
Selesai latihan, Risda pun langsung bergegas untuk keluar dari halaman aula beladiri itu. Seperti biasa, Afrenzo masih tetap disana untuk melatih siswa senior yang ada disana, karena siswa senior lebih ditekankan lagi latihannya untuk mengikuti turnamen beladiri yang akan diadakan.
Ketika Risda mulai menjalankan motornya keluar dari halaman tersebut, tiba tiba Satria mencegahnya dan mengambil kunci motor miliknya begitu saja. Melihat itu langsung membuat Risda turun dari sepedah motornya untuk mengambil kembali kunci sepedah motornya itu.
"Lo apa apa'an sih, Sat! Balikin ngak!" Sentak Risda sambil berusaha untuk merebut kunci motornya kembali.
"Kalo gue ngak mau gimana?" Tanya Satria sambil memasukkan kunci motor milik Risda kedalam tasnya.
"Maksud lo apa'an ha? Balikin kunci motor gue!"
"Gue ngak akan balikin ke lo, sebelum lo mau jadi pacar gue,"
"Gila emang lo ya! Gue ngak akan pernah mau jadi pacar lo!"
"Da, apa salahnya sih lo nerima gue? Gue suka sama lo,"
"Lo yang suka tapi bukan gue, Sat. Gue sama sekali ngak suka sama lo, apalagi dengan cara lo seperti ini membuat gue muak sama lo. Balikin sekarang!"
"Gue akan balikin kalo lo menyetujuinya,"
"Gue ngak mau pacaran, Sat. Dengan cara lo maksa gue seperti ini, lo mengingatkan gue sama Bokap gue, dan gue benci sama dia! Menurut lo dengan cara maksa gue seperti ini, gue bakalan suka sama lo? Lo salah, gue makin benci sama lo."
"Da, pliisss... Gue cinta sama lo,"
"Cinta menurut lo? Tapi yang gue lihat disini hanya ada ambisi dimata lo, Sat. Balikin sekarang! Gue mau pulang, kalo lo ngak balikin kunci gue, lo sama saja nyiksa gue, Sat. Lo pengen gue mengakhiri hidup gue?"
"Maksud lo apa'an, Da? Gue sama sekali tidak paham, ngapain lo mengakhiri hidup lo sendiri?"
"Lo memang ngak paham soal gue, Sat. Gue benci sama lo! Balikin kunci gue sekarang!" Sentak Risda.
Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo keluar dari aula beladiri. Ia pun melihat keduanya tengah berhadapan saat ini, Risda yang terus berusaha untuk mengambil kunci motornya, sementara Satria yang berusaha melindungi kunci motor milik Risda agar tidak diambil olehnya.
"Balikin sekarang, Sat! Gue mau pulang,"
"Ambil aja kalo bisa, gue ngak akan berikan sebelum lo nerima gue,"
"Gue ngak akan pernah nerima lo!"
Tiba tiba tangan Risda dipegangi oleh seseorang, Risda pun menoleh dan mendapati sosok Afrenzo yang tengah berdiri dibelakangnya saat ini. Melihat kedatangan Afrenzo langsung membuat Risda terdiam, dikejauhan sudah terdengar suara adzan berkumandang.
"Balikin sekarang!" Sentak Afrenzo kepada Satria.
Mendengar suara adzan yang biasanya membuat hati tenang, justru tidak dengan perasaan Risda saat ini. Kedua matanya pun mulai berkaca kaca, dan perasaan takut pun menyelimuti dirinya.
"Renzo," Ucap Risda lirih dengan bibir yang bergetar.
"Ngapain lo ikut campur urusan gue lagi, Renzo!" Sentak Satria balik.
"Lo mau cari gara gara sama gue?" Tanya Afrenzo dengan nada dinginnya.
"Gue ngak takut sama lo,"
"Sampai Risda kenapa kenapa, lo bakalan jadi sasaran pertama gue, Sat. Gue ngak akan ngelepasin lo,"
"Emang Risda bakalan kenapa? Orang dia ngak bakalan kenapa kenapa,"
Plakkk...
