Kakaknya.


"Apa ini Rahma! Kenapa nilaimu sangat jelek sekali," Sentak Risda memerankan perannya.


"Maafkan saya, Bu. Saya lupa belajar dengan baik sebelum ujian," Jawab seseorang yang memerankan Rahma.


"Mulai sekarang belajar lebih giat lagi! Nilai segitu emang bisa buat apa? Nilai juga seperti ukuran sepatu,"


Setelah memerankan peran mereka masing masing, mereka pun tertawa bersama sama. Mereka terlihat lucu didalam peran mereka, tidak ada diantara mereka yang bisa memerankan perannya dengan baik untuk kali ini.


*****


Telah tiba hari dimana lomba teater itu dilaksanakan, Risda dan ketiga temannya itu kini sudah berada dihalaman sekolah. Sepulang sekolah Risda dan yang lainnya langsung pulang kerumah masing masing, setelahnya mereka akan kembali ke lingkungan sekolah untuk mengikuti acara tersebut.


"Lo bawa bekal apaan, Lan?" Tanya Risda kepada Wulan.


"Nyokap gue tadi buatin nasi goreng kesukaan gue, lo mau, Da?"


"Oh, lo makan aja ngak papa. Kalo lo bawa bekal apaan, Ra?"


"Ngak ada yang spesial sih, cuma capcay sosis sama nugget ayam doang," Jawab Mira.


"Kalo lo bawa bekal apaan, Da?"

__ADS_1


"Gue ngak bawa, dirumah tadi ngak ada nasi, jadi nanti gue beli aja nasi diluar."


Tersirat perasaan iri didalam hati Risda, akan tetapi dirinya masih mampu untuk memancarkan sebuah senyuman yang tulus untuk teman temannya itu. Risda berusaha untuk tegar, dihatinya dirinya merasa sangat ingin dibuatkan bekal oleh orang tuanya sama seperti teman temannya.


Bunda, Risda pengen seperti mereka, dimasakin masakan kesukaannya, diperhatikan setiap saat, bahkan Risda rindu dimarahin oleh Bunda ketika Risda salah.


Bunda, apakah Risda tidak pantas untuk mendapatkan itu semua? Risda sedih, Risda pengen seperti yang lainnya. Pulang kerumah disambut dengan bahagia, mau menjadi tempat Risda bercerita keluh kesal, apakah Risda memang tidak ditakdirkan untuk memiliki keluarga yang bahagia?


Risda rindu masakan Bunda, masakan Bunda adalah masakan terlezat bagi Risda. Bunda, hari hari Risda begitu berat, rasanya Risda sudah tidak ingin bertahan hidup lagi. Akan tetapi, Risda tidak ingin menyia nyiakan perjuangan Bunda untuk menghidupi Risda selama ini.


Bunda, bolehkah Risda menyerah untuk saat ini? Risda lelah dihajar oleh keadaan, Risda lelah tampar oleh kenyataan yang pahit. Bunda, pulanglah untuk sesaat, Risda sangat rindu, rindu kasih sayang dari Bunda.


Bunda, Risda butuh pelukan dari Bunda. Risda rindu sama Bunda, tidak bisa bohong bahwa aku tidak iri kepada mereka. Jujur saja, Risda sangat iri kepada mereka Bunda, Risda juga ingin dibuatkan bekal seperti teman temanku itu.


Risda juga pengen seperti mereka. Apa mungkin menunggu Risda mati terlebih dahulu agar Risda bisa merasakan hal itu? Bunda, ngak ada orang yang benar benar menyayangi Risda dengan tulus selain dirimu, hanya kau yang selalu membuat Risda mampu untuk bertahan hidup.


Bunda, bolehkah Risda menyerah pada keadaan saat ini? Risda pengen mati. Mungkin disaat itu tiba, mereka akan baru menyadari perasaan yang Risda rasakan saat ini, apakah disaat Risda sudah ngak ada maka semuanya akan baik baik saja?


Risda memaksakan diri untuk terus tertawa didepan teman temannya, bahkan hatinya kini sedang hancur. Tak beberapa lama kemudian ada seseorang yang memanggil Risda dari luar ruang kelasnya.


"Da, ada yang nyariin lo," Ucap orang tersebut.


"Siapa?" Tanya Risda penasaran.


