Pelatihku

Pelatihku
Episode 114


__ADS_3

"Dasar cowok aneh, ngapain coba nyusulin gue ke kamar mandi? Cuma nanya gitu doang mah langsung balik aja gitu, Terus apa gue nyusulin gue ke kamar mandi? Nggak jelas banget, setelah itu main pergi gitu aja tanpa bilang," Omel Risda disepanjang jalan menuju kearah kelasnya.


Risda semakin kesal dibuatnya, bagaimana tidak kesal sudah uangnya hilang apalagi Afrenzo langsung meninggalkannya begitu saja. Sudah sangat kesal dan ditandai dengan sangat kesal lagi, mungkin sekarang sudah dobble kesalnya.


"Hai Risda sayang," Ucap seseorang.


Mendengar itu membuat Risda langsung terkejut, dirinya pun ingin segera menjauh dari lelaki yang memanggilnya itu. Akan tetapi lelaki itu langsung menggandeng tangannya begitu saja dan tidak membiarkan dia pergi, lelaki itu tidak lain adalah Benni.


"Ih lo ngapain sih, pegang pegang gue segala lagi! Emang kagak ada kegiatan lain apa?" Teriak Risda dengan paniknya sambil berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Benni.


"Tugasku sudah selesai aku kerjakan kok, sekarang lagi santai kok," Jawab Benni dengan polosnya.


"Gue ngak nanya! Jangan bikin gue makin badmood ya sekarang, mau lo apa sih sebenarnya? Bisa ngak sih jangan gangguin gue mulu,"


"Aku maunya sama kamu, Risda. Kamu kan baik, cantik, pokoknya beda deh. Kamu kenapa sih ngak mau sama aku?"


"Mau tau?"


"Iya aku mau,"


"Mau gue aduin lo ke Renzo?"


"Kenapa harus ngadu ke dia? Emang aku salah apa?"


"Karena lo berani pegang pegang tangan gue! Gue aduin lo nanti kedia,"


Risda pun langsung pergi dari tempat itu, dirinya masih merasa badmood saat ini. Udah uangnya hilang, Afrenzo sepertinya tidak pengertian, dan lagi saat ini dirinya diganggu oleh Benni.


Harinya saat ini begitu sangat menyebalkan baginya, bahkan rasanya dirinya ingin sekali memukul sesuatu hingga membuatnya merasa lega. Risda langsung berlari menuju ke kelasnya karena takut dikejar oleh Benni, dan dengan cepatnya dirinya berlari.


Bhukkk...


Tak sengaja Risda menabrak seseorang, keduanya pun langsung terjatuh di atas rerumputan yang ada di taman sekolah. Benar benar nasib sial mendatanginya, entah mengapa dirinya merasa begitu sial hari ini.


"Lo punya mata nggak sih sebenarnya? Kalau jalan tuh lihat lihat pakai mata! Jangan jangan lo buta kali ya sampai tidak tahu ada orang di depan lo," Omel orang tersebut kepada Risda.


Riska pun menembus dengan kesalnya, dirinya pun langsung bangkit dari jatuhnya itu. Risda lalu mengibas ngibaskan tangannya untuk membersihkan debu yang menempel di baju dan juga tangannya itu, tangannya terasa sakit karena tergores sesuatu.

__ADS_1


"Salah lo sendiri, lo yang muncul tiba tiba di depan gue ngapain coba? Udah tahu gue mau lari ke kelas tapi kenapa lo tiba tiba muncul? Lo yang salah justru Ngomelin orang lain," Risda pun terlihat sangat marah.


"Lo yang nabrak gue kenapa lo yang marah? Seharusnya gue yang marah bukan lo, udah salah pakai nyolot lagi. Emang ya cewek itu tidak bisa disalahkan, apalagi cewek kayak lo,"


"Lo nggak terima gue salahin ha? Lihat nih tangan gue terluka gara gara lo,"


Risda pun menunjukkan tangannya yang terluka itu kepada lelaki tersebut, terlihat adanya bercak darah bercampur dengan pasir. Rasanya teramat perih apalagi luka tersebut terletak di telapak tangannya, meskipun itu hanyalah luka kecil akan tetapi luka itu sangatlah perih.


