Pelatihku

Pelatihku
Episode 148


__ADS_3

Tok.. Tok.. Tok...


Risda yang memang mudah terganggu dalam tidurnya pun mendengar suara seseorang yang tengah mengetuk pintu rumahnya itu, Risda memang tidak pernah tidur dengan nyenyak selama ini jadi hal sepelan apapun mampu untuk membuatnya terbangun dari tidurnya.


"Jam berapa ini? Siapa sih yang ngetuk pintu malam malam," Guman Risda sambil melihat kearah ponselnya dan menunjukkan pukul 11 malam.


Dengan malasnya, Risda lalu bangkit dari tidurnya karena orang yang mengetuk pintu tersebut terus mengetuknya seakan akan tidak sabar untuk dibukakan. Risda lalu berjalan menuju keruang tamu untuk melihat siapa yang datang, dirinya pun membuka gorden rumahnya untuk melihat siapa yang datang.


"Bukankah sudah diberitahu Bunda kalo kesini jangan malam malam? Dia punya telinga nggak sih?" Gumannya lagi ketika melihat siapa yang datang kerumahnya itu.


Risda pun terkejut karena tanpa sengaja dirinya melihat kearah mata lelaki itu, karena kedua matanya terlihat sangat memerah. Risda bimbang antara mau membukakan atau tidak, karena saat ini posisinya sedang sedirian didalam rumah, karena seluruhnya tengah tertidur dengan pulasnya.


Karena lelaki itu yang terus mengetuk pintu rumahnya, hal itu langsung membuat Risda mau tidak mau harus membukakan pintu tersebut. Risda merasa yakin bahwa orang itu bukanlah orang baik baik, biar bagaimanapun juga orang baik tidak akan bertamu dirumah orang larut malam seperti ini.


"Ada apa, Om?" Tanya Risda kepada lelaki itu.


"Kamu sudah makan, Ris?" Tanya Abie kepada Risda.


"Udah. Tadi sore sudah makan kok," Jawab Risda yang tidak ingin basa basi lagi kepada orang itu.


"Maaf ya, Om ganggu malam malam begini,"


"Ya elah baru nyadar aja nih orang, lagian kenapa sih harus datang malam malam begini. Ganggu orang tidur aja, orang enak enak mimpiin cowok ganteng jadi batal kan gara gara lo datang tanpa diundang." Tentu saja Risda mengomel dalam hatinya tanpa berani berkata karena takut Abie salah paham dan membuat Bundanya marah.


Tanpa menunggu jawaban dari Risda, Abie langsung menyerahkan bingkisan yang dia bawa untuk Risda. Risda tidak mau lama lama lagi dan drinya langsung menerimanya, karena dirinya juga sangat mengantuk saat ini.


"Habis ini langsung dimakan ya, Ris. Kalo dingin nanti nggak enak,"


"Masih kenyang, Om." Bukan Risda namanya jika tidak asal ceplos dan menyakiti hati orang lain.


"Dicicipi dulu lah,"


"Iya nanti aku cicipi kok."


Abie langsung berpamitan untuk pulang karena merasa bahwa Risda sudah tidak nyaman dengannya saat ini, apalagi melihat tatapan malas dari Risda. Risda sendiri pun langung menutup pintu rumahnya setelah melihat lelaki itu bergegas menuju kearah sepedah motornya, tanpa menunggu lelaki itu pergi terlebih dulu.


"Maksa banget jadi orang, emang makanan ini ada apanya sih? Jangan jangan nih makanan dari dukun buat naklukin gue," Tebak Risda.


Risda pun menjadi malas untuk memakannya, akan tetapi aromanya yang lezat membuatnya tergoda untuk mencicipinya. Risda pun mencicipinya sedikit karena penasaran, akan tetapi aroma makanan itu tidak sesuai dengan rasanya dan hal itu membuat Risda tidak melanjutkan makannya.


"Rasanya kok hambar banget, tapi wangi. Aneh," Guman Risda.


Risda pun meletakkan makanan itu diatas meja makan yang ada didalam rumah itu, dan dirinya langsung bergegas untuk masuk kedalam kamarnya untuk kembali merebahkan tubuhnya yang lelah.


"Siapa yang datang?" Tanya Indah yang terbangun dan melihat Risda yang akan masuk kedalam kamarnya.