Dengan kemarahan, Risda pun menampar pipi kanan Satria dengan kerasnya. Satria pun mengangkat tangannya dan hendak membalas pukulan Risda, akan tetapi kerah bajunya langsung dipegangi dengan erat oleh Afrenzo.
"LO MAU PUKUL RISDA!" Bentak Afrenzo dengan marahnya.
"Lo ngak tau tentang hidup gue, Sat. Balikin sekarang!"
Tanpa menunggu jawaban dari Satria, Afrenzo sendiri yang langsung menggeledah seluruh tubuh Satria untuk mencari kunci motor milik Risda. Sekali Satria bersuara, Afrenzo akan langsung menamparnya hingga membuat lelaki itu diam.
Afrenzo pun menemukan dan langsung mengambilnya begitu saja dari tas milik Satria. Ia pun langsung menggenggamnya dengan eratnya, dengan tangan yang terkepal sambil mengenggam erat kunci itu, Afrenzo lalu memukul perut Satria dengan kerasnya.
"Pergi lo dari sini!" Usir Afrenzo kepada Satria.
Karena pipinya yang keram dan juga beberapa anggota tubuhnya yang mulai terasa nyeri, Satria pun bergegas pergi dari tempat itu. Sebelum pergi, dirinya pun meludah terlebih dulu kearah Afrenzo, tapi untung saja tidak mengenai tubuh Afrenzo.
Kepergian Satria dari tempat itu, langsung membuat Risda meluruh ke tanah. Dirinya pun duduk ditanah tersebut sambil memeluk erat kedua kakinya yang tengah ditekuk itu, ia pun membenamkan wajahnya disana dengan terisak lirih.
"Ini kuncinya, pulanglah," Ucap Afrenzo sambil menyodorkannya kearah Risda.
Karena Risda yang tak kunjung menerima uluran tangannya itu, membuat Afrenzo pun langsung memegangi tangan Risda untuk memberikan kunci motor miliknya itu. Dan menggerakkan tangannya untuk membuat tangan Risda tergenggam erat memegangi kunci itu.
"Gue ngak mau pulang, gue takut, Renzo. Ini sudah lewat adzan magrib," Ucap Risda.
"Mau gue antarin pulang?" Tanya Afrenzo sambil berjongkok didepan Risda.
"Gue takut dimarahin, dengan adanya lo nanti. Gue takut Kakak gue bakalan lebih marah," Risda pun mendongakkan wajahnya.
Terlihat kedua mata Risda yang mulai memerah karena menangis, dengan buliran buliran air mata yang terus berjatuhan membasahi kedua pipinya. Afrenzo lalu mengusap pelan kepala Risda, hal yang sering dirinya lakukan untuk menenangkan gadis yang ada didepannya itu.
__ADS_1
"Gue akan jelasin ke Kakak lo nanti, lo ngak bakalan dimarahin," Ucap Afrenzo.
"Memang ketika ada lo ngak bakalan dimarahin, tapi setelah lo pergi jelas gue makin dimarahin," Ucap Risda sambil cemberut.
"Cengeng,"
Afrenzo pun bangkit dari jongkoknya dihadapan Risda, ia pun berjalan masuk kedalam halaman aula beladiri itu untuk mengambil motornya. Melihat itu langsung membuat Risda bangkit berdiri dan berjalan menuju kearah motornya, dan langsung menaikinya.
Afrenzo yang menaiki motornya itu pun menghentikan motornya tepat disamping Risda, Afrenzo pun membuka kaca helmnya tersebut. Meskipun motor milik Risda sudah nyala akan tetapi dirinya tak kunjung menjalankan motornya itu.
"Ayo pulang," Ajak Afrenzo.
"Gue takut,"
"Cemen,"
"Kalo gue pulang hanya tinggal nama gimana? Gue ngak bisa ngendaliin diri gue sendiri,"
"Lo pasti bisa. Mana mungkin tinggal nama, pasti Nyokap lo bakalan bela'in lo nanti,"
"Nyokap gue kan jauh, bagaimana bisa bela'in gue? Yang ada malah gue dimarahin dua kali, karena gue pulang telat."
