Pelatihku

Pelatihku
Episode 42


__ADS_3

Risda masih tetap setia terjaga disepanjang malam itu, karena membayangkan para hantu yang terus bergentayangan didalam ingatannya itu. Apalagi ruangan itu yang nampak remang remang karena sebagian lampu telah dimatikan karena ada siswa yang tidak bisa tidur dengan lampu menyala.


Tiba tiba sebuah tangan menyentuh pundaknya, merasakan itu membuat Risda terpaku mendadak, ia tidak bisa menoleh ataupun bergerak karena tangan tersebut yang terasa begitu berat.


"Mak... Mak... Mak lampir!" Teriak Risda lirih ketakutan.


Tangan yang memegangi pundaknya itu pun langsung terlepas dari pundaknya itu. Tiba tiba sosok Rania langsung terbangun dari tidurnya karena mendengar teriakan Risda tersebut, ia pun meregangkan otot ototnya.


"Lo ngapain sih, Da? Lo ngak lihat apa yang lainnya masih tidur molor," Ucap Rania sambil mengusap kedua matanya.


"Eh lo ternyata, Ran. Gue pikir tadi Mak lampir yang megangin pundak gue anjiirr!" Umpat Risda.


"Itu tangan gue, Da. Lo ngapain sih kok belom tidur jam segini? Mau begadang apa woi?"


"Gue takut, Ran. Menurut lo hantu itu ada atau kagak ada?" Tanya Risda yang langsung to the point.


"Kagak ada, Da. Ngapain sih lo bahas hal hal gituan malam malam gini ha? Kurang kerjaan aja, kalo ada emang lo mau digondol dibawa masuk kedalam pohon?"


"Anjiir lo, Ran! Emang gue masuknya lewat mana? Emang pohon ada pintunya?"


"Lo yang dijadiin kecil kek semut baru diiket didalamnya, gampang kan?"


"Ngomong sama lo bukannya tenang malah kagak penting banget," Ucap Risda dengan sebalnya kepada Rania. "Tapi bener juga sih, kata Renzo hantu itu bisa ilmu sihir jadi mudah dong buat ngubah gue jadi semut. Oh no! Itu tidak akan terjadi, gue kagak mau jadi semut," Batin Risda menjerit.


"Mangkanya tidur napa, lo mau begadang sampai jam berapa ha? Ini sudah jam 1 malam anjaay,"


"Ngak tau, gue ngak bisa tidur. Gue ngeri tau ngak sih, Ran. Gimana nanti gue malah diculik lagi, emang lo mau nemuin gue?"


"Gue sih ogah, males banget cariin lo. Denger denger nih ya, kalo orang yang diculik itu berakhir jadi budaknya hantu loh, raganya bakalan dikembalikan tapi jiwanya dibawa sama yang nyulik," Kompor Rania yang membuat Risda semakin ngeri.


"Auah gue ngak mau denger ucapan lo, Ran. Mending gue keluar nemuin Renzo buat nanya hal itu, daripada tanya sama lo yang ada malah nakut nakutin gue," Risda lalu bangkit dari duduknya untuk berjalan keluar.


"Eh lo mau kekelas para cowok? Kalo ditangkap oleh Bapak Ibu guru baru tau rasa lo, malah lo dikira ngapa ngapain lagi, digerebek dimasukin satlantas."


"Dimasukin di satlantas? Emang gue mau bikin sim, surat izin mengemudi apa ha? Aneh,"


"Hahaha... Maksud gue, nanti lo malah dikasih poin kenakalan oleh para guru, lo tau sendiri kan kalo siswi dilarang keruangan cowok ataupun sebaliknya. Bisa bisa lo dicurigai, Da. Emang lo mau nyebar kabar yang kagak jelas nantinya?"


Mendengar itu langsung membuat Risda menghentikan langkahnya, ia memikirkan apa yang dikatakan oleh Rania memang ada benarnya. Jika dirinya nekat untuk mendatangi kelas yang digunakan untuk anak laki laki menginap maka dirinya pasti akan digerebek oleh semuanya, dan dituduh telah berbuat aneh aneh disekolahan itu.


"Lo bener juga, Ran. Bisa bisa nama baik gue tercemar nantinya," Ucap Risda yang membenarkan ucapan dari Rania.


"Nah mangkanya tidur lagi saja, semuanya pun tidur saat ini. Emang lo mau besok ditempat rekreasi ngantuk? Kagak mau kan?"


"Ya udah deh gue tidur, tapi lo jangan tidur dulu ya, tungguin gue tidur. Kalo gue udah tidur baru lo tidur,"


"Dih, sok ngatur ya anda rupanya."