"Abie," Jawab Risda singkat karena dirinya juga malas untuk meladeni Kakak perempuannya itu.


"Ngapain dia kemari malam malam begini?"


"Biasa. Tuh dimeja makan ada ayam panggang, makan saja mumpung masih hangat," Risda pun menunjuk kearah meja makannya.


Setelah itu, Risda pun kembali masuk kedalam kamarnya tanpa ingin berlama lamaan diluar. Sesampainya didalam kamarnya, Risda langsung merebahkan tubuhnya yang lelah itu diatas kasurnya dan kembali tertidur dengan pulasnya.


*****


"Lo kenapa, Da? Kok kayak nggak bersemangat gitu sih?" Tanya seseorang kepada Risda setelah bertemu dengan Risda dilorong sekolahan itu.


Risda pun menoleh kepada orang itu dan mendapati bahwa Afrenzo tengah berdiri disampingnya. Risda pun memaksakan diri untuk tersenyum kepada Afrenzo, senyuman yang penuh paksaan.


"Gue ngantuk banget, Renzo. Semalam gue nggak bisa tidur dengan nyenyak," Jawab Risda jujur.


"Ada yang sedang lo pikirin, Da?"

__ADS_1


"Nggak ada sih, paling mikirin hidup gue yang kagak ada gunanya ini. Lo tau? Semalam, orang yang pernah gue ceritain ke lo datang lagi kerumah, dan itu bikin gue nggak bisa tidur dengan nyenyak. Gue sebel banget sama tuh orang," Ucap Risda sambil menggebu gebu.


"Jam berapa?"


"Jam 11 malam, gila banget kan dia?"


Afrenzo pun terdiam beberapa saat, seperti tengah memikirkan sesuatu yang aneh. Risda terus memperhatikan wajah Afrenzo yang terdiam, cowok itu seakan akan memikirkan banyak pertanyaan didalam kepalanya.


"Renzo?" Panggil Risda karena Afrenzo hanya terdiam.


"Lo harus hati hati sama dia, Da. Mungkin dia memiliki niat buruk sama lo dimalam hari,"


"Maksud lo apa'an, Renzo? Gue nggak paham dengan ucapan lo."


"Nggak perlu dipahami, yang penting lo harus hati hati."


Risda semakin bingung dengan ucapan Afrenzo, ucapan itu membuat Risda semakin takut untuk bertemu dengan lelaki itu. Afrenzo sama sekali tidak memberitahukan kepadanya mengapa dirinya harus berhati hati, bahkan hal itu menciptakan sebuah tanda tanya yang besar dikepala Risda.


"Kenapa gue harus hati hati? Maksudnya apa?"


"Takdir nggak ada yang tau, Da. Intinya lo harus hati hati," Afrenzo pun mengusap pelan puncak kepala Risda, hal itu selalu berhasil membuat Risda merasa tenang.


Risda pun merasa seperti disayangi ketika Afrenzo mengusap kepalanya itu, karena tidak ada yang pernah melakukan hal itu kepadanya selain Afrenzo. Bahkan kedua orang tuanya tidak pernah melakukan itu untuk menenangkan dirinya, mereka justru akan memarahi Risda jika Risda berbuat nakal.


Afrenzo adalah satu satunya lelaki yang mampu mengerti tentang dirinya, orang pertama yang selalu ada untuknya ketika orang tuanya tidak berada disampingnya untuk menemani langkahnya. Oleh karena itu, Risda selalu merasa bahagia jikalau berada dekat dengan Afrenzo, apalagi usapan tangan Afrenzo selalu berhasil membuatnya merasa tenang.


"Renzo," Panggil Risda lirih.


"Sebentar lagi jam masuk sekolah akan berbunyi. Sebaiknya lo masuk kelas sebelum pelajaran dimulai," Ucap Afrenzo kepada Risda dengan sebuah senyuman tipis.


"Gue takut."


"Hem?"


"Tentang ucapan lo, gimana kalo dia emang mau berbuat sesuatu ke keluarga gue? Gue takut,"


Risda pun menganggukkan kepalanya dengan semangat, dirinya pun memancarkan sebuah senyuman cerah kepada Afrenzo. Entah mengapa setiap ucapan yang dilontarkan oleh Afrenzo, selalu saja membuatnya merasa sangat tenang dan damai.