"Semakin lo ngak mau jalan, lo bakalan lebih telat nanti,"
Risda pun terdiam untuk memikirkan perkataan dari Afrenzo, jika dirinya terus mengulur waktu seperti ini, Kakaknya bakalan makin marah ketika tau Risda pulang isya' nanti. Risda pun mulai menjalankan motornya dengan diikuti oleh Afrenzo dibelakangnya, keduanya pun menuju kerumah Risda.
Seperti biasa, Risda berhenti disebuah gang yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, dan Afrenzo pun ikut menghentikan sepedah motornya itu. Risda pun melepas helmnya diikuti dengan Afrenzo yang membuka kaca helmnya itu.
"Sampai sini aja ya, gue takut makin diomelin," Ucap Risda pelan.
"Lo yakin?" Tanya Afrenzo sambil memincingkan sebelah matanya.
"Ngak yakin," Jawab Risda sambil menundukkan kepalanya dalam.
"Gue anterin sampai rumah, gue juga penasaran sama wajah Kakak lo itu,"
"Ha? Ngapain penasaran sama wajah Kakak gue? Nanti lo jatuh cinta lagi sama dia, terus lo nikah sama Kakak gue dan lo jadi Kakak ipar gue. Lalu nasib Adek keponakan gue gimana? Apa lo mau menerima keponakan gue dengan sepenuh hati kayak anak lo sendiri? Gue ngak yakin," Cerocos Risda tanpa hentinya.
Cletak..
Sebuah jitakkan pelan meluncur begitu saja dikening Risda, Risda pun mendengus kesal sambil mengusap keningnya yang dijitak oleh Afrenzo itu. Entah pemuda itu suka sekali mengusap bahkan menjitak kepalanya, entah ada apa dengan kepalanya itu.
"Bisa ngak sih jangan main kekerasan," Keluh Risda sambil terus mengusapi kepalanya itu.
"Pikiran lo kejauhan," Ucap Afrenzo.
Justru hal itu membuat Afrenzo mengembangkan senyum tipisnya kearah Risda, entah jika dirinya tersenyum seperti itu membuat Risda tidak bisa marah kepada lelaki itu. Risda pun sedikit menunduk kepalanya akan tetapi kedua bola matanya masih melirik kearah Afrenzo.
"Iya, putar balik sampai kebablasan,"
"Lo jahat banget sih, Renzo. Lo mau gue gila gitu?"
"Lo udah gila,"
Risda pun mencubit keras lengan panjang milik Afrenzo itu, hal itu langsung membuat Afrenzo menyengir karena cubitan yang diberikan oleh Risda itu. Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak berusaha untuk melepaskan diri dari cubitan tersebut.
"Rasain lo," Pungkas Risda sambil melepaskan cubitan tersebut.
Afrenzo pun melipat bajunya untuk melihat bekas cubitan yang diberikan oleh Risda itu, dan nampak sebuah bekas memerah ditangannya yang putih bersih itu. Melihat itu hanya membuat Risda menyengir seakan akan tidak memiliki rasa bersalah, dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Justru Afrenzo malah mengerutkan keningnya ketika melihat bekas merah tersebut, bahkan pukulan yang sering dirinya terima tidak akan menimbulkan bekas merah seperti itu, akan tetapi hanya dengan cubitan yang diberikan oleh Risda langsung membuat lengannya memerah.
"Wajah lo lucu," Ucap Risda sambil terkekeh pelan.
"Hemm," Jawab Afrenzo yang hanya berdehem saja.
"Lo aneh, Renzo. Lo terlalu cuek sama orang lain yang ada disekitar lo, tapi lo juga begitu perhatian. Baru kali ini gue ketemu sama cowok kayak lo, lo itu kayak rembulan dimalam hari, meskipun bersinar karena bantuan matahari tapi hanya lo yang bercahaya dimalam hari yang gelap dengan terangnya. Gue ngerasa ngak kesepian lagi karena ada lo," Ucap Risda dengan nada seriusnya.