"Luka segitu aja pakai ngeluh, gimana kalau punya luka besar? Cemen lo jadi cewek,"


"Lo bilang apa ha? Lo ngatain gue cemen? Mau ngajak ribut lo?"


Risda pun seakan akan tengah melangkip lengan bajunya itu, dirinya seakan akan tengah bersiap siap untuk berhadapan dengan lelaki itu. Lelaki tersebut adalah kakak kelasnya, tapi Risda sama sekali tidak takut dengan lelaki itu.


"Siapa juga yang takut sama lo? Jangan mentang mentang lo itu cewek ya bisa seenaknya sama cowok, gue tendang baru tahu rasa lo."


Mendengar keributan itu membuat beberapa siswa langsung menuju ke arah keduanya, tempat tersebut langsung terlihat begitu sangat ramai. Afrenzo setengah sibuk berada di ruang OSIS, dirinya pun langsung bergegas menuju ke tempat di mana Risda berada.


"Ada apa ini?" Tanya Afrenzo ketika sampai disana, dan bahkan tempat itu sudah berkumpul banyak siswa.


Karena banyaknya siswa yang berkumpul, membuat Afrenzo tidak bisa melihat kejadian yang sebenarnya disana. Dirinya tidak mengetahui siapa yang sudah membuat keributan ditempat itu, oleh karena itu dirinya pun menggeser para siswa untuk memberinya jalan.


"Gadis ini benar benar!" Ucap Afrenzo dengan lirih sangking geramnya kepada Risda.


Afrenzo langsung bergegas mendatangi dimana Risda berada, terlihat bahwa Risda dengan menangis sesenggukan ditengah tengah kerumunan orang. Sementara disatu sisi, dirinya melihat lelaki yang sedang terlihat emosi kepada Risda, entah apa yang sudah dibuat oleh gadis itu.


"Ada apa ini?" Tanya Afrenzo kepada keduanya.


"Dia duluan, Renzo. Dia berani sekali mukul gue," Adu Risda sambil menahan air matanya.


"Gue udah peringatin ke lo sebelumnya, jangan mentang mentang lo itu cewek sehingga nganggap kami lemah. Baru diginiin aja nangis," Ucap lelaki itu dengan marah.


Plakkk...


Siapa sangka bahwa Afrenzo langsung menampar lelaki tersebut, hal itu langsung membuat mereka semua yang ada disana sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo. Bahkan mereka tidak menyangka bahwa Afrenzo langsung main tangan saat itu juga, tidak biasanya lelaki itu akan main tangan seperti itu.


Risda begitu sangat terkejut dengan reaksi yang dilakukan oleh Afrenzo, ia tidak menyangka bahwa Afrenzo langsung menampar lelaki itu dengan kerasnya hingga ujung bibirnya sobek. Bukankah ini bisa dikatakan sebagai kekerasan dalam sekolah? Akan tetapi lelaki itu sama sekali tidak peduli soal itu.

__ADS_1


"Lo lahir dari seorang wanita, lo dicintai oleh seorang wanita, dan lo juga dibesarkan dengan tulus oleh seorang wanita. Tapi kenapa lo lakuin ini kepada wanita? Apa lo sangat cemen untuk ngelawan lelaki? Kalo dia salah beritahu apa kesalahannya, dan ajarkan apa yang seharusnya. Bukan main tangan" Ucap Afrenzo dengan geramnya sambil memegangi erat kerah baju milik lelaki tersebut.


"Gue ngak punya masalah sama lo, kenapa lo harus ikut campur urusan gue!" Teriak lelaki itu kepada Afrenzo.


"Kalo lo ngak bisa dibilangin dengan omongan, maju dan lawan gue sekarang."