"Lihat aja, digerbang sekolah sekarang,"


"Baiklah, gue akan kesana."


Risda merasa bingung, entah siapa yang sedang mencarinya saat ini. Tidak biasanya ada yang mencarinya, mungkin ini kali pertamanya dirinya dicari oleh seseorang dilingkungan sekolahnya.


Risda tidak menemukan siapapun didepan gerbang pintu sekolahan itu, ia menemukan sebuah mobil yang terparkir didepannya. Tiba tiba seseorang keluar dari dalam mobil tersebut, Risda menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa kebingungan.


"Gue bawain bekal untuk lo," Ucapnya sambil menyerahkan sebuah kantung kearah Risda.


"Thanks, maafin ngerepotin lagi," Ucap Risda.


"Gue pergi dulu, jaga diri baik baik." Sambil membalikkan badannya.


"Dari Mama,"


Kedua mata Risda berkaca kaca ketika melihat Afrenzo datang hanya untuk memberinya bekal, ada perasaan senang sekaligus bahagia didalam hatinya saat ini. Afrenzo yang melihat air mata dari Risda itu pun langsung menggerakkan tangannya untuk mengusapinya.


"Kalo ada apa apa cerita," Ucapnya kepada Risda.


"Lo baik banget, Renzo. Kenapa lo bisa sebaik ini ke gue?"


"Cengeng,"


"Gue ngak cengeng!"


Risda langsung menghapus air matanya dengan kasar dihadapan Afrenzo. Risda tercengang ketika menatap kearah wajah Afrenzo yang menampakkan sedikit senyuman kearahnya, Risda yang memang tidak pernah melihat senyum diwajah Afrenzo itu pun membuatnya terkejut.


"Gue pergi, ada urusan."


Afrenzo pun meninggalkan Risda ditempat, Afrenzo lalu memasuki mobilnya tersebut. Tanpa Risda sadari bahwa didalam mobil tersebut ada anggota keluarga Afrenzo beserta adik adiknya, karena kacanya yang gelap sehingga dia tidak mengetahui hal itu.


Ketika mobil berjalan, seseorang membunyikan klakson kepada Risda. Mamanya Afrenzo langsung membuka kaca mobilnya, melihat itu langsung membuat Risda menundukkan kepalanya. Ketika mobil tersebut sudah melaju pergi, Risda hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Renzo kok baik ya? Lama lama gue merinding dekat dia,"


Risda pun bergegas kembali masuk kedalam kelasnya untuk bergabung bersama teman temannya, kedatangan Risda langsung disambut oleh mereka. Risda pun meletakkan bekal tersebut ditasnya untuk bergabung dengan yang lainnya yang sedang berlatih.


"Apaan itu tadi yang lo masukin ke tas?" Tanya Mira penasaran.


"Bekal lah, emang apaan lagi?" Tanya Risda balik.


"Tumben ada yang nganterin kesini?" Tanya Wulan.


Risda pun bingung harus menjawab apa, jika dirinya bilang bahwa Afrenzo yang telah mengantarnya, ia takut kalo Wulan menjadi salah paham lagi dengannya.

__ADS_1


"Ngak tau, tadi ada orang yang katanya disuruh nenekku nganterin kesini," Jawab Risda berbohong.


Risda tidak mau hanya karena masalah ini, Wulan dan dirinya akan kembali berantem. Risda tau bahwa Wulan menginginkan Afrenzo untuk bersamanya, akan tetapi Afrenzo sama sekali tidak memiliki perasaan apapun kepada Wulan.


Meskipun Afrenzo dingin seperti itu kepadanya, akan tetapi kehadiran Afrenzo didalam hidupnya membuatnya merasa bahagia. Risda tidak mau bahwa rasa nyamannya akan tumbuh kepada Afrenzo sehingga membuat sahabatnya itu akan kecewa kepadanya lagi.


Jujur, Risda merasa sedikit nyaman berada dekat dengan Afrenzo, Afrenzo adalah pelatihnya sendiri. Meskipun tatapannya selalu membuatnya merinding akan tetapi Risda merasa bahwa ada kehangatan yang disembunyikan olehnya.


"Tumben banget, Da?" Tanya Mira yang mendengarnya.