Afrenzo pun mengusap pelan puncak kepala Risda, sementara Risda hanya tersenyum merasakan usapan lembut yang diberikan oleh Afrenzo itu. Setetes air mata pun jatuh disela sela pelupuk mata Risda, melihat itu langsung membuat Afrenzo mengusap air matanya dengan ibu jarinya.
"Cengeng," Ucap Afrenzo.
"Lo nyebelin,"
"Sudah. Pulang sekarang, sebelum Kakak lo makin marah,"
"Lo ngusir gue?"
"Iya."
"Jahat!"
Risda pun mengusap air matanya dengan kasar, ia pun langsung kembali memakai helm miliknya itu. Melihat itu hanya membuat Afrenzo tersenyum tipis, Risda lalu menyalakan motornya dan bergegas meninggalkan tempat itu.
"Lo jahat, Renzo! Awas aja besok kalo ketemu, gue hajar lo nanti!" Ancam Risda sambil berteriak.
__ADS_1
Mendengar itu hanya membuat Afrenzo menggeleng gelengkan kepalanya, Risda memang terlihat seperti anak kecil yang sedang merajuk saat ini. Setelahnya Afrenzo lalu bergegas pergi dari tempat itu untuk menuju kerumahnya.
Setelah sampai dirumahnya, Risda lalu celingukan untuk memastikan keadaan aman. Dirinya pun langsung memasukkan motornya kedalam rumahnya, akan tetapi Kakaknya langsung menyambutnya dengan sapu yang ada ditangannya.
"Dari mana saja kau! Jam segini baru pulang, ngak usah pulang sekalian!" Sentak Indah.
"Maaf Kak, jalanan macet hari ini," Ucap Risda beralasan.
"Ngak ada maaf maafan. Awas saja aku aduin ke Ibu nanti,"
"Kak,"
Bhukk..
Indah pun memukulkan sapu tersebut dikaki Risda hingga membuat Risda langsung terjatuh kelantai dengan bersangga pada kedua tangannya. Risda pun menangis, lututnya kini terasa sangat ngilu akibat pukulan yang diberikan oleh Indah.
"Kak sakit," Keluh Risda sambil memegangi lututnya.
"Awas saja sampai diulangi lagi, mending ngak usah tinggal disini,"
"Lalu Risda tinggal dimana Kak?"
"Dikolong jembatan sana, ngak usah kesini. Nyusahin orang aja,"
Indah pun membuang sapu yang ada ditangannya itu begitu saja dan dirinya pergi dari tempat itu. Risda pun mencoba bangkit dari duduknya dengan berpegangan pada kursi yang ada disebelahnya, rasa nyeri itu pun semakin terasa ketika dirinya gunakan untuk berjalan.
"Kenapa ngak bunuh Risda saja," Ucap Risda pelan sambil berusaha untuk berjalan menuju kekamarnya.
Risda pun sampai dikamarnya dan dirinya langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur kamarnya itu Ia pun meraih sebuah salep untuk mengobati lukanya itu, dan setelahnya dirinya pun membenamkan wajahnya dibantal yang dirinya gunakan.
*****
"Dari mana saja kamu!" Sentak seseorang ketika Afrenzo baru membuka pintu rumahnya.
"Papa, maaf Renzo telat." Ucap Afrenzo sambil menundukkan kepalanya.
"Kelayapan kemana saja kamu?"
"Habis latihan, Pa. Renzo kehabisan bengsin tadi,"
Bhukkk...
"BERANI BOHONGIN PAPA!" Bentak Papanya itu sambil melontarkan sebuah pukulan dipipi Afrenzo.