Risda pun duduk kembali ditempatnya sebelumnya, ia pun membaringkan tubuhnya diatas tikar yang telah disiapkan oleh panitia acara itu. Tidur diatas tikar sudah menjadi hal biasa baginya, apalagi tidur dilantai tanpa alas apapun.


Risda pun mulai memejamkan matanya kembali, dirinya melihat bayangan bayangan yang menyeramkan didalam ingatannya itu, melihat itu membuat dirinya langsung menepiskan pikirannya dan fokus untuk bermimpi yang indah.


Cukup lama dirinya mencoba untuk tidur akan tetapi dirinya masih saja tidak bisa tidur, ia pun membuka matanya kembali karana tidak bisa tidur, akan tetapi Rania sudah terlelap kembali dalam tidurnya.


"Sialan nih bocah, gue ditinggal tidur aja!" Umpat Risda lagi.


Risda pandai agama tapi ucapannya selalu kasar, dirinya suka mengumpat padahal hal tersebut dilarang dalam agama. Kisah yang dialaminya sejak kecil membuatnya mudah sekali untuk mengumpat dan bahkan berkata kasar, akan tetapi itu semua berlaku ketika bersama teman temannya, jika dihadapan orang tuanya dirinya tidak berani melakukan itu.


Risda pun sangat jengkel kepada Rania yang meninggalkannya untuk tidur itu, dengan terpaksa dirinya pun mulai memejamkan matanya, tepat dipukul 2 dini hari Risda akhinya tertidur dengan lelapnya.


*****


Bagaikan seketip mata saja dirinya tertidur, suara para guru pun membangunkan mereka dari tidurnya. Risda dengan malasnya pun membuka kedua matanya itu. Mereka diminta untuk masuk kedalam bus yang akan membawa mereka untuk rekreasi, dengan terpejamkan mata pun Risda melangkahkan kakinya.


Risda pun berpegangan dengan Rania agar tidak salah melangkah, akhinya mereka telah masuk kedalam bus tersebut. Belum selesai para guru mengatur bangku mereka akan tetapi Risda sudah tertidur kembali dengan bersandarkan kaca bus itu.


"Astaga nih bocah, baru juga duduk sudah nyenyak aja. Emang semalaman ngapain aja sih?" Ucap Mira yang duduk disebelahnya saat ini.


"Biarin dia tidur disitu, habis begadang dia karena takut hantu semalaman," Ucap Rania yang duduk dibangku sebelah keduanya.

__ADS_1


"Risda takut hantu? Cewek seperti ini ternyata punya rasa takut juga ya? Haha... Gue ngak nyangka kalo dia takut sama hantu," Mira pun tertawa mendengar ucapan dari Rania.


"Gue denger!" Ucap Risda dengan kerasnya meskipun dirinya masih memejamkan kedua matanya.


"Semalam lo emang diapain sama Rania, Da?" Tanya Septia penasaran, Septia kini duduk bersama Rania dan Ananda, duduk dibangku yang 3 baris.


"Auah males ngomong sama kalian, gue ngantuk banget anjiiir!" Umpat Risda dan langsung menutup wajahnya dengan jilbab yang ia pakai.


Risda benar benar masih ngantuk saat ini, dirinya sangat malas untuk mengobrol dengan teman temannya dipagi dini hari itu. Tak beberapa lama kemudian dirinya akhinya terlelap begitu saja, dan tidak tau apa yang dibicarakan oleh teman temannya.


"Semuanya sudah lengkap?" Tanya seseorang tiba tiba kepada seluruh siswa yang ada dibus yang dinaiki oleh Risda.


"Sudah!" Jawab mereka serempak.


"Baiklah, bus ini akan jalan sekarang,"


Risda pun sedikit terganggu ketika mesin bus tersebut dihidupkan, Risda terganggu kerena hal itu akan menimbulkan getaran ditempat dimana dirinya bersandar itu. Dengan terpaksa dirinya pun kembali membuka kedua matanya, ia pun melihat bahwa bus tersebut telah berjalan melalui kaca yang ada disebelahnya itu.


"Lo bangun, Da?" Tanya Mira yang melihat Risda menegakkan kepalanya.


"Ngak! Gue kayang," Jawab Risda dengan sebalnya.


"Kayak bisa kayang aja lo."


"Bisa dong, kan Renzo yang ngajarin," Jawabnya dengan bangganya padahal dirinya belum bisa untuk melakukan itu karena Afrenzo sendiri belum mengajarkan apa apa mengenai perguruan itu, dan baru mengajarkan tentang pemanasan dan gerakan dasar saja.