Afrenzo lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Risda ditempat itu, Risda menatap kepergian Afrenzo tanpa mengalihkan pandangannya dari lelaki itu. Risda sendiri bingung kenapa lelaki itu bisa begitu sangat baik, dirinya pun penasaran tentang bagaimana cara orang tuanya mendidik lelaki itu.


Dibalik sikapnya yang dingin kepada semua orang, tetapi Afrenzo memiliki sikap yang baik dan bertutur kata lembut. Afrenzo lebih mendahulukan adab daripada ilmu, apa yang dirasa itu baik maka dia akan melakukannya dan tidak berharap kepada orang lain untuk bersikap baik juga kepadanya.


Afrenzo memang dingin karena masalalu yang dirinya alami, sehingga berhasil mengubah perilaku dan sikapnya terhadap orang yang asing baginya. Jika orang lain bisa menjadi orang yang berarti baginya, maka mereka bisa melihat bahwa sikap Afrenzo itu sangat baik dan selalu membawa ketenangan bagi orang yang akrab dengannya.


Afrenzo tidak pernah meminta kepada orang lain untuk juga bersikap baik kepadanya, karena dirinya tau bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin terjadi karena hal itu adalah sebuah paksaan.


Bahkan Risda sendiri tidak akan mampu untuk menjadi orang yang setegar Afrenzo, yang bahkan tidak pernah mengeluh dengan apapun yang terjadi kepada dirinya sendiri. Afrenzo selalu tabah dengan apa yang terjadi, karena dirinya tau bahwa itu adalah sebuah takdir yang telah digariskan untuknya.


"Kenapa bisa ada orang yang sebaik Renzo, tapi selalu ada yang membencinya? Renzo itu baik, tapi kenapa banyak yang nggak suka dengannya? Seharusnya mereka senang berada dekat dengan Renzo, bukan malah membencinya dan menjadikannya musuh."


Risda tidak habis pikir dengan orang orang yang selalu membenci Afrenzo, padahal jika dilihat lihat Afrenzo itu sangat baik orangnya. Entah mengapa mereka bisa membenci Afrenzo, dan Risda menduga bahwa karena Afrenzo yang memang selalu bersikap dingin itu.


*****


"Peralatan yang harus dibawa pada waktu acara latihan gabungan. Yang pertama adalah sakral beserta sabuk bagi yang punya, kedua adalah toya, ketiga...." Afrenzo pun menjelaskan kepada siswanya tentang apa saja yang perlu dibawa untuk acara latihan gabungan.


Risda dan yang lainnya kini tengah mencatat peralatan apa yang diperlukan untuk dibawa dalam acara itu, dan juga mencatat materi apa saja yang akan diuji dalam pelatihan itu. Risda tidak mau ketinggalan suatu apapun, sehingga dirinya harus benar benar mencatatnya dengan baik agar tidak sampai lupa.


Latihan gabungan itu akan diadakan besok lusa, sehingga dirinya harus menyiapkan dengan rapi peralatan apa saja yang dibawa dan tidak boleh ada yang tertinggal. Materi yang akan diuji dalam latihan itu adalah fisik dan al islam yang diajarkan beserta jurus dan juga ilmu pencak silat.


"Renzo, kayaknya gue nggak akan dibolehin bawa sepedah motor sendiri deh nantinya. Terus gimana?" Tanya Risda kepada Afrenzo.


"Itu soal nanti, sekarang kita bahas yang ini dulu. Jangan sampai ada yang kena hukuman karena tidak hafal dengan materinya," Ucap Afrenzo dengan nada sabarnya.

__ADS_1


Memang terlihat lancang disaat Afrenzo tengah membahas hal yang lain, akan tetapi Afrenzo sama sekali tidak marah dengan Risda. Risda pun kembali mencatat materi yang diberitahukan oleh Afrenzo, setelahnya Afrenzo pun memberikan waktu untuk mereka agar menghafal.


"Renzo," Panggil Risda sambil mendekat kearah Afrenzo.


"Hem?" Tanya Afrenzo sambil berdehem.


"Gue udah hafal semua materinya, hanya geser dan balik badan doang kan? Jurus juga paling pukulan dan tangkisan,"


"Lalu?"