Afrenzo sama sekali tidak menghindar ataupun menangkis pukulan yang dilontarkan oleh Papanya itu, akibat pukulan itu hingga membuat tubuh Afrenzo pun menabrak sofa yang ada diruang tamu itu. Afrenzo pun mengusap ujung bibirnya yang terasa perih, terlihat secercah darah diujung jarinya itu.
Melihat itu membuat Afrenzo pun tersenyum tipis, ia pun lalu bangkit dari jatuhnya dan berdiri dihadapan Papanya itu. Tidak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya, kedua matanya kini menatap sendu kearah Papanya.
"Mau jadi apa kamu nanti kalo kelayapan setiap hari? Kayak orang yang ngak punya rumah? Mending belajar! Biar bisa meneruskan bisnis Papa, daripada kelayapan ngak jelas,"
"Pa, Renzo punya pilihan sendiri. Renzo ngak tertarik dengan bisnis Papa,"
Bhukkk...
Lagi lagi Afrenzo mendapatkan pukulan yang dilontarkan oleh Papanya itu, ia yakin bahwa besok pada waktu sekolah, wajahnya bakalan dipenuhi dengan luka memar. Afrenzo pun bangkit kembali dari jatuhnya, luka seperti itu sudah biasa baginya sehingga luka seperti itu tidak lagi menjadi hal yang besar.
"Papa ngak puas setelah Kakak tiada?" Tanya Afrenzo dengan sebuah senyuman yang masih terpancar diwajahnya.
"Jangan sangkut pautkan dengan Kakakmu yang lemah itu, dia sudah meninggal dan tidak ada harapan lagi untuknya untuk bisa dibanggakan,"
"Apakah bagi Papa, kami hanya sebuah alat saja? Pa, kami juga punya pilihan kami masing masing. Renzo ngak suka dengan dunia bisnis, Renzo pengen jadi atletis bukan pembisnis."
"RENZO!" Bentak Papanya. "Jangan membantah ucapan Papa! Yang kamu harus lakukan adalah belajar, belajar, dan belajar. Papa ngak suka kamu pulang telat seperti ini! Lihatlah anak temen Papa, dia rajin dan juara dikelasnya. Sedangkan kamu? Masuk ke 3 besar saja ngak bisa,"
Bhukkk...
Papanya itu pun langsung memukuli Afrenzo, akan tetapi pukulan itu tidak seberapa sakitnya daripada harus dibanding bandingkan dengan yang lainnya. Mendengar keributan tersebut langsung membuat Mamanya keluar dari dalam kamarnya, dan menghampiri Afrenzo yang tengah terbaring dilantai.
"Mas! Jangan pukuli Renzo lagi," Ucap Mamanya.
"Jangan bela Renzo, Ma!" Sentak Afrenzo sambil mendorong tubuh Mamanya itu untuk menjauh dari tubuhnya, "Biarin Papa bunuh Renzo sekarang, biar Renzo segera menyusul Kakak. Kalo Renzo sudah ngak ada, kalian akan puas!"
"Renzo! Benar benar anak yang kurang ajar!" Sentak Papanya dengan nada tinggi.
"Sudah Mas! Kalo kamu mau pukul Renzo lagi, pukul aku saja Mas, jangan Renzo."
Papanya itu pun mengepalkan tangannya dengan erat, ia lalu meninju angin dengan kuatnya. Setelahnya dirinya pun pergi dari tempat itu, sementara Mamanya langsung membantu Afrenzo untuk bangkit berdiri.
"Kamu ngak apa apa, Nak?" Tanya Mamanya.
"Renzo ngak papa kok, Ma." Senyuman tipis pun mengembang diwajah Afrenzo untuk Mamanya, meskipun senyuman itu terlihat mengerikan karena ujung bibirnya yang sobek.
"Mama obatin, ya?"
"Ngak usah, Ma. Renzo permisi ke kamar dulu,"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawaban dari Mamanya, Afrenzo lalu bergegas menuju kekamarnya. Dirinya pun menutupi pintu kamarnya tersebut dan menguncinya dari dalam, setelahnya dirinya pun membaringkan tubuhnya diatas kasurnya.