Afrenzo menatap kearah lelaki itu dengan tatapan tajam, tatapan itu sama sekali tidak pernah dilihat oleh Risda sehingga membuat Risda terlihat sangat takut. Bahkan lelaki itu sepertinya tidak main main dengan ucapannya, dia bahkan sama sekali tidak takut dengan resikonya.


Ketua OSIS seperti Afrenzo sangat ditakuti, apalagi cowok itu benar benar terlihat sangat tegas. Bahkan bapak ibu Guru yang ada disana tidak terlalu menyeramkan, daripada ketua OSIS yang saat ini.


Akan tetapi berkat ketegasan dari Afrenzo, murid murid yang bersekolah disana pun terlihat sangat disiplin. Mereka selalu memakai atribut yang lengkap, dan juga jarang ada yang meninggalkan kelas sebelum jam pelajaran selesai.


Bapak dan ibu guru merasa sangat bangga dengan ketegasan yang dimiliki oleh Afrenzo. Bahkan diusia remaja dirinya pun sudah menjadi seorang pelatih, beberapa siswa yang dilatihnya itu pun kebanyakan sudah dewasa dan bahkan ada yang sudah bekerja.


Lelaki yang diperlakukan oleh Afrenzo seperti itu pun merasa ketakutan. Bagaimana bisa dirinya melawan Afrenzo yang memiliki ilmu beladiri tinggi? Apalagi disana Afrenzo berkedudukan sebagai ketua OSIS.


Beberapa dari mereka yang pernah memilih Afrenzo sebagai ketua OSIS pun merasa kecewa dan beberapa lainnya merasa sangat kagum dengan lelaki itu. Beberapa guru langsung mendekat kearah pertikaian itu, mereka pun melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Afrenzo sebelumnya.


"Kalian ini apa apa'an? Mau jadi jagoan dengan cara menindas yang lain? Ini sebenarnya ada apa, Renzo? Kenapa kamu bisa terlibat?" Tanya guru itu tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo saat ini.


"Kita jelaskan dikantor untuk soal ini, Bu. Ngak enak kalo dijelaskan disini," Jawab Afrenzo.


"Baiklah, kalian langsung kekantor sekarang,"


Beberapa guru dan diukuti oleh Risda, Afrenzo, dan lelaki itu langsung menuju kearah kantor sekolah. Risda tidak bisa berkata kata saat ini, karena dirinya sendiri juga salah tentang hal itu.


Afrenzo bisa tau mengapa gadis itu bisa bertindak seperti itu, tanpa berpikir panjang lebih dulu. Karena kurangnya perhatian dari Ayahnya, membuat gadis tersebut sangat sulit untuk diatur bahkan jika dibilangin pun tidaklah mudah.


Risda sama sekali tidak bisa dikasar, karena jika dirinya sampai dikasar maka dirinya akan terus membantah dan mencoba melawan. Sehingga, kalau ingin memberitahu kepada Risda haruslah berkata dengan sabarnya.


Semakin kita keras, tidak akan membuatnya menurut akan tetapi justru sebaliknya. Perhatian sosok Ayah begitu sangat penting bagi anak perempuan, karena anak perempuan akan merasakan disayangi oleh laki yang bahkan lelaki itu tidak mampu untuk melukainya.


Afrenzo sama sekali tidak suka ketika melihat wanita dibentak ataupun dipukul. Afrenzo sangat menyayangi Ibunya, oleh karena itu dirinya sangat membenci lelaki yang menyakiti hati seorang wanita.


Bukan hal yang sepele jika demikian, bahkan dirinya tidak akan segan segan untuk menyakiti lelaki yang berani untuk menyakiti seorang wanita.


"Jelaskan semuanya sekarang," Ucap guru wanita tersebut kepada keduanya.

__ADS_1


Risda pun menjelaskan secara detail apa yang terjadi itu, dirinya mengaku salah saat ini akan tetapi dirinya juga menyalahkan lelaki itu karena dirinya yang telah memukulnya lebih dulu.


__ADS_2