"Dia duduk dibelakang sendiri loh, Da. Mau gue panggilin?" Tanya Mira yang langsung menciptakan wajah kebingungan diwajah Risda.


"Duduk dibelakang? Maksud lo dibelakang bus ini? Ya kagak bisa lah anjaay!"


"Bukan dibelakang bus woi, dia beneran duduk dibangku belakang, kita satu bus sama dia."


"Kok bisa? Emang bus ini gabungan sama anak ipa?"


"Dia akan OSIS, jadi anggota OSIS itu menyebar disetiap bus bus yang ada,"


"Lah lo kan juga OSIS, kenapa lo ngak nyebar juga?"


"Anjiir! Kenapa kagak bilang dari tadi tadi sih, gue kan pengen duduk sama Renzo. Gue pengen tau tentang hantu hantu,"


"Mau gue panggilin? Biar dia duduk disebelah lo ini?"


"Gausah anjiir! Gue bercanda,"


Rasa ngantuknya pun sudah tidak terasa saat ini dan dirinya pun fokus untuk menatap jalanan yang ia lalui melalui kaca yang ada disebelahnya itu. Mereka berangkat tepat pukul 3 pagi, mereka berangkat jam segitu karena tujuan mereka untuk sampai dipantai ketika matahari terbit.


Agar mereka bisa melihat indahnya matahari terbit dipantai yang tidak tertutup apapun, pemandangan itu akan terlihat sangat indah dan mampu membuat semuanya merasa damai disana. Risda sudah tidak sabar untuk bisa melinatnya, sehingga hal itu membuatnya langsung terjaga.


Risda terus memperhatikan kemana busnya akan membawa mereka pergi, dirinya yang jarang sekali jalan jalan itupun merasa bersemangat untuk segera sampai dipantai.


*****


"Bangun! Ayo sholat subuh dulu!" Teriak Afrenzo untuk membangunkan para murid yang satu bus dengan dirinya.


Mendengar teriakan tersebut langsung membuat semuanya membuka kedua matanya dengan malas, baru saja mereka tertidur di bus tersebut dan saat ini harus dibangunkan untuk sholat subuh. Mereka telah melalui perjalanan selama 1 jam lebih, dan kini mereka berhenti disebuah masjid yang cukup besar untuk melaksanakan sholat subuh.


Dengan malasnya mereka pun turun dari bus tersebut kecuali Risda yang entah sejak kapan dirinya mulai terlelap itu, Risda tidak menyadari bahwa Afrenzo sudau berdiri disamping tempat duduknya dengan melipat kedua tangannya.


"Astaga masih tidur aja nih bocah, begadang ya?" Tanya Afrenzo.


Pertanyaan itu sama sekali tidak didengar oleh Risda yang memang masih terlelap dalam tidurnya, dirinya benar benar mengantuk saat ini. Tanpa banyak bicara lagi, Afrenzo langsung menarik telinganya yang bertutupkan jilbab itu.


"Auhhh sakit!" Teriak Risda yang merasakan telinganya ditarik.


Ia pun berhenti berteriak ketika melihat Afrenzo yang berdiri disampingnya, karana berhenti sehingga lampu yang ada didalam bus tersebut dinyalakan. Wajah Afrenzo terlihat sangat jelasnya, tatapan tajam langsung tersorot kearah Risda hingga membuat dirinya diam terpaku.


"Kasar banget sih kalo bangunin orang," Keluh Risda tanpa berani menatap kedua matanya.


"Sholat atau disholatkan?"

__ADS_1


"Iya iya gue sholat, awas gue mau lewat," Ucap Risda sambil mengeluarkan mukenah yang ia bawa dari dalam tasnya.


Ia pun menyuruh Afrenzo untuk minggir karena dirinya yang tidak bisa lewat jika Afrenzo berdiri seperti itu didepannya, Afrenzo pun memberikan jalan untuk Risda, akan tetapi Risda tak kunjung bangkit dari duduknya.


"Sholatnya dipending ya, nanti dobel deh," Tawar Risda.


"Ngak bisa!" Ucap Afrenzo dengan dinginnya.


"Gue lagi halangan, Renzo. Gue tidur lagi ya?"


"Perasaan baru dua minggu yang lalu lo halangan deh, kok halangan lagi?"


"Lo apal banget jadwal halangan gue, ya kagak tau lah itu takdir seorang cewek."