"Gue juga ngak tau, Ra. Mungkin karena tadi belom sarapan kali, terus tau kalo gue ngak pulang malam ini. Jadi, gue dibuatin,"


Senyuman diwajah Risda pun mengembang dengan cerahnya, ia tidak tau Afrenzo memberinya bekal apaan akan tetapi dengan itu membuatnya merasa bahagia. Akhirnya dirinya bisa merasakan dibuatkan bekal meskipun bukan dari keluarganya sendiri, keinginannya sederhana akan tetapi tidak pernah terwujud untuknya.


"Seneng deh lihatnya, semoga mereka cepat sadar ya,"


"Semoga saja, Ra. Sadar sebelum gue ngak ada,"


Mira pun langsung menjitak kepala Risda setelah mendengar ucapan Risda itu, Risda pun langsung cemberut dan mengusapi kepalanya yang sakit itu. Entah kenapa mereka sangat suka sekali untuk menjitak kepalanya.


"Sialan lo, Ra. Sakit nih!" Sentak Risda.


"Omongan lo ngak bisa dijaga apa ha? Gimana kalo malaikat maut mendengar anjiiing!"


"Justru bagus dong, biar gue cepet mati." Risda menjawabnya dengan santainya.


"Kalo lo mati, yang ada lo bakalan ngerepotin tuh malaikat yang jaga dineraka. Dosa lo kan masih banyak, apa lo ngak kasihan sama malaikat malaikat itu?"


"Kan itu tugas mereka, ngak ada hubungannya sama gue kali. Gue mati sekarang atau nanti itu sama aja, lagian tiap nambah hari nambah pula dosa gue,"


"Gue saranin lo cepetan gantung diri deh, Da. Lo ngeselin banget sih jadi orang,"


"Bunuh diri itu dosa, gue ngak mau malah dibunuh berkali kali di neraka nanti. Mending mati kecelakaan, atau ngak tenggelam,"


"Emang lo mau hanyut, Da? Gue kasih tutornya deh,"


"Gue pernah tenggelam sekali, tapi belom saatnya gue kembali keakhirat, hasilnya ada yang nyelametin gue,"


"Kalo tutor yang ini ngak bakalan gagal, Da. Gue yakin banget,"


"Emang apaan?"


"Gimana kalo gue dorong lo kejurang? Gue yakin kalo lo bakalan cepet matinya,"


"Bangsaat lo! Emang lo mau dipenjara?"


"Da, gue kan hanya ngasih saran doang. Gue tau, lo itu pengen mati tapi lo juga ngak mau mati kan? Mending lo ubah saja harapan lo yang itu, bakso aja masih enak,"


"Gue tau apa yang gue katakan, lo ngak perlu nasehatin gue,"


"Gue ngomong kek gini karena gue peduli sama lo, Da. Kalo gue ngak peduli ya pasti gue udah bodoamat sama lo,"


"Ya ya ya ya, teserah lo aja dah, Ra."


Mereka pun kembali fokus berlatih untuk mempersiapkan lomba yang akan mereka lalui nantinya. Setelahnya mereka langsung bergegas membangun sebuah tenda, karena mereka akan tidur ditenda bukan dikelas kelas.


Para peserta dari sekolah lainnya pun berdatangan dengan rombongan mereka masing masing. Begitu hanyak cowok cowok ganteng yang ikut serta dalam perlombaan itu, mereka langsung membangun tenda mereka masing masing.


Risda dan yang lainnya sudah berganti pakaian mereka, waktu menunjukkan pukul 8 malam dan mereka berkumpul dilapangan untuk melaksanakan lomba mereka. Risda memakai baju kebayak berwarna pink milik Kakaknya itu, karena tema mereka adalah jaman dahulu.


"Keknya ada yang kurang deh, Da."


"Ngak ada, apaan yang kurang dari gue?"


"Pemerah bibir anjiirrr, lo kagak pake itu?"


"Ngak, gue kagak suka."


Mira pun tersenyum misterius kepada Risda dan selanjutnya, bhuk bhuk bhuk.

__ADS_1


"Selesai, cantikkan?"


Mira melakukan aksinya kembali dan dibantu oleh Kakak kelas mereka untuk memegangi Risda, Risda pun melawan mereka, karena tenaganya yang kalah sehingga Mira dengan mudah mengoleskan sebuah gincu dibibir Risda.


__ADS_2