"Gue cuma bingung gimana berangkatnya doang,"


Risda sebelumnya telah meminta izin kepada Dewi untuk mengikuti latihan itu, Dewi pun mengizinkannya akan tetapi tidak memperbolehkan Risda untuk memakai motornya sendiri karena takut jika motor itu akan hilang. Sehingga hal itu membuatnya kebingungan harus gimana caranya untuk berangkat, sementara teman temannya tidak bisa memberi tebengan kepadanya karena mereka juga sudah saling berboncengan.


"Nanti berangkat sama gue," Putus Afrenzo.


"Lo nggak masalah, kan? Nanti gue malah ngerepotin lo lagi,"


"Nggak ada masalah untuk lo, Da. Lo tenang saja soal itu,"


"Tapi lo mau kan jemput gue dirumah? Gue nggak tau gimana berangkatnya kalo kesekolah,"


Ini namanya dibaikin malah ngelunjak, Afrenzo sudah berbaik hati sama Risda untuk mau menebengi Risda pergi ke acara itu, Risda justru meminta lebih agar Afrenzo mau menjemputnya dirumah.


"Rumah lo kagak pindah, kan?"


"Terus pindah kemana? Pindah tinggal bareng sama lo gitu? Hehe..." Risda justru terkekeh pelan karena ucapannya sendiri.


"Kita belom nikah, mana bisa tinggal bareng. Mau digerebek sama warga?"


"Ngeri banget sih, Renzo. Ya kagak mau lah gue kalo seperti itu, pertanyaan lo sih aneh,"


"Nanti gue jemput," Pungkas Afrenzo.


"Terima kasih Pelatih yang terhormat sejagad raya."


Percakapan keduanya seketika membuat iri seluruh siswa yang ada disana, mengapa Afrenzo bisa memperlakukan Risda seperti itu, dan apa yang sepesial dari Risda bagi Afrenzo. Risda sendiri pun tidak tau mengapa lelaki itu bisa bersikap sedemikian rupanya kepada Risda.


"Kalian lanjutkan menghafalnya," Ucap Afrenzo menjadi salah tingkah dihadapan para siswanya.


"Baik Pelatih!" Seru seluruhnya secara bersamaan dan serempak.


Afrenzo pun langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu, dirinya lalu meninggalkan siswanya dan membiarkan mereka untuk menghafalkan materi yang akan diujikan. Sementara dirinya langsung bergegas menuju ke aula lantai atas, dirinya sendiri pun menghafalkan materi yang harus dirinya pelajari.


Risda dan yang lainnya langsung menghafalkan materinya, dirinya pun melakukan gerakan juga untuk bisa menghafalkan dengan baik daripada yang lainnya. Gerakan Risda memang sudah sesuai dengan gerakan asli yang telah dilatihkan, akan tetapi dirinya belum sepenuhnya hafal mengenai hal itu.


Setiap pasang kuda kuda, dirinya harus bisa menyesuaikan dengan berat badannya yang bagaimana hal itu adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Begitu banyak macam macam gerakan kuda kuda, dan posisi tubuh pun berbeda beda dalam melakukan gerakan itu.


Sebelum bertarung, mereka akan melakukan sebuah sikap pasang, dan bahkan sikap itu memiliki begitu banyak macam gerakan yang sulit untuk dipahami. Zaman sekarang sudah ada kecanggihan dalam teknologi, seperti adanya sebuah YouTube yang menjelaskan tentang ilmu beladiri, akan tetapi jika tidak belajar dengan pelatihnya langsung, kemampuan beladiri mereka akan jauh berbeda.


"Da, langkah kaki itu yang bagaimana?" Tanya Ana kepada Risda yang tengah memeragakan hafalannya.


"Langkah kaki itu yang zig zag, An. Kalau geser itu cuma berpindah letak doang, tergantung jenis gesernya," Jelas Risda.


"Contohnya?"


"Gini..."


Risda pun memperagakan sebuah gerakan melangkah dengan metode zig zag, dan Ana sendiri pun memperhatikannya. Memang terlihat seperti langkah biasa, akan tetapi langkah kaki dalam pencak silat itu berbeda, karena harus melakukan gerakan merapat terlebih dahulu sebelum melangkah.


"Ouh yang itu, gue paham!" Seru Ana dengan senangnya.


"Lo harus ingat ingat itu, An. Jangan sampe lo kena hukuman nantinya gegara lupa untuk membedakan antara langkah dan geser,"

__ADS_1


"Oke oke, kalo gue lupa lagi, nanti gue tanya sama lo yak?"


"Bereslah."


__ADS_2