"Ngak usah banyak alasan,"


"Gue ngak alasan, Renzo. Emang lo mau lihat pembalut gue?" Tantang Risda.


"Emang lo mau nunjukkan? Silahkan" Tantang balik seorang Afrenzo kepada Risda.


"Lo beneran mau lihat?" Tanya Risda yang tidak percaya dengan pertanyaan dari Afrenzo itu.


"Boleh, buktikan kalo lo beneran halangan saat ini."


Mendengar itu langsung membuat Risda menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, jika seperti ini caranya dirinya akan sangat malu, padahal dirinya benar benar tidak halangan saat ini. Dengan menundukkan kepalanya, Risda berjalan melewati Afrenzo begitu saja sambil membawa mukenahnya.


Risda pun bergegas menuju ke masjid tersebut diikuti oleh Afrenzo dari belakang hingga keduanya berpisah ketika memasuki tempat wudhu dan sholat. Setelah Wudhu Risda lalu menuju kedalam masjid, tak sengaja dirinya melihat sosom Afrenzo berjalan diluar kaca dengan rambut yang basah karena air wudhu.


Air wudhu tersebut pun menetes mengenai wajahnya, Afrenzo terlihat sangat tampan saat ini apalagi setelah dirinya memakai peci dan sarung. Hal itu langsung membuat pandangan Risda terarah kepadanya dengan kekaguman, dirinya begitu kagum kerika melihat sosok Afrenzo.


"Ganteng banget ciptaan-Mu ya Allah," Ucapnya kagum ketika melihat wajah Afrenzo, "Astaghfirullah, jangan sampe wudhu gue batal."


Risda pun mengusap kasar wajahnya, dirinya segera bergegas menuju kebagian wanita. Dengan buru burunya dirinya memakai mukenahnya karena sebentar lagi sholat akan dilaksanakan, setelahnya mereka pun melakukan sholat subuh berjamaah.


Setelah selesai sholat, Risda langsung bergegas untuk melipat kembali mukenanya dan bergegas kembali kedalam bus tersebut. Sementara Afrenzo dan beberapa guru masih berzikir didalam masjid itu sebelum mereka kembali melanjutkan perjalanan.


Setelahnya mereka pun langsung masuk kedalam bus masing masing, Afrenzo mulai memeriksa setiap siswa agar tidak tertinggal ditempat tersebut. Ketika merasa didalam bus bus lainnya sudah lengkap dirinya pun memeriksa bus yang ia naiki tersebut.


"Semuanya sudah masuk bus? Atau ada teman yang tertinggal," Ucap Afrenzo yang bertanya kepada semuanya.


"Sudah lengkap!" Jawab mereka semua.


"Eh Risda dimana?" Tanya Mira tiba tiba.


Pertanyaan itu langsung membuat perhatian Afrenzo terarah kepada Mira, dirinya pun bergegas untuk mendatangi Mira dan memeriksanya.


"Dia kagak ada?" Tanya Afrenzo kepada Mira.


"Lo lihat ada disini kagak? Dia duduk sama gue,"


Hal itu membuat Afrenzo berdecak kesal, entah kemana perginya gadis nakal itu. Tak beberapa lama kemudian Risda pun menghampiri mereka semua sambil membawa bakso didalam keresek yang ia bawa saat ini.


"Lo kemana aja, Da? Kita semua nyariin lo," Tanya Mira.


Risda dengan wajah polosnya itu pun langsung bergegas melewati Mira dan duduk dibangkunya yang berada disebelah cendela, seakan akan tanpa bersalah dirinya lalu mengeluarkan bakso yang masih panas itu.


"Gue laper, jadi gue beli dulu," Ucap Risda dengan polosnya.


"Awasi dia!" Perintah Afrenzo kepada Mira.


"Iya iya," Jawab Mira.


Afrenzo pun menyuruh sopir bus tersebut untuk memberangkatkan busnya, sementara dirinya langsung bergegas untuk menuju ke bangkunya kembali. Risda yang menyaksikan itu pun hanya menyengir tanpa rasa besalah sedikitpun itu.


"Tadi ada apa sih, Ra?" Tanya Risda penasaran.


"Lo ilang kemana? Dicariin orang eh malah bawa makanan kedalam," Jawab Mira dengan kesalnya kepada Risda.


"Gue kan udah bilang, gue lapar."

__ADS_1


Mira pun membuang muka dari hadapan Risda, sementara Risda langsung menikmati makanannya itu. Entah kenapa jam segini sudah ada bakso aja dijalanan, mungkin mereka jualan selama 24 jam kali.


__ADS_2